AYOBANDUNG.ID – Di salah satu ruang toko Dama Kara, Jalan Gandapura, Kota Bandung, Haryo duduk berdampingan dengan seorang pembimbing. Di antara mereka, sebuah tablet menyala, menampilkan pola gambar yang ditunjukkan sang pembimbing pelan-pelan. Haryo memperhatikan sebentar, lalu tangannya mulai bergerak di atas layar tabletnya sendiri, membentuk garis demi garis menjadi sesuatu. Saya yang memandang dari pintu kaca tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia gambar, namun Haryo tampak tidak terburu-buru. Dia fokus menghubungkan pola-pola pada gawai.
Hari-hari seperti ini adalah jantung dari Dama Kara Foundation, sebuah lembaga yang berdiri pada 2024 sebagai perpanjangan dari misi brand batik lokal asal Bandung itu. Di sana, 18 teman istimewa seperti Haryo Dwiputro Hanung Risadhana berkarya setiap harinya, mengikuti kurikulum yang dirancang khusus untuk membantu mereka mengenali dan mengembangkan potensi diri. Sebagian dari karya mereka tidak hanya terpajang di dinding, tetapi juga menjelma menjadi motif pada pakaian yang dijual ke seluruh Indonesia, bahkan ke luar negeri.
Bagaimanapun ada satu prinsip yang Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara, pegang teguh sejak hari pertama: kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusul kemudian.
"Kami tidak ingin orang membeli Dama Kara karena rasa iba," ucap Dini membuka obrolannya dengan ayobandung.id siang itu, (23/6/2026).
Nama "Dama Kara" berarti “mendukung kebajikan dan kebermanfaatan”. Kebajikan yang dimaksud Dini bukan berbentuk donasi atau kampanye sosial musiman. Ia berbentuk kolaborasi yang setara.
Sejak awal, Dama Kara bermitra dengan Our Dreams Indonesia dan Art Therapy Center Widyatama, dua organisasi di Bandung yang bekerja bersama anak-anak disabilitas. Di sana digelar kelas menggambar, dan hasil karya para peserta diangkat menjadi motif produk Dama Kara. Para teman istimewa yang karyanya masuk ke produk mendapatkan royalti, selama produk tersebut masih beredar di pasaran.
Meski begitu, ada satu ihwal yang sengaja tidak dilakukan Dini, dia tidak menaruh narasi ini di bagian awal. Kisah kolaborasi dengan teman istimewa tidak mendahului tampilan produk, tidak ditempel besar-besar di etalase. Konteks itu justru diselipkan, seperti kejutan, dalam sebuah kartu kecil di dalam kemasan produk yang baru bisa terbaca setelah pembeli akan pulang.
"Kita tidak terlalu mengkomunikasikan bahwa Dama Kara mendukung kelas menggambar teman istimewa, karena kita memang ingin orang beli Dama Kara itu bukan karena kasihan, tapi karena mereka suka dengan produknya. Kita menyelipkan informasi itu di dalam card. Jadi kalau konsumen beli, di dalamnya ada kartu yang menceritakan tentang Dama Kara, dari situ akhirnya konsumen tahu bahwa produknya ada nilai tambah," jelas wanita kelahiran 1990 itu.
Pendekatan ini bukan hanya strategi pemasaran. Bagi satu-satunya UMKM Kelas 4 di Kota Bandung ini (anggota Rumah BUMN Bandung naungan Bank BRI), cara tersebut adalah bentuk penghormatan bahwa karya para teman istimewa harus bisa berdiri atas kualitasnya, bukan atas rasa iba.
"Misalnya, kita baru saja rilis produk Sekar Arunika, produk batik yang kainnya katun tapi tidak mudah lecek, supaya orang yang bekerja pakai baju batik tetap nyaman dan tampilannya tetap oke. Yang kita pertahankan adalah model bajunya, warnanya, dan yang relevan dengan kenyamanan konsumen. Bahwa kemudian koleksi ini berkolaborasi dengan (Muhammad) Naftali, teman istimewa yang menggambar motifnya, itu adalah nilai plus yang diketahui konsumen setelah mereka membeli produknya," tutur Dini.
Haryo adalah wajah nyata dari prinsip itu. Perjalanan seninya dimulai dari gambar-gambar bertema Disney, lalu berkembang ke motif binatang dan tumbuhan yang semakin variatif. Ia menguasai berbagai media, dari pensil dan cat air di atas kertas hingga ilustrasi digital menggunakan tablet dan komputer. Ia pernah menempuh pendidikan seni di Art Therapy Center Widyatama antara 2020 dan 2023, dan kini menjadi salah satu seniman visual aktif di Dama Kara Foundation.
Momen yang paling ia kenang adalah ketika karyanya terpilih masuk ke koleksi Harsa, sebuah lini pakaian Dama Kara yang motifnya ia gambar sendiri.
"Kesan tentang Dama Kara sangat hebat. Suka juga berkarya di Dama Kara. Dan merasa luar biasa ketika karya terpilih jadi motif baju," kata Haryo.
Lain Haryo, lain pula Naftali. Karya-karyanya mencakup pola, simbol, tanaman, gunung, bangunan, hingga makanan, sebuah perbendaharaan visual yang luas dan kaya. Ia bahkan merambah dunia animasi stop-motion, menceritakan kisah-kisah lewat gambar yang bergerak. Kolaborasinya dengan Dama Kara menghasilkan koleksi Sekar Arunika, dan seperti Haryo, Naftali membuktikan bahwa bakat tidak mengenal batas medium maupun tempat.
Salah satu teknik yang digunakan dalam proses kreatif para teman istimewa adalah suminagashi, menggambar di atas permukaan air yang menghasilkan pola organik dan tidak bisa diulang persis sama dua kali. Seperti karya Haryo dan Naftali: unik, dan tidak tergantikan.

