World Cup TVRI

3 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan
Bola Piala Dunia 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: UKinUSA)
Bola Piala Dunia 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: UKinUSA)

Ada sesuatu yang tidak biasa dari perhelatan piala dunia kali ini. Piala Dunia yang digelar di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, disiarkan TVRI untuk menghibur masyarakat Indonesia. TVRI yang diprediksi akan tenggelam dalam industri media arus utama, malah tampil sebagai penyelenggara siaran sepak bola dalam kompetensi empat tahunan yang paling dinanti pecinta bola.

Melihat perjalanan TVRI dalam menyiarkan informasi tentang Piala Dunia, TVRI pernah melakukannya pada tahun 1970, meskipun waktu itu siarannya masih hitam-putih, dan hanya bisa dinikmati pemirsa wilayah Jakarta, dan hanya rekaman pertandingan final. Dari tahun 70-an sampai tahun 2026 hak siar pertandingan Piala Dunia dikuasai oleh stasiun -stasiun swasta. 

Kurang lebih lima dekade berlalu, TVRI kini kembali menunjukkan kekuatannya menjadi pemilik hak siar penyiaran Piala Dunia, di tengah kondisi negara yang sedang berjuang dari mempertahankan rupiah, dan geopolitik yang begitu terasa dampaknya pada perekonomian. TVRI berhasil mengalahkan stasiun swasta yang berlangganan menjadi penyiar pertandingan olah raga yang banyak pecintanya di penjuru dunia. 

Di luar dugaan, TVRI melakukan terobosan dan model bisnis yang berani, karena harus merogoh kocek besar. TVRI harus membayar sekitar Rp 1,3 triliun agar bisa mendapatkan hak siar eksklusif untuk 104 pertandingan Piala Dunia 2026, dan biaya sebesar itu didukung pemerintah Indonesia. 

Rupanya pemerintah menyadari bisnis media saat ini sedang sulit, sehingga berat untuk mengeluarkan dana besar agar bisa menayangkan piala dunia. Berkat dukungan pemerintah inilah, TVRI bisa menayangkan seluruh laga secara gratis, tanpa harus membebani penonton dengan skema berbayar. Masyarakat kota dan desa pun bisa mendapatkan tontonan gratis berbagai momentum yang terkait dengan penyelenggaraan sepakbola, dengan beragam peristiwa lainnya yang terjadi seputar penyelenggaraan piala dunia. 

Berbeda dengan stasiun swasta yang sumber pendapatnya banyak mengandalkan dari iklan dan rating. Sementara itu sumber iklan untuk televisi swasta masih belum bisa meningkatkan biaya operasional yang relatif sangat besar, sehingga stasiun swasta di tambah lagi pertimbangan penonton yang bermigrasi ke platform digital.

Upaya pemerintah yang membantu TVRI sebagai pemegang hak siar, yang bisa dinikmati semua masyarakat Indonesia di berbagai daerah, karena posisi TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP), yang secara hukum dituntut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Berbeda dengan televisi swasta selain aksesnya sulit, seperti di daerah daerah terpencil harus menggunakan parabola, dan beberapa harus berbayar. 

Upaya TVRI menyiarkan World Cup ini bisa dikatakan sebagai strategi dalam rangka meningkatkan reputasi dan brand sebagai salah satu televisi milik pemerintah yang diminati. TVRI sudah lama ditinggalkan penontonnya. Jauh sebelum televisi-televisi swasta lainnya yang para penontonnya beralih ke media sosial, TVRI sudah kehilangan pamornya. 

Nanum sayangnya, ketika TVRI berikhtiar mengembalikan kejayaannya, masyarakat sudah mendapatkan berbagai pilihan tontonan seputar piala dunia yang lebih praktis, singkat, dan bisa diakses kapan pun dan di mana pun. Ini tantangan yang harus dihadapi TVRI, dan segera dicari solusinya. 

Modal yang sudah digelontorkan besar ini, nyatanya belum benar-benar bisa meningkatkan reputasi TVRI yang kembali ditunggu setiap tayangannya. Saat ini pun hajat sepakbola sejagat ini tidak begitu menggema, dan ada penurunan dibandingkan dengan kemeriahan piala dunia tahun-tahun sebelumnya. 

Untuk menonton pertandingan sepak bola World Cup secara live, TVRI sudah menjadi pilihan, pertanyaannya apakah banyak orang yang menonton live? Dan bagaimana kalau perhelatan piala dunia selesai, apakah TVRI masih menjadi tontonan yang menarik? 

TVRI sudah melakukan ikhtiar dengan membuat berbagai program, salah satunya TVRI Sport, ke depan TVRI tinggal kerja keras mengemas pesan-pesan di luar pertandingan live sepakbola, sebagai bentuk trivia dan hiburan suplemen dari tayangan utama. Selain itu, harus bisa mengemas dalam pesan-pesan yang bisa disebarkan di media sosial yang tidak kalah menarik dengan para konten kreator, atau media lain yang juga memaksimalkan media sosial. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Tentang Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)