Pabrik gula sewugalur merupakan pabrik yang didirikan oleh E. J Hoen, O. A. O. Van Der Berg dan R.M.E Raaff pada tahun 1881. Pabrik ini terletak di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulnprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pabrik ini merupakan salah satu peninggalan Belanda yang mana Pabrik gula ini pernah berjaya pada masanya. Hingga dibangun fasilitas seperti sekolah, rumah dinas hingga jalur kereta api untuk mendukung semua kegiatan operasional pada masa itu. Namun pabrik gula sewu galur saat ini sudah tidak dapat dilihat lagi dan yang tersisa pada saat ini ialah struktur cerobang asap yang sekarang terletak dibelakang sebuah pekarangan warga dan saluran air.
Meskipun bangunan pabrik sudah hilang, tetapi masih ada beberapa bangunan rumah dinas ( rumah indis) yang saat ini masih utuh bahkan masih di tempati sampai sekarang, tetapi ada juga yang sudah tinggal puing puing dari sisa reruntuhan rumah tersebut, yang berada di sebelah timur dan di sebelah selatan pabrik tersebut.
Di sebelah timur, terdapat 6 rumah dinas. dari 6 rumah dinas yang terdapat di sebelah timur tersebut, terdapat 1 rumah yang mengalami kerusakan parah, yang disebabkan karna gempa. sedangkan bangunan yang lainnya masih di tempati sampai sekarang sedangkan di sebelah selatan, terdapat 4 rumah yang masih utuh dan masih di tinggali. Dan terdapat 1 rumah yang tinggal puing puing reruntuhan.

Jika membicarakan tentang kejayaan dan sejarah Pabrik Gula Sewugalur berarti memutar kembali ingatan pada era keemasan industri gula di tanah Jawa. Sejak pertama kali berdiri, sistem operasional dan fasilitas Pabrik Gula Sewugalur dikenal sangat mumpuni untuk memenuhi permintaan pasar global akan tebu, yang kemudian diolah menjadi gula, terutama selama masa Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pada akhir abad ke-19 pabrik ini tercatat memiliki kapasitas produksi mencapai 70.000 – 80.000 pikul*. Dengan kata lain, pabrik ini memiliki hasil produksi gula kurang lebih sebesar 4.326.000 Kg sampai 4.944.000 Kg. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa Pabrik Gula Sewugalur merupakan pabrik gula golongan menengah (Margana, 2003: 134).

Namun, kejayaan tersebut nyatanya tidaklah bertahan lama. Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar secara perlahan namun pasti. Penurunan harga gula yang drastis di pasar internasional memaksa cerobong asap pabrik berhenti mengepul untuk selamanya.
Kini, meskipun aktivitas industri tersebut telah lama mati, kita masih bisa melihat jejak arsitektur di Sewugalur yang tetap menawan. Melalui sisa-sisa bangunan pabrik dan rumah-rumah dinas bergaya kolonial yang masih berdiri, kita seolah diingatkan bahwa di sudut Kulon Progo ini, pernah ada denyut ekonomi besar yang pernah menggetarkan zamannya.

Menelusuri sisa-sisa eks pabrik gula sewugalur saat ini dan kembali mengungkap memori kolektif tentang kejayaan industri gula di masa lampau. Yang di mana Di lokasi tersebut, kita masih dapat menjumpai reruntuhan dan jejak infrastruktur Pabrik Gula Sewugalur yang tersebar di antara pemukiman warga, mulai dari pondasi bangunan hingga sisa-sisa tembok raksasa.
Demi menjaga kelestariannya, pemerintah telah memberikan status cagar budaya terhadap eks perumahan dan sisa pabrik tersebut sebagai upaya perlindungan hukum atas aset sejarah yang berharga. Namun, kondisi fisik situs tersebut kini kian memprihatinkan akibat kerusakan hebat pasca-gempa 2006 dan alih fungsi lahan pabrik gula tersebut menjadi pemukiman dan pesawahan.

Rumah indis di eks kompleks Pabrik Gula Sewugalur, Kulon Progo, merupakan Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi. Sisa-sisa bangunan perumahan dinas Belanda ini (contoh: rumah milik Bapak Sunartejo) diakui sebagai warisan kolonial penting yang terdokumentasi dalam sistem Jogjacagar dan data Kemdikbud.
Rumah dinas dan pabrik gula sewugalur merupakan pabrik yang terletak di kabupaten kulonprogo yang bangkrut pada masa kedudukan jepang, dan peninggalan yang masih ada sampai sekarang di jadikan oleh dinas kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi cagar budaya warisan pada masa pendudukan belanda yang harus kita jaga dan kita lestarikan. (*)
*Catatan: Pikul merupakan satuan berat yang pada masa pemerintahan kolonial Belanda masih familiar dipakai terutama pada sekitar abad ke-19. Satuan ini apabila dikonversikan dalam kilogram menurut beberapa rujukan menunjukkan angka-angka yang berbeda seperti 60 kg, 62,5 kg, 61,8 kg, hingga 75 kg. Dalam tulisan di atas, hasil produksi gula dari Pabrik Gula Sewugalur menunjukkan kapasitas 4.326.000 Kg sampai 4.944.000 Kg karena menggunakan rujukan yang menyatakan bahwa 1 pikul= 61,8 kg(Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta, 2017, Dipetik pada 28 Mei 2022, dari http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/pabrik-gula-sewugalur/).
REFERENSI:
Agung, F. (t.t.). Rumah Indis dan jejak Pabrik Gula Sewugalur di Kulon Progo. Tirto.id.
Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (t.t.). Eks Pabrik Gula Sewugalur. Jogjacagar.
Kalurahan Karangsewu. (2025, 1 Oktober). DISBUD Kulon Progo sambangi cagar budaya eks pabrik gula di Kalurahan Karangsewu, ada apa?.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (1917). Kondisi Pabrik Gula Sewugalur pada masa masih beroperasi [Fotografi].
Lengkong Sanggar. (2017, 20 Mei). Pabrik gula di Yogya tidak hanya PG Madukismo. Kompasiana.
Liputan6.com. (2025, 15 Juni). Jejak kejayaan Pabrik Gula Sewugalur di Kulon Progo.
Sani, S. (2022, 25 November). Eksistensi Pabrik Gula Sewugalur dan pengaruhnya terhadap dinamika sosial ekonomi tahun 1881–1935. MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, 13(2).