Siska Putri adalah salah satu pelanggan yang menjadi bukti bahwa strategi Dama Kara bekerja ampuh. Wanita asal Bandung yang pernah merantau ke Jakarta ini datang ke Dama Kara karena sudah jatuh hati dengan produknya.
"Modelnya unik, bahannya enak, harganya terjangkau untuk model yang tidak pasaran. Saya suka Dama Kara karena masih ada ciri khas Indonesianya, tapi tidak kuno," ucap Siska.
Bagi Siska, Dama Kara adalah soal kualitas dan identitas; dan itulah tepatnya yang Dini inginkan, ketika pembeli memilih karena suka, bukan karena merasa harus.
“Sebagai orang yang suka produk lokal, saya juga berharap semakin banyak yang seperti Dama Kara. Daripada beli jauh-jauh, sebenarnya produk lokal itu sudah bagus-bagus, menurut saya. Terutama produk lokal Bandung, saat merantau ke Jakarta pun saya tetap mencarinya balik lagi ke Bandung," lanjut Siska.
Ketika Brand Kian Tumbuh, Jangan Lupa Misi Sosial

Pada 2024, Dini memutuskan melangkah lebih jauh tentang misi sosial Dama Kara. Bergantung pada yayasan-yayasan mitra saja dirasa belum cukup untuk menjamin keberlanjutan misi yang ia emban. Ia ingin kurikulum yang ia rancang sendiri, ruang yang benar-benar milik para teman istimewa, dan sebuah lembaga yang tidak ikut goyah ketika bisnis berfluktuasi. Maka Dama Kara Foundation resmi berdiri.
"Dama Kara dari awal fokusnya adalah memberikan ruang berkarya untuk teman istimewa, baik autisme, ADHD, dan lain sebagainya. Pada awalnya kita memang kolaborasi dengan yayasan yang sudah ada. Seiring bertambahnya waktu kita tambah dua kolaborator, sampai akhirnya di tahun 2024 kita mendirikan Dama Kara Foundation. Di Foundation kita membuat kurikulum untuk teman istimewa supaya mereka bisa berkarya dan mengenali kelebihan yang mereka miliki, sehingga kemudian mereka bisa mandiri berkarya," jelas Dini.
Saat ini ada 18 teman istimewa yang aktif di Foundation, dengan tiga yayasan yang masih terlibat sebagai mitra pendampingan. Kelas menggambar berpusat di store Gandapura. Dan seluruh operasional Foundation didanai dari bisnis Dama Kara sendiri, tanpa suntikan dana eksternal. Artinya, setiap helai pakaian yang terjual ikut menghidupi ruang berkarya itu.
“Untuk menjadi teman istimewa kita biasanya open recruitment pendaftaran angkatan baru. Di situ mereka submit karya, berkas, dan nanti akan ada wawancara. Nanti juga ada semacam tes, untuk membuktikan bahwa itu karya mereka. Kalau dalam prosesnya lolos, dia akan menjadi siswa di angkatan Dama Kara Foundation. Nanti setelah trial satu bulan lolos, mereka akan jadi siswa reguler. Untuk Siswanya mereka dapat sarana untuk berkarya, seperti pendampingan one on one, dan ini didapatkan mereka secara free,” papar Dini.
Bagi Dama Kara, merekrut teman istimewa laiknya mencari talent, karena itulah mereka diseleksi sebagaimana pekerja pada umumnya. Dini ingin para teman istimewa suatu hari tidak bergantung pada Dama Kara dan mampu bekerja sama dengan banyak jenama.
"Harapannya teman istimewa ini bisa berkolaborasi dan berkarya bukan hanya dengan Dama Kara, tapi dengan jenama-jenama yang lain. Di awal tahun ini kita ada kolaborasi dengan Toko Kopi Djawa, Wallts_, dan lainnya, kita mengajak empat brand lokal Bandung untuk mengenalkan karya-karya teman istimewa, sehingga kita berkolaborasi untuk membuat karya yang lebih dikenal luas," ujar Dini.
Di industri kreatif yang hari ini penuh dengan klaim inklusivitas sebagai strategi pemasaran, pilihan Dama Kara untuk tidak berteriak soal misi sosialnya terasa paradoks sekaligus menyegarkan. Narasi tetap ada, tetapi disimpan di tempat yang tepat: di dalam kemasan, setelah keputusan membeli sudah bulat.
"Menurut saya, keduanya adalah satu kesatuan. Produk yang bagus tanpa narasi yang kuat, ujung-ujungnya hanya akan perang harga. Tetapi kalau narasinya bagus sementara produknya tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan mempertanyakan keseriusan brand itu," pungkas Dini.

Kualitas dulu, narasi kemudian. Prinsip itu bukan slogan, melainkan cara Dama Kara memberikan penghormatan kepada konsumen yang berhak memilih karena suka; dan kepada para teman istimewa yang karyanya layak dihargai bukan karena siapa mereka, tapi karena apa yang mereka hasilkan.
Sekiranya prinsip tersebutlah yang membuat Dama Kara terklasifikasikan sebagai UMKM Kelas 4, karena secara manajemen bisnis mereka telah siap menyeruak ke ranah global. Tak heran jika Dama Kara pun jadi satu-satunya yang berada di golongan teratas dalam keanggotaannya di Rumah BUMN Bandung Bank BRI. (*)