Lini Masa Satu Suro: Tirakatan, Meruwat Rumah Suwung dan Bercengkerama dengan Wijaya Kusuma  

7 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi situasi malam Satu Suro, tampak hening sang Kucing bersanding dengan kembang Wijaya Kusuma (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi situasi malam Satu Suro, tampak hening sang Kucing bersanding dengan kembang Wijaya Kusuma (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Tradisi peringatan Satu Suro tak lekang oleh waktu. Baik dalam konteks entitas kebudayaan maupun oleh masing-masing pribadi.

Menurut nasehat orang tua dan leluhur, Satu Suro menjadi afdol jika kita sertai dengan tirakatan. Pada prinsipnya tirakatan adalah tradisi spiritual atau perenungan batin dalam budaya Jawa yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon terkabulnya suatu hajat, dan mengendalikan nafsu.

Catatan khusus saya terkait peringatan Satu Suro tahun ini adalah meruwat atau membersihkan rumah suwung peninggalan orang tua. Membersihkan debu dan kotoran dalam ruangan. Dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Menjelang malam tahun baru, kutaburi ruang dalam rumah dengan doa. Hati ini seperti tersedot, ketika melihat ruang keluarga dan kamar-kamar masa lalu kini suwung. Merasa trenyuh memikirkan kapan rumah itu bisa berpenghuni lagi secara permanen.

Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 (Bé) yang mundur sehari dibandingkan perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H terjadi karena tahun sebelumnya atau tahun 1959 (Dal) merupakan tahun kabisat. 1 Suro 2026 bertepatan dengan Rabu, 17 Juni 2026 dengan weton Rabu Kliwon. Sistem Kalender Jawa dibangun di masa Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma untuk menyatukan sejumlah penanggalan yang digunakan Masyarakat saat itu. Yaitu kalender Hindu Saka yang digunakan penganut Kejawen dan kalender Islam yang digunakan kaum Santri.

Acara peringatan seribu hari wafatnmya Ibu di rumah di kampung halaman yang penuh nostalgia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Acara peringatan seribu hari wafatnmya Ibu di rumah di kampung halaman yang penuh nostalgia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Rumah yang Memiliki Jiwa

Rumah bukan sekedar tempat tinggal yang menjadi saksi tumbuh dan berkembangnya anak-anak manusia. Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap rumah yang kita tinggali memiliki jiwa dan energi hidup.

Kini pada saat banyak generasi milenial dan gen Z kesulitan memiliki rumah sendiri, dilain pihak diberbagai kompleks perumahan saat ini semakin banyak rumah dalam kondisi kosong. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Rumah kosong itu disebabkan oleh berbagai hal seperti yang punya rumah meninggal dunia dan ahli warisnya berada di kota lain. Bahkan ada beberapa yang tidak memiliki ahli waris.

Tak bisa dimungkiri lagi sebagian besar rumah di kampung ataupun di komplek perumahan perkotaan kini banyak yang suwung atau kosong. Karena tidak ada yang menghuni. Memang banyak pihak yang menganggap bahwa rumah kosong itu menyeramkan, angker dan penuh misteri.

Namun dengan doa dan niat yang baik serta keikhlasan, maka memasuki rumah kosong itu seperti ada nuansa batin yang terdalam. Orang bijak mengatakan nuansa itu disebut dengan suwung.  Suwung merupakan istilah Jawa yang menggambarkan kondisi kosong, tidak mempunyai bentuk dan abstrak. Di dalamnya mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan religi atau kepercayaan. Dalam kondisi suwung kita bisa mawas diri secara optimal.

Dalam beberapa referensi suwung bagi kalangan sufi merupakan sebuah pengalaman spiritual yang disebut peak experience. Peak experience menurut Maslow dijabarkan sebagai suatu kondisi saat seseorang secara mental merasa keluar dari dirinya sendiri. Melalui pemahaman Suwung ini, manusia dengan sadar dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan secara lebih bijaksana.

Acara selametan seribu hari wafatnya Ibu di ruang tengah rumah kenangan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Acara selametan seribu hari wafatnya Ibu di ruang tengah rumah kenangan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Tradisi Jawa memiliki kepercayaan bahwa pada malam 1 Suro energi gaib dan kekuatan supranatural sangat kuat. Malam 1 Suro juga menjadi waktu melakukan berbagai ritual seperti tirakatan (bermeditasi atau berdoa semalam suntuk), jamasan pusaka (membersihkan benda pusaka), dan menggelar wayang kulit atau pertunjukan seni lainnya.

Orang tua mengajarkan menjelang satu Suro dengan cara tirakatan, mengurangi tidur dan membersihkan rumah. Seluruh anggota keluarga melakukan pembersihan menyeluruh di rumah. Bersihkan dan sapu lantai, atur kembali perabotan, dan buang barang-barang yang tidak terpakai. Hal ini diyakini dapat membersihkan energi negatif dan menyambut energi positif di rumah.

