Hai pembaca Ayo Bandung! Mari kita lanjutkan ekspedisi virtual ke Karees tanpa harus berangkat. Cukup simak catatan perjalanan saya di bawah ini.
Kilas Balik: Memangnya Dulu Halteu Karees Buat Apa, Sih?
Biar petualangan kita makin berkesan, yuk kita intip mesin waktu sebentar! Mengapa jalur rel Karees ini begitu penting di masa lalu?
Jalur kereta api yang kita telusuri ini dibuka pada awal abad ke-20 oleh pemerintah Hindia Belanda. Halteu Karees dan jalur cabangnya bukanlah stasiun penumpang biasa seperti Stasiun Bandung atau Stasiun Kiaracondong. Tempat ini dulunya merupakan urat nadi logistik yang super sibuk. Jalur ini dibangun khusus untuk mengangkut material penting, hasil bumi, dan pasokan bahan bakar menuju gudang-gudang penyimpanan. Contohnya seperti persediaan jembatan Staatspoorwegen (SS) dan logistik kota.
Kebayang kan, betapa riuhnya kawasan Samoja dan Kosambi dulu? Suara peluit lokomotif uap yang nyaring dan deru gerbong barang yang berat setiap hari setia menyapa warga. Aktivitas inilah yang menggerakkan roda ekonomi Bandung sebelum akhirnya resmi tertidur selamanya di era 1970-an.

Menyusuri Gang Samoja hingga Karees Kulon
Langkah kaki saya lanjutkan untuk menyelesaikan susur rel di Gang Samoja. Jika melihat peta masa kini, gang tersebut tersambung dengan Jalan Karees Timur Gang Malabar 1. Saat berjalan, saya melihat sebuah gapura dengan tulisan "Selamat Jalan". Ternyata saya keluar di Jalan Malabar. Saya langsung menyeberangi jalan tersebut dan masuk ke Jalan Karees Kulon. Saya terus menyusuri jalan namun awalnya masih belum melihat sisa relnya. Tiba-tiba, ada nih satu bekas rel yang berhasil saya potret dan bentuknya masih nampak jelas terlihat!

Saya kemudian berjalan lagi sampai menemukan sebuah jembatan. Karena penasaran dengan strukturnya, saya turun ke pinggir bawah jembatan itu. Waaaw, mata saya langsung berbinar lagi! Di bawah sana masih ada bekas jembatan zaman Belandanya. Hebat sekali konstruksi jadul tersebut masih kuat bertahan sampai sekarang. Namun saat mengecek bagian lantai atas jembatan, sisa bekas relnya sudah tidak ada.


Menguak Sejarah Pabrik Aci "Haij Hap Liong Kie"
Dari titik jembatan tersebut, saya lanjut lagi melakukan perjalanan mencari bekas Halteu Karees. Kalau melihat arsip foto lama, daerah ini dulunya masih sangat sepi dan lapang. Ukuran bangunannya juga kecil.
Nah, bermodalkan peta zaman Belanda dulu, di dekat Halteu Karees ini ternyata ada sebuah pabrik aci bernama Tapiocafabriek "Haij Hap Liong Kie". Saya penasaran banget, siapa sih pemiliknya sampai diberi akses khusus berupa percabangan jalur trem?

Setelah saya melakukan studi literatur, pemilik awalnya ternyata adalah seorang Letnan Tionghoa. Tokoh utama di balik gurita bisnis ini adalah Tan Joen Liong. Beliau merupakan sosok elite yang menyandang gelar Luitenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) terakhir di Bandung yang menjabat sejak tahun 1888 sampai dengan 1917.
Pada pergantian abad ke-19 menuju abad ke-20, geliat ekonomi di wilayah Hindia Belanda tidak hanya digerakkan oleh korporasi besar milik pemerintah kolonial. Di wilayah Karees kota Bandung, sebuah imperium bisnis lokal yang dinakhodai oleh keluarga Tionghoa peranakan tumbuh pesat. Bisnis mereka merambah dari sektor pangan hingga jaringan perdagangan antar negara.
Bisnis Tapioka Modern Merek "Banthong"
Sebelum membahas lebih lanjut kesibukan Pabrik Tapioka di kawasan Karees ini, ada baiknya kita mengintip manajemennya. Gurita bisnis tepung tapioka dan sagu ini dikendalikan dari jantung Priangan dengan standar modern yang melampaui zamannya.
Catatan ini tertuang dalam buku "Merajut Relasi Bisnis: Surat-Surat Tan Joen Liong Kapiten Tionghoa Bandung" karya Ali Rauf Baswedan. Buku tersebut menunjukkan bahwa Tan Joen Liong bukan sekadar pejabat birokrasi biasa. Beliau adalah pebisnis agroindustri yang sangat aktif dan visioner.
Bisnis utamanya adalah produksi tepung tapioka. Namun selain itu, ia juga mengelola perdagangan komoditas lain seperti:
- Unit penggilingan padi dan distribusi beras
- Jaringan perdagangan dedak dan ubi
- Sektor pengolahan komoditas sagu
Buku ini merangkum bagaimana seorang Kapiten Tionghoa di Bandung mengendalikan gurita bisnis modern yang terstruktur rapi. Manajemennya sudah lengkap dengan sistem hukum, perbankan, dan aktivitas ekspor lintas negara.

