Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

4 menit baca
I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Ditulis oleh I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra diterbitkan Kamis 18 Jun 2026, 10:13 WIB
Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)

Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)

Sebuah sistem transportasi dapat dikatakan visioner apabila mampu menciptakan pola mobilitas yang kolektif, inklusif, dan efisien melalui transportasi massal yang mudah diakses oleh banyak pengguna. Konsep semacam ini bahkan telah direalisasikan sejak masa kolonial melalui pembangunan jaringan kereta api dan trem yang menghubungkan berbagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial, baik di kawasan urban maupun pedesaan. Kondisi tersebut memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menjangkau berbagai wilayah dalam satu sistem mobilitas yang sama.

Perencanaan transportasi berbasis rel juga menunjukan prinsip efisiensi melalui kapasitas angkut yang besar demi menunjang mobilitas penumpang dan distribusi barang secara optimal, sehingga tidak diragukan lagi jejak infrastrukturnya dapat dipandang sebagai aset berharga yang menyimpan nilai strategis hingga saat ini.

Namun, di balik berbagai keunggulan yang ditawarkan, apakah arah pengembangan transportasi di masa kini masih tetap selaras dengan prinsip transportasi yang visioner seperti era tersebut?

Berkaca pada masa lampau, pembangunan jalur kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda tidak hanya ditujukan untuk mengangkut penumpang, namun juga mendukung distribusi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan menuju pelabuhan sebagai pusat kegiatan ekspor dan impor.

Kebutuhan tersebut mendorong pengembangan jaringan rel yang semakin meluas sejak pengoperasian jalur pertama Semarang–Vorstenlanden pada tahun 1864. Seiring perkembangannya, jaringan kereta api dan trem berhasil menjangkau berbagai wilayah di Pulau Jawa hingga ke beberapa daerah di luar Jawa. Bahkan hingga akhir tahun 1928, panjang jaringan rel yang beroperasi di Indonesia telah mencapai 7.464 kilometer.

Ini tentunya menjadi suatu pencapaian yang baik guna membuktikan bahwa sistem perkeretaapian memang telah menjadi perhatian penting sejak masa kolonial sebagai sarana untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendukung mobilitas penumpang dan distribusi logistik secara efektif.

Berbeda dengan orientasi pembangunan transportasi pada masa kolonial, arah pembangunan transportasi Indonesia saat ini lebih berkonsentrasi pada infrastruktur jalan raya dan jalan bebas hambatan. Perubahan ini ditandai dengan penonaktifan sejumlah jalur kereta api warisan kolonial pada masa Orde Baru tanpa diimbangi penjagaan setiap asetnya.

Di sisi lain, pembangunan jalan yang semakin masif mendorong penggunaan kendaraan pribadi sebagai moda utama dalam aktivitas perjalanan, sehingga menciptakan sistem yang bersifat individual sekaligus membatasi ruang interaksi sosial antar lapisan masyarakat.

Penampakan kereta lokal Garut Cibatuan di peron Stasiun Garut setelah direaktivasi di tahun 2022 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: NFarras)
Penampakan kereta lokal Garut Cibatuan di peron Stasiun Garut setelah direaktivasi di tahun 2022 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: NFarras)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan mobil penumpang dari 12,3 juta unit pada tahun 2015 menjadi 20,9 juta unit pada tahun 2025 menegaskan bahwa pembangunan jalan raya yang masif justru terus mengundang lebih banyak kendaraan pribadi dan dikhawatirkan akan terus bertambah di masa depan.

Fakta tersebut membuktikan bahwa pembangunan transportasi Indonesia sangat bertolak belakang dengan semangat karakter transportasi di masa kolonial, dan berganti menjadi siklus mobilitas individual yang dikhawatirkan akan semakin sulit untuk dikendalikan.

Kesadaran untuk mengevaluasi peran transportasi berbasis rel semakin relevan ditengah tantangan dari orientasi transportasi berbasis jalan raya yang memicu berbagai biaya eksternal, seperti kemacetan, perubahan iklim, kecelakaan lalu lintas, polusi udara, dan kebisingan (Proost & Van Dender, 2010).

Salah satu indikasinya terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap kereta api. Pada masa angkutan Lebaran 2026, jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Garut mencapai 13.076 orang atau meningkat enam persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, pada jalur yang baru direaktivasi pada tahun 2022 dengan frekuensi hanya satu perjalanan per hari, permintaan penumpang telah melampaui kapasitas rata-rata harian yang berkisar antara 250 hingga 300 orang (Koran Jakarta, 2026).

Fakta tersebut menjadikan reaktivasi jalur-jalur rel warisan kolonial tidak hanya sebatas relevan, namun juga berpotensi menjadi fondasi dalam membangun kembali sistem transportasi yang lebih visioner.

Seiring besarnya antusiasme masyarakat terhadap jalur kereta api yang kembali beroperasi, harapan untuk mewujudkan sistem transportasi yang visioner sebagaimana pernah diterapkan pada masa kolonial kini semakin terbuka lebar. Bayangkan jika jalur-jalur rel nonaktif lainnya turut direaktivasi, maka semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses transportasi massal yang kolektif, inklusif, dan efisien.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan transportasi berbasis rel masih sangat besar. Peningkatan kualitas layanan perkeretaapian juga semakin memperkuat urgensi reaktivasi jalur rel, mengingat kualitas layanan yang baik terbukti mampu mendorong peralihan pengguna dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik (de Oña & de Oña, 2015).

Jika infrastruktur rel telah dipikirkan secara visioner sejak masa kolonial, maka seharusnya transportasi modern hari ini mampu melanjutkan dan mengembangkannya, bukan meninggalkannya. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Proost, S., & Van Dender, K. (2010). What sustainable road transport future?: Trends and policy options. OECD/ITF Joint Transport Research Centre Discussion Papers, 2010/14. https://ideas.repec.org/p/oec/itfaaa/2010-14-en.html
  • Koran Jakarta. (2026, 5 April). Rekor baru, penumpang KA di Garut melonjak tajam, Cikuray dan Papandayan jadi rebutan. https://koran-jakarta.com/2026-04-05/rekor-baru-penumpang-ka-di-garut-melonjak-tajam-cikuray-dan-papandayan-jadi-rebutan
  • de Oña, J., & de Oña, R. (2015). Quality of service in public transport based on customer satisfaction surveys: A review and assessment of methodological approaches. Transportation Research Part A: Policy and Practice, 79, 239–277. https://doi.org/10.1016/j.tra.2015.03.014

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Mahasiswa yang senang membahas mengenai isu transportasi, tata kota, dan pegiat seni tradisional.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Jun 2026, 11:17

Melestarikan Budaya Sunda di Tengah Gempuran Hiburan Modern

Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan hanya dengan menjaga warisan tradisi.

Musik tradisi bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa batin yang menyatukan manusia dengan tanah kelahirannya. (Sumber: dok Sambasunda)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 10:13

Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

Pengembangan transportasi yang visioner di masa kolonial perlu menjadi tolok ukur dalam menjaga relevansi dari orientasi pengembangan transportasi di masa kini.

Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)
Wisata & Kuliner 18 Jun 2026, 10:06

Panduan Jelajah Wisata Pangalengan Bandung: Itinerary dan Pilihan Destinasi Favorit

Panduan wisata Pangalengan lengkap dengan destinasi favorit, itinerary perjalanan, kuliner, dan rute terbaik.

Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi meratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)