Masih hangat dalam ingatan, setiap satu Suro orang tua juga melakukan tradisi sedekah bumi. Yakni menyediakan hidangan khusus yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, dan buah-buahan sebagai sesajen.

Selanjutnya, letakkan sesajen tersebut di depan rumah atau di tempat yang dianggap sakral seperti tempat ibadah, kemudian berdoa dan mengundang tetangga serta keluarga untuk ikut merayakan dan makan bersama.

Bercengkerama dengan kembang Wijaya Kusuma hibrid dengan ID California Dream pada acara Satu Suro (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bercengkerama dengan kembang Wijaya Kusuma hibrid dengan ID California Dream pada acara Satu Suro (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Bercengkerama dengan Wijaya Kusuma

Seperti tahun-tahun sebelumnya momentum Satu Suro kami dihibur oleh aneka tanaman di halaman rumah. Yang teristimewa adalah kembang Wijaya Kusuma. Orang tua saya dahulu menanam kembang Wijaya Kusuma spesies bunga warna putih. Ada tiga spesies bunga putih ukuran besar dan ukuran kecil. Yang bunga putih ukuran kecil sepanjang tahun terus mekar. Setiap dua bulan bunganya mekar dengan jumlah hingga ratusan.

Wijaya Kusuma jenis Pumilium kesukaan almarhum Ibunda tercinta (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wijaya Kusuma jenis Pumilium kesukaan almarhum Ibunda tercinta (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Saat Ibu masih hidup pernah bertanya kepada saya, kenapa tidak ada bunga Wijaya Kusuma yang berwarna merah, kuning, ungu. Saat itu saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Baru lima tahun lalu saya menemukan ternyata ada Wijaya Kusuma jenis hibrid yang berwarna merah, orange, pink, kuning ungu dan jambon. Saya juga jadi tahu bahwa warna warni bunga Wijaya Kusuma hibrid itu juga mekar di siang hari. Tidak seperti species putih yang hanya mekar di malam hari dan layu menjelang subuh.

Saat ini saya memiliki ratusan pot dengan berbagai jenis Wijaya Kusuma, baik yang tergolong spesies maupun hibrida nampak berseri dan semakin menampakkan hijau daun yang khas. Di rumah warisan orang tua juga saya tanam beberapa Wijaya Kusuma hibrid yang warna warni itu bersanding dengan tanaman warisan ortu yang panjang umur hingga kini.

Istimewanya pada malam Satu Suro kali ini bermekaran bunga Wijaya Kusuma warna merah ( dengan ID Ackermannii ) dan bunga warna putih. Bunga putih dengan ukuran besar (sebesar piring makan) dari spesies Oxypetalum dan bunga putih dengan ukuran sedang dari spesies Pumilum. 

Wijaya Kusuma jenis Keris yang dipercaya bisa menjadi tolak bahaya dan bisa berperan sebagai pembersih udara (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wijaya Kusuma jenis Keris yang dipercaya bisa menjadi tolak bahaya dan bisa berperan sebagai pembersih udara (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Bunga Wijaya Kusuma atau disingkat Wiku  dalam bahasa ilmiahnya disebut Epiphyllum, memiliki daya magis, bisa membangkitkan spirit dan proses kreatif serta mengandung nilai kebudayaan yang cukup dalam. Wijaya Kusuma adalah bunga kebahagiaan, menjadi lambang lambang kebesaran. Itulah kenapa pada saat ini para peneliti dan kolektor di seluruh dunia sedang mengawinkan Wijaya Kusuma hibrida untuk mendapatkan postur dan gradasi warna bunga yang unik dan indah menawan. Kini semakin banyak bermunculan hybridizer Wiku. Berlomba-lomba memperoleh hybrid baru Epiphyllum.

Wisata kembang Wijaya Kusuma di halaman rumah sendiri. Menikmati warna-warni bunga Nirwana. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata kembang Wijaya Kusuma di halaman rumah sendiri. Menikmati warna-warni bunga Nirwana. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Dalam ilmu Biologi, Epiphyllum termasuk tanaman yang bersifat epifit (epiphyte). Istilah yang berasal bahasa Yunani: "epi" (permukaan atau tutup) dan "phyton" (tumbuhan atau pohon). Epifit adalah tanaman yang tumbuh dengan cara menumpang pada tumbuhan lain sebagai media hidupnya, tetapi tidak mengambil hara tumbuhan yang ditumpangi. Jadi bukan bersifat parasite yang menyedot sari makanan dari tumbuhan lain. Karena itulah epiphyllum disebut juga sebagai kaktus rambat (climbing cacti). Nutrisi diperoleh dari hujan, embun, uap air, dan udara. Hara mineral diperoleh dari debu atau hasil dekomposisi batang serta sisa-sisa bagian tumbuhan lain yang terurai.

