Dari 4444 Menjadi Biometrik, Nanti Apalagi?

6 menit baca
Wuri Indri
Ditulis oleh Wuri Indri diterbitkan
Ilustrasi keamanan siber. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ilustrasi keamanan siber. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)

Bayangkan kalau setiap hari ada orang asing yang bisa masuk ke rumah Anda, menaruh selebaran promosi judi online, pinjaman ilegal, atau penipuan berhadiah di meja makan, lalu pergi begitu saja tanpa bisa dilacak. Hal semacam itulah yang terjadi pada kotak pesan ponsel jutaan orang Indonesia setiap hari. Bedanya, "rumah" itu adalah ponsel pribadi kita, dan "selebarannya" berbunyi seperti ini:

Plaza188: Daftar sekarang & dapatkan bonus 100% deposit pertama! Klik: plaza188-vip.com

KTA CEPAT CAIR! Pinjaman Rp5-50jt tanpa jaminan, proses 1 hari, bunga ringan. Daftar: wa.me/628xxxxxxxxx

Nomor 081XXXXXXX47 Besok pagi semua +2000 COIN PULSA Anda HANGUS! Hubungi 50055# utk Ambil & Tukar PULSA hari ini! Hub 50055# SEGERA dan Tekan 1! SK myads.id/COINS.

Ini bukan kejadian yang Cuma sekali. Dari pengalaman pribadi, pesan semacam ini bisa muncul 2-5 kali sehari, dari nomor-nomor yang berbeda, mengatasnamakan bank, e-commerce, sampai lembaga pemerintah. Anehnya, meski sudah berkali-kali diblokir, pesan serupa tetap saja masuk, seolah memang ada celah yang dibiarkan terbuka.

Padahal, masalah ini sudah lama coba diatasi. Sembilan tahun lalu, tepatnya Oktober 2017, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika mewajibkan registrasi kartu SIM prabayar, baik untuk nomor lama maupun baru. Prosesnya juga tidak sederhana karena   harus menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK) yang valid, baik lewat situs resmi maupun SMS ke 4444. Bahkan, sanksinya cukup tegas: kartu yang tidak diregistrasi akan diblokir dan tidak bisa digunakan untuk telepon atau kirim SMS.

Saat itu, kebijakan registrasi kartu SIM sebenarnya dibuat dengan tujuan yang baik, untuk melindungi pelanggan dari kejahatan seperti penipuan dan penyalahgunaan nomor, meningkatkan keamanan data, sekaligus mendukung program pemerintah menuju single identity number. Namun, kalau melihat kondisi sekarang, rasanya program itu belum berhasil karena Spam call, phishing, penyalahgunaan one-time password (OTP), hingga penggunaan kartu SIM anonim untuk aktivitas ilegal masih terus terjadi.

Padahal secara logika, kalau kebijakan ini berjalan efektif, setiap SMS penipuan seharusnya bisa dengan mudah dilacak pengirimnya. Tapi kenyataannya jauh dari harapan. Berdasarkan data Komdigi, dari total kerugian akibat online scam yang mencapai Rp7 triliun, hanya Rp367 miliar yang berhasil dikembalikan. Artinya, sekitar 94–95% kasus penipuan, termasuk SMS scam, tidak berhasil memulihkan uang korban. Dan seperti yang sering terjadi, masyarakat lagi-lagi jadi pihak yang paling dirugikan.

Aturan Baru: Registrasi Biometrik

Mulai 1 Juli 2026, pemerintah akan memberlakukan aturan baru: registrasi biometrik untuk setiap aktivasi nomor seluler. Tujuannya jelas untuk memperkuat kepercayaan publik sekaligus melindungi masyarakat dari penipuan digital, spam call, phishing, hingga penyalahgunaan nomor dengan identitas palsu. Prosesnya sendiri menggunakan teknologi pengenalan wajah (face recognition), yang akan mencocokkan identitas pengguna dengan data kependudukan dari Dukcapil.

Sekilas, kebijakan ini memang terdengar masuk akal. Pemerintah ingin membangun sistem identitas digital yang lebih kuat, menekan penipuan berbasis nomor telepon, dan menutup celah penggunaan identitas palsu yang selama ini sering terjadi. Tapi kalau melihat pengalaman dari kebijakan-kebijakan sebelumnya, ditambah rekam jejak pengelolaan data di Indonesia, rasanya sulit untuk tidak merasa khawatir.

Dilema di Balik "Wajah" Kita

Operator seluler dan Komdigi memang menegaskan bahwa verifikasi wajah hanya dipakai untuk mencocokkan identitas dengan data Dukcapil. Mereka juga bilang operator hanya menjadi perantara verifikasi, bukan penyimpan data biometrik pelanggan. Bahkan, sistemnya diklaim sudah memenuhi standar keamanan internasional seperti ISO 27001 dan dilengkapi teknologi liveness detection sesuai ISO/IEC 30107-3.

