Kisah Ikan Pindang Beracun di Bandung Zaman Kolonial, Telan Korban dan Sempat Dilarang Pemerintah

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi ikan pindnag.
Ilustrasi ikan pindnag.

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa ketika lemari es belum dikenal dan bau amis adalah bagian wajar dari pasar, ikan pindang menjadi penyelamat dapur orang Bandung. Murah, asin, tahan lama, dan mudah diolah. Ia bisa menemani nasi panas di pagi hari, atau disimpan untuk makan malam. Tapi di balik kepopulerannya, pindang juga menyimpan kisah gelap yang beberapa kali membuat Bandung geger pada awal abad ke-20.

Surat kabar kolonial menyebutnya dengan nada panik sekaligus heran. Orang-orang jatuh sakit, keluarga seisi rumah tumbang, bahkan ada yang meninggal dunia hanya karena makan ikan pindang. Dari Cibangkong hingga Lembang, dari pasar kota sampai desa-desa pinggiran, pindang berubah dari lauk rakyat menjadi tersangka utama.

Kisah ini bukan dongeng. Arsip media Hindia Belanda mencatatnya dengan cukup rinci, lengkap dengan nama desa, jumlah korban, dan kebingungan para pejabat kolonial yang harus menjelaskan bagaimana ikan asin bisa mematikan.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Perkara konsumsi pindang ini sebenarnya sudah jadi bahan gunjing administrasi kolonial sejak awal abad ke-20. Pada 11 Oktober 1901, Residen Bandung pernah mengeluarkan keputusan yang melarang penjualan cue atau ikan pindang karena dianggap membahayakan kesehatan. Namun, seperti banyak kebijakan kolonial lainnya, larangan itu tidak bertahan lama. Ia dicabut, pasar kembali ramai, dan orang-orang kembali makan pindang dengan lahap.

Sering masa berganti, larangan itu seperti menuntut balas.

Pada Juni 1908, surat kabar Het Nieuws van den Dag menurunkan laporan yang membuat alis pejabat kolonial terangkat. Di Cibangkong, satu keluarga yang terdiri dari sembilan orang jatuh sakit setelah memakan pindang. Di Kejaksaan Hilir, empat orang mengalami nasib serupa. Dan di Lembang, kabar paling buruk datang. Tidak kurang dari sepuluh orang pribumi dilaporkan meninggal dunia akibat keracunan ikan.

Pemerintah kolonial kelabakan. Dokter Jawa dikirim, dokter sipil disibukkan dari pagi sampai malam, dan kepala polisi ikut turun tangan.

Baca Juga: Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Yang menarik, sumber kecurigaan tidak hanya datang dari dokter atau pejabat. Penduduk pribumi pun punya penjelasan sendiri. Laporan koran itu mencatat pengakuan warga tentang praktik pembuatan pindang. “Biasanya pindang dibuat dari ikan yang tidak laku dijual, dan tanpa dibersihkan dengan baik,” tulis koran itu dalam terbitan edisi 13 Juni 1908.

Ikan tongkol, selar, dan kembung yang seharusnya sudah dibuang, justru direbus ulang dan diasinkan.

Di balik penjelasan itu, ada pula cerita yang lebih mistis sekaligus botanis. Warga menyebut bahwa ikan yang dimasak dengan kayu rengas bisa berubah menjadi racun. Rengas memang terkenal dalam cerita rakyat sebagai pohon berbahaya, getahnya bisa menyebabkan gatal parah. Apakah api kayunya bisa meracuni ikan? Para pejabat kolonial ragu, tetapi cerita itu terlanjur hidup di kampung-kampung.

Pertanyaan pun muncul kembali, sama seperti tujuh tahun sebelumnya. Apakah penjualan ikan pindang akan kembali dilarang? “Tampaknya arah kebijakan memang cenderung ke sana.” tutup Het Nieuws van den Dag.

Het Nieuws van den Dag 13 Juni 1908.
Het Nieuws van den Dag 13 Juni 1908.

