Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Ketika ayobandung.id tiba di Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026), perairannya tenang, sesekali dipecah riak perahu nelayan yang menarik jaring. Di tepian barat waduk terbesar kedua di Indonesia itu, ada bagan pemancingan yang masuk wilayah Desa Cisurat. Spot potensi wisata yang makin berkembang belakangan ini.

Bagaimanapun pemandangan tersebut belum ada beberapa dasawarsa lalu. Desa Cisurat sebagian tanahnya mulai tenggelam sejak satu dekade lalu, namun warganya memilih untuk ‘naik’ melanjutkan hidup.

Bagi sebagian besar orang, Waduk Jatigede boleh jadi infrastruktur kebanggaan. Alirannya mampu mengairi 90.000 hektare sawah di Indramayu, Majalengka, dan Cirebon, sekaligus menghasilkan listrik 110 megawatt. Namun bagi warga Cisurat, waduk itu menyimpan kenangan lain. Pada 2015, ketika pengisian air ditambahkan, sawah-sawah yang selama beberapa generasi menjadi sumber penghidupan perlahan hilang ke bawah permukaan.

"Di momen itu ekonomi desa sangat terpuruk," buka Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat.

"Mata pencaharian masyarakat yang tadinya bertani, semua sawah garapannya habis terkena genangan Waduk Jatigede," lanjutnya.

Cisurat memang bukan satu-satunya korban. Akan tetapi, dari 28 desa yang terdampak pembangunan waduk ini, Cisurat termasuk yang paling berat menanggung akibatnya. Banyak warga harus memulai kehidupan baru di tempat tinggal berbeda. Selama bertahun-tahun setelahnya, desa ini bahkan sempat disebut sebagai “desa termiskin di Jawa Barat”, sebagaimana dilaporkan oleh media-media lokal sebelum Pandemi Covid-19.

Desa yang namanya lahir dari sebuah surat yang hanyut di Sungai Cimanuk ini telah berdiri sejak 1922. Konon, seorang utusan Kerajaan Pajajaran yang sedang mandi di sungai tanpa sengaja menjatuhkan suratnya ke arus air. Surat itu hanyut dan ditemukan warga di suatu daerah; dan daerah itulah yang kemudian diberi nama “Cisurat”.

Legenda toponimi yang menarik itu seakan “suratan”, rajah tangan, yang menjelaskan bahwa peruntungan dan nasib malang bisa berputar seiring waktu. Desa yang disebut sangat mengkhawatirkan pada tahun 2000-2002 itu, kini punya wajah berbeda. Terletak di Kecamatan Wado, desa seluas 367,6 hektare ini sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan perairan waduk; dan justru dari sanalah harapan hidup baru mulai tumbuh.

Dua Siklus yang Menguntungkan

Daryumah, Kepala Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Daryumah, Kepala Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Butuh beberapa tahun bagi warga Cisurat untuk menemukan ritme baru. Perlahan, mereka belajar membaca musim dengan cara yang berbeda.

Ketika musim hujan tiba dan air waduk naik, warga beralih menjadi nelayan. Ada yang memasang bagan atau jaring terapung di tengah waduk, ada pula yang menjaring ikan di tepian. Ikan mujair menjadi andalan, dijual ke bandar, atau diolah menjadi dendeng yang kini menjadi salah satu produk UMKM desa. Musim ini juga mendatangkan wisatawan mancing dari Ciamis, Bandung, hingga kabupaten-kabupaten terdekat yang tiap akhir pekan ramai berdatangan.

Lalu musim kemarau datang. Air surut, dan lahan bekas genangan waduk menyeruak ke permukaan. Lahan ini subur, kaya mineral, dan tak butuh banyak pupuk untuk produktif. Di sinilah warga Cisurat menanam jagung, cabai, mentimun, dan yang paling istimewa yaitu waluh besar.

"Alhamdulillah mulai tahun 2020 ada budidaya dua siklus. Kalau musim kemarau kita jadikan lahan surut Waduk Jatigede untuk pertanian, kalau musim penghujan untuk budidaya ikan," sambung Ilham.

Dua siklus ini kemudian menjadi identitas Cisurat; dan pada gilirannya menjadi narasi utama yang mereka bawa ke hadapan para penilai Program Desa BRILian.

Bagaimanapun tak boleh dilupakan, di balik kisah bangkit adaptasi warga, ada kelembagaan yang bekerja keras menjadi penopang. BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), yang kini dinahkodai Ilham Fadilah, perlahan bertransformasi dari lembaga yang mulanya stagnan menjadi motor penggerak ekonomi desa.

Pergantian kepengurusan menjadi titik balik. Unit usaha mulai beragam, dari budidaya ikan, ternak ayam broiler, kambing, hingga perdagangan hasil tani. BUMDes pun kini mempekerjakan 12 warga sebagai karyawan tetap. Angka itu kecil, namun penuh makna bagi desa yang pernah kehilangan hampir segalanya.

