Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 29 Des 2025, 13:11 WIB
Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

AYOBANDUNG.ID - Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota dengan udara sejuk dan deretan cafe with a view. Kota ini juga punya satu kebiasaan sosial yang nyaris sakral: pulang dari Bandung harus bawa oleh-oleh. Tradisi ini sudah hidup jauh sebelum istilah wisata kuliner menjadi jargon pemasaran.

Dari sinilah sejarah oleh-oleh Bandung berkembang dengan pelan dan penuh cerita. Bermula dari singkong fermentasi bernama peuyeum hingga masa kejayaan pisang bolen yang kini nyaris wajib masuk bagasi siapa pun yang mampir ke Kota Kembang.

Sejarah oleh-oleh Bandung sejatinya adalah sejarah perubahan selera, perubahan kelas sosial, sekaligus perubahan cara orang memandang makanan. Ia bergerak dari kampung ke toko, dari daun pisang ke kardus berlogo, dari aroma fermentasi ke wangi mentega. Namun benang merahnya satu: oleh-oleh selalu menjadi penanda bahwa seseorang pernah singgah, pernah merasakan, lalu ingin berbagi.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Jauh sebelum tiramisusu dan cheesecuit yang kebarat-baratan itu kini berjaya, peuyeum adalah raja oleh-oleh Bandung. Sejarah peuyeum sebagai sebuah sajian kuliner hingga masuk daftar oleh-oleh khas Bandung ini sebetulnya syarat dengan bumbu ironi. Pasalnya, makanan ini bukanlah produk yang lahir dari ambisi dagang, melainkan dari kebutuhan bertahan hidup.

Kisah peuyeum tidak bisa dipisahkan dari sejarah kelam masa kolonial. Ketika pemerintah Hindia Belanda menjadikan singkong sebagai tanaman wajib di Priangan pada akhir abad ke-19, masyarakat Sunda menghadapi dilema. Singkong memang mudah ditanam dan murah, namun rasanya hambar dan teksturnya keras. Ia tidak sebanding dengan beras yang menjadi makanan utama. Tapi dalam kesulitan itulah kreativitas lahir.

Entah siapa yang pertama kali menemukan teknik fermentasi singkong dengan ragi tape, namun hasilnya mengubah segalanya. Singkong yang keras dan hambar berubah menjadi peuyeum yang lembut, manis, sedikit asam, dan beraroma khas. Lebih dari itu, fermentasi membuat singkong lebih tahan lama dan nilai gizinya meningkat. Teknik ini menyebar dari kampung ke kampung, menjadi pengetahuan kolektif yang diwariskan dari ibu ke anak, dari tetangga ke tetangga.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Pada masa pemerintahan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara antara 1893 hingga 1918, singkong ditanam secara masif untuk diolah menjadi tepung tapioka yang diekspor ke Belanda. Namun di kalangan rakyat jelata, singkong lebih sering menjadi peuyeum.

Ketika peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada Maret 1946, peuyeum juga disebut menjadi bekal para pejuang Tentara Rakyat yang meninggalkan kota untuk bergerilya. Makanan sederhana ini memberi energi bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Dari makanan survival, peuyeum naik derajat menjadi makanan patriotik.

Dalam perjalanan waktu, peuyeum perlahan keluar dari dapur rumah dan masuk ke ruang ekonomi. Sentra-sentra produksi bermunculan di wilayah Bandung Barat, terutama Cipatat dan Cimenyan. Pada pertengahan abad ke-20, hampir setiap rumah di kampung-kampung tersebut memiliki sudut khusus untuk fermentasi singkong. Peuyeum diproduksi massal, dijual kiloan, dan dibungkus daun jati atau daun pisang yang lembap.

Baca Juga: Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

Ketika Bandung mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik pada era 1970–1980-an, penggunaan jalur darat Bandung–Jakarta yang padat menjadikan peuyeum sebagai oleh-oleh praktis, murah, dan khas. Lapak-lapak peuyeum berjejer di pinggir jalan, menawarkan rasa manis alami yang tidak ditemukan di kota besar. Sejak itu, popularitasnya melesat, apalagi ketika peuyeum masuk ke lagu populer dan cerita lisan. Dari makanan rakyat, peuyeum naik pangkat menjadi identitas.

Tetapi di balik kejayaannya, peuyeum menyimpan keterbatasan. Daya tahannya pendek. Aromanya kuat. Kemasannya basah. Nilai prestisenya juga terbatas. Peuyeum lezat, namun sulit bersaing dengan selera kelas menengah baru yang mulai mencari oleh-oleh lebih rapi, lebih tahan lama, dan lebih modern. Di titik inilah sejarah oleh-oleh Bandung mulai berbelok.

Pisang Bolen jadi Primadona Baru

Sementara peuyeum menguasai jalanan, dapur-dapur rumah di Bandung menyimpan benih revolusi. Teknik pastry peninggalan kolonial Belanda masih bertahan di kalangan tertentu, terutama keluarga yang akrab dengan kue panggang dan mentega. Puff pastry, adonan berlapis yang renyah, bertemu dengan bahan lokal yang murah dan mudah ditemukan: pisang.

Dari pertemuan itulah pisang bolen lahir. Awalnya, kue ini bukan produk massal. Ia hadir sebagai kue rumahan, sajian hajatan, atau pesanan terbatas. Bentuknya pun sederhana, sering kali menyerupai molen. Belum ada yang menganggapnya sebagai ikon oleh-oleh.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Perubahan besar terjadi pada pertengahan 1980-an ketika pisang bolen diproduksi secara serius dan konsisten oleh Kartika Sari yang saat itu adalah sebuah toko kue rumahan di kawasan Kebon Kawung. Inovasi terbesarnya bukanlah pada resep, melainkan pada bentuk. Pisang bolen tradisional berbentuk lonjong atau dipilin seperti molen. Kartika Sari mengubahnya menjadi bentuk bulat yang lebih compact dan menarik. Bentuk ini tidak hanya lebih mudah dikemas dan dibawa, tetapi juga memberikan rasio pastry dan pisang yang lebih seimbang dalam setiap gigitan. Sederhana, namun game-changing.

