Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

8 menit baca
Maya Maulyda
Ditulis oleh Maya Maulyda diterbitkan
Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)

Bagi warga Bandung, kawasan di sekitar Jalan Ahmad Yani atau Jalan Gatot Subroto mungkin dikenal sebagai pusat aktivitas kota yang padat. Namun, tahukah Anda bahwa di bawah atau di sekitar bangunan yang Anda lihat hari ini, pernah membentang jalur trem kereta api aktif menuju Halteu Karees? Jalur mati yang resmi berhenti beroperasi sejak tahun 1976 ini ternyata masih menyisakan "jejak rahasia".

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel yang masih bertahan, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau.

Bermodal Peta Tua 1936

Semua ini bermula saat saya iseng mengamati file peta tua Kota Bandung tahun 1936. Mata saya tertuju pada sebuah garis putus-putus berwarna hitam, sebuah jalur trem yang membentang dari Cibangkong ke arah Karees. Jika ditarik ke peta modern, titik Cibangkong saat ini berada di sekitar area Trans Studio Mall (TSM), sementara Halteu Karees dulunya berdiri di sekitar seberang Pasar Kosambi. Wah, kebayang kan betapa dekatnya sejarah ini dengan pusat keramaian kita sehari-hari?

Dengan berbekal peta digital tersebut di dalam hand phone, jiwa petualang saya langsung bergejolak. Berasa jadi Dora the Explorer versi lokal, pada suatu Minggu pagi di akhir Mei 2026, sambil berolah raga jalan kaki, saya pun memutuskan untuk masuk dari Jalan Laswi melalui Gang Samoja. Kenapa harus lewat sini? Karena jalan ini nampak pada peta terdapat lanjutan trem dari Jalan Cinta Asih Selatan, yang dalam catatan sejarah dulunya adalah jalur rel aktif dari daerah Cibangkong. Yuk, ikut saya blusukan!

Memasuki Gang Samoja, petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Kanan-kiri saya dipenuhi oleh padatnya rumah warga dan riuhnya aktivitas pagi khas permukiman Bandung. Sambil berjalan santai, pandangan saya terus menyapu ke arah kiri dan kanan bawah, memasang "mata elang" demi berburu serpihan masa lalu.

"Duh, mana ya? Kok belum kelihatan juga jalur relnya?" bisik saya dalam hati setelah beberapa meter melangkah. Sempat ada rasa ragu, jangan-jangan semuanya sudah tertimbun semen dan rumah tanpa sisa.

Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Saya terus berjalan menyusuri gang yang dinamis ini, sampai tiba-tiba... deg! Langkah kaki saya mendadak terhenti. 

Mata saya langsung berbinar hebat melihat sepotong besi berkarat yang menyembul malu-malu di antara tanah dan dinding bangunan. Bagi orang awam yang lewat, objek tersebut mungkin cuma terlihat seperti barang rongsokan biasa atau besi tua tak berguna. Namun, bagi pencinta sejarah seperti saya, potongan besi itu adalah sebuah "harta karun" yang luar biasa berharga.

Potongan besi berkarat ini adalah saksi bisu. Inilah bagian dari jalur rel menuju Halteu Karees, sebuah Halteu nonaktif yang dulunya sangat hidup dan menjadi bagian penting dalam menggerakkan nadi ekonomi kota Bandung. Kunjungan langsung saya ke lokasi benar-benar memperlihatkan kontras yang luar biasa indahnya. Bagaimana tidak? Jalur yang dulunya riuh oleh suara kereta api dan deru mesin uap pembawa logistik dan angkutan manusia, kini telah berselimut hangatnya peradaban baru dan tawa warga di gang pemukiman.

Rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Temuan Lapangan di Gang Samoja

Menelusuri jalur mati ini membuat saya sadar, sejarah Bandung tidak selalu ada di dalam museum. Kadang, ia berada tepat di bawah langkah kaki kita, menunggu untuk ditemukan kembali.

Perjalanan kemudian saya lanjutkan sampai menemukan percabangan ke arah kanan lalu saya menyusuri jalan tersebut masuk ke Jalan Samoja yang lebar. Nah, selain jalur rel, ternyata ada sejarah besar lain yang tertulis di peta tahun 1936 yang saya bawa. Setelah saya telusuri lebih detail, peta kolonial tersebut tidak hanya menampilkan garis rel trem biasa, melainkan juga menandai sebuah kawasan perkeretaapian yang sangat terstruktur. Di sinilah terungkap bahwa wilayah Karees dulunya adalah area emas bagi jawatan kereta api Hindia Belanda (Staatsspoorwegen / SS).

