Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Hilang dan Gurita Bisnis Tapioka di Bandung Zaman Kolonial (Bagian 2)

7 menit baca
Maya Maulyda
Ditulis oleh Maya Maulyda diterbitkan
Foto 1 Lokasi Eks Halteu Karees saat ini menjadi Hotel Harapan Indah (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda)
Foto 1 Lokasi Eks Halteu Karees saat ini menjadi Hotel Harapan Indah (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda)

Hai pembaca Ayo Bandung! Mari kita lanjutkan ekspedisi virtual ke Karees tanpa harus berangkat. Cukup simak catatan perjalanan saya di bawah ini.

Kilas Balik: Memangnya Dulu Halteu Karees Buat Apa, Sih?

Biar petualangan kita makin berkesan, yuk kita intip mesin waktu sebentar! Mengapa jalur rel Karees ini begitu penting di masa lalu?

Jalur kereta api yang kita telusuri ini dibuka pada awal abad ke-20 oleh pemerintah Hindia Belanda. Halteu Karees dan jalur cabangnya bukanlah stasiun penumpang biasa seperti Stasiun Bandung atau Stasiun Kiaracondong. Tempat ini dulunya merupakan urat nadi logistik yang super sibuk. Jalur ini dibangun khusus untuk mengangkut material penting, hasil bumi, dan pasokan bahan bakar menuju gudang-gudang penyimpanan. Contohnya seperti persediaan jembatan Staatspoorwegen (SS) dan logistik kota.

Kebayang kan, betapa riuhnya kawasan Samoja dan Kosambi dulu? Suara peluit lokomotif uap yang nyaring dan deru gerbong barang yang berat setiap hari setia menyapa warga. Aktivitas inilah yang menggerakkan roda ekonomi Bandung sebelum akhirnya resmi tertidur selamanya di era 1970-an.

Halteu Karees di sepanjang jalur kereta api Bandung-Kopo Januari 1921 TM-ALB-1355-7. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen)
Halteu Karees di sepanjang jalur kereta api Bandung-Kopo Januari 1921 TM-ALB-1355-7. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen)

Menyusuri Gang Samoja hingga Karees Kulon

Langkah kaki saya lanjutkan untuk menyelesaikan susur rel di Gang Samoja. Jika melihat peta masa kini, gang tersebut tersambung dengan Jalan Karees Timur Gang Malabar 1. Saat berjalan, saya melihat sebuah gapura dengan tulisan "Selamat Jalan". Ternyata saya keluar di Jalan Malabar. Saya langsung menyeberangi jalan tersebut dan masuk ke Jalan Karees Kulon. Saya terus menyusuri jalan namun awalnya masih belum melihat sisa relnya. Tiba-tiba, ada nih satu bekas rel yang berhasil saya potret dan bentuknya masih nampak jelas terlihat!

Penampakan potongan sisa rel kereta logistik peninggalan Belanda yang menyembul di jalan. (Foto: Maya Maulyda)
Penampakan potongan sisa rel kereta logistik peninggalan Belanda yang menyembul di jalan. (Foto: Maya Maulyda)

Saya kemudian berjalan lagi sampai menemukan sebuah jembatan. Karena penasaran dengan strukturnya, saya turun ke pinggir bawah jembatan itu. Waaaw, mata saya langsung berbinar lagi! Di bawah sana masih ada bekas jembatan zaman Belandanya. Hebat sekali konstruksi jadul tersebut masih kuat bertahan sampai sekarang. Namun saat mengecek bagian lantai atas jembatan, sisa bekas relnya sudah tidak ada.

Struktur tiang atau fondasi bawah jembatan peninggalan era kolonial yang masih berdiri kokoh. (Foto: Maya Maulyda)
Struktur tiang atau fondasi bawah jembatan peninggalan era kolonial yang masih berdiri kokoh. (Foto: Maya Maulyda)

Menguak Sejarah Pabrik Aci "Haij Hap Liong Kie"

Dari titik jembatan tersebut, saya lanjut lagi melakukan perjalanan mencari bekas Halteu Karees. Kalau melihat arsip foto lama, daerah ini dulunya masih sangat sepi dan lapang. Ukuran bangunannya juga kecil.

Nah, bermodalkan peta zaman Belanda dulu, di dekat Halteu Karees ini ternyata ada sebuah pabrik aci bernama Tapiocafabriek "Haij Hap Liong Kie". Saya penasaran banget, siapa sih pemiliknya sampai diberi akses khusus berupa percabangan jalur trem?

