Waluh yang Meluruh Kemiskinan di Pinggiran Waduk Jatigede

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Waluh besar hasil pertanian waduk surut di Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Waluh besar hasil pertanian waduk surut di Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Setiap kemarau, ketika permukaan Waduk Jatigede turun dan lahan lumpur mulai menyeruak ke permukaan, warga Desa Cisurat bergerak cepat. Mereka tahu waktunya terbatas untuk bercocok tanam dan “lahan kaget” itu terlalu subur untuk dibiarkan kosong.

Di wilayah Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, itulah waluh besar ditanam. Labu yang, menurut para pembelinya dari Tanjungsari, Jombang, hingga Grobogan, punya rasa pulen dan manis yang beda dengan produk dari desa lain.

Waluh tersebut menjadi salah satu produk yang menyelamatkan ekonomi Desa Cisurat, selain dendeng ikan dan hasil tani lainnya. Akses kredit perbankan menjadi lebih mudah karena eksistensinya, bahkan Pendapatan Asli Desa  (PAD) Cisurat juga menyembul dari sektor ini.

Tak ayal, di balik aktivitas holtikultura itu, memang ada skema yang membuat petani Cisurat bisa menanam tanpa was-was soal modal. Mereka meminjam, bercocok tanam, panen, lalu melunasi kredit dengan mudah berkat yarnen (bayar panen).

"Dananya petani dari mana? Petani di desa cisurat ini bermitra dengan BUMDes dan bermitra dengan Bank BRI. Dikasihlah pinjaman dari BRI itu yang namanya itu yarnen, bayar panen). Syukurnya semua petani itu dikasih pinjaman dari BRI; dan setiap panen lunas semuanya," ungkap Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), membuka obrolan kepada ayobandung.id, (11/6/2026).

Wajah ekonomi Desa Cisurat hari ini memang terasa hidup. Geliat wisata, pertanian, budidaya ikan, dan aktivitas niaganya sibuk, cocok dengan prestasinya sebagai Desa BRILian 2025. Padahal menurut Ilham, satu dekade lalu, pemandangan ekonomis potensial ini tidak tampak ke permukaan, sebab terkurung kemiskinan.

Genjotan dukungan dari bank pelat merah itu pun jadi salah fondasi utama ekonomi desa. Kerja sama dengan BR yangI dimulai tahun 2025 menjadi penopang anggaran ketika BUMDes Cisurat masih kekurangan dana untuk menjalankan program ketahanan pangan dari Kementerian Desa. 

Dua Musim, Dua Sumber Nafkah

Budidaya ikan mujair di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya ikan mujair di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sejak sawah-sawah mereka tenggelam bersama pengisian Waduk Jatigede pada 2015, warga Cisurat belajar membaca ritme baru. Kini ekonomi desa bergerak mengikuti dua musim secara bergantian. 

Saat musim hujan dan air naik, warga menjadi nelayan. Jaring terapung dan bagan dipasang di tengah perairan. Ikan mujair menjadi andalan dengan dijual ke bandar atau diolah menjadi dendeng, salah satu produk UMKM lokal yang mulai dikenal. Di musim ini pula wisatawan mancing dari Ciamis, Bandung, dan kabupaten sekitarnya ramai berdatangan tiap akhir pekan.

Lalu kemarau datang, air surut, dan lahan bekas genangan muncul. Pada fase inilah keistimewaan Desa BRILian Cisurat menyeruak.

"Kalau kita menanam di luar area Waduk Jatigede itu penyesuaian tanahnya susah. Sementara kalau memanfaatkan lahan dari waduk yang surut di musim kemarau, lahannya sangat subur, dan pemanfaatan pupuknya tidak terlalu banyak. Inilah yang membuat biaya operasional bisa hemat," jelas Ilham.