Harta karun sejarah pertama yang tercatat di peta tersebut adalah Constructie Bureau SS / Kantoor Constructie en Bruggenbouw. Saat ini lahan tersebut ditempati oleh Kompleks Pertamina Samoja. Bagi kalian yang belum tahu, ini adalah nama mentereng untuk Kantor Dinas Konstruksi dan Pembangunan Jembatan milik Staatsspoorwegen. Bayangkan, tempat ini dulunya bukan sekadar kantor administrasi biasa yang penuh tumpukan kertas, melainkan markas bengkel arsitektur perkeretaapian kelas berat.

Kompleks ini dulunya merupakan "otak dan markas" bagi para insinyur kolonial. Di biro konstruksi inilah seluruh cetak biru, perencanaan jembatan, dan perluasan jalur logistik ke arah Bandung Selatan (seperti Soreang hingga Ciwidey) dirancang. Jadi, area pemukiman padat yang saya lewati, saya membayangkan dulunya tempat ini adalah tempat hilir mudik para arsitek dan teknisi yang membawa gulungan kertas kalkir untuk membangun peradaban transportasi Bandung!

Di kantor Bruggenbouw (pembangunan jembatan) inilah para insinyur Belanda memeras otak untuk mendesain struktur jembatan tangguh, menghitung kekuatan tiang pancang baja, hingga merancang struktur beton di jalur cabang Bandung Selatan.

Fakta ini langsung membuat ingatan saya melompat ke temuan lapangan saya di Gang Samoja tadi, khususnya saat saya menemukan sisa rel yang masih mengintip kokoh di tepi jembatan. Wah, jangan-jangan jembatan kecil yang saya lewati dan foto itu adalah salah satu karya nyata yang lahir langsung dari coretan kuas para arsitek di Kantoor Constructie en Bruggenbouw Karees ini puluhan tahun silam! Sungguh sebuah kebetulan yang bikin merinding saking serunya!

Warga beraktifitas di rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif, Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, Senin 28 April 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga beraktifitas di rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif, Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, Senin 28 April 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pusat Komando Seluruh Jawa

Tunggu, petualangan membaca peta 1936 saya mencapai puncaknya waktu saya menemukan satu komplek bangunan lagi dengan nama yang super panjang dan berwibawa: SS Kantoor Hoofd Opnamekring Java. Saat ini lahannya ditempati oleh Asrama Polwiltabes Bandung.

Mendengar namanya saja sudah kebayang kan betapa pentingnya tempat ini? Opname dalam bahasa Belanda itu artinya pengukuran atau survei lapangan. Jadi, kantor ini adalah Pusat Komando Surveyor Tanah Kereta Api untuk seluruh Pulau Jawa!

Bayangkan, sebelum jalur kereta dibangun, tim surveyornya dikomandoi langsung dari kantor yang ada di Karees Bandung ini! Mereka adalah tim "pembuka jalan" yang blusukan ke hutan dan gunung membawa teodolit demi memetakan jalur rel. Fakta ini bikin saya bengong saat berjalan disini. Tempat yang sekarang jadi pemukiman padat dan gang senggol ini, ternyata puluhan tahun lalu adalah pusat riset dan pemetaan transportasi paling canggih di zamannya. Di sinilah masa depan transportasi kereta api Pulau Jawa ditentukan di atas meja-meja gambar.

Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)
Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)

Kompleks Rumah Dinas Pegawai SS

Tidak jauh dari biro tersebut, peta 1936 juga dengan jelas menandai area SS Dienstwoningen alias rumah dinas pegawai kereta api. Fasilitas di lingkungan perumahan elit kereta api ini pun tidak main-main. Di dalam kompleks ini, peta 1936 mencatat adanya pusat pendidikan terkemuka pada zamannya, yaitu sekolah Gouv. 1ste Holl. Inl. School (HIS) yang merupakan sekolah dasar pemerintah bagi anak-anak bumiputera kalangan atas, serta Part. Neutrale Eur. Lagere School I.E.V., sekolah dasar swasta netral untuk anak-anak keturunan Eropa dan Indo. Kehadiran sekolah-sekolah ini mempertegas bahwa Karees tempo dulu dirancang sebagai sebuah kawasan komanditer perumahan perkeretaapian yang modern, mandiri, dan elite di selatan Bandung.