Potongan Peta jadul yang menunjukkan lokasi Pabrik Aci “Haij Hap Liong di daerah Tjibunut Kosambi. (Sumber: YouTube/oyanspoorweg3156)
Potongan Peta jadul yang menunjukkan lokasi Pabrik Aci “Haij Hap Liong di daerah Tjibunut Kosambi. (Sumber: YouTube/oyanspoorweg3156)

Setelah saya melakukan studi literatur, pemilik awalnya ternyata adalah seorang Letnan Tionghoa. Tokoh utama di balik gurita bisnis ini adalah Tan Joen Liong. Beliau merupakan sosok elite yang menyandang gelar Luitenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) terakhir di Bandung yang menjabat sejak tahun 1888 sampai dengan 1917.

Pada pergantian abad ke-19 menuju abad ke-20, geliat ekonomi di wilayah Hindia Belanda tidak hanya digerakkan oleh korporasi besar milik pemerintah kolonial. Di wilayah Karees kota Bandung, sebuah imperium bisnis lokal yang dinakhodai oleh keluarga Tionghoa peranakan tumbuh pesat. Bisnis mereka merambah dari sektor pangan hingga jaringan perdagangan antar negara.

Bisnis Tapioka Modern Merek "Banthong"

Sebelum membahas lebih lanjut kesibukan Pabrik Tapioka di kawasan Karees ini, ada baiknya kita mengintip manajemennya. Gurita bisnis tepung tapioka dan sagu ini dikendalikan dari jantung Priangan dengan standar modern yang melampaui zamannya.

Catatan ini tertuang dalam buku "Merajut Relasi Bisnis: Surat-Surat Tan Joen Liong Kapiten Tionghoa Bandung" karya Ali Rauf Baswedan. Buku tersebut menunjukkan bahwa Tan Joen Liong bukan sekadar pejabat birokrasi biasa. Beliau adalah pebisnis agroindustri yang sangat aktif dan visioner.

Bisnis utamanya adalah produksi tepung tapioka. Namun selain itu, ia juga mengelola perdagangan komoditas lain seperti:

  • Unit penggilingan padi dan distribusi beras
  • Jaringan perdagangan dedak dan ubi
  • Sektor pengolahan komoditas sagu

Buku ini merangkum bagaimana seorang Kapiten Tionghoa di Bandung mengendalikan gurita bisnis modern yang terstruktur rapi. Manajemennya sudah lengkap dengan sistem hukum, perbankan, dan aktivitas ekspor lintas negara.

Cover Buku “Merajut Relasi Bisnis : Surat-Surat Tan Joen Liong Kapiten Tionghoa Bandung” (Ali Rauf Baswedan, 2017) (Foto: Maya Maulyda)
Cover Buku “Merajut Relasi Bisnis : Surat-Surat Tan Joen Liong Kapiten Tionghoa Bandung” (Ali Rauf Baswedan, 2017) (Foto: Maya Maulyda)

Perusahaan Tapioka yang dirintis sejak 22 November 1891 ini memiliki 3 jenis kualitas tepung tapioka:

  • Tipe A: Produk kualitas baik/super.

  • Banthong Liong Kie KK: Produk kualitas sedang.

  • Banthong B: Produk kualitas biasa.

Jaringan distribusinya sangat luas meliputi area lokal Priangan, Batavia, hingga pasar internasional. Dokumen sejarah mencatat bahwa ia bahkan aktif berkirim surat dengan koleganya, J.M dan J.S Nicol North Paterson di New York, untuk rencana ekspansi bisnisnya.

Diplomasi Dagang Pertama: Menembus Raksasa Ekspor L. Platon

Lembaran sejarah mencatat bahwa surat bisnis pertama Tan Joen Liong yang berhasil dilacak bertitimangsa 23 Desember 1900. Surat ini ditujukan kepada L. Platon, sebuah firma ekspor-impor raksasa asal Prancis yang telah berakar kuat di Batavia sejak tahun 1843.

L. Platon dikenal sebagai pemain besar yang mengapalkan komoditas hasil bumi seperti tapioka dan wijen ke Eropa. Di sisi lain, mereka juga mengimpor barang-barang mewah seperti champagne, wiski, dan wine ke Hindia Belanda.

