Kisah Ikan Pindang Beracun di Bandung Zaman Kolonial, Telan Korban dan Sempat Dilarang Pemerintah

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 30 Jan 2026, 18:26 WIB
Ilustrasi ikan pindnag.

Ilustrasi ikan pindnag.

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa ketika lemari es belum dikenal dan bau amis adalah bagian wajar dari pasar, ikan pindang menjadi penyelamat dapur orang Bandung. Murah, asin, tahan lama, dan mudah diolah. Ia bisa menemani nasi panas di pagi hari, atau disimpan untuk makan malam. Tapi di balik kepopulerannya, pindang juga menyimpan kisah gelap yang beberapa kali membuat Bandung geger pada awal abad ke-20.

Surat kabar kolonial menyebutnya dengan nada panik sekaligus heran. Orang-orang jatuh sakit, keluarga seisi rumah tumbang, bahkan ada yang meninggal dunia hanya karena makan ikan pindang. Dari Cibangkong hingga Lembang, dari pasar kota sampai desa-desa pinggiran, pindang berubah dari lauk rakyat menjadi tersangka utama.

Kisah ini bukan dongeng. Arsip media Hindia Belanda mencatatnya dengan cukup rinci, lengkap dengan nama desa, jumlah korban, dan kebingungan para pejabat kolonial yang harus menjelaskan bagaimana ikan asin bisa mematikan.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Perkara konsumsi pindang ini sebenarnya sudah jadi bahan gunjing administrasi kolonial sejak awal abad ke-20. Pada 11 Oktober 1901, Residen Bandung pernah mengeluarkan keputusan yang melarang penjualan cue atau ikan pindang karena dianggap membahayakan kesehatan. Namun, seperti banyak kebijakan kolonial lainnya, larangan itu tidak bertahan lama. Ia dicabut, pasar kembali ramai, dan orang-orang kembali makan pindang dengan lahap.

Sering masa berganti, larangan itu seperti menuntut balas.

Pada Juni 1908, surat kabar Het Nieuws van den Dag menurunkan laporan yang membuat alis pejabat kolonial terangkat. Di Cibangkong, satu keluarga yang terdiri dari sembilan orang jatuh sakit setelah memakan pindang. Di Kejaksaan Hilir, empat orang mengalami nasib serupa. Dan di Lembang, kabar paling buruk datang. Tidak kurang dari sepuluh orang pribumi dilaporkan meninggal dunia akibat keracunan ikan.

Pemerintah kolonial kelabakan. Dokter Jawa dikirim, dokter sipil disibukkan dari pagi sampai malam, dan kepala polisi ikut turun tangan.

Baca Juga: Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Yang menarik, sumber kecurigaan tidak hanya datang dari dokter atau pejabat. Penduduk pribumi pun punya penjelasan sendiri. Laporan koran itu mencatat pengakuan warga tentang praktik pembuatan pindang. “Biasanya pindang dibuat dari ikan yang tidak laku dijual, dan tanpa dibersihkan dengan baik,” tulis koran itu dalam terbitan edisi 13 Juni 1908.

Ikan tongkol, selar, dan kembung yang seharusnya sudah dibuang, justru direbus ulang dan diasinkan.

Di balik penjelasan itu, ada pula cerita yang lebih mistis sekaligus botanis. Warga menyebut bahwa ikan yang dimasak dengan kayu rengas bisa berubah menjadi racun. Rengas memang terkenal dalam cerita rakyat sebagai pohon berbahaya, getahnya bisa menyebabkan gatal parah. Apakah api kayunya bisa meracuni ikan? Para pejabat kolonial ragu, tetapi cerita itu terlanjur hidup di kampung-kampung.

Pertanyaan pun muncul kembali, sama seperti tujuh tahun sebelumnya. Apakah penjualan ikan pindang akan kembali dilarang? “Tampaknya arah kebijakan memang cenderung ke sana.” tutup Het Nieuws van den Dag.

Het Nieuws van den Dag 13 Juni 1908.
Het Nieuws van den Dag 13 Juni 1908.

