Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

8 menit baca
Ahmad Fauzan Hakim Siregar
Ditulis oleh Ahmad Fauzan Hakim Siregar diterbitkan
Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)
Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)

Sungai Cisadane, Sungai indah dan elok yang terkenal dengan kekayaan alam serta keindahannya yang tidak bisa dipungkiri, airnya yang jernih membentang dari kaki Gunung Pangrango hingga bermuara di Laut Jawa.

Melintasi lembah-lembah hijau dan perkampungan yang hidup berdampingan disepanjang tepiannya, sungai ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan seharihari masyarakat Jawa Barat dan Banten selama berabad-abad lamanya.

Hingga kini, jasa Sungai Cisadane tidak pernah hilang. Sungai ini menjadi sumber air bersih bagi jutaan warga, pengairan bagi lahan pertanian, serta pendukung berbagai kegiatan industri di wilayah Bogor, Tangerang, dan Provinsi Banten. Melewati 44 kecamatan di lima Kabupaten dan Kota, ia adalah pemersatu wilayah yang mengalir tanpa henti, memberikan kehidupan kepada siapa saja yang tinggal di dekatnya.

Namun dibalik segala keindahan dan tanda jasanya yang tidak terhitung tersebut, Sungai Cisadane kini menghadapi ancaman yang datang perlahan tapi pasti. Di kawasan Rumpin, salah satu wilayah yang dilalui aliran sungai ini, aktivitas penambangan pasir dan batu kerikil telah berlangsung bertahun-tahun menggerus dasar sungai, mengikis tepiannya, dan sedikit demi sedikit mengikis keindahan yang selama ini menjadi kebanggaan sungai bersejarah ini.

Aktivitas penambangan batu kerikil dan pasir di sepanjang Sungai Cisadane, Rumpin, telah berlangsung hampir puluhan tahun dan meninggalkan jejak sejarah kelam sekaligus dampak yang tidak dapat diabaikan bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitarnya.

Menurut data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Rumpin merupakan salah satu kawasan pertambangan galian C (pasir, kerikil, batu kali, tanah urug) terbesar di Kabupaten Bogor, dengan aktivitas penambangan pasir dan batu yang telah tercatat sejak era 1980-an.

Kawasan ini menjadi pemasok utama bahan material bangunan bagi wilayah Jabodetabek, yang menyebabkan kegiatan tambang terus berkembang pesat seiring tingginya permintaan bahan untuk konstruksi di ibu kota dan sekitarnya. Namun, eksploitasi yang berlangsung terus-menerus ini juga memicu kerusakan ekosistem sungai, abrasi tepi Sungai, serta munculnya konflik antara pelaku tambang, pemerintah, dan warga setempat.

Kondisi yang memprihatinkan ini akhirnya memicu respons pemerintah setempat, di mana pada September 2025, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara operasi tambang di Rumpin, Parung Panjang, dan Cigudeg karena masih banyak persoalan lingkungan dan keselamatan yang belum diselesaikan oleh para pemegang izin usaha pertambangan. Keputusan tersebut kemudian diperkuat dengan audit ilmiah yang melibatkan pakar dari ITB dan IPB. Namun hingga awal 2026, situasi belum sepenuhnya reda, ribuan warga terdampak berunjuk rasa menuntut tambang kembali dibuka, sementara sebagian aktivitas diduga mulai beroperasi diam-diam.

Sejarah Kawasan Rumpin Sebelum Menjadi Kawasan Tambang

Lanskap agraris Rumpin di tepi Sungai Cisadane, abad ke-19. (Sumber: KITLV)
Lanskap agraris Rumpin di tepi Sungai Cisadane, abad ke-19. (Sumber: KITLV)

Dulu, kawasan Rumpin adalah bagian dari hamparan hutan lebat dan lahan pertanian yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat adat Sunda, jauh sebelum tangan-tangan kolonial menyentuh dan mengubah wajahnya. Berdasarkan Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 1867, Volume 40, yang memuat bab khusus bernama Staat der Partikuliere Landerijen (Daftar Tanah Partikelir) pada halaman 236, kawasan Rumpin yang dahulu masuk ke dalam Land Koeripan dikenal sebagai penghasil padi, kopi, dan gula Jawa, dengan lahan perkebunan yang mulai dibuka sejak sekitar tahun 1790 di tepi Sungai Cisadane.

