Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

6 menit baca
Talitha Hilmi Athaillah Agustin
Ditulis oleh Talitha Hilmi Athaillah Agustin diterbitkan
Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)

Akhir-akhir ini, lamaran menjadi warga negara Indonesia sangat dipadati oleh warga negara asing. Banyak warga negara asing yang berbondong-bondong ingin naturalisasi menjadi warga negara Indonesia terutama para atlet berprestasi, yang dicap sebagai “penyelamat negara”. Kemenpora pun mendukung naturalisasi atlet secara besar-besaran.

Namun ironisnya, kita hampir lupa bahwasanya banyak diaspora Indonesia berprestasi yang justru kehilangan kewarganegaraanya akibat peristiwa G30S. Sebut saja mereka eksil, orang-orang yang kehilangan kewarganegaraannya di tanah milik orang lain. Dilansir dari Tirto.ID, sudah ada lebih dari 22 pemain diaspora yang resmi menjadi WNI antara 2022-2025. Sedangkan dilansir dari BBC news, Tim Penyelesaian Non Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat (PPHAM) menyatakan bahwa ada 134 orang eksil korban peristiwa G30S. Dalam kurun waktu 3 tahun saja, Indonesia sudah menambahkan 22 warga negara melalui naturalisasi. Sedangkan selama lebih dari 60 tahun, 134 orang masih belum kembali menjadi warga negara Indonesia dan justru mereka masih disebut sebagai pengkhianat negara.

Berdasarkan wawancara oleh Arzia Tivany Wargadiredja yang dilansir dari VICE kepada salah satu eksil di Swedia, Iskandar (nama samaran), mengatakan bahwa kalimat yang mengutuk pemerintahan Soekarno dihapuskan saja pada surat yang mereka terima. Dirinya menolak pemerintahan Soeharto karena dirasa memiliki hutang budi kepada pemerintahan Soekarno. Hal ini membuat Iskandar menerima surat bahwa paspor dan kewarganegaraannya berubah menjadi ‘stateless’. Orang-orang, seperti Iskandar, yang menolak mengutuk pemerintahan Soekarno kemudian dianggap sebagai bagian dari komunis dan dituduh menjadi ‘pengkhianat negara’.

Hingga 2023, pelepasan tuduhan pengkhianat negara hanya berlaku pada 39 orang berdasarkan pada pernyataan Mahfud MD selaku Menko Polhukam saat itu, yang dilansir dari BBC News. Pernyataan ini menimbulkan kemarahan dan kecaman dari eksil yang mempertanyakan pembagian antara ‘pengkhianat negara’ dan ‘bukan pengkhianat negara’.

Padahal di antara banyaknya eksil yang tersebar, mereka harus tertatih untuk melanjutkan hidup di negeri yang asing bagi mereka, melupakan rasa cinta pada tanah airnya, bahkan masih dituduh sebagai pengkhianat negara. Termasuk mereka, eksil yang berpindah ke paris, yang akhirnya membuka restoran untuk menopang hidup sekaligus harga diri Indonesia.

Mendatangi Perancis Hingga Melahirkan Ide

Para eksil yang berada di Perancis merupakan beberapa orang yang melanglang buana mencari tempat karena keadaan mereka yang sudah tidak memiliki identitas kewarganegaraan. Mereka memilih Perancis sebagai tempat menetap karena Perancis merupakan suaka politik bagi orang-orang yang mencari ‘rumah’ akibat sikap anti Orde Baru.

J.J Kusni menulis dalam buku berjudul Membela Martabat Diri Dan Indonesia bahwa sekitar 40 orang yang datang ke Perancis untuk mendapatkan status suaka, nyatanya, tetap sulit mendapatkan penamaan ini karena dalam pemberian penamaan pun tetap terlihat corak dan sikap politik yang berlaku di Perancis. Pun setelah status diterima, mereka akan memperoleh masalah berikutnya. “Bagaimana melanjutkan hidup?”, menjadi persoalan yang tidak akan pernah selesai. J.J Kusni berkata dalam bukunya bahwa sulit untuk mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidup di Perancis. Mulai dari persaingan dengan warga lokal, tidak memiliki tempat tinggal, hingga keterbatasan komunikasi menjadi masalah.

Hingga akhirnya, ke 40-an orang penerima suaka politik berkumpul di sebuah apartemen di Enghien, Montmorency, pinggiran Kota Paris untuk berdiskusi mencari jalan keluar agar tidak bergantung kepada Pemerintah Paris. Keputusan yang didapat dari diskusi itu adalah untuk menciptakan pekerjaan sendiri berupa pendirian restoran.