Jejak sekolah kolonial ini bahkan masih bisa kita lacak sampai sekarang, lho. Bangunan Gouv. 1ste Holl. Inl. School (HIS) saat ini telah bertransformasi menjadi SD Centeh yang terletak di Jalan Centeh, Bandung. Sementara itu, eks bangunan Part. Neutrale Eur. Lagere School I.E.V. kini berada di Jalan Pacar.

Nah, bangunan eks sekolah I.E.V. di Jalan Pacar inilah yang menyimpan plot cerita paling menarik! Berdasarkan pantauan berkala melalui Google Street View, gedung tua sarat sejarah ini sudah dipasangi plang iklan dijual sejak tahun 2018 hingga saat ini. Tampaknya, ia masih setia menanti sang pemilik baru yang tak kunjung datang.

Waktu saya blusukan ke sana kemarin, keberuntungan berpihak pada saya! Saya sempat mengobrol seru dengan Bapak penjaga TK Negeri Centeh yang lokasinya tepat berada di seberang bangunan tua tersebut. Dari beliau, terkuaklah sekelumit cerita masa lalu gedung misterius ini yang selama ini minim beritanya.

Menurut info si Bapak, pemilik gedung ini sekarang adalah sebuah keluarga Tionghoa yang juga merupakan pemilik salah satu Hotel Jadul di Bandung dan toko keramik di kawasan Ruko Segitiga Emas Kosambi. Siapa sangka, garis waktu gedung ini setelah era kemerdekaan ternyata sangat dinamis! Si Bapak bercerita sambil bernostalgia, "Dulu waktu saya masih SD sekitar tahun 70-an, bangunan kolonial ini sempat disulap jadi pabrik plastik, lho! Ini di halamannya banyak banget plastik. Setelah itu, fungsinya berubah lagi menjadi pabrik tegel (ubin)."

Sayangnya, setelah riuh rendah mesin pabrik itu berhenti berputar, bangunan megah ini sekarang berakhir sunyi, kosong melompong, dan hanya dihuni oleh seorang penjaga, yang pada saat saya berkunjung yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat. Kalau kalian melihatnya langsung hari ini, atmosfernya jujur agak-agak spooky alias menyeramkan! Dengan kondisi atap dan dinding yang sudah mulai rusak dimakan usia, aura ala rumah hantu langsung menyergap ingatan saya. Hiii... dalam hati saya membatin, "Nggak serem apa ya, bermalam sendirian di dalam gedung tua sebesar dan se-spooky ini?"

Namun, di balik keindahan dan kemewahan rumah-rumah di kompleks villa Karees ini, tersimpan sebuah lembaran hitam yang kelam. Siapa sangka, area pemukiman yang damai ini mendadak berubah mencekam pada periode tahun 1942–1945. Di bawah roda penjajahan Jepang, kawasan perumahan elit milik SS ini dialihfungsikan menjadi Kamp Interniran, yaitu sebuah kamp tahanan yang mengurung warga sipil Eropa di bawah pengawasan militer yang ketat. Next time saya akan bercerita tentang Kamp Interniran ini ya.

Menelusuri kawasan Karees memberikan pengalaman yang luar biasa kaya. Kita diajak melihat bagaimana sebuah kawasan bertumbuh, mulai dari markas para insinyur perkeretaapian, Pusat Komando Surveyor Tanah Kereta Api untuk seluruh Pulau Jawa, komplek perumahan elit bergaya villa, hingga menjadi saksi bisu dari pasang surutnya kekuasaan di tanah Pasundan.

Tapi cerita ini belum berhenti sampai disini, saya akan melanjutkan cerita  ekspedisi  mencari lokasi Eks Halteu Karees di Part berikutnya. Penasaran, kan? Stay tuned dan sampai jumpa di Part 2. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Maya Maulyda
Tentang Maya Maulyda
Penikmat wisata sejarah dan walking tour

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:15

Ketaatan Pengelolaan Risiko Kebakaran

Peran dinas damkar perlu transformasi sehingga paradigmanya berubah dari peran pemadam menjadi fungsi yang proaktif mencegah kebakaran. 

Ilustrasi kebakaran pabrik di daerah Cipadung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Fira Nursyabani)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)