Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

7 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Di salah satu ruang toko Dama Kara, Jalan Gandapura, Kota Bandung, Haryo duduk berdampingan dengan seorang pembimbing. Di antara mereka, sebuah tablet menyala, menampilkan pola gambar yang ditunjukkan sang pembimbing pelan-pelan. Haryo memperhatikan sebentar, lalu tangannya mulai bergerak di atas layar tabletnya sendiri, membentuk garis demi garis menjadi sesuatu. Saya yang memandang dari pintu kaca tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia gambar, namun Haryo tampak tidak terburu-buru. Dia fokus menghubungkan pola-pola pada gawai.

Hari-hari seperti ini adalah jantung dari Dama Kara Foundation, sebuah lembaga yang berdiri pada 2024 sebagai perpanjangan dari misi brand batik lokal asal Bandung itu. Di sana, 18 teman istimewa seperti Haryo Dwiputro Hanung Risadhana berkarya setiap harinya, mengikuti kurikulum yang dirancang khusus untuk membantu mereka mengenali dan mengembangkan potensi diri. Sebagian dari karya mereka tidak hanya terpajang di dinding, tetapi juga menjelma menjadi motif pada pakaian yang dijual ke seluruh Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Bagaimanapun ada satu prinsip yang Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara, pegang teguh sejak hari pertama: kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusul kemudian. 

"Kami tidak ingin orang membeli Dama Kara karena rasa iba," ucap Dini membuka obrolannya dengan ayobandung.id siang itu, (23/6/2026).

Nama "Dama Kara" berarti “mendukung kebajikan dan kebermanfaatan”. Kebajikan yang dimaksud Dini bukan berbentuk donasi atau kampanye sosial musiman. Ia berbentuk kolaborasi yang setara.

Sejak awal, Dama Kara bermitra dengan Our Dreams Indonesia dan Art Therapy Center Widyatama, dua organisasi di Bandung yang bekerja bersama anak-anak disabilitas. Di sana digelar kelas menggambar, dan hasil karya para peserta diangkat menjadi motif produk Dama Kara. Para teman istimewa yang karyanya masuk ke produk mendapatkan royalti, selama produk tersebut masih beredar di pasaran.

Meski begitu, ada satu ihwal yang sengaja tidak dilakukan Dini, dia tidak menaruh narasi ini di bagian awal. Kisah kolaborasi dengan teman istimewa tidak mendahului tampilan produk, tidak ditempel besar-besar di etalase. Konteks itu justru diselipkan, seperti kejutan, dalam sebuah kartu kecil di dalam kemasan produk yang baru bisa terbaca setelah pembeli akan pulang.

"Kita tidak terlalu mengkomunikasikan bahwa Dama Kara mendukung kelas menggambar teman istimewa, karena kita memang ingin orang beli Dama Kara itu bukan karena kasihan, tapi karena mereka suka dengan produknya. Kita menyelipkan informasi itu di dalam card. Jadi kalau konsumen beli, di dalamnya ada kartu yang menceritakan tentang Dama Kara, dari situ akhirnya konsumen tahu bahwa produknya ada nilai tambah," jelas wanita kelahiran 1990 itu.

Pendekatan ini bukan hanya strategi pemasaran. Bagi satu-satunya UMKM Kelas 4 di Kota Bandung ini (anggota Rumah BUMN Bandung naungan Bank BRI), cara tersebut adalah bentuk penghormatan bahwa karya para teman istimewa harus bisa berdiri atas kualitasnya, bukan atas rasa iba.

"Misalnya, kita baru saja rilis produk Sekar Arunika, produk batik yang kainnya katun tapi tidak mudah lecek, supaya orang yang bekerja pakai baju batik tetap nyaman dan tampilannya tetap oke. Yang kita pertahankan adalah model bajunya, warnanya, dan yang relevan dengan kenyamanan konsumen. Bahwa kemudian koleksi ini berkolaborasi dengan (Muhammad) Naftali, teman istimewa yang menggambar motifnya, itu adalah nilai plus yang diketahui konsumen setelah mereka membeli produknya," tutur Dini.

Haryo adalah wajah nyata dari prinsip itu. Perjalanan seninya dimulai dari gambar-gambar bertema Disney, lalu berkembang ke motif binatang dan tumbuhan yang semakin variatif. Ia menguasai berbagai media, dari pensil dan cat air di atas kertas hingga ilustrasi digital menggunakan tablet dan komputer. Ia pernah menempuh pendidikan seni di Art Therapy Center Widyatama antara 2020 dan 2023, dan kini menjadi salah satu seniman visual aktif di Dama Kara Foundation.

Momen yang paling ia kenang adalah ketika karyanya terpilih masuk ke koleksi Harsa, sebuah lini pakaian Dama Kara yang motifnya ia gambar sendiri.

"Kesan tentang Dama Kara sangat hebat. Suka juga berkarya di Dama Kara. Dan merasa luar biasa ketika karya terpilih jadi motif baju," kata Haryo.

Lain Haryo, lain pula Naftali. Karya-karyanya mencakup pola, simbol, tanaman, gunung, bangunan, hingga makanan, sebuah perbendaharaan visual yang luas dan kaya. Ia bahkan merambah dunia animasi stop-motion, menceritakan kisah-kisah lewat gambar yang bergerak. Kolaborasinya dengan Dama Kara menghasilkan koleksi Sekar Arunika, dan seperti Haryo, Naftali membuktikan bahwa bakat tidak mengenal batas medium maupun tempat.

Salah satu teknik yang digunakan dalam proses kreatif para teman istimewa adalah suminagashi, menggambar di atas permukaan air yang menghasilkan pola organik dan tidak bisa diulang persis sama dua kali. Seperti karya Haryo dan Naftali: unik, dan tidak tergantikan.

