Ketika Inflasi Hanya Angka bagi yang Kaya, Bencana bagi yang Miskin

5 menit baca
Finy Destina Kurniati
Ditulis oleh Finy Destina Kurniati diterbitkan
Ilustrasi warga Indonesia sedang menghitung uang di dompet. (Sumber: Pexels | Foto: abs bob)
Ilustrasi warga Indonesia sedang menghitung uang di dompet. (Sumber: Pexels | Foto: abs bob)

Mari kita bayangkan fenomena ini. Dua ibu rumah tangga sedang pergi berbelanja pada hari dan waktu yang sama. Satu sisi, seorang ibu berbelanja di sebuah pasar tradisional. Sang ibu menghela napas panjang menatap sisa kembaliannya, uang seratus ribu rupiah yang ia bawa sudah hampir habis, tapi ketika melihat isi tas belanjanya, tas tersebut bahkan belum setengah penuh. Cabai, bawang, semua bumbu pokok naik, telur ikut naik, hingga minyak goreng pun belum turun dari beberapa pekan lalu.

Ia pun mencoba menggeser-geser barang belanjaannya, menimbang barang mana yang bisa ditunda untuk dibeli. Lalu di sisi lain, di sebuah supermarket yang serba ada, seorang ibu lain mengernyitkan dahi menatap kemasan cemilan favoritnya. “Kok terasa lebih kecil ya?” Harganya memang tidak berubah, tapi isinya sudah dikurangi diam-diam. Namun ia tetap menambahkan cemilan tersebut pada keranjang belanjanya tanpa terlalu pusing dan melanjutkan belanja. Inflasi yang dibalut oleh “gula”, harga yang tetap di tengah kenaikan harga, namun diam-diam terjadi pemangkasan.

Keduanya menghadapi permasalahan yang sama, inflasi. Inflasi pada angka yang sama, angka dua hingga tiga persen yang disebut masih dalam batas target pemerintah. Tapi dari situ, pengalaman keduanya berbeda jauh. Dari pengalaman tersebut, nampak bahwa inflasi bukan sekadar masalah ekonomi tapi merupakan masalah keadilan sosial, karena beban angka yang sama bisa terasa dua hingga tiga kali lebih berat bagi mereka yang hampir seluruh penghasilannya habis hanya untuk makan. Hal ini yang seringkali luput dari perhatian ketika kita hanya membaca angka, tanpa tahu cerita dibaliknya. 

Jadi Apa Sebenarnya Inflasi dan Mengapa Bisa Terasa Beda bagi Setiap Orang?

Sederhananya, inflasi adalah kondisi dimana harga-harga secara umum naik dari waktu ke waktu, sehingga nilai sebenarnya dari uang yang kita pegang perlahan menurun. Kalau bulan lalu uang lima puluh ribu rupiah cukup untuk membeli stok cabai untuk seminggu, bulan ini mungkin hanya cukup untuk beberapa hari saja. Nominal uangnya mungkin masih sama, tapi daya belinya mengurang. Itulah inflasi dalam kehidupan nyata. Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis tahun 2025, inflasi umum di Indonesia sepanjang 2024 tercatat sebesar 1,57%, lebih rendah dari tahun sebelumnya dan masih berada dalam rentang target inflasi 2,5± yang ditetapkan oleh pemerintah, angka yang secara resmi memang masih dalam batas “terkendali” yang secara teknis aman.

Tapi bagi sebagian orang, “aman” itu tidak terasa aman. Kondisi ini disebut regressive inflation, situasi dimana walaupun angka inflasi sama, namun proporsi beban nyatanya lebih besar bagi kelompok berpenghasilan rendah. Kelompok pendapatan bawah jauh lebih sensitif terhadap guncangan harga dibandingkan kelompok atas. Hal ini disebabkan kelompok dengan pendapatan atas memiliki kebutuhan yang lebih beragam, sedangkan kelompok pendapatan bawah bahkan kesulitan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sederhananya, inflasi bagi orang kaya mungkin hanya berarti mengurangi rencana rekreasi, sedangkan bagi orang miskin, inflasi bisa berarti mengurangi makan menjadi satu kali dalam sehari.

pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)
pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2024 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, rumah tangga pada kelompok pengeluaran terendah mengalokasikan sekitar 60 hingga 70 persen dari total pengeluaran hanya untuk kebutuhan makanan. Sementara itu rumah tangga pada kelompok pengeluaran tertinggi hanya menggunakan sekitar 30 hingga 40 persen untuk memenuhi jenis kebutuhan yang sama. Ini artinya dengan angka inflasi yang sama, dampaknya bisa dirasakan berkali lipat lebih berat bagi yang sudah susah. Orang dengan pendapatan lebih masih mempunyai tabungan atau aset sebagai bantalan, sementara keluarga miskin seringkali tidak punya cadangan sama sekali. Oleh karena itu, ketika harga naik, mereka tidak mempunyai pilihan lain selain memotong kebutuhan yang paling mendasar.