Lahan surut bekas genangan waduk kaya mineral dan pupuk alami, tidak perlu banyak bahan kimia untuk produktif. Petani bisa leluasa menanam jagung, cabai, mentimun, kacang, dan yang paling menguntungkan yaitu waluh besar. Margin yang lebih tipis di biaya produksi berarti keuntungan yang lebih tebal di tangan petani

Di antara semua komoditas yang tumbuh di lahan surut Jatigede itu waluh besarlah yang paling menarik perhatian perjalanan niaganya. Pembelinya bukan hanya dari Sumedang atau Bandung. Pengepul dari Jombang dan Grobogan rutin mencari waluh Cisurat. Pembeli dari luar Jawa pun ada. Di Bandung, waluh ini masuk ke Pasar Cicaheum melalui jalur Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, dan ke Pasar Caringin lewat sistem bandar yang datang langsung ke desa untuk bertransaksi. Branding-nya sudah terbentuk. 

"Kabarnya waluh Desa Cisurat ini terkenal pulen dan manis, yang beda dengan kompetitor," kata Ilham.

Waluh besar yang sudah matang dipanen setiap 4 bulan, diserap pabrik saus dan pabrik dodol. Sementara waluh muda yang dipanen lebih awal (sekitar 3 bulan) dijual ke pengepul Majalengka untuk kebutuhan sayuran, lalu dikirim ke Bekasi. Sekali panen, tergantung luas lahan, biasanya para petani Cisurat bisa menghasilkan satu ton waluh.

Permintaan pasar yang tinggi, bagaimanapun, justru menghadirkan dilema tersendiri. Menurut Ilham, ada pembeli yang meminta pasokan rutin tiap minggu, tapi tidak bisa dipenuhi. Bukan karena kekurangan tenaga, melainkan karena keunggulan waluh Cisurat memang terikat pada satu kondisi: kesuburan lahan surut Jatigede yang tidak bisa direplikasi di tempat lain.

"Bahkan ada yang sampai minta kita memenuhi pesanan setiap minggu, hanya saja tidak kita sanggupi, karena kalau kita menanam di luar area waduk Jatigede itu penyesuaian tanahnya susah," tutur Ilham.

Keterbatasan ini rupanya malah menjaga kualitas. Waluh Cisurat jadi istimewa karena memang hanya bisa tumbuh optimal di “lahan musiman” itu. Tak pelak, keistimewaan ini menimbulkan dampak bagus terhadap resistans harga jual.

Sebelum BUMDes masuk sebagai pembeli, petani waluh Cisurat menghadapi nasib yang umum di mana-mana: harga ditentukan sepenuhnya oleh bandar. Pengepul membeli di kisaran Rp800 hingga Rp1.200 per kilogram. Petani tidak punya pilihan selain menerima. Lantas, BUMDes Cisurat mengubah kondisi pelik tersebut.

"Kita memberikan harga tinggi untuk petani waluh ini, yang di atas harga bandar, demi menyejahterakan petani. Misal pengepul hanya Rp800–1.200 per kilogram, kita kasih Rp2.000," beber Ilham.

Langkah ini bukan tanpa risiko. Membeli di harga lebih tinggi berarti BUMDes harus pintar menjual. Mekanismenya, BUMDes mengambil margin 50% saat menjual ke pasar — membeli dari petani Rp2.000, menjual Rp4.000. Tapi tidak asal jual. Jika harga pasar sedang lesu, BUMDes menahan stok. Jika harga bagus, barulah dijual.

"Kita lihat harga pasar juga, kalau harga sedang jelek kita tahan dulu, kalau harga bagus kita jual," ujar Ilham.

Situasi kemudian jadi menarik. Para bandar lain mulai ikut menaikkan harga beli mereka terhadap waluh Cisurat, menyesuaikan dengan standar BUMDes yang awalnya dianggap mengganggu keseimbangan pasar justru kini menjadi acuan.

"Kita bukan ingin merusak pasar, karena tujuannya membantu ekonomi petani; dan untungnya lama-lama para bandar lain pun setuju ikut harga BUMDes," sambung Ilham.

Ada juga strategi musiman yang cerdas. Ketika harga waluh muda sedang tidak bagus, BUMDes memilih menahan dan membiarkan waluh tumbuh matang menjadi waluh besar. Harga waluh muda memang bisa lebih mahal (mencapai Rp2500-3000 per kilogram saat dijual oleh petani) bahkan saat Ramadan bisa tembus Rp5.000 per kilogram, tetapi pasar waluh besar lebih stabil dan selalu ada yang membutuhkan, terutama dari industri pengolahan makanan.

