Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pagi Bandung pada awal abad ke-19 belum seramai sekarang. Jalan belum bernama Asia Afrika. Alun-alun hanyalah tanah lapang berumput yang dipakai rakyat berkumpul, berjualan, dan menghadap kekuasaan. Di sisi lapangan itulah berdiri sebuah bangunan ibadah yang kelak menjadi salah satu penanda sejarah kota. Masjid Raya Bandung lahir bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai bagian dari tata kota kolonial yang baru tumbuh.

Masjid itu pertama kali didirikan pada 1812, bertepatan dengan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak ke wilayah yang kini dikenal sebagai pusat Kota Bandung. Perpindahan ini merupakan bagian dari penataan administratif Hindia Belanda, yang menempatkan alun-alun sebagai pusat simbolik kekuasaan. Di satu sisi berdiri pendopo bupati, di sisi lain pasar, dan di sisi barat berdiri masjid.

Bangunan awal Masjid Raya Bandung jauh dari kesan monumental. Struktur utamanya berbahan kayu, dindingnya dari anyaman bambu, dan atapnya rumbia bertumpuk. Lantainya ditinggikan seperti rumah panggung. Namun, sejak awal masjid ini tidak sekadar ruang ibadah. Di halaman terdapat kolam besar yang berfungsi sebagai tempat wudhu sekaligus sumber air bagi kawasan sekitarnya.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Kolam itu kelak tercatat dalam sejarah. Ketika kebakaran besar melanda kawasan alun-alun pada 1825, air dari kolam masjid digunakan untuk memadamkan api. Peristiwa itu menunjukkan bagaimana masjid menjadi bagian dari sistem hidup kota, bukan bangunan terpisah dari keseharian warga.

Pengelolaan masjid berada langsung di bawah Bupati Bandung, sementara operasional keagamaannya dijalankan oleh penghulu. Pola ini mencerminkan relasi erat antara kekuasaan lokal dan agama di tanah Priangan pada masa kolonial. Masjid bukan hanya tempat salat, melainkan ruang legitimasi sosial dan politik.

Renovasi pertama dilakukan pada 1826. Anyaman bambu mulai diganti dengan kayu yang lebih kuat. Perubahan ini bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan penanda bahwa Bandung mulai bertransformasi dari permukiman administratif menjadi kota yang direncanakan lebih serius.

Perubahan besar terjadi pada pertengahan abad ke-19, seiring pembangunan Jalan Groote Postweg yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan itu kemudian dikenal sebagai Jalan Asia Afrika. Kehadiran jalur utama ini mengubah wajah Bandung secara drastis, termasuk Masjid Raya.

Pada 1850, masjid diperluas dan diperkuat. Atap rumbia diganti genteng tanah liat, dinding bambu berganti bata. Perluasan dilakukan atas perintah Bupati R.A. Wiranatakusumah IV yang menginginkan masjid mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Pada masa inilah bentuk arsitektur masjid mulai mendapat perhatian.

Dua tahun kemudian, pelukis Inggris W. Spreat mengabadikan Masjid Agung Bandung dalam sebuah lukisan. Dari karya itu tampak atap limas bertumpuk tiga yang menjulang tinggi. Bentuk ini kemudian dikenal sebagai bale nyungcung dalam tradisi Sunda. Atap tersebut menjadi ciri khas masjid selama puluhan tahun, sekaligus penanda identitas lokal di tengah kota kolonial.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Pada 1875, pondasi masjid diperkuat dengan batu. Kompleksnya dipagari tembok bata bermotif sisik ikan, pola yang juga ditemukan di Pendopo Bandung. Motif ini bukan hiasan semata, melainkan simbol kesinambungan antara kekuasaan dan spiritualitas di ruang publik kota.

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Dari Konferensi Asia Afrika hingga Masjid Provinsi

Memasuki abad ke-20, Masjid Raya Bandung terus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan kota. Pada 1900, ruang salat diperluas dengan penambahan serambi tertutup di sisi utara dan selatan. Penambahan ini mengakomodasi lonjakan jamaah seiring berkembangnya Bandung sebagai kota pendidikan dan militer.

Renovasi berikutnya terjadi pada 1930. Arsitek Henri Maclaine Pont terlibat dalam perombakan fasad depan. Atap dua tingkat ditambahkan di bagian serambi, meniru bentuk atap utama. Dua menara dibangun di sisi kiri dan kanan bangunan, masing-masing berpuncak atap menyerupai nyungcung. Tampilan masjid menjadi lebih simetris dan monumental.

Namun, perubahan paling radikal terjadi menjelang Konferensi Asia Afrika 1955. Atas gagasan Presiden Soekarno, masjid dirombak total. Atap nyungcung diganti kubah bergaya Timur Tengah berbentuk bawang. Menara kembar dan serambi dibongkar. Ruang dalam dijadikan satu aula besar dengan halaman yang menyempit.

