Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

AYOBANDUNG.ID - Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota dengan udara sejuk dan deretan cafe with a view. Kota ini juga punya satu kebiasaan sosial yang nyaris sakral: pulang dari Bandung harus bawa oleh-oleh. Tradisi ini sudah hidup jauh sebelum istilah wisata kuliner menjadi jargon pemasaran.

Dari sinilah sejarah oleh-oleh Bandung berkembang dengan pelan dan penuh cerita. Bermula dari singkong fermentasi bernama peuyeum hingga masa kejayaan pisang bolen yang kini nyaris wajib masuk bagasi siapa pun yang mampir ke Kota Kembang.

Sejarah oleh-oleh Bandung sejatinya adalah sejarah perubahan selera, perubahan kelas sosial, sekaligus perubahan cara orang memandang makanan. Ia bergerak dari kampung ke toko, dari daun pisang ke kardus berlogo, dari aroma fermentasi ke wangi mentega. Namun benang merahnya satu: oleh-oleh selalu menjadi penanda bahwa seseorang pernah singgah, pernah merasakan, lalu ingin berbagi.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Jauh sebelum tiramisusu dan cheesecuit yang kebarat-baratan itu kini berjaya, peuyeum adalah raja oleh-oleh Bandung. Sejarah peuyeum sebagai sebuah sajian kuliner hingga masuk daftar oleh-oleh khas Bandung ini sebetulnya syarat dengan bumbu ironi. Pasalnya, makanan ini bukanlah produk yang lahir dari ambisi dagang, melainkan dari kebutuhan bertahan hidup.

Kisah peuyeum tidak bisa dipisahkan dari sejarah kelam masa kolonial. Ketika pemerintah Hindia Belanda menjadikan singkong sebagai tanaman wajib di Priangan pada akhir abad ke-19, masyarakat Sunda menghadapi dilema. Singkong memang mudah ditanam dan murah, namun rasanya hambar dan teksturnya keras. Ia tidak sebanding dengan beras yang menjadi makanan utama. Tapi dalam kesulitan itulah kreativitas lahir.

Entah siapa yang pertama kali menemukan teknik fermentasi singkong dengan ragi tape, namun hasilnya mengubah segalanya. Singkong yang keras dan hambar berubah menjadi peuyeum yang lembut, manis, sedikit asam, dan beraroma khas. Lebih dari itu, fermentasi membuat singkong lebih tahan lama dan nilai gizinya meningkat. Teknik ini menyebar dari kampung ke kampung, menjadi pengetahuan kolektif yang diwariskan dari ibu ke anak, dari tetangga ke tetangga.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Pada masa pemerintahan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara antara 1893 hingga 1918, singkong ditanam secara masif untuk diolah menjadi tepung tapioka yang diekspor ke Belanda. Namun di kalangan rakyat jelata, singkong lebih sering menjadi peuyeum.

Ketika peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada Maret 1946, peuyeum juga disebut menjadi bekal para pejuang Tentara Rakyat yang meninggalkan kota untuk bergerilya. Makanan sederhana ini memberi energi bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Dari makanan survival, peuyeum naik derajat menjadi makanan patriotik.

Dalam perjalanan waktu, peuyeum perlahan keluar dari dapur rumah dan masuk ke ruang ekonomi. Sentra-sentra produksi bermunculan di wilayah Bandung Barat, terutama Cipatat dan Cimenyan. Pada pertengahan abad ke-20, hampir setiap rumah di kampung-kampung tersebut memiliki sudut khusus untuk fermentasi singkong. Peuyeum diproduksi massal, dijual kiloan, dan dibungkus daun jati atau daun pisang yang lembap.

Baca Juga: Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

Ketika Bandung mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik pada era 1970–1980-an, penggunaan jalur darat Bandung–Jakarta yang padat menjadikan peuyeum sebagai oleh-oleh praktis, murah, dan khas. Lapak-lapak peuyeum berjejer di pinggir jalan, menawarkan rasa manis alami yang tidak ditemukan di kota besar. Sejak itu, popularitasnya melesat, apalagi ketika peuyeum masuk ke lagu populer dan cerita lisan. Dari makanan rakyat, peuyeum naik pangkat menjadi identitas.

Tetapi di balik kejayaannya, peuyeum menyimpan keterbatasan. Daya tahannya pendek. Aromanya kuat. Kemasannya basah. Nilai prestisenya juga terbatas. Peuyeum lezat, namun sulit bersaing dengan selera kelas menengah baru yang mulai mencari oleh-oleh lebih rapi, lebih tahan lama, dan lebih modern. Di titik inilah sejarah oleh-oleh Bandung mulai berbelok.

Pisang Bolen jadi Primadona Baru

Sementara peuyeum menguasai jalanan, dapur-dapur rumah di Bandung menyimpan benih revolusi. Teknik pastry peninggalan kolonial Belanda masih bertahan di kalangan tertentu, terutama keluarga yang akrab dengan kue panggang dan mentega. Puff pastry, adonan berlapis yang renyah, bertemu dengan bahan lokal yang murah dan mudah ditemukan: pisang.

Dari pertemuan itulah pisang bolen lahir. Awalnya, kue ini bukan produk massal. Ia hadir sebagai kue rumahan, sajian hajatan, atau pesanan terbatas. Bentuknya pun sederhana, sering kali menyerupai molen. Belum ada yang menganggapnya sebagai ikon oleh-oleh.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Perubahan besar terjadi pada pertengahan 1980-an ketika pisang bolen diproduksi secara serius dan konsisten oleh Kartika Sari yang saat itu adalah sebuah toko kue rumahan di kawasan Kebon Kawung. Inovasi terbesarnya bukanlah pada resep, melainkan pada bentuk. Pisang bolen tradisional berbentuk lonjong atau dipilin seperti molen. Kartika Sari mengubahnya menjadi bentuk bulat yang lebih compact dan menarik. Bentuk ini tidak hanya lebih mudah dikemas dan dibawa, tetapi juga memberikan rasio pastry dan pisang yang lebih seimbang dalam setiap gigitan. Sederhana, namun game-changing.