Pendapatan Asli Desa (PAD) pun mulai masuk, meski Kepala Desa, Daryumah, menyebutnya masih di kisaran angka Rp5 juta, tetapi lebih baik ketimbang masa krisis.

"Terbukti sejak pergantian kepengurusan memang sudah ada kemajuan dari sebelumnya. PAD juga sudah masuk ke desa, walaupun relatif masih sedikit, tetapi di tahun ini mungkin ada peningkatan," ujar Daryumah di kepada ayobandung.id, di gedung sementara yang jadi Kantor Desa Cisurat.

Momentum besar lantas datang pada 2025, ketika ketahanan pangan dari Kementerian Desa dilimpahkan kepada BUMDes. Program ini membuka ruang lebih luas bagi BUMDes untuk merapat ke para petani, untuk membantu permodalan, menyerap hasil panen, dan menghubungkan produk desa ke pasar yang lebih jauh.

Alhasil, semenjak 2025, beragam catatan baik berhasil ditorehkan oleh Desa Cisurat. Gejolak ekonomi desa kian membaik, seiring petani dan peternak dipermudah mendapatkan bantuan modal dari Bank BRI. Mereka menyebutnya yarnen atau kredit yang ‘dibayar panen’. Tak pelak, bukti kebangkitan Cisurat juga ditegaskan dengan terpilih sebagai Desa BRILian pada tahun yang sama.

Kebaikan usai Kemalangan

Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kabar tentang Program Desa BRILian sampai ke telinga Ilham melalui DPMD Kabupaten Sumedang. Ia tertarik, berkoordinasi dengan Kepala Desa, lalu mendaftarkan Cisurat.

Selama satu bulan penuh (Mei 2025) Ilham dan tim mengerjakan seluruh tugas program, menyusun laporan keuangan, mempromosikan desa, hingga mempersiapkan berbagai penilaian. BRILink BUMDes Cisurat yang sudah beroperasi sejak 2022 menjadi salah satu modal kuat, dengan status yang kala itu masuk kategori jawara.

Puncaknya, Ilham mempresentasikan Cisurat di hadapan peserta program yang diselenggarakan bersama Universitas Airlangga. Ia menjelaskan konsep dua siklus yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.

"Saat mengikuti program Desa Brilian di Universitas Airlangga itu saya jelaskan bahwa Desa Cisurat itu memiliki dua siklus. Kalau musim kemarau kita jadikan lahan surut Waduk Jatigede untuk pertanian, kalau musim penghujan untuk budidaya ikan," terang Ilham.

Hasilnya memuaskan. Desa Cisurat resmi menjadi bagian dari jaringan Desa BRILian, program inkubasi BRI yang sejak 2020 telah membina lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia, dengan 495 di antaranya berada di wilayah kerja BRI Regional Office Bandung.

Program Desa BRILian pun bukan sekadar kompetisi, melainkan ekosistem pembinaan yang bertumpu pada empat pilar: penguatan BUMDes, digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan. Keempat hal yang, tidak kebetulan, sudah mulai dipraktikkan Cisurat sebelum mereka mendaftar.

Dewi Hestiningrum, Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah cara pandang tentang desa. 

"Visi Desa BRILian adalah menciptakan desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing," ujar dewi dalam pernyataan resmi kepada ayobandung.id. 

"Kami ingin desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang aktif, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat," papar Dewi.

Dalam konteks Cisurat, visi itu tak sekadar abstraksi. Terlihat nyata dalam cara warga membaca musim, bagaimana BUMDes menyerap hasil panen petani, dan seorang direktur BUMDes muda yang berdiri di depan forum nasional untuk bercerita tentang desanya yang bangkit dari genangan.

Budidaya ikan mujair di Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya ikan mujair di Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Daryumah, yang telah memimpin desa ini melewati masa-masa paling berat pasca penggenangan, menyembulkan harapan sederhana untuk ekonomi warganya. Sekalipun masa tugasnya sudah mau habis, dinamika kesejahteraan kudu diestafetkan.

"Mudah-mudahan BUMDes Desa Cisurat ini semakin baik. BRI juga bisa konsisten membantu akses permodalan untuk para petani yang memanfaatkan lahan genangan saat Waduk Jatigede surut untuk menanam waluh dan mentimun. Selain modal, mudah-mudahan juga ke depannya BRI dapat memberikan pelatihan untuk meningkatkan hasil bumi," harap Daryumah.

Ilham, dengan nada yang sama, menambahkan harapannya agar potensi kawasan perairan bisa dimaksimalkan lebih jauh untuk wisata, produk ikan, dan pertanian musim kemarau yang kian terorganisir.

Air yang dulu merampas sawah mereka kini menjadi sumber kehidupan yang laik. Desa Cisurat tidak lagi meratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)