Surat tersebut merupakan respons kilat sang Kapiten terhadap ketertarikan L. Platon. Tanpa membuang waktu, Tan Joen Liong langsung melampirkan tiga contoh (sampel) merek sagu terbaik dari pabriknya. Dengan nada promosi yang taktis dan percaya diri, ia menulis:

Setiap karung terisi padat. Sudah biasa dikirim ke negara-negara Eropa, Singapura, Hongkong, dan Shanghai. Dan setiap gerbong kereta api menampung 80 karung atau 2000 kati. Jikalau Tuan mau membeli harap memberi kabar.

Manajemen Rantai Pasok yang Jempolan

Keberhasilan Tan Joen Liong dalam menjaga kualitas ekspor tidak lepas dari ketelitiannya mengelola rantai pasok (supply chain). Manajemen ini teratur mulai dari pengemasan hingga identitas visual produk (branding).

Untuk memastikan tepungnya tidak rusak selama pelayaran berbulan-bulan di lambung kapal samudra, ia memesan karung goni berkualitas tinggi. Karung goni ini dibeli dari Silas Cohen & Co, sebuah perusahaan penyedia logistik terkemuka di Batavia. Wadah tersebut didesain kuat untuk membungkus komoditas berat seperti kopra, kopi, beras, hingga sagu.

Tidak hanya soal ketahanan fisik kemasan, Tan Joen Liong juga sangat peduli pada reputasi merek. Ia mempercayakan pembuatan etiket (label merek) tepungnya kepada Louw Tjeng Bie di Sukabumi. Langkah ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kekayaan intelektual dan citra produk (brand awareness) sudah diterapkan dengan luar biasa oleh pebisnis lokal pada masa itu.

Konglomerasi Korporasi Keluarga Tan

Untuk mengambil alih dan melanjutkan pengoperasian usaha toko, pabrik tapioka (singkong), dan penggilingan padi, Tan Joen Liong mengambil langkah korporasi yang sangat modern.

Ia menggandeng anak laki-laki tertuanya, Tan Joek Tjong, sebagai pengelola operasional (Direktur). Ia juga melibatkan adik-adik kandungnya, Tan Joen Fat dan Tan Joen Siong, sebagai dewan pengawas perusahaan (Komisaris).

Mereka secara resmi mendirikan sebuah Perseroan Terbatas atau Naamlooze Vennootschap (N.V.) yang diberi nama Handel Maatschappij (Perusahaan Dagang) "Hay Hap Liong Kie" yang berbasis di Bandung. Dengan demikian, perusahaan ini murni merupakan sebuah konglomerasi keluarga (family business) yang sangat erat.

Berita Pendirian "Hay Hap Liong Kie De Preanger-Bode tanggal 13 April 1917. (Sumber: Arsip koran De Preanger Bode, 13 April 1917.)
Berita Pendirian "Hay Hap Liong Kie De Preanger-Bode tanggal 13 April 1917. (Sumber: Arsip koran De Preanger Bode, 13 April 1917.)

Berdasarkan tulisan pada Koran De Preanger-Bode No. 102 terbitan 13 April, berikut adalah pembagian jabatan dan kepemilikan modal dalam keluarga Tan di Bandung:

Nama Tokoh

Jabatan

Jumlah Saham

Nilai Modal (Gulden)

Tan Joen Liong

Direktur Utama

50 Lembar

125.000 (Berupa aset toko, pabrik, & 21 tanah)

Tan Joek Tjong

Direktur

40 Lembar

100.000

Tan Joen Fat

Komisaris

8 Lembar

20.000

Tan Joen Siong

Komisaris

2 Lembar

5.000

Akhir Perjalanan: Jejak Sejarah yang Menguap

Saya terus melangkah mencari di mana lokasi persis dari bekas Halteu Karees dan Pabrik Aci ini sekarang. Yaaah, sayang sekali ternyata bangunan Halteu ini bentuknya sekarang sudah berubah total menjadi bangunan Hotel Harapan Indah yang saat ini terlihat kumuh. Sementara itu, bangunan fisik Pabrik Acinya juga sudah tidak ditemukan lagi di lokasi karena tertutup pemukiman padat. Sangat disayangkan warisan sejarah logistik dan industri besar di Karees ini sekarang menguap hampir tanpa sisa.

Namun lewat catatan kecil ini, kita setidaknya tahu bahwa tanah Karees yang kita injak hari ini, dulunya adalah pusat ekonomi modern kebanggaan Bandung yang pernah menembus pasar dunia. Ok segitu dulu cerita saya, nanti kita sambung ke Part 3 ya cerita tentang bagaimana riuhnya peresmian Halteu Karees ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Maya Maulyda
Tentang Maya Maulyda
Penikmat wisata sejarah dan walking tour

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)