Pisang Bolen yang jadi oleh-oleh khas Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: Iain Cameron)
Pisang Bolen yang jadi oleh-oleh khas Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: Iain Cameron)

Respons pasar terhadap pisang bolen Kartika Sari luar biasa. Dalam waktu singkat, toko kecil di Kebon Kawung dipenuhi antrean pembeli. Yang datang bukan hanya warga lokal, tetapi wisatawan dari Jakarta dan kota-kota lain yang mendengar kabar tentang kue ajaib ini. Pisang bolen Kartika Sari bukan hanya enak: ia menciptakan pengalaman baru. Setiap gigitan memberikan kontras tekstur yang sempurna: krispi pastry yang berlapis-lapis, lembut pisang yang manis, dan aroma mentega yang kaya.

Yang membuat pisang bolen semakin popular adalah kepraktisannya dibandingkan peuyeum. Pisang bolen bisa bertahan hingga beberapa hari tanpa pendingin, bahkan lebih lama jika disimpan dalam kulkas. Kemasannya jauh lebih praktis: kotak kardus yang rapi, mudah dibawa dalam perjalanan. Tidak ada aroma menyengat seperti peuyeum. Dan yang paling penting, pisang bolen memiliki "prestise" yang lebih tinggi—ia adalah produk modern, produk toko, bukan produk kampung.

Kesuksesan pisang bolen mengubah lanskap oleh-oleh Bandung secara drastis. Model toko khusus oleh-oleh mulai bermunculan. Produk unggulan menjadi identitas merek. Konsumen datang bukan lagi karena kebetulan lewat, melainkan karena tujuan. Dari sinilah era oleh-oleh modern Bandung dimulai.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Kompetisi pun ikut memanas. Awal 1990-an melahirkan pemain baru dengan produk berbeda, seperti brownies panggang. Oleh-oleh Bandung tidak lagi tunggal. Kota ini berubah menjadi etalase rasa: ada yang manis legit, ada yang cokelat pekat, ada yang tetap setia pada fermentasi singkong.

Pada tahun 1992, muncul kompetitor serius: Prima Rasa dengan brownies panggang mereka. Jika Kartika Sari memodernkan pastry tradisional, Prima Rasa membawa konsep brownies Amerika yang sedang tren ke Bandung. Brownies Prima Rasa dengan topping almond, mede, keju, dan choco chip menjadi alternatif menarik bagi wisatawan yang mencari sesuatu yang berbeda. Munculnya Prima Rasa menandai bahwa pasar oleh-oleh Bandung telah berevolusi dari era monopoli peuyeum ke era kompetisi produk-produk modern.

Kompetisi ini ternyata memacu inovasi. Kartika Sari merespons dengan diversifikasi produk. Mereka menambahkan berbagai variasi bolen dengan isian keju, cokelat, durian, dan kacang hijau. Prima Rasa juga mengembangkan berbagai varian brownies. Toko-toko lain seperti Mayasari Bakery dan Amanda Brownies bermunculan, masing-masing dengan produk unggulan mereka sendiri. Bahkan peuyeum ikut beradaptasi, tampil dengan kemasan lebih modern dan variasi rasa baru. Bandung berubah dari kota dengan satu jenis oleh-oleh dominan (peuyeum) menjadi kota dengan beragam pilihan oleh-oleh premium.

Transformasi dari peuyeum ke pisang bolen bukan sekadar perubahan selera, melainkan cermin pergeseran sosial-ekonomi masyarakat Indonesia. Peuyeum lahir dari era keterbatasan, ketika singkong diolah dengan pengetahuan tradisional dan dijual secara sederhana. Ia merepresentasikan kearifan lokal, ketekunan, serta kreativitas masyarakat Sunda dalam menghadapi kondisi yang serba terbatas.

Pisang bolen tumbuh dalam konteks berbeda. Ia hadir di era pembangunan, ketika teknologi, standar produksi modern, dan strategi pemasaran mulai dominan. Produk ini menjadi simbol aspirasi, modernitas, dan kepercayaan diri kota seperti Bandung untuk bersaing di ruang yang lebih luas. Membawa pulang pisang bolen berarti membawa citra kota yang rapi, progresif, dan kosmopolitan.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Perubahan itu tidak menyingkirkan peuyeum sepenuhnya. Di sentra seperti Cipatat, peuyeum tetap bertahan, meskipun tentu saja pamornya sudah kalah jauh dan diakui atau tidak audah bisa dibilang terancan punah.

Hari ini, oleh-oleh Bandung terus berevolusi. Media sosial melahirkan tren baru. Dessert box, roti sobek, hingga camilan viral silih berganti mencuri perhatian. Namun pisang bolen tetap bertahan sebagai ikon, sementara peuyeum tetap dikenang sebagai fondasi. Keduanya menandai dua bab penting dalam sejarah kuliner Bandung.

Pada akhirnya, oleh-oleh bukan sekadar soal rasa. Ia adalah cara sebuah kota dikenang. Peuyeum dan pisang bolen, dengan segala perbedaannya, sama-sama membawa pesan sederhana: Bandung pernah memberi rasa, dan rasa itu layak dibagikan. Dari singkong fermentasi hingga pastry berlapis mentega, perjalanan oleh-oleh Bandung adalah perjalanan sebuah kota yang terus belajar mengolah tradisi menjadi identitas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)