Memasuki awal abad ke-19, tanah Rumpin mulai masuk dalam catatan sejarah kolonial Belanda yang lebih luas. Gerrit Willem Casimir van Motman, seorang tuan tanah Belanda yang setelah VOC bangkrut menjadi salah satu penguasa lahan terluas di wilayah Buitenzorg (Bogor), tercatat memiliki tanah seluas 117.099 hektar yang di antaranya mencakup wilayah Rumpin dan Cikoleang.

Tanah-tanah ini menjadi basis bagi perkebunan kopi, teh, dan komoditas lainnya yang mendukung ekonomi kolonial, menjadikan Rumpin sebagai salah satu wilayah penghasil komoditas penting di kawasan barat Bogor.

Sebagian besar lahan di kawasan ini dibudidayakan sebagai perkebunan teh, kopi, kina, karet, tebu, dan persawahan yang menghidupi ribuan penduduk lokal dari generasi ke generasi. Tanah yang subur, dialiri oleh aliran Sungai Cisadane yang jernih, menjadikan Rumpin sebagai kawasan agraris yang makmur.

Masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah ini hidup berdampingan dengan alam, mengolah sawah dan ladang dengan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sungai Cisadane bukan hanya sekadar sumber air, ia adalah nadi kehidupan yang mengairi sawah, menghidupi ternak, dan menyatukan kampung-kampung di sepanjang bantarannya.

Perubahan besar mulai terasa di Rumpin sejak era Orde Baru, saat kebijakan pembangunan infrastruktur mulai menyentuh kawasan pinggiran Bogor. Namun, perubahan yang paling drastis justru datang belakangan, ketika potensi material alam di dasar dan tepian Sungai Cisadane mulai dilirik untuk kepentingan industri tambang, hal tersebut menjadikan sebuah babak baru yang pelan-pelan mengubah wajah Rumpin dari kawasan pertanian yang tenang menjadi kawasan eksploitasi yang penuh debu dan deru mesin.

Dinamika Perkembangan Pertambangan dan Dampaknya terhadap Lingkungan serta Konflik Sosial

Ilustrasi aksi demonstrasi terkait polemik aktivitas pertambangan di Rumpin. (Foto: Rafael Christopher and Vanesh De Gabze)
Ilustrasi aksi demonstrasi terkait polemik aktivitas pertambangan di Rumpin. (Foto: Rafael Christopher and Vanesh De Gabze)

Aktivitas pertambangan di Rumpin berkembang secara bertahap, dari skala kecil yang dilakukan oleh warga lokal hingga tumbuh menjadi sebuah industri besar yang mendominasi pasokan bahan material bangunan untuk kawasan Jabodetabek. Jauh sebelum perusahaanperusahaan besar mendominasi wilayah tersebut, warga lokal telah lebih dahulu menggali pasir dan batu dari tepian Sungai Cisadane sejak sekitar tahun 1980-an, menggunakan peralatan sederhana sebagai upaya memenuhi kebutuhan material bagi pembangunan di Jakarta dan daerah penyangga Ibu Kota lainnya.

Seiring meningkatnya permintaan bahan material, Rumpin menjelma menjadi salah satu pusat pertambangan galian C yang menghasilkan tanah, batu, dan pasir, dengan puluhan perusahaan beroperasi setiap harinya baik secara tradisional maupun modern. Wilayah eksplorasi tambang berpusat di Gunung Maloko, Berdasarkan penelitian LIPI, batu andesit dari Gunung Maloko telah diuji dan terbukti memiliki kualitas yang baik, sehingga bisa digunakan untuk bahan fondasi, bahan campuran beton, dan juga ubin lantai maupun dinding bangunan. Berdasarkan catatan tahunan Holcim Indonesia tahun 2015, Tambang di Maloko ini bahkan menjadi satu-satunya dan yang terbesar di Pulau Jawa, dengan produksi hingga sekitar 3 juta ton bahan bangunan setiap tahun.

