Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 07 Jan 2026, 12:55 WIB
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pagi Bandung pada awal abad ke-19 belum seramai sekarang. Jalan belum bernama Asia Afrika. Alun-alun hanyalah tanah lapang berumput yang dipakai rakyat berkumpul, berjualan, dan menghadap kekuasaan. Di sisi lapangan itulah berdiri sebuah bangunan ibadah yang kelak menjadi salah satu penanda sejarah kota. Masjid Raya Bandung lahir bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai bagian dari tata kota kolonial yang baru tumbuh.

Masjid itu pertama kali didirikan pada 1812, bertepatan dengan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak ke wilayah yang kini dikenal sebagai pusat Kota Bandung. Perpindahan ini merupakan bagian dari penataan administratif Hindia Belanda, yang menempatkan alun-alun sebagai pusat simbolik kekuasaan. Di satu sisi berdiri pendopo bupati, di sisi lain pasar, dan di sisi barat berdiri masjid.

Bangunan awal Masjid Raya Bandung jauh dari kesan monumental. Struktur utamanya berbahan kayu, dindingnya dari anyaman bambu, dan atapnya rumbia bertumpuk. Lantainya ditinggikan seperti rumah panggung. Namun, sejak awal masjid ini tidak sekadar ruang ibadah. Di halaman terdapat kolam besar yang berfungsi sebagai tempat wudhu sekaligus sumber air bagi kawasan sekitarnya.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Kolam itu kelak tercatat dalam sejarah. Ketika kebakaran besar melanda kawasan alun-alun pada 1825, air dari kolam masjid digunakan untuk memadamkan api. Peristiwa itu menunjukkan bagaimana masjid menjadi bagian dari sistem hidup kota, bukan bangunan terpisah dari keseharian warga.

Pengelolaan masjid berada langsung di bawah Bupati Bandung, sementara operasional keagamaannya dijalankan oleh penghulu. Pola ini mencerminkan relasi erat antara kekuasaan lokal dan agama di tanah Priangan pada masa kolonial. Masjid bukan hanya tempat salat, melainkan ruang legitimasi sosial dan politik.

Renovasi pertama dilakukan pada 1826. Anyaman bambu mulai diganti dengan kayu yang lebih kuat. Perubahan ini bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan penanda bahwa Bandung mulai bertransformasi dari permukiman administratif menjadi kota yang direncanakan lebih serius.

Perubahan besar terjadi pada pertengahan abad ke-19, seiring pembangunan Jalan Groote Postweg yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan itu kemudian dikenal sebagai Jalan Asia Afrika. Kehadiran jalur utama ini mengubah wajah Bandung secara drastis, termasuk Masjid Raya.

Pada 1850, masjid diperluas dan diperkuat. Atap rumbia diganti genteng tanah liat, dinding bambu berganti bata. Perluasan dilakukan atas perintah Bupati R.A. Wiranatakusumah IV yang menginginkan masjid mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Pada masa inilah bentuk arsitektur masjid mulai mendapat perhatian.

Dua tahun kemudian, pelukis Inggris W. Spreat mengabadikan Masjid Agung Bandung dalam sebuah lukisan. Dari karya itu tampak atap limas bertumpuk tiga yang menjulang tinggi. Bentuk ini kemudian dikenal sebagai bale nyungcung dalam tradisi Sunda. Atap tersebut menjadi ciri khas masjid selama puluhan tahun, sekaligus penanda identitas lokal di tengah kota kolonial.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Pada 1875, pondasi masjid diperkuat dengan batu. Kompleksnya dipagari tembok bata bermotif sisik ikan, pola yang juga ditemukan di Pendopo Bandung. Motif ini bukan hiasan semata, melainkan simbol kesinambungan antara kekuasaan dan spiritualitas di ruang publik kota.

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Dari Konferensi Asia Afrika hingga Masjid Provinsi

Memasuki abad ke-20, Masjid Raya Bandung terus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan kota. Pada 1900, ruang salat diperluas dengan penambahan serambi tertutup di sisi utara dan selatan. Penambahan ini mengakomodasi lonjakan jamaah seiring berkembangnya Bandung sebagai kota pendidikan dan militer.