Menjelang satu Suro saya memilih beberapa pot untuk ruang di rumah, antara lain tanaman yang memiliki kinerja yang bagus untuk membersihkan udara yakni jenis Epiphyllum jenis Keris. Batang dan daun jenis tanaman ini bentuknya seperti Keris. Istri saya menyebutnya keris Aryo Penangsang. Tanaman ini tahan kekeringan dan dipercaya sebagai tanaman tolak bala. Bentuknya seperti keris yang muncul dari tanah dan batangnya bisa tumbuh memanjang hingga dua meter. Dan bisa tumbuh keris-keris baru di sampingnya. Keris Aryo Penangsang ini bisa dibentuk dalam berbagai formasi. Bisa memakai pot gantung atau pot duduk.

Kuntum Wijaya Kusuma bunga warna putih ukuran besar yang siap mekar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Kuntum Wijaya Kusuma bunga warna putih ukuran besar yang siap mekar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Istri saya selalu minta beberapa pot Wijaya Kusuma jenis California Dream, Princes Ashley, Incrediable, dan Spesies Pumilum yang kuncupnya siap mekar agar pot-pot itu ditaruh di beranda rumah atau ruang tamu. Agar bisa dinikmati bersama  selayaknya wisata bunga yang eksotik.

Jika ada waktu saya suka mengawinkan berbagai jenis bunga surga dari keluarga Wiku alias Epiphyllum. Itu saya lakukan saat beberapa jenis bunga sedang mekar.

Mengawinkan aneka warna bunga Wiku dengan cara kawin silang antar hibrida, maupun spesies dengan hibrida tertentu sungguh asyik.

Perkawinan yang tepat waktu adalah sehabis Magrib. Yang paling sering saya kawinkan adalah Wiku Oxypetalum dengan Wiku hibrida dengan ID California Dream. Keduanya sama-sama memiliki bunga ukuran besar. California yang berwarna pink dengan semburat keunguan tampak birahinya sudah menggebu sejak mekar. Ingin segera kawin dengan Oxypetalum yang sejak selepas Isya kuncupnya sudah bersiap mekar sesuai dengan kaidah kinematika bunga yang sudah dirumuskan oleh Sang Maha Pencipta.

Penulis bercengkerama dengan bunga bahagia, kembang suwarga yang jatuh ke Bumi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Penulis bercengkerama dengan bunga bahagia, kembang suwarga yang jatuh ke Bumi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Warna warni  Wiku yang indah nan eksotik bagaikan serpihan dari Surga yang jatuh ke Bumi. Musim mekar bunga Wiku baik yang tergolong spesies maupun hibrida menjadikan wisata di pekarangan rumahku semakin memesona. Wiku hibrida dengan ID (kependekan dari “Identifikasi”) Ackermannii dengan bunga merah darah paling banyak mekarnya, disusul oleh ID California Dream dengan bunga berwarna pink dan keunguan. Lalu ada ID Princes Asqi yang berwarna merah darah berpadu dengan  ungu di pinggirnya dan ID Incredible dengan bunga warna pink polos muda.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:04

Jalan Berlubang, Nyawa Melayang: Pelajaran dari Tragedi di Pasteur

Tragedi di Jalan Pasteur menjadi pengingat bahwa jalan berlubang dapat memicu kecelakaan fatal dan menegaskan pentingnya prinsip jalan berkeselamatan.

Seorang pengemudi ojek online tewas usai terjatuh karena lubang di Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung, Rabu (17/6/2026). (Sumber: Dok. Unit Gakkum Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:28

Endorse Jutaan, Hasil Recehan

Memilih influencer sebagai strategi marketing perusahaan produk fashion tidak lagi menjadi daya tarik yang kuat bagi konsumen Gen Z karena Gen Z lebih peduli terhadap produk murah dan diskon.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 09:09

Mengapa Internet Tidak Gratis Bagi Pendidikan?

Kebutuhan internet gratis sangat tepat untuk menjadikan sekolah berselancar dengan internet sehingga wawasan pendidikan makin terbuka.

ilustrasi berselancar di internet. (Sumber: Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 20:17

Dari Tanam Paksa ke Investasi Modern: Mengkritisi Pola Investasi Masa Kolonial untuk Masa Kini

Investasi Indonesia berubah dari eksploitatif di era kolonial menjadi lebih inklusif di era modern, dengan realisasi Rp1.418 triliun dan 1,8 juta lapangan kerja pada 2023.

Tembakau kering di Jawa Timur sebelum tahun 1939. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 20:06

Belajar Kebijaksanaan dari BUMDes Cisurat, Bersaing Sehat dengan Agen BRILink Warganya

Dahulu, warga Desa Cisurat harus menempuh perjalanan rata-rata 10 kilometer untuk urusan perbankan.

Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat (Wibawa Mukti), Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 19:13

Dari 4444 Menjadi Biometrik, Nanti Apalagi?

Menganalisa rekam jejak pemerintah dalam melindungi data pribadi masyarakat melalui kebijakan registrasi kartu SIM.

Ilustrasi keamanan siber. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)