Namun dibalik angka-angka produksi yang mengesankan itu, ada dampak yang harus dibayarkan oleh alam dan masyarakat. Kerusakan alam terutama kawasan hutan terjadi secara masif, disertai dengan kerusakan beberapa daerah aliran sungai yang melintasi kawasan tambang seperti Desa Rumpin, Desa Cipinang, dan Desa Sukasari. Sungai Cisadane yang selama berabad-abad menjadi urat nadi kehidupan kini menghadapi ancaman pengikisan dan pendangkalan akibat penggalian yang tidak terkendali di bantarannya. Salah satu bekas galian tambang di Desa Kampung Sawah, Rumpin, kini terisi dengan air hujan dan kemudian berubah menjadi danau yang dikenal sebagai Danau Quarry. Keberadaan danau ini menjadi ironi, karena berasal dari lubang tambang yang sebelumnya menuai banyak protes dari masyarakat hingga akhirnya kegiatan tambangnya terpaksa dihentikan di tengah jalan.

Kehadiran industri tambang besar juga memunculkan berbagai macam konflik yang berlapis di tengah masyarakat. Dampak sosial yang ditemukan meliputi kerusakan infrastruktur jalan, kecelakaan pengguna jalan umum, peningkatan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), keterlibatan sopir dibawah umur, hingga konflik antara masyarakat yang menolak tambang dan masyarakat yang merasa mendapatkan keuntungan finansial dari aktivitas tersebut. Keberadaan perusahaan tambang tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan air dan udara, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat akibat hilir mudiknya armada truk-truk tambang yang melintasi jalan raya Rumpin hingga wilayah Parung Panjang.

Kondisi ini akhirnya memicu respons tegas dari pemerintah. Melalui Surat Edaran Nomor 7920/ES.09/PEREK tertanggal 25 September 2025, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberlakukan penghentian sementara seluruh kegiatan pertambangan di Kecamatan Parung Panjang, Rumpin, dan Cigudeg mulai 26 September 2025. Setelah evaluasi pada 19 September 2025, data menunjukkan masih banyak persoalan lingkungan dan keselamatan yang belum diselesaikan oleh para pemegang Izin Usaha Pertambangan. Dalam pernyataannya, Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa sejak 2019 hingga 2024, tercatat 195 orang meninggal dunia dan 140 orang mengalami luka berat akibat kecelakaan truk tambang di jalan raya.

Kebijakan penutupan ini malah memicu gelombang penolakan dari masyarakat. Pada 29 September 2025, ratusan sopir truk dan pekerja tambang turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi di Pasar Lebakwangi, Kabupaten Bogor, menuntut agar tambang dibuka kembali karena banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor tersebut. Di sinilah wajah sesungguhnya dari dilema tambang Rumpin terkuak, sebuah konflik pelik antara kebutuhan ekonomi warga, ambisi industri, kelalaian pengawasan, dan jeritan alam yang tak lagi mampu bungkam.

Kawasan Rumpin di tepi Sungai Cisadane menyimpan perjalanan panjang perubahan fungsi lahan dari masa ke masa, dari hamparan keindahan hutan dan perkebunan yang subur pada era kolonial, yang kemudian beralih menjadi salah satu pusat pertambangan galian C terbesar di Jawa Barat pasca kemerdekaan. Perubahan itu bukan terjadi dalam sekejap mata, melainkan merupakan hasil dari dorongan ekonomi yang terus menguat seiring pesatnya pembangunan di kawasan Jabodetabek sejak tahun 1980-an.

