Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Siang itu (5/6/2026), seorang kurir ojek online berhenti sejenak di depan kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. Tanpa banyak kata, ia mengangkat ponsel, mengarahkan kamera ke selembar kode yang tertempel di etalase kuning menyala, dan dalam hitungan detik transaksi selesai. Tidak ada uang yang berpindah tangan. Pesanan dikonfirmasi, kurir berlalu.

Pemandangan semacam itu kini sudah jadi ritme harian UMKM di berbagai kota, termasuk di Bandung khususnya untuk KebabFactory.id. Rutinitas yang mencerminkan bagaimana digitalisasi perbankan, telah menjadi tulang punggung operasional usaha kecil modern.

Meski demikian, Widya Ratna Puspita, pemilik Kebab Factory, tidak pernah menyebut dirinya sebagai "pelaku usaha yang melek digital". Mungkin karena sekarang telah jadi kondisi lumrah, ketika seluruh ekosistem transaksi usaha berjalan di atas sistem digital. Dari pembayaran pelanggan di ketiga store-nya, pemantauan keuangan harian, hingga transfer gaji dua belas karyawannya setiap bulan.

"Saya pilih merchant QRIS Bank BRI karena simpel. Tidak perlu mesin, tidak perlu kabel, tidak takut rusak. Tempel kode, pelanggan scan, selesai. Apalagi yang pesan lewat ojek online juga bayarnya pakai QRIS, jadi satu sistem buat semua," ujar Widya.

Alasan Widya terdengar membumi, jauh dari bahasa promosi teknologi. Baginya, QRIS statis BRI yang ia gunakan adalah jenis yang paling ideal untuk skala UMKM. Kode QR permanen yang bisa dicetak, pelanggan memasukkan nominal sendiri, dana langsung masuk ke rekening. Tanpa biaya perangkat, maka tidak ada ketergantungan pada koneksi mesin tambahan.

Pilihan Widya ternyata sejalan dengan tren besar yang sedang berlangsung di tingkat nasional. Berdasarkan data Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), per akhir 2025 jumlah merchant QRIS di Indonesia telah mencapai 43 juta dengan sekitar 60 juta pengguna aktif. Total volume transaksi QRIS sepanjang 2025 mencapai 15,51 miliar transaksi, tumbuh 148,54% secara tahunan, dengan total nilai transaksi Rp1.420,66 triliun, naik 115,3% dibanding tahun sebelumnya.

Khusus untuk BRI, pertumbuhan QRIS-nya bahkan melampaui rata-rata industri. Per akhir 2025, sales volume QRIS BRI menembus Rp85,6 triliun, tumbuh 100% secara tahunan, sementara jumlah transaksinya mencapai lebih dari 782,8 miliar, naik 127,5% dibanding tahun sebelumnya.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menegaskan bahwa angka-angka tersebut bukan sekadar indikator pertumbuhan bisnis, melainkan cerminan dari perubahan perilaku ekonomi yang lebih dalam. 

"QRIS membuat transaksi mikro menjadi cepat, transparan, dan efisien, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk mencatat omzet secara digital. Bagi BRI, QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga pintu masuk bagi inklusi keuangan UMKM ke layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan," ujarnya.

Pernyataan Dewi ini relevan langsung dengan posisi Kebab Factory bahwa rekam jejak transaksi digital yang terbangun dari penggunaan QRIS sehari-hari, dalam jangka panjang, bisa menjadi salah satu landasan bagi Widya untuk mengakses layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan ekspansi yang mungkin ia butuhkan untuk mewujudkan ambisi membangun "pabrik kebab" yang sudah lama ia impikan.

Di balik kepuasannya menggunakan QRIS, Widya mengaku punya satu harapan kecil yang terdengar sederhana.

"Kalau satu hal yang saya mau, notifikasinya lebih seru. Setiap ada transaksi masuk, rasanya ingin dengar bunyi yang bikin semangat, bukan sekadar 'notifikasi biasa’. Mungkin kecil ya dampaknya, tapi kalau lagi ramai pesanan, bunyi notifikasi itu jadi salah satu yang bikin happy," kata Widya sambil tertawa.

Harapan ini mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi pelaku usaha yang memantau arus transaksi dari balik dapur produksi, notifikasi pembayaran bukan sekadar tanda masuknya uang, melainkan konfirmasi bahwa usahanya berjalan baik. 