Beberapa hari kemudian, De Locomotief melaporkan kabar yang sama. Mengutip De Preanger-bodr, koran ini menyebut bahwa sebagian pindang yang menyebabkan keracunan didatangkan dari Karawang.

Jumlah korban yang tercatat sekitar 30-40 orang, menurut terbitan edisi 16 Juni 1908 koran itu. Tetapi laporan itu juga jujur mengakui, tidak semua kasus dilaporkan kepada pemerintah. Bisa dipastikan jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Sebagian pindang berhasil disita dan disimpan di kantor wedana, sementara para korban diberi obat-obatan seadanya. Sebagian besar selamat. Tidak semuanya.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Dari Uler Lempê hingga Racun Halus dalam Pindang

Yang membuat kisah keracunan pindang semakin menarik adalah keragaman penjelasan yang beredar dari tahun ke tahun. Tidak semuanya menunjuk pada ikan busuk semata.

Sekitar dua dekade sebelumnya, tepatnya pada Oktober 1890, De Nieuwe Vorstenlanden sudah mencatat kepercayaan para ahli ikan Jawa. Mereka menyebut bahwa ikan pindang pada dasarnya tidak beracun, tetapi bisa menjadi berbahaya jika ikan tersebut memakan uler lempê. Makhluk ini digambarkan sebagai peralihan antara ikan dan cacing, hidup di kolam-kolam ikan. Penjelasan ini terdengar ganjil bagi pembaca modern, tetapi pada zamannya dianggap masuk akal.

Kasus serupa terus muncul di dekade berikutnya. Pada Juni 1926, De Indische Courant melaporkan tiga puluh orang pribumi jatuh sakit di Soreang setelah memakan ikan pindang. Tiga di antaranya meninggal dunia. Setahun kemudian, Agustus 1927, De Nieuwe Vorstenlanden kembali menurunkan kabar dari Binong, Distrik Ujungberung. Sembilan orang dewasa dan delapan anak jatuh sakit akibat memakan pindang ikan sepat.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Dalam kasus Binong, semua korban akhirnya pulih. Seorang dokter dari Bandung segera datang setelah diberi tahu Asisten Wedana. Terhadap penjual pindang bernama Asmali, dibuatkan berita acara. Sebuah isyarat bahwa pemerintah kolonial melihat persoalan ini bukan sekadar musibah alamiah, tetapi juga soal tanggung jawab dagang.

Namun penjelasan paling gelap datang dari laporan-laporan tentang racun yang disengaja. Soerabaiasch Handelsblad edisi 29 Maret 1935, mengutip Deli Courant, menulis panjang lebar tentang peranan racun di Hindia Belanda. Tanah Sunda, disebutkan, tidak memiliki nama baik dalam banyak kisah peracunan, meskipun sering kali dibumbui unsur berlebihan.

Laporan itu menyebut praktik mencampurkan gadung, akar tareba, akar cermai, dan kelutut ke dalam pindang ikan. Racun ini tidak membunuh seketika, tetapi perlahan. “Yang konon menyebabkan kematian dalam waktu dua puluh hari,” tulis surat kabar tersebut. Ada pula penggunaan arsenik dan senyawa logam berat seperti tembaga dan timah, diberikan berselang-seling agar gejala penyakit sulit dikenali dan tak mudah dibuktikan secara kimia.

Risalah ini seolah memberi kesan bahwa kasus keracunan pindang adalah hasil kejahatan terencana.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Terlepas dari itu semua, pindang adalah kebutuhan bagi warga pribumi. Bagi pemerintah kolonial, ia adalah masalah kesehatan publik yang sulit dikendalikan. Dan bagi sejarah Bandung, ia meninggalkan jejak yang agak pahit, agak amis, tetapi juga menggelitik. Siapa sangka, di balik lauk sederhana yang akrab di lidah orang Sunda, tersimpan hikayat panjang tentang larangan, kecurigaan, dan racun yang bekerja pelan-pelan.

Di meja makan kolonial, ikan pindang mungkin hanya lauk murahan. Tetapi di arsip sejarah, ia adalah saksi bisu betapa rumitnya kehidupan sehari-hari di kota yang kelak dikenal sebagai Parijs van Java.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)