Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

4 menit baca
I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Ditulis oleh I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra diterbitkan
Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)
Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)

Sebuah sistem transportasi dapat dikatakan visioner apabila mampu menciptakan pola mobilitas yang kolektif, inklusif, dan efisien melalui transportasi massal yang mudah diakses oleh banyak pengguna. Konsep semacam ini bahkan telah direalisasikan sejak masa kolonial melalui pembangunan jaringan kereta api dan trem yang menghubungkan berbagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial, baik di kawasan urban maupun pedesaan. Kondisi tersebut memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menjangkau berbagai wilayah dalam satu sistem mobilitas yang sama.

Perencanaan transportasi berbasis rel juga menunjukan prinsip efisiensi melalui kapasitas angkut yang besar demi menunjang mobilitas penumpang dan distribusi barang secara optimal, sehingga tidak diragukan lagi jejak infrastrukturnya dapat dipandang sebagai aset berharga yang menyimpan nilai strategis hingga saat ini.

Namun, di balik berbagai keunggulan yang ditawarkan, apakah arah pengembangan transportasi di masa kini masih tetap selaras dengan prinsip transportasi yang visioner seperti era tersebut?

Berkaca pada masa lampau, pembangunan jalur kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda tidak hanya ditujukan untuk mengangkut penumpang, namun juga mendukung distribusi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan menuju pelabuhan sebagai pusat kegiatan ekspor dan impor.

Kebutuhan tersebut mendorong pengembangan jaringan rel yang semakin meluas sejak pengoperasian jalur pertama Semarang–Vorstenlanden pada tahun 1864. Seiring perkembangannya, jaringan kereta api dan trem berhasil menjangkau berbagai wilayah di Pulau Jawa hingga ke beberapa daerah di luar Jawa. Bahkan hingga akhir tahun 1928, panjang jaringan rel yang beroperasi di Indonesia telah mencapai 7.464 kilometer.

Ini tentunya menjadi suatu pencapaian yang baik guna membuktikan bahwa sistem perkeretaapian memang telah menjadi perhatian penting sejak masa kolonial sebagai sarana untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendukung mobilitas penumpang dan distribusi logistik secara efektif.

Berbeda dengan orientasi pembangunan transportasi pada masa kolonial, arah pembangunan transportasi Indonesia saat ini lebih berkonsentrasi pada infrastruktur jalan raya dan jalan bebas hambatan. Perubahan ini ditandai dengan penonaktifan sejumlah jalur kereta api warisan kolonial pada masa Orde Baru tanpa diimbangi penjagaan setiap asetnya.

Di sisi lain, pembangunan jalan yang semakin masif mendorong penggunaan kendaraan pribadi sebagai moda utama dalam aktivitas perjalanan, sehingga menciptakan sistem yang bersifat individual sekaligus membatasi ruang interaksi sosial antar lapisan masyarakat.

Penampakan kereta lokal Garut Cibatuan di peron Stasiun Garut setelah direaktivasi di tahun 2022 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: NFarras)
Penampakan kereta lokal Garut Cibatuan di peron Stasiun Garut setelah direaktivasi di tahun 2022 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: NFarras)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan mobil penumpang dari 12,3 juta unit pada tahun 2015 menjadi 20,9 juta unit pada tahun 2025 menegaskan bahwa pembangunan jalan raya yang masif justru terus mengundang lebih banyak kendaraan pribadi dan dikhawatirkan akan terus bertambah di masa depan.

Fakta tersebut membuktikan bahwa pembangunan transportasi Indonesia sangat bertolak belakang dengan semangat karakter transportasi di masa kolonial, dan berganti menjadi siklus mobilitas individual yang dikhawatirkan akan semakin sulit untuk dikendalikan.

Kesadaran untuk mengevaluasi peran transportasi berbasis rel semakin relevan ditengah tantangan dari orientasi transportasi berbasis jalan raya yang memicu berbagai biaya eksternal, seperti kemacetan, perubahan iklim, kecelakaan lalu lintas, polusi udara, dan kebisingan (Proost & Van Dender, 2010).

Salah satu indikasinya terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap kereta api. Pada masa angkutan Lebaran 2026, jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Garut mencapai 13.076 orang atau meningkat enam persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, pada jalur yang baru direaktivasi pada tahun 2022 dengan frekuensi hanya satu perjalanan per hari, permintaan penumpang telah melampaui kapasitas rata-rata harian yang berkisar antara 250 hingga 300 orang (Koran Jakarta, 2026).

Fakta tersebut menjadikan reaktivasi jalur-jalur rel warisan kolonial tidak hanya sebatas relevan, namun juga berpotensi menjadi fondasi dalam membangun kembali sistem transportasi yang lebih visioner.

Seiring besarnya antusiasme masyarakat terhadap jalur kereta api yang kembali beroperasi, harapan untuk mewujudkan sistem transportasi yang visioner sebagaimana pernah diterapkan pada masa kolonial kini semakin terbuka lebar. Bayangkan jika jalur-jalur rel nonaktif lainnya turut direaktivasi, maka semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses transportasi massal yang kolektif, inklusif, dan efisien.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan transportasi berbasis rel masih sangat besar. Peningkatan kualitas layanan perkeretaapian juga semakin memperkuat urgensi reaktivasi jalur rel, mengingat kualitas layanan yang baik terbukti mampu mendorong peralihan pengguna dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik (de Oña & de Oña, 2015).

Jika infrastruktur rel telah dipikirkan secara visioner sejak masa kolonial, maka seharusnya transportasi modern hari ini mampu melanjutkan dan mengembangkannya, bukan meninggalkannya. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Proost, S., & Van Dender, K. (2010). What sustainable road transport future?: Trends and policy options. OECD/ITF Joint Transport Research Centre Discussion Papers, 2010/14. https://ideas.repec.org/p/oec/itfaaa/2010-14-en.html
  • Koran Jakarta. (2026, 5 April). Rekor baru, penumpang KA di Garut melonjak tajam, Cikuray dan Papandayan jadi rebutan. https://koran-jakarta.com/2026-04-05/rekor-baru-penumpang-ka-di-garut-melonjak-tajam-cikuray-dan-papandayan-jadi-rebutan
  • de Oña, J., & de Oña, R. (2015). Quality of service in public transport based on customer satisfaction surveys: A review and assessment of methodological approaches. Transportation Research Part A: Policy and Practice, 79, 239–277. https://doi.org/10.1016/j.tra.2015.03.014

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)