Siska Putri, salah satu pelanggan setia Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Siska Putri, salah satu pelanggan setia Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Siska Putri adalah salah satu pelanggan yang menjadi bukti bahwa strategi Dama Kara bekerja ampuh. Wanita asal Bandung yang pernah merantau ke Jakarta ini datang ke Dama Kara karena sudah jatuh hati dengan produknya.

"Modelnya unik, bahannya enak, harganya terjangkau untuk model yang tidak pasaran. Saya suka Dama Kara karena masih ada ciri khas Indonesianya, tapi tidak kuno," ucap Siska.

Bagi Siska, Dama Kara adalah soal kualitas dan identitas; dan itulah tepatnya yang Dini inginkan, ketika pembeli memilih karena suka, bukan karena merasa harus.

“Sebagai orang yang suka produk lokal, saya juga berharap semakin banyak yang seperti Dama Kara. Daripada beli jauh-jauh, sebenarnya produk lokal itu sudah bagus-bagus, menurut saya. Terutama produk lokal Bandung, saat merantau ke Jakarta pun saya tetap mencarinya balik lagi ke Bandung," lanjut Siska.

Ketika Brand Kian Tumbuh, Jangan Lupa Misi Sosial

Haryo Dwiputro Hanung Risadhana (kaos kuning), salah satu Teman Istimewa di Dama Kara Foundation, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Haryo Dwiputro Hanung Risadhana (kaos kuning), salah satu Teman Istimewa di Dama Kara Foundation, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Pada 2024, Dini memutuskan melangkah lebih jauh tentang misi sosial Dama Kara. Bergantung pada yayasan-yayasan mitra saja dirasa belum cukup untuk menjamin keberlanjutan misi yang ia emban. Ia ingin kurikulum yang ia rancang sendiri, ruang yang benar-benar milik para teman istimewa, dan sebuah lembaga yang tidak ikut goyah ketika bisnis berfluktuasi. Maka Dama Kara Foundation resmi berdiri.

"Dama Kara dari awal fokusnya adalah memberikan ruang berkarya untuk teman istimewa, baik autisme, ADHD, dan lain sebagainya. Pada awalnya kita memang kolaborasi dengan yayasan yang sudah ada. Seiring bertambahnya waktu kita tambah dua kolaborator, sampai akhirnya di tahun 2024 kita mendirikan Dama Kara Foundation. Di Foundation kita membuat kurikulum untuk teman istimewa supaya mereka bisa berkarya dan mengenali kelebihan yang mereka miliki, sehingga kemudian mereka bisa mandiri berkarya," jelas Dini.

Saat ini ada 18 teman istimewa yang aktif di Foundation, dengan tiga yayasan yang masih terlibat sebagai mitra pendampingan. Kelas menggambar berpusat di store Gandapura. Dan seluruh operasional Foundation didanai dari bisnis Dama Kara sendiri, tanpa suntikan dana eksternal. Artinya, setiap helai pakaian yang terjual ikut menghidupi ruang berkarya itu.

“Untuk menjadi teman istimewa kita biasanya open recruitment pendaftaran angkatan baru. Di situ mereka submit karya, berkas, dan nanti akan ada wawancara. Nanti juga ada semacam tes, untuk membuktikan bahwa itu karya mereka. Kalau dalam prosesnya lolos, dia akan menjadi siswa di angkatan Dama Kara Foundation. Nanti setelah trial satu bulan lolos, mereka akan jadi siswa reguler. Untuk Siswanya mereka dapat sarana untuk berkarya, seperti pendampingan one on one, dan ini didapatkan mereka secara free,” papar Dini.

Bagi Dama Kara, merekrut teman istimewa laiknya mencari talent, karena itulah mereka diseleksi sebagaimana pekerja pada umumnya. Dini ingin para teman istimewa suatu hari tidak bergantung pada Dama Kara dan mampu bekerja sama dengan banyak jenama.

"Harapannya teman istimewa ini bisa berkolaborasi dan berkarya bukan hanya dengan Dama Kara, tapi dengan jenama-jenama yang lain. Di awal tahun ini kita ada kolaborasi dengan Toko Kopi Djawa, Wallts_, dan lainnya, kita mengajak empat brand lokal Bandung untuk mengenalkan karya-karya teman istimewa, sehingga kita berkolaborasi untuk membuat karya yang lebih dikenal luas," ujar Dini.

Di industri kreatif yang hari ini penuh dengan klaim inklusivitas sebagai strategi pemasaran, pilihan Dama Kara untuk tidak berteriak soal misi sosialnya terasa paradoks sekaligus menyegarkan. Narasi tetap ada, tetapi disimpan di tempat yang tepat: di dalam kemasan, setelah keputusan membeli sudah bulat.

"Menurut saya, keduanya adalah satu kesatuan. Produk yang bagus tanpa narasi yang kuat, ujung-ujungnya hanya akan perang harga. Tetapi kalau narasinya bagus sementara produknya tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan mempertanyakan keseriusan brand itu," pungkas Dini.

Kualitas dulu, narasi kemudian. Prinsip itu bukan slogan, melainkan cara Dama Kara memberikan penghormatan kepada konsumen yang berhak memilih karena suka; dan kepada para teman istimewa yang karyanya layak dihargai bukan karena siapa mereka, tapi karena apa yang mereka hasilkan.

Sekiranya prinsip tersebutlah yang membuat Dama Kara terklasifikasikan sebagai UMKM Kelas 4, karena secara manajemen bisnis mereka telah siap menyeruak ke ranah global. Tak heran jika Dama Kara pun jadi satu-satunya yang berada di golongan teratas dalam keanggotaannya di Rumah BUMN Bandung Bank BRI. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)