Namun demikian, pertumbuhan industri tambang yang tidak diimbangi dengan pengawasan dan tata kelola yang ketat telah meninggalkan luka ekologis yang nyata bagi alam disekitarnya. Dimulai dari rusaknya daerah aliran Sungai Cisadane, terkikisnya kawasan hutan, hingga berbagai konflik sosial yang meresahkan warga. Tambang yang semula menjadi tumpuan ekonomi masyarakat perlahan berubah menjadi beban milik bersama.

Langkah penghentian sementara operasi tambang oleh Gubernur Jawa Barat pada 2025 menjadi sinyal penting bahwa eksploitasi sumber daya alam tidak bisa terus berjalan tanpa batas. Ke depannya, diperlukan langkah dan upaya yang lebih seimbang antara kepentingan ekonomi, keselamatan warga, dan kelestarian lingkungan agar Sungai Cisadane dan kawasan Rumpin dapat diwariskan dalam kondisi layak kepada generasi yang akan datang. (*)

Sumber/Referensi

  • Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 1867 (Vol. 40, hlm. 236). (1867). LandsDrukkerij. (Bab: Staat der Partikuliere Landerijen — Daftar Tanah Partikelir)

  • COLLECTIE TROPENMUSEUM Gezicht over de rivier Cisadane met de vulkaan Salak op de achtergrond TMnr 60016662.jpg

  • Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat. (n.d.). Data kawasan pertambangan galian C di Kabupaten Bogor. Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

  • Gubernur Jawa Barat. (2025, 25 September). Surat Edaran Nomor 7920/ES.09/PEREK tentang penghentian sementara kegiatan pertambangan di Kecamatan Parung Panjang, Rumpin, dan Cigudeg. Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

  • Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (n.d.). Penelitian kualitas batu andesit Gunung Maloko, Rumpin, Kabupaten Bogor. LIPI.

  • Holcim Indonesia. (2015). Laporan tahunan 2015: Operasional tambang Maloko, Rumpin. PT Holcim Indonesia Tbk.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ahmad Fauzan Hakim Siregar
Saya adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah di Universitas Padjadjaran, Bandung. Minatnya pada sejarah, jurnalisme, dan penulisan.

Berita Terkait

News Update

Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:04

Jalan Berlubang, Nyawa Melayang: Pelajaran dari Tragedi di Pasteur

Tragedi di Jalan Pasteur menjadi pengingat bahwa jalan berlubang dapat memicu kecelakaan fatal dan menegaskan pentingnya prinsip jalan berkeselamatan.

Seorang pengemudi ojek online tewas usai terjatuh karena lubang di Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung, Rabu (17/6/2026). (Sumber: Dok. Unit Gakkum Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:28

Endorse Jutaan, Hasil Recehan

Memilih influencer sebagai strategi marketing perusahaan produk fashion tidak lagi menjadi daya tarik yang kuat bagi konsumen Gen Z karena Gen Z lebih peduli terhadap produk murah dan diskon.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:09

Mengapa Internet Tidak Gratis Bagi Pendidikan?

Kebutuhan internet gratis sangat tepat untuk menjadikan sekolah berselancar dengan internet sehingga wawasan pendidikan makin terbuka.

ilustrasi berselancar di internet. (Sumber: Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 20:17

Dari Tanam Paksa ke Investasi Modern: Mengkritisi Pola Investasi Masa Kolonial untuk Masa Kini

Investasi Indonesia berubah dari eksploitatif di era kolonial menjadi lebih inklusif di era modern, dengan realisasi Rp1.418 triliun dan 1,8 juta lapangan kerja pada 2023.

Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 20:06

Belajar Kebijaksanaan dari BUMDes Cisurat, Bersaing Sehat dengan Agen BRILink Warganya

Dahulu, warga Desa Cisurat harus menempuh perjalanan rata-rata 10 kilometer untuk urusan perbankan.

Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 19:13

Dari 4444 Menjadi Biometrik, Nanti Apalagi?

Menganalisa rekam jejak pemerintah dalam melindungi data pribadi masyarakat melalui kebijakan registrasi kartu SIM.

Ilustrasi keamanan siber. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)