Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 18:47 WIB
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Cuaca dingin Bandung belakangan ini jadi bahan perbincangan hangat. Ia menjadi bahan obrolan ringan yang menyelinap di balik jaket tebal, selimut dobel, dan secangkir minuman hangat yang mendadak terasa wajib. Kota yang selama ini dikenal sejuk itu, dalam beberapa hari terakhir Januari 2026, seperti sedang ingin mengingatkan warganya bahwa “dingin” di Bandung bukan sekadar slogan wisata.

Hawa yang menusuk terutama terasa pada pagi dan malam hari. Pagi-pagi buta, ketika azan subuh bersahut-sahutan, udara seperti punya niat khusus untuk menahan orang tetap di balik selimut. Malam hari pun tak kalah menggoda untuk cepat pulang, menutup pintu rapat-rapat, dan membiarkan jaket menggantung lebih lama di badan. Fenomena ini bukan ilusi kolektif, bukan pula sekadar efek sugesti karena hujan turun hampir setiap hari. Ia tercatat rapi dalam pengamatan meteorologi dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di Bandung dan sekitarnya tercatat mencapai 20,4 derajat Celsius pada 4 dan 8 Januari 2026. Angka yang di atas kertas tampak biasa saja, tetapi di lapangan terasa lebih dingin karena kelembapan udara yang tinggi. Musim hujan sedang aktif, awan tebal menggantung hampir sepanjang hari, dan matahari seperti bekerja paruh waktu.

Panas yang seharusnya tersimpan di permukaan tanah pada siang hari tidak sempat menumpuk, sementara malam datang membawa pelepasan energi yang cepat. Hasilnya, siang yang adem dan malam yang menggigil.

Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Bandung, seperti diketahui, bukan kota sembarang. Ia lahir dan tumbuh di sebuah cekungan raksasa yang dikelilingi pegunungan. Secara geografis, posisi ini membuat Bandung punya bakat alami untuk mengumpulkan udara dingin. Pada malam hingga dini hari, udara dari dataran tinggi di sekeliling kota mengalir ke wilayah yang lebih rendah melalui proses alami.

Udara dingin itu lebih berat, lebih malas bergerak, dan senang berdiam di lembah. Ketika hujan turun dan kelembapan meningkat, sensasi dingin pun berlipat ganda. Kulit manusia lebih cepat kehilangan panas, dan tubuh merasa suhu lebih rendah daripada angka di termometer.

Tap, dingin di Bandung bukan cerita baru yang lahir tahun ini. Ia punya silsilah panjang, jejak data, dan ingatan kolektif yang kerap muncul setiap kali suhu turun di luar kebiasaan. Dalam hikayat iklim kota ini, ada bab-bab lama yang selalu disebut ulang. Sebuah kisah yang berulang, meski dengan tokoh dan latar yang sedikit berbeda.

Setiap generasi Bandung seolah punya cerita dinginnya sendiri. Namun, ada satu tahun yang selalu muncul dalam arsip dan percakapan lintas zaman: 1987. Tepatnya pada Agustus, ketika musim kemarau sedang berada di puncaknya.

Pada masa itu, suhu minimum di Kota Bandung tercatat turun hingga sekitar 11,2 derajat Celsius. Angka ini bukan sekadar rekor, melainkan penanda ekstrem yang hingga kini belum terlampaui dalam catatan panjang pengamatan iklim.

Catatan menunjukkan bulan Agustus 1987 adalah contoh sempurna bagaimana alam bisa bekerja dengan presisi nyaris berlebihan. Langit cerah, awan tipis atau bahkan absen, curah hujan nyaris nol. Kondisi ini membuat permukaan bumi kehilangan panasnya tanpa hambatan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pada siang hari, matahari tetap bersinar, tetapi malam datang membawa pendinginan radiasi yang sangat efektif. Panas yang terkumpul di siang hari dilepas begitu saja ke atmosfer, membuat suhu meluncur turun menjelang dini hari.

Faktor regional ikut menyempurnakan skenario itu. Pada musim kemarau, angin timuran dari Australia bergerak ke utara membawa massa udara yang kering dan relatif dingin. Ketika udara ini mencapai Jawa Barat dan bertemu dataran tinggi Bandung, efeknya terasa signifikan. Udara kering mempercepat pendinginan, sementara ketinggian wilayah membuat suhu dasar sudah lebih rendah sejak awal.

Topografi Bandung kembali memainkan perannya. Sebagai cekungan, kota ini cenderung menahan udara dingin di bagian bawah. Pada malam hari, udara dari pegunungan sekitar mengalir turun dan terjebak di dataran rendah. Seolah-olah Bandung menjadi mangkuk raksasa yang menampung hawa dingin hingga pagi datang. Kombinasi inilah yang membuat Agustus 1987 dikenang sebagai masa ketika Bandung benar-benar menggigil, bukan hanya dalam metafora.