Perusahaan Tapioka yang dirintis sejak 22 November 1891 ini memiliki 3 jenis kualitas tepung tapioka:
Tipe A: Produk kualitas baik/super.
Banthong Liong Kie KK: Produk kualitas sedang.
Banthong B: Produk kualitas biasa.
Jaringan distribusinya sangat luas meliputi area lokal Priangan, Batavia, hingga pasar internasional. Dokumen sejarah mencatat bahwa ia bahkan aktif berkirim surat dengan koleganya, J.M dan J.S Nicol North Paterson di New York, untuk rencana ekspansi bisnisnya.
Diplomasi Dagang Pertama: Menembus Raksasa Ekspor L. Platon
Lembaran sejarah mencatat bahwa surat bisnis pertama Tan Joen Liong yang berhasil dilacak bertitimangsa 23 Desember 1900. Surat ini ditujukan kepada L. Platon, sebuah firma ekspor-impor raksasa asal Prancis yang telah berakar kuat di Batavia sejak tahun 1843.
L. Platon dikenal sebagai pemain besar yang mengapalkan komoditas hasil bumi seperti tapioka dan wijen ke Eropa. Di sisi lain, mereka juga mengimpor barang-barang mewah seperti champagne, wiski, dan wine ke Hindia Belanda.
Surat tersebut merupakan respons kilat sang Kapiten terhadap ketertarikan L. Platon. Tanpa membuang waktu, Tan Joen Liong langsung melampirkan tiga contoh (sampel) merek sagu terbaik dari pabriknya. Dengan nada promosi yang taktis dan percaya diri, ia menulis:
Setiap karung terisi padat. Sudah biasa dikirim ke negara-negara Eropa, Singapura, Hongkong, dan Shanghai. Dan setiap gerbong kereta api menampung 80 karung atau 2000 kati. Jikalau Tuan mau membeli harap memberi kabar.
Manajemen Rantai Pasok yang Jempolan
Keberhasilan Tan Joen Liong dalam menjaga kualitas ekspor tidak lepas dari ketelitiannya mengelola rantai pasok (supply chain). Manajemen ini teratur mulai dari pengemasan hingga identitas visual produk (branding).
Untuk memastikan tepungnya tidak rusak selama pelayaran berbulan-bulan di lambung kapal samudra, ia memesan karung goni berkualitas tinggi. Karung goni ini dibeli dari Silas Cohen & Co, sebuah perusahaan penyedia logistik terkemuka di Batavia. Wadah tersebut didesain kuat untuk membungkus komoditas berat seperti kopra, kopi, beras, hingga sagu.
Tidak hanya soal ketahanan fisik kemasan, Tan Joen Liong juga sangat peduli pada reputasi merek. Ia mempercayakan pembuatan etiket (label merek) tepungnya kepada Louw Tjeng Bie di Sukabumi. Langkah ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kekayaan intelektual dan citra produk (brand awareness) sudah diterapkan dengan luar biasa oleh pebisnis lokal pada masa itu.
Konglomerasi Korporasi Keluarga Tan
Untuk mengambil alih dan melanjutkan pengoperasian usaha toko, pabrik tapioka (singkong), dan penggilingan padi, Tan Joen Liong mengambil langkah korporasi yang sangat modern.
Ia menggandeng anak laki-laki tertuanya, Tan Joek Tjong, sebagai pengelola operasional (Direktur). Ia juga melibatkan adik-adik kandungnya, Tan Joen Fat dan Tan Joen Siong, sebagai dewan pengawas perusahaan (Komisaris).
Mereka secara resmi mendirikan sebuah Perseroan Terbatas atau Naamlooze Vennootschap (N.V.) yang diberi nama Handel Maatschappij (Perusahaan Dagang) "Hay Hap Liong Kie" yang berbasis di Bandung. Dengan demikian, perusahaan ini murni merupakan sebuah konglomerasi keluarga (family business) yang sangat erat.

Berdasarkan tulisan pada Koran De Preanger-Bode No. 102 terbitan 13 April, berikut adalah pembagian jabatan dan kepemilikan modal dalam keluarga Tan di Bandung:
Nama Tokoh | Jabatan | Jumlah Saham | Nilai Modal (Gulden) |
|---|---|---|---|
Tan Joen Liong | Direktur Utama | 50 Lembar | 125.000 (Berupa aset toko, pabrik, & 21 tanah) |
Tan Joek Tjong | Direktur | 40 Lembar | 100.000 |
Tan Joen Fat | Komisaris | 8 Lembar | 20.000 |
Tan Joen Siong | Komisaris | 2 Lembar | 5.000 |
Akhir Perjalanan: Jejak Sejarah yang Menguap
Saya terus melangkah mencari di mana lokasi persis dari bekas Halteu Karees dan Pabrik Aci ini sekarang. Yaaah, sayang sekali ternyata bangunan Halteu ini bentuknya sekarang sudah berubah total menjadi bangunan Hotel Harapan Indah yang saat ini terlihat kumuh. Sementara itu, bangunan fisik Pabrik Acinya juga sudah tidak ditemukan lagi di lokasi karena tertutup pemukiman padat. Sangat disayangkan warisan sejarah logistik dan industri besar di Karees ini sekarang menguap hampir tanpa sisa.
Namun lewat catatan kecil ini, kita setidaknya tahu bahwa tanah Karees yang kita injak hari ini, dulunya adalah pusat ekonomi modern kebanggaan Bandung yang pernah menembus pasar dunia. Ok segitu dulu cerita saya, nanti kita sambung ke Part 3 ya cerita tentang bagaimana riuhnya peresmian Halteu Karees ini. (*)