Penyalin cahaya ramai dibicarakan ketika film garapan sutradara Wregas Bhanuteja tersebut masuk ke Busan International Film Festival. Dilansir dari pikiranrakyat.com keterlibatan penyalin cahaya dalam festival tersebut berfungsi sebagai wadah untuk memperbesar gaung film dalam media berkomunikasi.
Film tersebut menceritakan seorang Perempuan bernama Sur yang menghadari sebuah pesta kemenangan komunitas teater di kampusnya. Paginya ia terbangun dan mendapati dirinya sedang berada di atas kasur dan mendadak dimarahi oleh bapaknya. Di tengah usahanya menyadarkan diri—ia mempercepat langkahny untuk pergi karena hari tersebut Sur harus menghadiri wawancara perpanjangan beasiswa.
Ditengah segudang pertanyaan dalam dirinya yang tak masuk akal karena masih menggunakan kebaya saat pesta semalam. Ia berlarian mengejar angkot karena ibunya mendadak terdiam dan tidak mau mengantarkannya.
Kejadian pesta semalam ternyata tak hanya merenggut beasiswanya tapi juga harga diri Sur di media sosial. Sebuah postingan selfie yang terunggah dalam ponselnya memperlihatkan kondisinya yang sedang mabuk-mabukan. Meski mabuk Sur tidak yakin kalau dirinya akan memposting hal gila itu, terlebih dia menemukan hal janggal ketika manset yang ia kenakan berada dalam posisi terbalik. Sur yakin sebelum datang ke pesta tersebut ia menggunakan semua baju dengan posisi serapih mungkin.
Film ini menyoroti isu kekerasan seksual dari sudut pandang korban. Seperti yang sering terjadi di dunia nyata bahwa banyak dari penyitas yang tidak mendapat keadilan. Bahkan ketika mereka berani menyuarakan—mereka justru dibungkam.
Dilansir dari Kompas.com bahwa kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia pada tahun 2026 terdapat 57 kasus kekerasan seksual khususnya terhadap anak kecil dari rentang Januari -April. Sementara dilansir dari bandungbergerak.id bahwa Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan seksual di ranah publik secara nasional meningkat dari 2904 menjadi 4182 pada tahun 2023.
Data tersebut bisa menjadi dasar bahwa kekerasan seksual masih banyak terjadi di lingkungan masyarakat. Sehingga kejadian tersebut bisa menjadi salah satu parameter bahwa masyarakat atau penyitas hidup dengan ketidaknyamanan. Sebagaimana dalam film Penyalin Cahaya bahwa tokoh utama dalam kekerasan seksual itu banyak terjadi kepada Perempuan. Namun menariknya dalam film ini juga dibahas bahwa ada gender lain yang sering terlupakan pemberitaanya ketika menjadi korban pelecehan seksual yaitu kaum laki-laki.
Dalam banyak pemahaman masyarakat laki-laki memang kerap berperan sebagai pelaku dalam pelecehan seksual. Laki-laki sering dianggap superior sehingga masyarakat memandang bahwa gender tersebut tidak mungkin menjadi korban. Namun menariknya film ini menyajikan data yang berimbang bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban. Itu mengapa kutipan “Laki-laki tidak bercerita” mungkin bisa relate ketika suara laki-laki tidak didengar dan tidak dipercaya.
Beberapa bulan ke belakang saya pernah menemukan sebuah video di tiktok tentang anak remaja yang mendapat pelecehan seksual di Braga Kota Bandung. Menurut kronologi yang disampaikannya setelah melakukan kegiatan joging ia menepi sejenak ke sebuah minimarket yang cukup pionir di Braga untuk beristirahat. Siapa sangka niat rehat tersebut menjadi mimpi buruk yang entah sampai kapan akan membekas pada dirinya.
Dalam video tersebut terdapat seorang bapak yang sangat terang-terangan melakukan pelecehan. Tangannya meraba bagian paha sambil sesekali memijat. Saya yakin jauh sebelum bapak tersebut meraba bagian tubuh yang privasi, anak tersebut sudah punya feeling bahwa mungkin kejadian buruk akan menimpa dirinya.
Berdasarkan analisis saya anak itu rela mengorbankan dirinya hanya untuk mencari bukti lewat video bahwa pengalaman buruk yang dirasakannya itu nyata. Saya pikir hal tersebut dilakukan karena kasus kekerasan seksual memang kerap kali dianggap sepele. Terlebih kasus tersebut terjadi pada laki-laki.

Melalui film Penyalin Cahaya juga kejadian di dunia nyata kita bisa tahu bahwa dunia ini tak sepenuhnya aman bagi kaum Perempuan juga laki-laki. Maka dari itu suara sekecil apapun yang keluar dari mulut korban adalah sebuah keberanian yang patut kita dengarkan. Karena saya yakin proses untuk bersuara itu menjadi sebuah kumpulan mental yang tidak bisa sembuh hanya dalam sekejap mata.
Saya yakin banyak laki-laki lain seperti Thariq dalam film Penyalin Cahaya, anak laki-laki di Braga yang ada di dunia nyata yang masih belum mendapatkan keadilan dari pengalaman buruk yang menimpanya. Saya rasa lewat kasus-kasus tersebut sudah sepatutnya kita tidak abai lagi kepada mereka yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual.
Maka jangan pernah berhenti bersuara meski kadang dunia tak mendengar dan kadang abai.