Yang menarik, peristiwa itu tidak menjadi pola tahunan. Ia lebih menyerupai pertemuan langka berbagai faktor atmosfer dan geografis yang kebetulan saling menguatkan. Setelah 1987, suhu di Bandung memang kerap turun pada musim kemarau, tetapi jarang menyentuh kembali angka serendah itu. Namun, ingatan tentangnya tetap hidup, menjadi standar pembanding setiap kali jaket terasa kurang tebal.

Lebih dari tiga dekade kemudian, kisah dingin ekstrem kembali muncul, kali ini dari selatan Bandung. Juli 2019 menghadirkan bab baru dalam hikayat cuaca dingin Priangan. Di Kecamatan Kertasari, suhu dini hari dilaporkan turun hingga sekitar 9 derajat Celsius. Angka yang membuat banyak orang spontan memeriksa ulang lokasi di peta, memastikan bahwa Kertasari memang masih berada di Jawa Barat, bukan tiba-tiba bergeser mendekati wilayah subtropis.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Peristiwa ini tidak hanya tercatat sebagai statistik. Pagi hari di Kertasari kala itu menghadirkan pemandangan yang nyaris surealis untuk ukuran daerah tropis. Embun membeku menempel di daun, rumput, dan kebun teh.

Baca Juga: Puting Beliung Rancaekek Sudah Terjadi Sejak Zaman Belanda

Lapisan es tipis terlihat jelas sebelum matahari cukup tinggi untuk mencairkannya. Fenomena ini sering disalahpahami sebagai hujan salju, padahal yang terjadi adalah pembentukan embun es, proses ketika uap air langsung berubah menjadi es akibat suhu permukaan yang sangat rendah.

Seperti kisah 1987, penjelasan 2019 kembali mengarah ke musim kemarau. Tutupan awan minim, kelembapan udara rendah, dan pendinginan malam hari berlangsung maksimal. Angin timuran dari Australia kembali hadir membawa udara kering dan dingin.

Bedanya, kali ini lokasi kejadian berada di ketinggian yang lebih ekstrem. Kertasari terletak di atas 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan beberapa area perkebunan bahkan lebih tinggi lagi. Pada ketinggian tersebut, suhu udara memang lebih mudah jatuh ketika malam tiba.

Dampaknya terasa nyata, terutama bagi sektor pertanian. Daun teh yang tertutup embun es menjadi rapuh dan tidak bisa segera dipanen. Aktivitas warga pun menyesuaikan diri dengan kondisi dingin yang tidak biasa. Meski jarang, peristiwa ini tetap berada dalam koridor klimatologi pegunungan tropis, sebuah pengingat bahwa wilayah tropis pun punya potensi menghadirkan suhu ekstrem.

Jika ditarik ke masa kini, cuaca dingin Bandung Januari 2026 memang tidak sedramatis 1987 atau 2019. Tidak ada rekor yang dipecahkan atau embun es yang membekukan kebun. Namun, konteksnya berbeda. Dingin kali ini lahir dari musim hujan yang aktif, bukan kemarau yang kering. Awan tebal, hujan yang sering turun, dan kelembapan tinggi menciptakan sensasi dingin yang meresap pelan-pelan, tidak tajam tetapi konsisten.

Baca Juga: Wabah TBC di Jantung Bandung: Cerita dari Pelindung Hewan, Kampung Padat yang Dikepung Bakteri

La Niña lemah yang masih berpengaruh ikut menambah suplai uap air ke wilayah Jawa Barat. Awan hujan menjadi lebih persisten, matahari jarang tampil penuh, dan suhu rata-rata terasa lebih sejuk. Dalam kondisi seperti ini, Bandung kembali menunjukkan watak lamanya: kota tropis yang kadang bersikap seperti wilayah lintang lebih tinggi.

Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 19:02

Hari Bumi Sedunia: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Refleksi Hari Bumi Sedunia untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, dari kesadaran sederhana hingga tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan Bumi.

Gambar Bumi dari jendela pesawat Orion yang memperlihatkan keindahan planet sebagai rumah bagi seluruh kehidupan. (Sumber: NASA | Foto: -)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 15:38

Puisi, Hati, dan Suci

Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ikon 19 Apr 2026, 13:48

Hikayat Harry Suliztiarto Bawa Olahraga Panjat Tebing ke Indonesia

Kisah Harry Suliztiarto membawa panjat tebing ke Indonesia sejak 1976, dari eksperimen nekat hingga ekspedisi Eiger yang menginspirasi.

Harry Suliztiarto. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 19 Apr 2026, 11:45

Panduan Wisata Green Canyon Pangandaran, Panorama Eksotis Karst Cukang Taneuh Sungai Cijulang

Green Canyon menghadirkan kombinasi tebing karst, air kehijauan, dan aktivitas petualangan seperti body rafting yang cocok bagi pencinta wisata alam.

Green Canyon Pangandaran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 11:14

Pantai Madasari, Pilihan Healing di Pesisir Selatan Jawa Barat

Pantai Madasari dapat menjadi referensi wisata alam karena menawarkan ketenangan di pesisir selatan Jawa Barat.

Pantai Madasari di pagi hari dengan suasana tenang dan nyaman. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 10:19

Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)