Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Cuaca dingin Bandung belakangan ini jadi bahan perbincangan hangat. Ia menjadi bahan obrolan ringan yang menyelinap di balik jaket tebal, selimut dobel, dan secangkir minuman hangat yang mendadak terasa wajib. Kota yang selama ini dikenal sejuk itu, dalam beberapa hari terakhir Januari 2026, seperti sedang ingin mengingatkan warganya bahwa “dingin” di Bandung bukan sekadar slogan wisata.

Hawa yang menusuk terutama terasa pada pagi dan malam hari. Pagi-pagi buta, ketika azan subuh bersahut-sahutan, udara seperti punya niat khusus untuk menahan orang tetap di balik selimut. Malam hari pun tak kalah menggoda untuk cepat pulang, menutup pintu rapat-rapat, dan membiarkan jaket menggantung lebih lama di badan. Fenomena ini bukan ilusi kolektif, bukan pula sekadar efek sugesti karena hujan turun hampir setiap hari. Ia tercatat rapi dalam pengamatan meteorologi dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di Bandung dan sekitarnya tercatat mencapai 20,4 derajat Celsius pada 4 dan 8 Januari 2026. Angka yang di atas kertas tampak biasa saja, tetapi di lapangan terasa lebih dingin karena kelembapan udara yang tinggi. Musim hujan sedang aktif, awan tebal menggantung hampir sepanjang hari, dan matahari seperti bekerja paruh waktu.

Panas yang seharusnya tersimpan di permukaan tanah pada siang hari tidak sempat menumpuk, sementara malam datang membawa pelepasan energi yang cepat. Hasilnya, siang yang adem dan malam yang menggigil.

Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Bandung, seperti diketahui, bukan kota sembarang. Ia lahir dan tumbuh di sebuah cekungan raksasa yang dikelilingi pegunungan. Secara geografis, posisi ini membuat Bandung punya bakat alami untuk mengumpulkan udara dingin. Pada malam hingga dini hari, udara dari dataran tinggi di sekeliling kota mengalir ke wilayah yang lebih rendah melalui proses alami.

Udara dingin itu lebih berat, lebih malas bergerak, dan senang berdiam di lembah. Ketika hujan turun dan kelembapan meningkat, sensasi dingin pun berlipat ganda. Kulit manusia lebih cepat kehilangan panas, dan tubuh merasa suhu lebih rendah daripada angka di termometer.

Tap, dingin di Bandung bukan cerita baru yang lahir tahun ini. Ia punya silsilah panjang, jejak data, dan ingatan kolektif yang kerap muncul setiap kali suhu turun di luar kebiasaan. Dalam hikayat iklim kota ini, ada bab-bab lama yang selalu disebut ulang. Sebuah kisah yang berulang, meski dengan tokoh dan latar yang sedikit berbeda.

Setiap generasi Bandung seolah punya cerita dinginnya sendiri. Namun, ada satu tahun yang selalu muncul dalam arsip dan percakapan lintas zaman: 1987. Tepatnya pada Agustus, ketika musim kemarau sedang berada di puncaknya.

Pada masa itu, suhu minimum di Kota Bandung tercatat turun hingga sekitar 11,2 derajat Celsius. Angka ini bukan sekadar rekor, melainkan penanda ekstrem yang hingga kini belum terlampaui dalam catatan panjang pengamatan iklim.

Catatan menunjukkan bulan Agustus 1987 adalah contoh sempurna bagaimana alam bisa bekerja dengan presisi nyaris berlebihan. Langit cerah, awan tipis atau bahkan absen, curah hujan nyaris nol. Kondisi ini membuat permukaan bumi kehilangan panasnya tanpa hambatan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pada siang hari, matahari tetap bersinar, tetapi malam datang membawa pendinginan radiasi yang sangat efektif. Panas yang terkumpul di siang hari dilepas begitu saja ke atmosfer, membuat suhu meluncur turun menjelang dini hari.

Faktor regional ikut menyempurnakan skenario itu. Pada musim kemarau, angin timuran dari Australia bergerak ke utara membawa massa udara yang kering dan relatif dingin. Ketika udara ini mencapai Jawa Barat dan bertemu dataran tinggi Bandung, efeknya terasa signifikan. Udara kering mempercepat pendinginan, sementara ketinggian wilayah membuat suhu dasar sudah lebih rendah sejak awal.