Tapi, jujur saja, pernyataan seperti ini bukan hal baru. Kita sudah terlalu sering mendengar janji soal keamanan data, sebelum akhirnya muncul kabar kebocoran di sana-sini. Masalahnya, risiko dari sistem ini bukan cuma soal apakah data wajah benar-benar disimpan atau tidak. Ada hal-hal lain yang juga perlu dipikirkan.

Pertama, proses verifikasi ini melibatkan banyak pihak—mulai dari operator, vendor teknologi, hingga integrasi dengan Dukcapil. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kedua, data biometrik itu berbeda dengan password. Kalau password bocor, kita bisa menggantinya. Tapi kalau data wajah bocor, risikonya akan melekat seumur hidup.

Ketiga, ada kemungkinan data tersebut disalahgunakan, misalnya untuk deepfake atau pemalsuan identitas digital, jika sampai jatuh ke tangan yang salah.

Keempat, tidak semua orang punya akses internet yang memadai. Bagi masyarakat di daerah dengan jaringan terbatas, proses verifikasi wajah secara online ini justru bisa menjadi hambatan baru.

Rapor Merah Perlindungan Data

Pemerintah Indonesia punya rapor merah dalam urusan perlindungan data pribadi selama bertahun-tahun. Publik masih ingat kebocoran data 279 juta peserta BPJS Kesehatan pada 2021 yang dijual bebas di forum hacker, kebocoran 91 juta data pengguna Tokopedia, sampai insiden aplikasi eHAC milik Kementerian Kesehatan yang membuka data kesehatan jutaan pelaku perjalanan. Belum lagi rangkaian kebocoran yang diungkap peretas Bjorka pada 2022, yang menyasar data registrasi SIM card Kominfo, PLN, IndiHome, hingga data pemilih KPU, dengan total ratusan juta entri.

Pola yang terus berulang ini sebenarnya menunjukkan satu hal: tata kelola keamanan data di berbagai instansi, baik pemerintah maupun korporasi, masih lemah. Ditambah lagi, transparansi soal proses investigasi dan sanksi bagi pihak yang bertanggung jawab juga nyaris tidak terdengar.

Ketika kasus-kasus kebocoran itu terjadi, apa yang benar-benar kita lihat? Apakah ada perbaikan yang serius? Pertanggungjawaban yang jelas? Sering kali tidak. Yang muncul biasanya hanya permintaan maaf, tanpa perubahan yang terasa. Pada akhirnya, masyarakat lagi-lagi diminta untuk memaklumi dan perlahan melupakan apa yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi, seolah olah itu adalah resiko yang harus ditanggung bersama.

Memindahkan Risiko, Bukan Menghilangkannya

Dengan track record seperti itu, wajar kalau publik bertanya: apakah data biometrik kita akan aman di tangan Komdigi? Kebijakan ini seperti memindahkan risiko dari operator seluler ke pemerintah. Kalau dulu data kita tersebar di masing-masing operator, sekarang akan terkonsentrasi dalam satu database nasional.

Dalam dunia keamanan siber, konsentrasi data yang sangat besar di satu titik (single point of failure) adalah surga bagi peretas. Tentunya kita semua masih ingat tata Kelola database nasional dalam kasus Pusat Data Nasional yang diretas tahun 2024 dan melumpuhkan sistem data pemerintah Indonesia. Kalau server pusat registrasi biometrik ini sampai dibobol, konsekuensinya bisa jauh lebih masif dibandingkan sekadar bocornya data 105 juta penduduk seperti kasus Bjorka.

Belum lagi, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang baru digulirkan masih menyisakan banyak pertanyaan. Siapa yang akan bertanggung jawab kalau data wajah kita bocor? Apakah ada sanksi tegas bagi pejabat yang lalai menjaga server? Atau ujung-ujungnya hanya permintaan maaf yang tidak menyelesaikan apa-apa, seperti yang sering terjadi?

Kebijakan registrasi biometrik 2026 memang langkah modernisasi yang dibutuhkan untuk menutup celah penipuan berbasis identitas palsu. Tapi teknologi hanyalah alat, keamanannya tetap bergantung pada manusia dan sistem yang mengelolanya.

Sebelum meminta masyarakat menyerahkan "wajah" dan "sidik jari" mereka, pemerintah, dalam hal ini Komdigi, perlu lebih dulu membuktikan bahwa mereka mampu menjaga amanah ini. Edukasi dan pengetatan sistem internal harus sudah berjalan jauh sebelum Juli 2026 tiba. Kalau pemerintah tidak memperbaiki tata kelola keamanan siber dan terus membiarkan "kran" kebocoran data mengucur, kebijakan biometrik ini tidak akan menjadi tameng dari penipuan. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi bom waktu yang siap meledakkan privasi lebih dari 270 juta rakyat Indonesia. Kita tentu tidak ingin "biometrik" hanya menjadi versi yang lebih mahal dan lebih berbahaya dari kegagalan SMS 4444. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)