Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)

Pemerintah Indonesia tengah mempercepat penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai sebagai bagian dari agenda transisi energi nasional. Melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, pemerintah menargetkan percepatan adopsi kendaraan listrik untuk menekan emisi karbon, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat industri kendaraan listrik dalam negeri.

Untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan konvensional, pemerintah menyediakan berbagai insentif yang cukup agresif. Kendaraan listrik memperoleh kemudahan berupa pengurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), keringanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), hingga pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) di sejumlah daerah. Untuk sepeda motor listrik, tersedia pula bantuan pembelian dan insentif konversi dari motor berbahan bakar bensin.

Kebijakan perpajakan kendaraan listrik sendiri juga mengalami perkembangan. Pemerintah melalui Permendagri No. 11 Tahun 2026 menetapkan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai tidak lagi dikecualikan dari objek pajak, melainkan kini menjadi objek Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Meski demikian, Mendagri melalui Surat Edaran Nomor 900.1.13.1/3764/SJ, menginstruksikan kepada pemerintah daerah untuk membebaskan pajak bagi kendaraan listrik sebagai bentuk insentif untuk mendorong adopsinya.

Insentif nonfiskal juga diberikan untuk meningkatkan daya tarik kendaraan listrik. Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, kendaraan listrik dibebaskan dari aturan ganjil-genap, sehingga memiliki fleksibilitas mobilitas yang tidak dimiliki kendaraan konvensional. Pemerintah juga terus mendorong pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan pengembangan industri baterai berbasis nikel agar Indonesia menjadi pemain penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Mulai 1 April 2026 kendaraan listrik berbasis baterai tidak lagi bebas pajak dan menjadi objek Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) serta Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). (Sumber: Instagram/@narasinewsroom)
Mulai 1 April 2026 kendaraan listrik berbasis baterai tidak lagi bebas pajak dan menjadi objek Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) serta Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). (Sumber: Instagram/@narasinewsroom)

Di atas kertas, kebijakan ini tampak progresif dan visioner. Namun di balik ambisi tersebut muncul pertanyaan yang semakin relevan: seberapa siap sistem kelistrikan Indonesia menopang percepatan kendaraan listrik?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika masyarakat justru masih menghadapi pemadaman listrik dalam skala besar.

Pada 22 Mei 2026, Pulau Sumatera mengalami blackout massal akibat gangguan pada jalur transmisi utama 275 kV yang berdampak pada lima hingga enam provinsi. Aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari padamnya lampu lalu lintas hingga terhambatnya kegiatan ekonomi. Setelah sistem utama pulih, sejumlah wilayah masih mengalami pemadaman bergilir sebagai bagian dari manajemen beban, termasuk di Sumatera Utara hingga pertengahan Juni 2026. Pada periode yang hampir bersamaan, sejumlah wilayah di Pulau Jawa juga dilaporkan mengalami pemadaman bergilir selama 3–5 jam.

Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan adanya paradoks kebijakan: di satu sisi pemerintah mendorong masyarakat menggunakan kendaraan yang sepenuhnya bergantung pada listrik, tetapi di sisi lain keandalan pasokan listrik nasional masih menghadapi tantangan.

Ketika Mobilitas Bergantung pada Jaringan Listrik

Kendaraan listrik pada dasarnya memindahkan sumber energi mobilitas dari pompa BBM ke jaringan kelistrikan. Jika sebelumnya pengguna kendaraan bergantung pada ketersediaan bahan bakar di SPBU, kini ketergantungan itu berpindah pada stabilitas pasokan listrik.

Konsekuensinya tidak sederhana.

Bayangkan seseorang memiliki mobil listrik dengan sisa baterai 15 persen, lalu wilayah tempat tinggalnya mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam. Pengisian daya di rumah tidak dapat dilakukan. SPKLU pun berpotensi tidak beroperasi apabila tidak memiliki cadangan daya yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, kendaraan listrik yang dipromosikan sebagai solusi mobilitas masa depan justru dapat menimbulkan kecemasan baru.

Masalah ini akan semakin penting seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik yang memerlukan pengisian daya setiap hari.