Topografi Bandung kembali memainkan perannya. Sebagai cekungan, kota ini cenderung menahan udara dingin di bagian bawah. Pada malam hari, udara dari pegunungan sekitar mengalir turun dan terjebak di dataran rendah. Seolah-olah Bandung menjadi mangkuk raksasa yang menampung hawa dingin hingga pagi datang. Kombinasi inilah yang membuat Agustus 1987 dikenang sebagai masa ketika Bandung benar-benar menggigil, bukan hanya dalam metafora.

Yang menarik, peristiwa itu tidak menjadi pola tahunan. Ia lebih menyerupai pertemuan langka berbagai faktor atmosfer dan geografis yang kebetulan saling menguatkan. Setelah 1987, suhu di Bandung memang kerap turun pada musim kemarau, tetapi jarang menyentuh kembali angka serendah itu. Namun, ingatan tentangnya tetap hidup, menjadi standar pembanding setiap kali jaket terasa kurang tebal.

Lebih dari tiga dekade kemudian, kisah dingin ekstrem kembali muncul, kali ini dari selatan Bandung. Juli 2019 menghadirkan bab baru dalam hikayat cuaca dingin Priangan. Di Kecamatan Kertasari, suhu dini hari dilaporkan turun hingga sekitar 9 derajat Celsius. Angka yang membuat banyak orang spontan memeriksa ulang lokasi di peta, memastikan bahwa Kertasari memang masih berada di Jawa Barat, bukan tiba-tiba bergeser mendekati wilayah subtropis.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Peristiwa ini tidak hanya tercatat sebagai statistik. Pagi hari di Kertasari kala itu menghadirkan pemandangan yang nyaris surealis untuk ukuran daerah tropis. Embun membeku menempel di daun, rumput, dan kebun teh.

Baca Juga: Puting Beliung Rancaekek Sudah Terjadi Sejak Zaman Belanda

Lapisan es tipis terlihat jelas sebelum matahari cukup tinggi untuk mencairkannya. Fenomena ini sering disalahpahami sebagai hujan salju, padahal yang terjadi adalah pembentukan embun es, proses ketika uap air langsung berubah menjadi es akibat suhu permukaan yang sangat rendah.

Seperti kisah 1987, penjelasan 2019 kembali mengarah ke musim kemarau. Tutupan awan minim, kelembapan udara rendah, dan pendinginan malam hari berlangsung maksimal. Angin timuran dari Australia kembali hadir membawa udara kering dan dingin.

Bedanya, kali ini lokasi kejadian berada di ketinggian yang lebih ekstrem. Kertasari terletak di atas 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan beberapa area perkebunan bahkan lebih tinggi lagi. Pada ketinggian tersebut, suhu udara memang lebih mudah jatuh ketika malam tiba.

Dampaknya terasa nyata, terutama bagi sektor pertanian. Daun teh yang tertutup embun es menjadi rapuh dan tidak bisa segera dipanen. Aktivitas warga pun menyesuaikan diri dengan kondisi dingin yang tidak biasa. Meski jarang, peristiwa ini tetap berada dalam koridor klimatologi pegunungan tropis, sebuah pengingat bahwa wilayah tropis pun punya potensi menghadirkan suhu ekstrem.

Jika ditarik ke masa kini, cuaca dingin Bandung Januari 2026 memang tidak sedramatis 1987 atau 2019. Tidak ada rekor yang dipecahkan atau embun es yang membekukan kebun. Namun, konteksnya berbeda. Dingin kali ini lahir dari musim hujan yang aktif, bukan kemarau yang kering. Awan tebal, hujan yang sering turun, dan kelembapan tinggi menciptakan sensasi dingin yang meresap pelan-pelan, tidak tajam tetapi konsisten.

Baca Juga: Wabah TBC di Jantung Bandung: Cerita dari Pelindung Hewan, Kampung Padat yang Dikepung Bakteri

La Niña lemah yang masih berpengaruh ikut menambah suplai uap air ke wilayah Jawa Barat. Awan hujan menjadi lebih persisten, matahari jarang tampil penuh, dan suhu rata-rata terasa lebih sejuk. Dalam kondisi seperti ini, Bandung kembali menunjukkan watak lamanya: kota tropis yang kadang bersikap seperti wilayah lintang lebih tinggi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)