Pada awal bulan April ini, beberapa wilayah di Bandung mengalami masa peralihan sehingga masih berpotensi terjadinya hujan lebat walaupun telah memasuki musim kemarau. Salah satunya adalah di wilayah Majalaya.
Belakangan ini, beberapa wilayah Majalaya dan sekitarnya mengalami bencana hidrometeorologi seperti banjir. Dikutip dari Kompas.com, pada 8 April 2026, terhitung ada 4 Kecamatan di Kabupaten Bandung yang dilanda banjir dengan salah satunya Kecamatan Majalaya.
Dikutip dari artikel yang terdapat di Delpher, sejak zaman Hindia-Belanda Kecamatan Majalaya merupakan kecamatan yang memiliki risiko terhadap bencana banjir karena memiliki kondisi topografis yang relatif datar dan kondisi hidrologis yang dilalui oleh aliran Sungai Citarum beserta cabang Sungai Citarum. Tetapi, mengapa banjir yang terjadi pada zaman Hindia-Belanda dan saat ini memiliki kondisi yang berbeda?

Menilik kembali kondisi topografi yang pasti berbeda antara masa Hindia-Belanda yang masih cukup asri dengan kondisi saat ini yang sudah banyak tercemar oleh bangunan industri dan gaya hidup yang tidak sehat. Seperti yang disebutkan diatas dan pada artikel Hindia-Belanda, kawasan Majalaya dan sekitarnya memang sejak dahulu selalu banjir.
Penanganan banjir pada masa Hindia-Belanda adalah dari pengelolaan airnya, untuk menangani banjir mereka membuat irigasi, DAM atapun gorong-gorong. Berbeda dengan kondisi saat ini, walaupun kita menerapkan apa yang dilakukan Belanda pada masa itu, kondisi lingkungan tetap berbeda. Hal ini diakibatkan munculnya masalah limbah industri dan sedimentasi yang tidak ada di masa Hindia-Belanda.
Meski banjir sudah menjadi "tamu rutin" bagi warga Majalaya, ironisnya solusi yang hadir seringkali hanya bersifat sementara atau sekadar "tambal sulam". Salah satu contoh yang paling sering kita lihat adalah perbaikan tanggul jebol yang hanya mengandalkan tumpukan karung pasir. Secara logis, metode ini jelas tidak akan bertahan lama. Di daerah dengan kerawanan tinggi seperti Majalaya, tumpukan karung tersebut akan dengan mudah tersapu kembali saat intensitas hujan meningkat dan debit air meluap.

Jika kita menengok ke belakang, sistem penanganan banjir yang dirancang sejak era kolonial Belanda di wilayah Priangan, termasuk Majalaya, sebenarnya sudah cukup mumpuni. Namun, infrastruktur hebat sekalipun tidak akan ada gunanya jika faktor manusia tidak berubah. Selama limbah industri masih dibuang sembarangan ke sungai, alih fungsi lahan hijau terus terjadi tanpa kendali, dan kesadaran menjaga lingkungan tetap nihil, maka bencana ini akan terus berulang.
Di tengah ancaman perubahan iklim (climate change) yang semakin nyata, masyarakat Majalaya hanya memiliki dua pilihan, yakni mulai menganggap serius kondisi lingkungan dan pemerintah memperbaiki sistem saluran air secara permanen, atau kita hanya perlu duduk diam menunggu waktu hingga Majalaya benar-benar tenggelam oleh air banjir. (*)