Pasar Tradisional vs. Supermarket

Perbedaan juga semakin dirasakan ketika kita melihat dimana masing-masing kelompok berbelanja. Masyarakat kelas bawah cenderung berbelanja di pasar tradisional. Di pasar tradisional, harga langsung terbentuk dari ujung rantai distribusi, begitu harga cabai dari petani naik, atau ongkos pengiriman melonjak, kenaikan langsung terpantul ke harga di lapak pasar. Pedagang di pasar tradisional tidak mempunyai “privilege” untuk menunggu atau bernegosiasi, sehingga mereka mau tidak mau harus mengikuti harga pasokan yang datang atau risiko barang tidak akan laku.

Sedangkan di supermarket, sistemnya berbeda. Supermarket sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan pemasok, gudang stok terencana, dan punya kemampuan menegosiasikan harga. Ketika biaya produksi naik, supermarket punya pilihan seperti mempertahankan harga namun dengan memperkecil kemasan. Konsumen mungkin menyadari kemasan yang mengecil, tapi kebanyakan tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena mereka masih mempunyai opsi seperti pindah ke merek lain, mengurangi pembelian atau bahkan berpindah ke kategori lain. Fleksibilitas seperti ini adalah hak istimewa yang tidak dimiliki oleh konsumen dengan pendapatan rendah.

Inilah yang membuat inflasi menjadi tidak adil secara struktural. Masyarakat yang paling susah ekonominya terpaksa berbelanja di tempat yang paling rentan terhadap kenaikan harga, sementara mereka yang lebih mampu, berbelanja di tempat yang punya banyak cara untuk meredam dampak inflasi.

Pemerintah Bergerak: Subsidi Tepat Sasaran

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan gerakan melalui berbagai program untuk melindungi daya beli masyarakat bawah seperti dengan bantuan pangan dan subsidi. Tapi adanya gerakan tersebut tidak otomatis berarti tepat sasaran. Faktanya, anggaran subsidi pangan Indonesia tergolong besar, namun efektivitasnya masih menjadi tanda tanya. Salah satu masalah yang terus berulang adalah akurasi data penerima bantuan. Masih ada keluarga yang berhak menerima tapi tidak terdaftar, sementara ada pula yang sudah tidak lagi masuk kategori miskin tapi masih menerima bantuan. Akibatnya, bantuan yang seharusnya menjadi jaring pengaman justru menjadi tidak tepat sasaran.

KPU RI menyebutkan pemerintah akhirnya menargetkan program subsidi tepat  menjadi prioritas pemerintah di tahun 2025. Program ini hadir dengan tujuan utama yaitu memastikan subsidi benar-benar diterima yang berhak, memperbaiki akurasi data penerima, hingga mencegah kebocoran anggaran negara. Subsidi sembako menjadi salah satu program bantuan yang  masuk pada skema subsidi tepat ini. Melalui program subsidi tepat, sistem penerimaan bantuan dibuat dengan menerapkan integrasi data NIK, digitalisasi penyaluran, survei dan update DTKS, pelibatan Pemda dan RT/RW, serta dengan pengawasan berlapis. Dengan ini, pemerintah sudah berupaya dalam menanggulangi masalah subsidi yang tidak tepat sebelumnya. Langkah ini perlu disambut dengan kesadaran dari kita juga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Finy Destina Kurniati
Mahasiswa Akuntansi. Universitas Katolik Parahyangan.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 08:48

Penebangan Pohon Malam Hari: Kejahatan Lingkungan atau Sekadar Pelanggaran Administratif?

Ketika penebangan pohon dilakukan tanpa izin, maka secara administratif, jelas itu pelanggaran lantaran ada prosedur yang dilanggar.

Aktivita penebangan pohon di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Agu 2026, 19:39

Jejak Rasa di Garis Depan: Menelusuri Kaitan Erat Aantara Kuliner, Logistik Perang, dan Kedaulatan Indonesia

Kuliner dan kemerdekaan Indonesia berkelindan secara berkelanjutan.

ilustrasi Sukarno dan buku "Mustikarasa". (Sumber: Ayobandung.id)