Di utara Bandung ada gunung yang sangat populer, yaitu Gunung Tangkuban Parahu, dan di selatan ada Gunung Malabar. Bila ditarik garis di antara kedua gunung itu, akan terbentuk penampang yang menyerupai mangkuk raksasa. Itulah yang menjadi alasan, mengapa Kawasan ini dinamai Cekungan Bandung. Semua air meteorik yang mengalir ke dalam mangkuk raksasa, akan mengalir ke dasar cekungan dan bermuara di Ci Tarum.
Bila kita berada di ketinggian di sekeliling Cekungan Bandung, dari sana kita dapat melihat dengan jelas ronabumi yang datar, yang dikelilingi gunung-gunung. Saat ini kawasan itu sudah terbangun, dan penuh dengan hunian. Namun, di beberapa tempat, masih ada yang berupa persawahan atau empang yang luas. Kawasan yang datar itu, sebelum 16.000 tahun yang lalu, masih berupa Danau Bandung Purba, yang luasnya mencapai 750,27 km2.
Danau Bandung Purba terbentang antara Cicalengka di timur hingga Rajamandala di barat. Pantai danaunya berada di ketinggian +725 m dpl. Bila diterapkan pada keadaan saat ini, paras air danau tertinggi, genangannya sedikit ke selatan dari Ciparay, Majalaya, Banjaran, dan sedikit ke timur dari Soreang. Di Kota Bandung, pantai danau utara berada di tengah perempatan Jl Ir H Djuanda dengan Jl Merdeka dan Jl LL RE Martadinata. Dari sana garis ketinggian dapat ditelusuri ke barat dan ke timur, meliuk mengikuti ronabumi di ketinggian +725 m dpl yang menjadi paras air danau.
Semula, aliran Ci Tarum yang hulunya di Gunung Sembung, tidak jauh dari Gunung Wayang, mengelir seperti yang sekarang sampai Majalaya, menerus hingga Nanjung. Namun, sebelum terjadinya letusan kolosal Gunung Sunda 105.000 tahun yang lalu, dari Nanjung Ci Tarum mengalir ke utara hingga Padalarang, lalu berbelok ke baratlaut, masuk ke Ci Meta.
Letusan plinian maha dahsyat Gunung Sunda yang tingginya antara +3.500 m sampai +4.000 m. dpl dengan tekanan gasnya sangat sangat kuat, telah menyebabkan material dari dalam tubuh gunung ke angkasa sebanyak 66 km kubik. Material letusan itu menyebar di kawasan seluas 200 km persegi. Di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, endapan material letusan itu ketebalannya lebih dari 40 meter. Terjadilah kekosongan di dalam tubuh gunung, yang menyebabkan bagian atas gunung tak kuat lagi menahan beban, lalu ambruk membentuk kaldera Gunung Sunda dengan ukuran 6,5 km x 7,5 km. Kaldera Gunung Sunda dengan sebagian dindingnya yang melengkung, dapat dilihat dengan jelas dari puncak Gunung Burangrang. Di dasar kaldera sisi utara, terdapat danau kaldera yang dibendung pada awal abad ke-20, dinamai Situ Lembang.
Material letusannya yang meluncur di lereng barat daya, dengan seketika membendung Ci Tarum di utara Padalarang. Kemudian, secara berangsur-angsur terbentuklah danau raksasa yang dikelilingi gunung-gunung. 16.000 tahun yang lalu Danau Bandung Purba Timur bobol di Curug Jompong, dan Danau Bandung Purba Barat bobol di antara Cukang Rahong sampai Curug Halimun. Air Danau Bandung Purba mendapatkan tempat untuk mengalir.
Danau Bandung Purba tergenang selama 89.000 tahun, sejak 105.000 tahun yang lalu sampai 16.000 tahun yang lalu. Dalam rentang waktu itulah terjadi pengendapan di lingkungan danau yang lebih tenang dibandingkan dengan di aliran sungai. Material endapannya bersumber dari letusan gunungapi yang ada di sekeliling Cekungan Bandung, dan hasil erosi di hulu sungai. Semua material itu lalu mengendap di dasar danau terendah. Semakin lama, endapannya semakin tebal, ada yang mencapai lebih dari 100 meter.
Secara berangsur, air danau surut, tapi tidak sekaligus mengering, bahkan sampai saat ini, masih menyisakan lahan basah yang luas yang disebut ranca atau rawa. Saat ini, kawasan bekas dasar danau Bandung Purba itu datar. Keadaan ini tidak terlepas dari proses pengendapan di lingkungan air danau yang tenang, dengan permukaan air rata.
Perataan topografi dasar danau oleh endapan lumpur ini dipengaruhi oleh hukum gravitasi dalam geomorfologi. Material sedimen, seperti lumpur, lanau, dan lempung, yang terbawa oleh aliran air sungai akan kehilangan energi kinetiknya secara drastis pada saat memasuki badan air danau yang tenang. Ketika kecepatan alirannya melambat, maka daya dukung air terhadap material padat akan menurun, dan gaya gravitasi menjadi yang utama, sehingga material sedimen itu mulai jatuh dan mengendap.
Lapisan sedimen yang diendapkan dalam kondisi normal akan terakumulasi secara horizontal dan sejajar dengan permukaan air. Gravitasi akan menarik partikel endapan ke bawah, pada awalnya akan mengisi ruang-ruang cekung di dasar danau. Proses pengendapan ini terus berlangsung sampai dasar yang bergelombang itu tertutup rata oleh lapisan lumpur horizontal.
Material endapan yang berupa partikel halus, seperti lempung dan lanau, cenderung lebih ringan, dapat melayang-layang lebih lama di dalam air, sehingga akan tersebar merata ke seluruh permukaan danau, kemudian akan mengendap perlahan. Ketika partikel-partikel lempung menggumpal, akan mempercepat proses pengendapan.
Bila lumpur yang jenuh air bercampur dengan material organik, akan membentuk masa yang lebih padat dan kental (leutak). Masa ini akan merayap mengisi celah-celah dan cekungan yang dalam. Material endapan berukuran lebih besar dan berat, akan mengendap lebih cepat, dan lebih dekat dengan sumber material endapan. Cekungan di dasar danau menjadi penjebak sedimen. Sedimen yang masuk ke danau secara terus-menerus, akan mengendap, semakin ke atas ukuran partikelnya semakin halus.

Di Danau Bandung Purba yang luas, energi gelombang air dangkal akan terus mengikis bukit di dasar danau. Materialnya akan diendapkan di cekungan yang lebih dalam. Pengisian material endapan yang terus-menerus, akan meratakan seluruh profil dasar danau menjadi hamparan dataran lumpur.
Selama 89.000 tahun, kiriman material sedimen terus berlangsung. Endapan terus menebal, melapisi rongga bumi dasar danau yang semula bergelombang, ada lembah dan bukit-bukit, menjadi rata, menjadi datar. Inilah proses pengendapan di air danau yang tenang, yang menyebabkan dasar danau menjadi rata.
Itulah proses yang menyebabkan dasar Cekungan Bandung menjadi datar. (*)