Paradoks Energi Bersih

Paradoks kebijakan tidak berhenti pada persoalan keandalan listrik. Persoalan lain terletak pada sumber energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik itu sendiri.

Sebagian besar listrik Indonesia masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, terutama PLTU batubara. Artinya, kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi langsung dari knalpot, tetapi energi yang digunakan untuk mengisi baterainya masih banyak berasal dari sumber beremisi tinggi.

Dengan kata lain, emisi tidak sepenuhnya hilang—melainkan berpindah dari hilir (jalan raya) ke hulu (pembangkit listrik).

Dalam konteks ini, kendaraan listrik tetap berkontribusi pada penurunan polusi udara di kawasan perkotaan. Namun manfaat penurunan emisi nasional akan terbatas apabila bauran energi primer Indonesia masih didominasi bahan bakar fosil.

Sampai dengan 2024, bauran energi primer dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia masih didominasi oleh sumber energi fosil dengan porsi sebesar 85% atau 86 gigawatt (GW). (Sumber: bloombergtechnoz.com)
Sampai dengan 2024, bauran energi primer dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia masih didominasi oleh sumber energi fosil dengan porsi sebesar 85% atau 86 gigawatt (GW). (Sumber: bloombergtechnoz.com)

Persoalan Utama Ada pada Ketahanan Sistem

Diskusi publik mengenai kelistrikan sering kali hanya berfokus pada kapasitas pembangkit: apakah daya yang tersedia cukup atau tidak. Padahal, blackout besar tidak selalu disebabkan oleh kekurangan produksi listrik.

Dalam banyak kasus, gangguan justru terjadi akibat lemahnya sistem transmisi dan distribusi. Gangguan pada satu titik kritis dapat memicu efek domino yang menjatuhkan sistem dalam skala luas.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan utama Indonesia bukan sekadar menambah pembangkit, melainkan memperkuat ketahanan sistem kelistrikan. Ketahanan atau resiliensi di sini berarti kemampuan sistem listrik untuk tetap beroperasi atau cepat pulih ketika terjadi gangguan.

Tanpa sistem yang tangguh, penambahan permintaan listrik dari kendaraan listrik berpotensi memperbesar tekanan pada jaringan yang sudah rentan.

Apa yang Perlu Dibenahi?

Agar percepatan kendaraan listrik tidak menjadi kebijakan yang prematur, ada beberapa hal mendasar yang perlu diperkuat.

Pertama, modernisasi jaringan transmisi dan distribusi harus menjadi prioritas. Infrastruktur kelistrikan perlu diperkuat agar gangguan lokal tidak berkembang menjadi blackout skala besar.

Kedua, percepatan kendaraan listrik harus berjalan seiring dengan peningkatan porsi energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, dan hidro. Dengan demikian, elektrifikasi transportasi benar-benar berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.

Ketiga, Indonesia perlu mulai mengembangkan sistem smart grid, yaitu jaringan listrik digital yang mampu menyeimbangkan pasokan dan permintaan secara real time. Teknologi ini penting untuk mengelola lonjakan beban listrik, termasuk dari aktivitas pengisian kendaraan listrik pada jam-jam tertentu.

Selain itu, pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti baterai skala besar juga menjadi penting untuk menjaga kestabilan pasokan ketika terjadi gangguan.

Transisi Energi Tidak Bisa Parsial

Percepatan adopsi kendaraan listrik bukanlah kebijakan yang salah. Dalam jangka panjang, elektrifikasi transportasi memang menjadi bagian penting dari masa depan mobilitas yang lebih bersih dan efisien.

Namun transisi energi tidak dapat dilakukan secara parsial. Mendorong penjualan kendaraan listrik tanpa memastikan kesiapan sistem kelistrikan berisiko menciptakan ketimpangan antara ambisi kebijakan dan realitas infrastruktur.

Fokus kebijakan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan seberapa cepat penggunaan kendaraan listrik dapat diperbanyak, tetapi juga pada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa siap sistem energi nasional menopang revolusi kendaraan listrik?

Sebab kendaraan listrik tanpa listrik yang andal hanya akan menjadi simbol kemajuan yang rapuh—modern di permukaan, tetapi masih bertumpu pada fondasi yang belum sepenuhnya kuat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)