Beberapa hari kemudian, De Locomotief melaporkan kabar yang sama. Mengutip De Preanger-bodr, koran ini menyebut bahwa sebagian pindang yang menyebabkan keracunan didatangkan dari Karawang.

Jumlah korban yang tercatat sekitar 30-40 orang, menurut terbitan edisi 16 Juni 1908 koran itu. Tetapi laporan itu juga jujur mengakui, tidak semua kasus dilaporkan kepada pemerintah. Bisa dipastikan jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Sebagian pindang berhasil disita dan disimpan di kantor wedana, sementara para korban diberi obat-obatan seadanya. Sebagian besar selamat. Tidak semuanya.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Dari Uler Lempê hingga Racun Halus dalam Pindang

Yang membuat kisah keracunan pindang semakin menarik adalah keragaman penjelasan yang beredar dari tahun ke tahun. Tidak semuanya menunjuk pada ikan busuk semata.

Sekitar dua dekade sebelumnya, tepatnya pada Oktober 1890, De Nieuwe Vorstenlanden sudah mencatat kepercayaan para ahli ikan Jawa. Mereka menyebut bahwa ikan pindang pada dasarnya tidak beracun, tetapi bisa menjadi berbahaya jika ikan tersebut memakan uler lempê. Makhluk ini digambarkan sebagai peralihan antara ikan dan cacing, hidup di kolam-kolam ikan. Penjelasan ini terdengar ganjil bagi pembaca modern, tetapi pada zamannya dianggap masuk akal.

Kasus serupa terus muncul di dekade berikutnya. Pada Juni 1926, De Indische Courant melaporkan tiga puluh orang pribumi jatuh sakit di Soreang setelah memakan ikan pindang. Tiga di antaranya meninggal dunia. Setahun kemudian, Agustus 1927, De Nieuwe Vorstenlanden kembali menurunkan kabar dari Binong, Distrik Ujungberung. Sembilan orang dewasa dan delapan anak jatuh sakit akibat memakan pindang ikan sepat.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Dalam kasus Binong, semua korban akhirnya pulih. Seorang dokter dari Bandung segera datang setelah diberi tahu Asisten Wedana. Terhadap penjual pindang bernama Asmali, dibuatkan berita acara. Sebuah isyarat bahwa pemerintah kolonial melihat persoalan ini bukan sekadar musibah alamiah, tetapi juga soal tanggung jawab dagang.

Namun penjelasan paling gelap datang dari laporan-laporan tentang racun yang disengaja. Soerabaiasch Handelsblad edisi 29 Maret 1935, mengutip Deli Courant, menulis panjang lebar tentang peranan racun di Hindia Belanda. Tanah Sunda, disebutkan, tidak memiliki nama baik dalam banyak kisah peracunan, meskipun sering kali dibumbui unsur berlebihan.

Laporan itu menyebut praktik mencampurkan gadung, akar tareba, akar cermai, dan kelutut ke dalam pindang ikan. Racun ini tidak membunuh seketika, tetapi perlahan. “Yang konon menyebabkan kematian dalam waktu dua puluh hari,” tulis surat kabar tersebut. Ada pula penggunaan arsenik dan senyawa logam berat seperti tembaga dan timah, diberikan berselang-seling agar gejala penyakit sulit dikenali dan tak mudah dibuktikan secara kimia.

Risalah ini seolah memberi kesan bahwa kasus keracunan pindang adalah hasil kejahatan terencana.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Terlepas dari itu semua, pindang adalah kebutuhan bagi warga pribumi. Bagi pemerintah kolonial, ia adalah masalah kesehatan publik yang sulit dikendalikan. Dan bagi sejarah Bandung, ia meninggalkan jejak yang agak pahit, agak amis, tetapi juga menggelitik. Siapa sangka, di balik lauk sederhana yang akrab di lidah orang Sunda, tersimpan hikayat panjang tentang larangan, kecurigaan, dan racun yang bekerja pelan-pelan.

Di meja makan kolonial, ikan pindang mungkin hanya lauk murahan. Tetapi di arsip sejarah, ia adalah saksi bisu betapa rumitnya kehidupan sehari-hari di kota yang kelak dikenal sebagai Parijs van Java.

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)