Mengapa Banjir di Majalaya Hari Ini Berbeda dengan Era Hindia-Belanda?

2 menit baca
Zahra Reysa Salsabila
Ditulis oleh Zahra Reysa Salsabila diterbitkan Kamis 11 Jun 2026, 08:20 WIB
Gambar banjir di Majalaya (Sumber: wa grup | Foto: Mufti Nurlita Sari)

Gambar banjir di Majalaya (Sumber: wa grup | Foto: Mufti Nurlita Sari)

Pada awal bulan April ini, beberapa wilayah di Bandung mengalami masa peralihan sehingga masih berpotensi terjadinya hujan lebat walaupun telah memasuki musim kemarau. Salah satunya adalah di wilayah Majalaya.

Belakangan ini, beberapa wilayah Majalaya dan sekitarnya mengalami bencana hidrometeorologi seperti banjir. Dikutip dari Kompas.com, pada 8 April 2026, terhitung ada 4 Kecamatan di Kabupaten Bandung yang dilanda banjir dengan salah satunya Kecamatan Majalaya.

Dikutip dari artikel yang terdapat di Delpher, sejak zaman Hindia-Belanda Kecamatan Majalaya merupakan kecamatan yang memiliki risiko terhadap bencana banjir karena memiliki kondisi topografis yang relatif datar dan kondisi hidrologis yang dilalui oleh aliran Sungai Citarum beserta cabang Sungai Citarum. Tetapi, mengapa banjir yang terjadi pada zaman Hindia-Belanda dan saat ini memiliki kondisi yang berbeda?

Banjir Majalaya 14 April 2026 (Sumber: Instagram rvldfh | Foto: Rivaldi Fahri)
Banjir Majalaya 14 April 2026 (Sumber: Instagram rvldfh | Foto: Rivaldi Fahri)

Menilik kembali kondisi topografi yang pasti berbeda antara masa Hindia-Belanda yang masih cukup asri dengan kondisi saat ini yang sudah banyak tercemar oleh bangunan industri dan gaya hidup yang tidak sehat. Seperti yang disebutkan diatas dan pada artikel Hindia-Belanda, kawasan Majalaya dan sekitarnya memang sejak dahulu selalu banjir.

Penanganan banjir pada masa Hindia-Belanda adalah dari pengelolaan airnya, untuk menangani banjir mereka membuat irigasi, DAM atapun gorong-gorong. Berbeda dengan kondisi saat ini, walaupun kita menerapkan apa yang dilakukan Belanda pada masa itu, kondisi lingkungan tetap berbeda. Hal ini diakibatkan munculnya masalah limbah industri dan sedimentasi yang tidak ada di masa Hindia-Belanda.

Meski banjir sudah menjadi "tamu rutin" bagi warga Majalaya, ironisnya solusi yang hadir seringkali hanya bersifat sementara atau sekadar "tambal sulam". Salah satu contoh yang paling sering kita lihat adalah perbaikan tanggul jebol yang hanya mengandalkan tumpukan karung pasir. Secara logis, metode ini jelas tidak akan bertahan lama. Di daerah dengan kerawanan tinggi seperti Majalaya, tumpukan karung tersebut akan dengan mudah tersapu kembali saat intensitas hujan meningkat dan debit air meluap.

Jika kita menengok ke belakang, sistem penanganan banjir yang dirancang sejak era kolonial Belanda di wilayah Priangan, termasuk Majalaya, sebenarnya sudah cukup mumpuni. Namun, infrastruktur hebat sekalipun tidak akan ada gunanya jika faktor manusia tidak berubah. Selama limbah industri masih dibuang sembarangan ke sungai, alih fungsi lahan hijau terus terjadi tanpa kendali, dan kesadaran menjaga lingkungan tetap nihil, maka bencana ini akan terus berulang.

Di tengah ancaman perubahan iklim (climate change) yang semakin nyata, masyarakat Majalaya hanya memiliki dua pilihan, yakni mulai menganggap serius kondisi lingkungan dan pemerintah memperbaiki sistem saluran air secara permanen, atau kita hanya perlu duduk diam menunggu waktu hingga Majalaya benar-benar tenggelam oleh air banjir. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Zahra Reysa Salsabila
earht sciences enthu

Berita Terkait

News Update

Linimasa 11 Jun 2026, 09:46

ITC Kebonkalapa, Pusat Perbelanjaan Kota Bandung yang Memudar

Dulu penuh pembeli, kini ITC Kebonkalapa menghadapi sepinya pengunjung dan banyak kios kosong.

Kondisi ITC Kebonkalapa yang dulu sempat jadi tempat nongkrong dan belanja andalan warga Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 09:08

Bagaimana Musik Membantu Anak Tunagrahita Berinteraksi dengan Orang Lain?

Anak tunagrahita menghadapi hambatan sosial akibat gangguan fungsi kognitif.

Ilustrasi. (Sumber: gemini.ai)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:20

Mengapa Banjir di Majalaya Hari Ini Berbeda dengan Era Hindia-Belanda?

Apakah banjir di Majalaya terjadi baru baru ini atau dimulai pada abad 20?

Gambar banjir di Majalaya (Sumber: wa grup | Foto: Mufti Nurlita Sari)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 08:03

Menyoal Eksklusivitas dalam Komunitas Baca Buku

Menurutku cukup pejabat yang terlihat hidup lebih eksklusif dibandingkan rakyatnya tapi jangan sampai ruang-ruang membaca, ruang-ruang diskusi juga ikut membentuk kesenjangan diantara anggotanya

Komunitas Baca Buku seharusnya menjadi ajang paling ramah bagi mereka yang ingin mencari ruang aman untuk berdiskusi dan berdialetika bukan justru terasing karena punya pilihan yang berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)