Rantai Pasok yang Berputar dari Dalam Desa BRILian

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)

Apa yang membuat model BUMDes Cisurat menarik adalah bagaimana cara menutup celah kekurangan ekonomi secara penuh dalam siklus, dari modal hingga pasar, semuanya terkoneksi.

BRI memberi petani modal lewat yarnen. Petani menanam di lahan surut waduk. BUMDes membeli hasil panen di harga yang layak. BUMDes menjual ke pasar dengan margin yang terukur. Keuntungan kembali ke kas BUMDes, yang kemudian berkontribusi pada PAD desa.

Setiap komoditas punya jalur pemasarannya sendiri. Waluh besar mengalir ke Tanjungsari lalu Pasar Cicaheum, atau langsung ke pengepul dari Jombang dan Grobogan yang datang ke desa. Waluh muda ke Majalengka untuk sayuran. Kacang, cabai, dan mentimun ditangani pengepul dari Majalengka yang rutin datang tiap musim panen. Ikan mujair dijual ke bandar atau diolah menjadi dendeng sebagai produk UMKM. Petani tidak perlu memikirkan ke mana hasil panennya akan pergi. BUMDes yang mengurus itu.

Dewi Hestiningrum, Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menggambarkan pola seperti ini sebagai dampak yang paling bermakna dari sinergi BRI dengan desa binaan.

"Dampak yang kami catat di lapangan cukup beragam dan berlapis. Terciptanya lapangan kerja baru di tingkat desa, tata kelola keuangan BUMDes yang semakin profesional dan akuntabel, serta terbangunnya integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat, dari produsen, pengolah, hingga pemasaran, sehingga ekonomi desa berputar lebih cepat dan nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat," ungkap Dewi dalam pernyataan resminya.

Kendati segala kondisinya tampak baik pada saat ini, Desa Cisurat enggan terlena. Pun setelah menorehkan prestasi di kancah nasional sebagai Desa BRILian 2025. Daryumah, Kepala Desa Cisurat, mengeklaim bahwa perjalanan desa ini belum selesai. Bahkan masih jauh dari kata “ideal”. PAD desa masih di angka Rp5 juta, tergolong kecil untuk ukuran desa yang punya komoditas unggulan dengan pembeli dari luar Jawa. Hambatan di lapangan masih ada, dan tidak semua rencana berjalan semulus yang dibayangkan.

"Untuk program BUMDes selalu ada progres, walau di lapangan selalu ada hambatan. Memang tidak semudah yang direncanakan, tetapi mudah-mudahan akan lebih meningkat untuk PAD pada tahun-tahun berikutnya," harap Daryumah saat berbincang dengan ayobandung.id, di ruang kantor sementaranya, (11/6/2026).

Senada dengan Daryumah, Ilham menyebut masih ada potensi Desa Cisurat yang belum tergarap maksimal, seperti kawasan perairan Waduk Jatigede yang bisa dikembangkan lebih jauh untuk wisata, produk olahan ikan yang bisa naik kelas, dan pertanian musim kemarau yang masih bisa diperluas dalam batas yang realistis.

Harapan Daryumah kepada BRI pun konkret: konsistensi permodalan dijaga, dan pelatihan untuk petani ditingkatkan. Lebih dari sekadar akses modal, dibutuhkan pendampingan yang membuat hasil bumi Cisurat benar-benar bisa naik kelas.

Ekonomi Desa Cisurat hari ini berputar karena ada “mereka” yang mau bergerak. BUMDes berani membayar lebih mahal dari bandar, BRI memberi modal tanpa mencekik dengan cicilan bulanan, dan petani yang terbukti bisa dipercaya melunasi saat panen tiba. Tiga pihak ini masing-masing memegang satu sisi rantai ekonomi; dan bersama-sama menjaga roda niaga tidak terputus. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)