Tradisi peringatan Satu Suro tak lekang oleh waktu. Baik dalam konteks entitas kebudayaan maupun oleh masing-masing pribadi.
Menurut nasehat orang tua dan leluhur, Satu Suro menjadi afdol jika kita sertai dengan tirakatan. Pada prinsipnya tirakatan adalah tradisi spiritual atau perenungan batin dalam budaya Jawa yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon terkabulnya suatu hajat, dan mengendalikan nafsu.
Catatan khusus saya terkait peringatan Satu Suro tahun ini adalah meruwat atau membersihkan rumah suwung peninggalan orang tua. Membersihkan debu dan kotoran dalam ruangan. Dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Menjelang malam tahun baru, kutaburi ruang dalam rumah dengan doa. Hati ini seperti tersedot, ketika melihat ruang keluarga dan kamar-kamar masa lalu kini suwung. Merasa trenyuh memikirkan kapan rumah itu bisa berpenghuni lagi secara permanen.
Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 (Bé) yang mundur sehari dibandingkan perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H terjadi karena tahun sebelumnya atau tahun 1959 (Dal) merupakan tahun kabisat. 1 Suro 2026 bertepatan dengan Rabu, 17 Juni 2026 dengan weton Rabu Kliwon. Sistem Kalender Jawa dibangun di masa Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma untuk menyatukan sejumlah penanggalan yang digunakan Masyarakat saat itu. Yaitu kalender Hindu Saka yang digunakan penganut Kejawen dan kalender Islam yang digunakan kaum Santri.

Rumah yang Memiliki Jiwa
Rumah bukan sekedar tempat tinggal yang menjadi saksi tumbuh dan berkembangnya anak-anak manusia. Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap rumah yang kita tinggali memiliki jiwa dan energi hidup.
Kini pada saat banyak generasi milenial dan gen Z kesulitan memiliki rumah sendiri, dilain pihak diberbagai kompleks perumahan saat ini semakin banyak rumah dalam kondisi kosong. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Rumah kosong itu disebabkan oleh berbagai hal seperti yang punya rumah meninggal dunia dan ahli warisnya berada di kota lain. Bahkan ada beberapa yang tidak memiliki ahli waris.
Tak bisa dimungkiri lagi sebagian besar rumah di kampung ataupun di komplek perumahan perkotaan kini banyak yang suwung atau kosong. Karena tidak ada yang menghuni. Memang banyak pihak yang menganggap bahwa rumah kosong itu menyeramkan, angker dan penuh misteri.
Namun dengan doa dan niat yang baik serta keikhlasan, maka memasuki rumah kosong itu seperti ada nuansa batin yang terdalam. Orang bijak mengatakan nuansa itu disebut dengan suwung. Suwung merupakan istilah Jawa yang menggambarkan kondisi kosong, tidak mempunyai bentuk dan abstrak. Di dalamnya mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan religi atau kepercayaan. Dalam kondisi suwung kita bisa mawas diri secara optimal.
Dalam beberapa referensi suwung bagi kalangan sufi merupakan sebuah pengalaman spiritual yang disebut peak experience. Peak experience menurut Maslow dijabarkan sebagai suatu kondisi saat seseorang secara mental merasa keluar dari dirinya sendiri. Melalui pemahaman Suwung ini, manusia dengan sadar dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan secara lebih bijaksana.

Tradisi Jawa memiliki kepercayaan bahwa pada malam 1 Suro energi gaib dan kekuatan supranatural sangat kuat. Malam 1 Suro juga menjadi waktu melakukan berbagai ritual seperti tirakatan (bermeditasi atau berdoa semalam suntuk), jamasan pusaka (membersihkan benda pusaka), dan menggelar wayang kulit atau pertunjukan seni lainnya.
Orang tua mengajarkan menjelang satu Suro dengan cara tirakatan, mengurangi tidur dan membersihkan rumah. Seluruh anggota keluarga melakukan pembersihan menyeluruh di rumah. Bersihkan dan sapu lantai, atur kembali perabotan, dan buang barang-barang yang tidak terpakai. Hal ini diyakini dapat membersihkan energi negatif dan menyambut energi positif di rumah.
Masih hangat dalam ingatan, setiap satu Suro orang tua juga melakukan tradisi sedekah bumi. Yakni menyediakan hidangan khusus yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, dan buah-buahan sebagai sesajen.
Selanjutnya, letakkan sesajen tersebut di depan rumah atau di tempat yang dianggap sakral seperti tempat ibadah, kemudian berdoa dan mengundang tetangga serta keluarga untuk ikut merayakan dan makan bersama.

Bercengkerama dengan Wijaya Kusuma
Seperti tahun-tahun sebelumnya momentum Satu Suro kami dihibur oleh aneka tanaman di halaman rumah. Yang teristimewa adalah kembang Wijaya Kusuma. Orang tua saya dahulu menanam kembang Wijaya Kusuma spesies bunga warna putih. Ada tiga spesies bunga putih ukuran besar dan ukuran kecil. Yang bunga putih ukuran kecil sepanjang tahun terus mekar. Setiap dua bulan bunganya mekar dengan jumlah hingga ratusan.