Masjid yang baru ini digunakan oleh para delegasi Konferensi Asia Afrika yang berlangsung di Gedung Merdeka. Lokasinya yang berdekatan dengan Hotel Savoy Homann menjadikan masjid bagian dari lintasan sejarah diplomasi dunia. Para pemimpin Asia dan Afrika, dari Jawaharlal Nehru hingga Gamal Abdel Nasser, tercatat singgah dan beribadah di sana.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Kubah bawang rancangan Soekarno tidak bertahan lama. Setelah rusak akibat angin kencang, kubah diperbaiki pada 1967, lalu diganti bentuknya pada 1970. Pada 1973, berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Barat, masjid kembali direnovasi besar-besaran. Lantai diperluas dan dibuat bertingkat. Basement difungsikan sebagai tempat wudhu, lantai dasar untuk salat utama, dan lantai atas sebagai mezanin.

Perubahan paling menentukan terjadi pada awal 2000-an. Renovasi total dimulai pada 2001 bersamaan dengan penataan ulang Alun-alun Bandung. Masjid dan alun-alun dirancang sebagai satu kesatuan ruang publik. Proyek ini selesai pada 2003 dan diresmikan oleh Gubernur H.R. Nuriana. Sejak itu, namanya resmi menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Bangunan baru dirancang oleh empat arsitek Bandung, dengan kubah utama setengah bola berdiameter 30 meter dan dua kubah pendamping. Dua menara kembar setinggi 81 meter berdiri mengapit bangunan utama. Ketinggian itu disesuaikan dengan batas wilayah udara Bandara Husein Sastranegara. Di puncak menara, paviliun kecil menyerupai atap nyungcung lama dipasang sebagai penghormatan pada sejarah.

Kini, Masjid Raya Bandung berdiri di atas lahan lebih dari 23 ribu meter persegi, mampu menampung sekitar 13 ribu jamaah. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial, budaya, dan wisata religi. Di tengah riuh kota, masjid ini tetap menjadi penanda waktu, mengingatkan bahwa Bandung tumbuh bersama sejarah, konflik, dan perubahan yang panjang.

Belakangan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan dukungan pembiayaan operasional Masjid Raya Bandung sejak awal Januari 2026. Kebijakan ini diambil dengan alasan masjid yang berada di kawasan Alun-alun Bandung tersebut tidak tercatat sebagai aset milik Pemprov Jabar, melainkan aset wakaf. Dampaknya, selain penghentian dukungan keuangan rutin, sebanyak 23 staf yang sebelumnya bekerja melalui skema alih daya juga ditarik.

Keputusan itu dinilai ironis mengingat masjid berusia lebih dari 200 tahun tersebut telah lama ditetapkan sebagai Masjid Raya Provinsi Jawa Barat melalui Keputusan Gubernur Jabar tahun 2002. Masjid Raya Bandung kini menghadapi 135 titik kerusakan bangunan yang membutuhkan penanganan serius.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pemprov di sisi lain mengklaim penghentian dukungan operasional bukan berarti mereka mundur sepenuhnya. Keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan sejak pertengahan 2025 dan diformalkan pada Oktober 2025 demi menghindari pelanggaran regulasi. Pemprov Jabar disebut masih dapat memberikan dukungan melalui skema hibah atau bantuan lain yang diperbolehkan aturan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 20:11

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:20

Saat Medium Musik Menjadi Jembatan Emosi antara Institusi dan Publik

Konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik.

konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik. (Sumber: https://newsroom.spotify.com)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:01

Bagaimana Perusahaan Kosmetik Global Membentuk Opini Publik di Era Media Sosial?

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan.

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan. (Ilustrasi oleh AI)
Wisata & Kuliner 22 Jul 2026, 17:45

Wisata Edukasi Museum ITB Sabuga: Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Berencana mengunjungi Museum ITB? Ketahui harga tiket, cara pemesanan online, jam buka, lokasi, dan fasilitas museum terbaru di Kampus Ganesha Bandung.

Museum ITB. (Sumber: Instagram @indonesiaartdocumentary)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 17:15

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Sepanjang jalan dengan pemandangan pohon berwarna putih saya kira karena warnanya ternyata ada serpihan debu dari pertambangan. Dampaknya terhadap gangguan pernapasan perlu diperhatikan

Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 16:48

Festival Film Bandung, Jejak Panjang Apresiasi Independen Perfilman Indonesia

Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional.

Pengumuman daftar nominasi Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang digelar di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 16 Juli 2026. (Foto: Ratna Ayu Budhiarti)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 15:10

Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

Parkir kendaraan konvensional di area pengisian daya bukan sekadar pelanggaran etika. Praktik ini dapat mengganggu fungsi SPKLU, mengurangi keandalan layanan, dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 13:14

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang nyaris sempurna.

Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ikon 22 Jul 2026, 12:58

Pempek Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Sejarah dari Era Sriwijaya

Pempek Palembang bukan sekadar makanan khas Sumatera Selatan. Simak sejarah, bahan utama, jenis-jenis pempek, dan kisah cuko yang membuatnya mendunia.

Pempek Palembang, salah satu kuliner legendaris Indonesia.
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 11:02

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Pendakian tektok ke Gunung Pangradinan membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya soal puncak, tetapi juga orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.

Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 22 Jul 2026, 08:33

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober membuat debit air Situ Ciburuy terus surut, hingga dasar bendungan bersejarah berusia satu abad itu mulai terlihat.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)