Endorse Jutaan, Hasil Recehan

4 menit baca
Eligius Dwi Ganggairlangga
Ditulis oleh Eligius Dwi Ganggairlangga diterbitkan
Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memilih influencer sebagai strategi marketing perusahaan produk fashion tidak lagi menjadi daya tarik yang kuat bagi konsumen Gen Z karena Gen Z lebih menaruh perhatian terhadap produk murah dan tawaran diskon. Perubahan respons konsumen yang muncul tersebut tentu perlu menjadi perhatian bagi para pelaku usaha karena akan berdampak bagi efisiensi dan efektivitas penggunaan modal usaha.

Fenomena tersebut didasarkan pada hasil survei, di mana 90% dari 32 responden Gen Z yang berlatar belakang sebagai mahasiswa dan pekerja menyatakan bahwa harga dan diskon menjadi pertimbangan dan daya tarik saat hendak membeli pakaian, sedangkan 80% lebih responden menyatakan bahwa mereka bersikap netral ataupun dengan tegas menyatakan tidak terpengaruh oleh promosi influencer.

Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh influencer mulai mengalami penurunan, sementara strategi berbasis harga dan promosi melalui diskon justru relevan dan membentuk keputusan pembelian.Ambil contoh produk internasional seperti Gildan dan Fruit of The Loom yang tidak mengandalkan influencer sama sekali, tetapi sukses besar dan produk fashion pada e-commerce seperti pada Shopee yang mampu terjual hingga ratusan ribu produk karena harganya yang ekonomis.

Perlu diketahui dahulu bahwa efektivitas promosi yang dilakukan seorang influencer sangat bergantung pada tingkat kepercayaan dan keterikatan audiens terhadap seorang influencer, yang faktanya kini semakin melemah seiring meningkatnya kesadaran Gen Z bahwa konten promosi semata-mata bersifat komersial dan bukan merupakan pernyataan jujur.

Survei yang dilakukan oleh NielsenIQ, yakni perusahaan riset konsumen global terkemuka, menunjukkan bahwa rekomendasi lewat media sosial menempati urutan terakhir dalam tren belanja Gen Z (Survei NIQ US Gen Z, 2022). Kondisi ini mencerminkan adanya pergeseran pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Gen Z, di mana rekomendasi dari seseorang yang mereka ikuti di media sosial tidak lagi menjadi pengaruh yang signifikan.

Fenomena yang sebenarnya sedang dibahas ini disebut dengan Influencer Fatigue yang muncul dua tahun belakangan ini, yakni sebuah fenomena di mana konsumen merasa bosan dan kurang percaya lagi terhadap promosi yang dilakukan oleh para influencer. Hal ini sungguh terjadi dan tercermin melalui hasil survei terhadap 32 responden di mana 80% lebih responden menjawab netral ataupun dengan tegas menjawab tidak terpengaruh dengan promosi influencer.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Selain itu, influencer juga menjadi salah satu strategi pemasaran yang menguras banyak biaya. Biaya yang dibicarakan di sini bukan hanya berbicara mengenai biaya secara materi, tetapi juga mengenai tenaga, waktu dan berbagai variabel biaya lainnya. Jika berbicara mengenai biaya utama untuk membayar influencer, harganya beragam, mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah, sebab influencer sendiri dibagi ke dalam beberapa kelas, dimulai dari Nano Influencer (1k-10k pengikut) hingga Mega Influencer (1 juta-5 juta pengikut).

Semakin kecil harga yang dibayarkan, maka kemungkinan konsumen yang menonton atau melihat produk yang dipasarkan pun akan semakin sedikit, sehingga perusahaan perlu membayar mahal jika produknya ingin diketahui oleh banyak konsumen. Sedangkan biaya lainnya yang tidak banyak diketahui mencakup biaya produksi konten yang mungkin saja diperlukan, peralatan produksi, membayar seorang profesional, biaya manajemen agensi, hingga biaya revisi apabila konten yang dihasilkan tidak sesuai dengan ekspektasi brand, sehingga total pengeluaran nyata yang ditanggung perusahaan bisa jauh melampaui angka yang tertera dalam kontrak awal dan juga memakan banyak waktu serta tenaga.

Gen Z lebih tertarik pada produk yang murah dan memiliki banyak tawaran diskon, ditambah lagi dengan beberapa faktor lain seperti review jujur oleh konsumen biasa. Preferensi Gen Z untuk memilih barang yang murah dan ekonomis muncul bukan tanpa alasan, banyak dari Gen Z masih merupakan pelajar dan memiliki keterbatasan dalam hal finansial karena belum memiliki pendapatan pribadi.

Hal tersebut menjadikan harga murah dan tawaran diskon menjadi dorongan yang kuat bagi Gen Z untuk akhirnya memutuskan membeli atau tidaknya suatu barang. Misalnya saja perayaan Hari Belanja Nasional, yakni 12.12 dan perayaan serupa pada berbagai e-commerce yang dalam sehari mampu meningkatkan permintaan secara signifikan. Seperti yang terjadi pada tahun 2018, di mana event Harbolnas pada saat itu meningkatkan permintaan hingga 94% pada platform e-commerce.

Dari hal-hal yang sudah dibahas di atas, seperti biaya yang besar, fenomena Influencer Fatigue, dan bergesernya preferensi Gen Z, tentu bisa menjadi alasan kuat yang menunjukkan bahwa strategi promosi influencer perlu dikritisi dan ditindaklanjuti. Oleh karena itu, perusahaan produk fashion dapat mengalokasikan biaya marketing kepada strategi lain ketimbang memfokuskan biaya pada influencer.

Sebagai gantinya, para pelaku usaha fashion dapat menitikberatkan perhatian pada pembuatan produk yang ekonomis, promo diskon, pencarian pemasok bahan yang berkualitas, dan mempertahankan ulasan jujur dari konsumen biasa yang terbukti menjadi hal yang dilirik oleh Gen Z saat hendak membeli pakaian.

Maka, dengan mampu mengikuti perkembangan dan pergeseran preferensi konsumen Gen Z, para pelaku usaha dapat memiliki daya saing yang lebih berkelanjutan bagi produknya. Tentu hal tersebut membuat produk tidak lagi harus bergantung pada promosi influencer yang memiliki total biaya yang besar dan dampak yang kecil. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eligius Dwi Ganggairlangga
Mahasiswa Administrasi Bisnis angkatan 2025 Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)