Saat Ibu masih hidup pernah bertanya kepada saya, kenapa tidak ada bunga Wijaya Kusuma yang berwarna merah, kuning, ungu. Saat itu saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Baru lima tahun lalu saya menemukan ternyata ada Wijaya Kusuma jenis hibrid yang berwarna merah, orange, pink, kuning ungu dan jambon. Saya juga jadi tahu bahwa warna warni bunga Wijaya Kusuma hibrid itu juga mekar di siang hari. Tidak seperti species putih yang hanya mekar di malam hari dan layu menjelang subuh.
Saat ini saya memiliki ratusan pot dengan berbagai jenis Wijaya Kusuma, baik yang tergolong spesies maupun hibrida nampak berseri dan semakin menampakkan hijau daun yang khas. Di rumah warisan orang tua juga saya tanam beberapa Wijaya Kusuma hibrid yang warna warni itu bersanding dengan tanaman warisan ortu yang panjang umur hingga kini.
Istimewanya pada malam Satu Suro kali ini bermekaran bunga Wijaya Kusuma warna merah ( dengan ID Ackermannii ) dan bunga warna putih. Bunga putih dengan ukuran besar (sebesar piring makan) dari spesies Oxypetalum dan bunga putih dengan ukuran sedang dari spesies Pumilum.

Bunga Wijaya Kusuma atau disingkat Wiku dalam bahasa ilmiahnya disebut Epiphyllum, memiliki daya magis, bisa membangkitkan spirit dan proses kreatif serta mengandung nilai kebudayaan yang cukup dalam. Wijaya Kusuma adalah bunga kebahagiaan, menjadi lambang lambang kebesaran. Itulah kenapa pada saat ini para peneliti dan kolektor di seluruh dunia sedang mengawinkan Wijaya Kusuma hibrida untuk mendapatkan postur dan gradasi warna bunga yang unik dan indah menawan. Kini semakin banyak bermunculan hybridizer Wiku. Berlomba-lomba memperoleh hybrid baru Epiphyllum.

Dalam ilmu Biologi, Epiphyllum termasuk tanaman yang bersifat epifit (epiphyte). Istilah yang berasal bahasa Yunani: "epi" (permukaan atau tutup) dan "phyton" (tumbuhan atau pohon). Epifit adalah tanaman yang tumbuh dengan cara menumpang pada tumbuhan lain sebagai media hidupnya, tetapi tidak mengambil hara tumbuhan yang ditumpangi. Jadi bukan bersifat parasite yang menyedot sari makanan dari tumbuhan lain. Karena itulah epiphyllum disebut juga sebagai kaktus rambat (climbing cacti). Nutrisi diperoleh dari hujan, embun, uap air, dan udara. Hara mineral diperoleh dari debu atau hasil dekomposisi batang serta sisa-sisa bagian tumbuhan lain yang terurai.
Menjelang satu Suro saya memilih beberapa pot untuk ruang di rumah, antara lain tanaman yang memiliki kinerja yang bagus untuk membersihkan udara yakni jenis Epiphyllum jenis Keris. Batang dan daun jenis tanaman ini bentuknya seperti Keris. Istri saya menyebutnya keris Aryo Penangsang. Tanaman ini tahan kekeringan dan dipercaya sebagai tanaman tolak bala. Bentuknya seperti keris yang muncul dari tanah dan batangnya bisa tumbuh memanjang hingga dua meter. Dan bisa tumbuh keris-keris baru di sampingnya. Keris Aryo Penangsang ini bisa dibentuk dalam berbagai formasi. Bisa memakai pot gantung atau pot duduk.

Istri saya selalu minta beberapa pot Wijaya Kusuma jenis California Dream, Princes Ashley, Incrediable, dan Spesies Pumilum yang kuncupnya siap mekar agar pot-pot itu ditaruh di beranda rumah atau ruang tamu. Agar bisa dinikmati bersama selayaknya wisata bunga yang eksotik.
Jika ada waktu saya suka mengawinkan berbagai jenis bunga surga dari keluarga Wiku alias Epiphyllum. Itu saya lakukan saat beberapa jenis bunga sedang mekar.
Mengawinkan aneka warna bunga Wiku dengan cara kawin silang antar hibrida, maupun spesies dengan hibrida tertentu sungguh asyik.
Perkawinan yang tepat waktu adalah sehabis Magrib. Yang paling sering saya kawinkan adalah Wiku Oxypetalum dengan Wiku hibrida dengan ID California Dream. Keduanya sama-sama memiliki bunga ukuran besar. California yang berwarna pink dengan semburat keunguan tampak birahinya sudah menggebu sejak mekar. Ingin segera kawin dengan Oxypetalum yang sejak selepas Isya kuncupnya sudah bersiap mekar sesuai dengan kaidah kinematika bunga yang sudah dirumuskan oleh Sang Maha Pencipta.

Warna warni Wiku yang indah nan eksotik bagaikan serpihan dari Surga yang jatuh ke Bumi. Musim mekar bunga Wiku baik yang tergolong spesies maupun hibrida menjadikan wisata di pekarangan rumahku semakin memesona. Wiku hibrida dengan ID (kependekan dari “Identifikasi”) Ackermannii dengan bunga merah darah paling banyak mekarnya, disusul oleh ID California Dream dengan bunga berwarna pink dan keunguan. Lalu ada ID Princes Asqi yang berwarna merah darah berpadu dengan ungu di pinggirnya dan ID Incredible dengan bunga warna pink polos muda. (*)