Renovasi berikutnya terjadi pada 1930. Arsitek Henri Maclaine Pont terlibat dalam perombakan fasad depan. Atap dua tingkat ditambahkan di bagian serambi, meniru bentuk atap utama. Dua menara dibangun di sisi kiri dan kanan bangunan, masing-masing berpuncak atap menyerupai nyungcung. Tampilan masjid menjadi lebih simetris dan monumental.

Namun, perubahan paling radikal terjadi menjelang Konferensi Asia Afrika 1955. Atas gagasan Presiden Soekarno, masjid dirombak total. Atap nyungcung diganti kubah bergaya Timur Tengah berbentuk bawang. Menara kembar dan serambi dibongkar. Ruang dalam dijadikan satu aula besar dengan halaman yang menyempit.

Masjid yang baru ini digunakan oleh para delegasi Konferensi Asia Afrika yang berlangsung di Gedung Merdeka. Lokasinya yang berdekatan dengan Hotel Savoy Homann menjadikan masjid bagian dari lintasan sejarah diplomasi dunia. Para pemimpin Asia dan Afrika, dari Jawaharlal Nehru hingga Gamal Abdel Nasser, tercatat singgah dan beribadah di sana.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Kubah bawang rancangan Soekarno tidak bertahan lama. Setelah rusak akibat angin kencang, kubah diperbaiki pada 1967, lalu diganti bentuknya pada 1970. Pada 1973, berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Barat, masjid kembali direnovasi besar-besaran. Lantai diperluas dan dibuat bertingkat. Basement difungsikan sebagai tempat wudhu, lantai dasar untuk salat utama, dan lantai atas sebagai mezanin.

Perubahan paling menentukan terjadi pada awal 2000-an. Renovasi total dimulai pada 2001 bersamaan dengan penataan ulang Alun-alun Bandung. Masjid dan alun-alun dirancang sebagai satu kesatuan ruang publik. Proyek ini selesai pada 2003 dan diresmikan oleh Gubernur H.R. Nuriana. Sejak itu, namanya resmi menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Bangunan baru dirancang oleh empat arsitek Bandung, dengan kubah utama setengah bola berdiameter 30 meter dan dua kubah pendamping. Dua menara kembar setinggi 81 meter berdiri mengapit bangunan utama. Ketinggian itu disesuaikan dengan batas wilayah udara Bandara Husein Sastranegara. Di puncak menara, paviliun kecil menyerupai atap nyungcung lama dipasang sebagai penghormatan pada sejarah.

Kini, Masjid Raya Bandung berdiri di atas lahan lebih dari 23 ribu meter persegi, mampu menampung sekitar 13 ribu jamaah. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial, budaya, dan wisata religi. Di tengah riuh kota, masjid ini tetap menjadi penanda waktu, mengingatkan bahwa Bandung tumbuh bersama sejarah, konflik, dan perubahan yang panjang.

Belakangan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan dukungan pembiayaan operasional Masjid Raya Bandung sejak awal Januari 2026. Kebijakan ini diambil dengan alasan masjid yang berada di kawasan Alun-alun Bandung tersebut tidak tercatat sebagai aset milik Pemprov Jabar, melainkan aset wakaf. Dampaknya, selain penghentian dukungan keuangan rutin, sebanyak 23 staf yang sebelumnya bekerja melalui skema alih daya juga ditarik.

Keputusan itu dinilai ironis mengingat masjid berusia lebih dari 200 tahun tersebut telah lama ditetapkan sebagai Masjid Raya Provinsi Jawa Barat melalui Keputusan Gubernur Jabar tahun 2002. Masjid Raya Bandung kini menghadapi 135 titik kerusakan bangunan yang membutuhkan penanganan serius.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pemprov di sisi lain mengklaim penghentian dukungan operasional bukan berarti mereka mundur sepenuhnya. Keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan sejak pertengahan 2025 dan diformalkan pada Oktober 2025 demi menghindari pelanggaran regulasi. Pemprov Jabar disebut masih dapat memberikan dukungan melalui skema hibah atau bantuan lain yang diperbolehkan aturan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)