Pisang Bolen yang jadi oleh-oleh khas Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: Iain Cameron)
Pisang Bolen yang jadi oleh-oleh khas Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: Iain Cameron)

Respons pasar terhadap pisang bolen Kartika Sari luar biasa. Dalam waktu singkat, toko kecil di Kebon Kawung dipenuhi antrean pembeli. Yang datang bukan hanya warga lokal, tetapi wisatawan dari Jakarta dan kota-kota lain yang mendengar kabar tentang kue ajaib ini. Pisang bolen Kartika Sari bukan hanya enak: ia menciptakan pengalaman baru. Setiap gigitan memberikan kontras tekstur yang sempurna: krispi pastry yang berlapis-lapis, lembut pisang yang manis, dan aroma mentega yang kaya.

Yang membuat pisang bolen semakin popular adalah kepraktisannya dibandingkan peuyeum. Pisang bolen bisa bertahan hingga beberapa hari tanpa pendingin, bahkan lebih lama jika disimpan dalam kulkas. Kemasannya jauh lebih praktis: kotak kardus yang rapi, mudah dibawa dalam perjalanan. Tidak ada aroma menyengat seperti peuyeum. Dan yang paling penting, pisang bolen memiliki "prestise" yang lebih tinggi—ia adalah produk modern, produk toko, bukan produk kampung.

Kesuksesan pisang bolen mengubah lanskap oleh-oleh Bandung secara drastis. Model toko khusus oleh-oleh mulai bermunculan. Produk unggulan menjadi identitas merek. Konsumen datang bukan lagi karena kebetulan lewat, melainkan karena tujuan. Dari sinilah era oleh-oleh modern Bandung dimulai.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Kompetisi pun ikut memanas. Awal 1990-an melahirkan pemain baru dengan produk berbeda, seperti brownies panggang. Oleh-oleh Bandung tidak lagi tunggal. Kota ini berubah menjadi etalase rasa: ada yang manis legit, ada yang cokelat pekat, ada yang tetap setia pada fermentasi singkong.

Pada tahun 1992, muncul kompetitor serius: Prima Rasa dengan brownies panggang mereka. Jika Kartika Sari memodernkan pastry tradisional, Prima Rasa membawa konsep brownies Amerika yang sedang tren ke Bandung. Brownies Prima Rasa dengan topping almond, mede, keju, dan choco chip menjadi alternatif menarik bagi wisatawan yang mencari sesuatu yang berbeda. Munculnya Prima Rasa menandai bahwa pasar oleh-oleh Bandung telah berevolusi dari era monopoli peuyeum ke era kompetisi produk-produk modern.

Kompetisi ini ternyata memacu inovasi. Kartika Sari merespons dengan diversifikasi produk. Mereka menambahkan berbagai variasi bolen dengan isian keju, cokelat, durian, dan kacang hijau. Prima Rasa juga mengembangkan berbagai varian brownies. Toko-toko lain seperti Mayasari Bakery dan Amanda Brownies bermunculan, masing-masing dengan produk unggulan mereka sendiri. Bahkan peuyeum ikut beradaptasi, tampil dengan kemasan lebih modern dan variasi rasa baru. Bandung berubah dari kota dengan satu jenis oleh-oleh dominan (peuyeum) menjadi kota dengan beragam pilihan oleh-oleh premium.

Transformasi dari peuyeum ke pisang bolen bukan sekadar perubahan selera, melainkan cermin pergeseran sosial-ekonomi masyarakat Indonesia. Peuyeum lahir dari era keterbatasan, ketika singkong diolah dengan pengetahuan tradisional dan dijual secara sederhana. Ia merepresentasikan kearifan lokal, ketekunan, serta kreativitas masyarakat Sunda dalam menghadapi kondisi yang serba terbatas.

Pisang bolen tumbuh dalam konteks berbeda. Ia hadir di era pembangunan, ketika teknologi, standar produksi modern, dan strategi pemasaran mulai dominan. Produk ini menjadi simbol aspirasi, modernitas, dan kepercayaan diri kota seperti Bandung untuk bersaing di ruang yang lebih luas. Membawa pulang pisang bolen berarti membawa citra kota yang rapi, progresif, dan kosmopolitan.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Perubahan itu tidak menyingkirkan peuyeum sepenuhnya. Di sentra seperti Cipatat, peuyeum tetap bertahan, meskipun tentu saja pamornya sudah kalah jauh dan diakui atau tidak audah bisa dibilang terancan punah.

Hari ini, oleh-oleh Bandung terus berevolusi. Media sosial melahirkan tren baru. Dessert box, roti sobek, hingga camilan viral silih berganti mencuri perhatian. Namun pisang bolen tetap bertahan sebagai ikon, sementara peuyeum tetap dikenang sebagai fondasi. Keduanya menandai dua bab penting dalam sejarah kuliner Bandung.

Pada akhirnya, oleh-oleh bukan sekadar soal rasa. Ia adalah cara sebuah kota dikenang. Peuyeum dan pisang bolen, dengan segala perbedaannya, sama-sama membawa pesan sederhana: Bandung pernah memberi rasa, dan rasa itu layak dibagikan. Dari singkong fermentasi hingga pastry berlapis mentega, perjalanan oleh-oleh Bandung adalah perjalanan sebuah kota yang terus belajar mengolah tradisi menjadi identitas.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)