Tetapi apa alasan untuk membuka restoran? A. Umar Said berkata dalam film dokumenter bahwa banyak imigran dari Cina, Rusia, dan berbagai tempat pergi ke Perancis. Beberapa menetap di tempat tinggalnya tidak memiliki pekerjaan dan tidak bisa berbahasa Perancis. Hal ini pun divalidasi oleh Sobran Aidit pada bukunya berjudul Cerita Sekitar Resto bahwa “.. untuk mengurangi kesulitan berbahasa. Sedangkan kalau di resto sendiri, persoalan bahasa dapat diatasi”. Sedangkan dalam bukunya, J.J Kusni berkata bahwa ada beberapa alasan, (1) Cash flow cepat; (2) Bisa memberi lapangan kerja; (3) Tidak begitu menuntut keterampilan teknis yang tinggi; (4) Bisa menjadi tempat bertemu para sahabat dari segala penjuru; (5) Mempropagandakan masalah budaya Indonesia secara efektif, termasuk masakan Indonesia; (6) Fungsi sosialnya nyata.

Pendirian Restoran Indonesia di Paris

Restaurant Indonesia di Paris (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia)
Restaurant Indonesia di Paris (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia)

Hal unik di sini adalah dalam pendirian Restoran Indonesia, bentuk badan usaha yang dipilih ialah koperasi. Alasannya karena ini mampu menciptakan solidaritas kemanusiaan dan keadilan bagi para sahabat di berbagai negeri. Di dalam film pun disebutkan oleh A. Umar Said bahwa “Restoran Indonesia dibentuk dengan konsep koperasi karena Bung Karno merupakan penganjur masa gotong royong. Untuk memanifestasikan sikap kita ke tanah air Indonesia yang merefleksikan apa yang dicita-citakan Bung Karno”.

Restoran Indonesia pun didirikan pada 14 Desember 1982 yang berlokasi di 12 Rue Vaugirard, 75006 Paris. Pendirinya adalah A. Umar Said, Budiman Sudharsono, Sobron Aidit, dan Kusni Sulang atau Emil atau J.J Kusni, yang secara bergiliran bergantian menjadi tim pengelola, bersama teman-teman dari Perancis yang rela untuk tidak dibayar. Hal ini menjadi keanehan karena dalam bisnis dan menjadi pekerja terbiasa untuk mencari untung dan bayaran.

Alasannya, dalam film dokumenter Soejoso berkata bahwa ”Memang sedari awal Restoran Indonesia itu capital nol alias tidak ada keuntungan, karena mencari modal pun mereka berhutang, dan keterampilan serta pengorganisasian perusahaan yang nol karena mereka adalah political refugees yang latar belakangnya adalah seorang jurnalis, dokter, seniman, dan insinyur”.

Dari mulai dibangun sudah mengalami kesulitan, pun hingga pada masa-masa awal berdiri Restoran Indonesia sering mengalami intimidasi. Disampaikan oleh Soejoso bahwa “Restoran Indonesia mendapat sambutan besar di luar negeri termasuk teman-teman Indonesia yang di luar negeri. Tetapi oleh Soeharto malah ingin dibikin mati karena diboikot melalui kedutaan Paris dalam berbagai bentuk. Termasuk boikot yang melarang warga Indonesia untuk makan di restoran ini karena dikatakan bahwa itu adalah restorannya orang Orde Lama, orang komunis, dan anti pemerintah”.

Rekan Soejoso, Soeranto Pronowardojo pun menambahkan, “Padahal mereka hanya melakukannya untuk menopang hidup, sama sekali tidak ada kegiatan seperti itu. Mereka dibunuh dalam bidang kehidupannya oleh Orde Baru. Tidak berhubungan, tidak boleh berkontak, termasuk pada karier yang dicapai untuk pembangunan juga dibasmi oleh Orde Baru”.

Sabron Aidit pun pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan, yaitu dalam bukunya dipaparkan bahwa sempat ada pelanggan yang memprovokasi mereka untuk pulang ke tanah air dan menyuruh untuk melihat keadaan negara yang jauh lebih baik daripada saat masa Soekarno.

Intimidasi tersebut mulai berkurang setelah jatuhnya Orde Baru. Pemerintahan kini memiliki pemimpin baru, yaitu Gus Dur yang berusaha meluruskan kontradiksi dan intimidasi itu. "Karena Gus Dur sudah beberapa kali mengunjungi Restoran Indonesia baik sebelum menjadi presiden maupun sesudah menjadi presiden", kata Soejoso. Bahkan rencana pembredelan status ‘pengkhianat negara’ sempat Gus Dur gaungkan, namun ditolak oleh banyak pihak karena komunis masih terbilang ‘haram’.

Hingga saat ini, Restoran Indonesia masih eksis dan ramai dikunjungi. Pengunjungnya pun beragam, ada yang berlatar belakang orang Indonesia sampai orang Perancis itu sendiri. Restoran Indonesia pun menjadi pangkalan untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia luar.

Walaupun Restoran Indonesia sudah tidak memiliki aroma perlawanan zaman Orde Baru, namun aroma perjuangan akan terus menempel. A. Umar Said juga mengatakan bahwa alasan dari nama Restoran Indonesia adalah semangat pengabdian kepada tanah air Indonesia. Hal ini akan terus berjalan beriringan dan menjadi identitas Restoran Indonesia yang diimpikan para pelopornya, walaupun mereka tidak memiliki kesempatan layaknya para atlet diaspora naturalisasi untuk mencintai tanah airnya di tanah asalnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Talitha Hilmi Athaillah Agustin
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)