Masukan seperti ini justru menggambarkan sesuatu yang penting bahwa pelaku UMKM bukan pengguna pasif teknologi perbankan. Mereka punya perspektif, harapan, dan kebutuhan spesifik yang lahir dari penggunaan sehari-hari; dan suara mereka relevan sebagai masukan bagi pengembangan layanan ke depan.

Aplikasi yang Tumbuh Bersama Perjalanannya

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Jika QRIS adalah wajah digitalnya di hadapan pelanggan, maka BRImo adalah ruang kendali Widya dari balik layar. Tapi hubungan Widya dengan BRI, dan dengan BRImo, bukan sesuatu yang dimulai ketika ia menjadi pengusaha.

"Saya sudah terbiasa dengan BRI dari dulu, sejak masih kerja di bank. Jadi waktu punya usaha sendiri, ya BRImo yang saya pakai. Sudah familiar, mudah digunakan, dan semua keperluan usaha bisa dikelola dari satu aplikasi," jelas Widya.

Widya bukan tipikal pengguna yang "dipaksa" beradaptasi dengan teknologi baru. Ekosistem BRI sudah ia kenal sejak bertahun-tahun sebelum mendirikan KebabFactory.id. Kepercayaan itu tumbuh organik, bukan karena dorongan iklan atau program loyalitas.

Kepercayaan serupa rupanya dialami oleh puluhan juta pengguna lain. Hingga Triwulan I 2026, pengguna aktif BRImo telah mencapai 47,8 juta user, dengan total volume transaksi mencapai Rp2.042,2 triliun, tumbuh 29,4% secara tahunan. Per akhir 2025, BRImo mencatat 5,60 miliar transaksi digital dengan total nilai Rp7.057 triliun, tumbuh 29% dan 26,1% secara tahunan untuk volume dan nilai transaksi.

Dewi Hestiningrum menggambarkan apa yang ada di balik angka-angka tersebut. Bahwa BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah. 

“Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi. Seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti. BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI," ungkap Dewi.

Di sisi lain layar, ada rutinitas bulanan yang Widya lakukan dengan cara yang sangat manual: mentransfer gaji dua belas karyawannya satu per satu lewat BRImo ke rekening BRI masing-masing.

"Untuk gaji karyawan, saya transfer satu per satu lewat BRImo ke rekening BRI mereka. Belum pakai sistem otomatis, masih manual. Tapi justru karena manual, saya jadi benar-benar tahu kondisi keuangan usaha saya setiap bulan. Berapa yang keluar, berapa yang tersisa," tuturnya.

Pernyataan ini jujur sekaligus mengungkap sesuatu yang relevan bagi banyak UMKM lain bahwasanya digitalisasi tidak selalu berarti otomatisasi penuh. Ada nilai tersendiri dalam proses yang dilakukan secara sadar dan terkontrol, terutama ketika skala usaha masih dalam fase bertumbuh.

Kondisi ini juga mencerminkan apa yang disebut Dewi Hestiningrum sebagai proses bertahap dalam pendampingan literasi keuangan BRI, bahwa membuka rekening dan mulai bertransaksi digital hanyalah langkah pertama, dan bahwa pendampingan terus berlanjut untuk membantu UMKM memanfaatkan layanan secara bertahap: dari menabung dan mencatat transaksi, hingga pada saatnya memanfaatkan fasilitas kredit produktif dan layanan yang lebih canggih.

Jika dilihat secara keseluruhan, QRIS dan BRImo dalam keseharian Widya bukan dua produk yang berdiri sendiri. Keduanya adalah dua sisi dari satu ekosistem yang saling terhubung. Transaksi pelanggan yang masuk lewat QRIS di ketiga store-nya langsung tercatat di rekening BRI dan bisa dipantau real-time lewat BRImo. Dari saldo yang sama, Widya mengelola pengeluaran operasional, mentransfer gaji karyawan, hingga memantau pola pemasukan dari masing-masing store.

Dewi Hestiningrum menggambarkan filosofi di balik desain ekosistem ini untuk saling melengkapi dalam customer journey nasabah. 

“Sinergi inilah yang menjadi keunggulan model layanan kami dibandingkan kompetitor murni digital," pungkas Dewi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)