AYOBANDUNG.ID - Bandung selalu punya cara unik memperlakukan makanan. Di kota ini, oleh-oleh bukan sekadar bekal pulang atau tanda bahwa seseorang sempat singgah. Oleh-oleh adalah pernyataan selera, status sosial kecil-kecilan, sekaligus bukti sah bahwa perjalanan benar-benar terjadi. Dari kantong plastik berisi peuyeum hingga box dessert berlapis krim yang harus dipeluk sepanjang perjalanan, sejarah oleh-oleh Bandung merekam perubahan zaman dengan cukup jujur—kadang berisik, kadang senyap, tapi nyaris selalu ramai.
Sebelum istilah viral menjadi mantra, Bandung sudah lama dikenal sebagai kota buah tangan. Peuyeum, kue balok, dan pisang bolen adalah generasi awal yang tumbuh dari kebutuhan sederhana. Peuyeum mewakili dapur rumah dan logika agraris, kue balok membawa aroma nostalgia kolonial, sementara pisang bolen mengajarkan bahwa makanan rumahan bisa tampil rapi dan pantas masuk kotak eksklusif. Ketika Kartika Sari mempopulerkan brownies kukus dan bolen sebagai oleh-oleh modern, Bandung sebenarnya sedang membangun fondasi: oleh-oleh boleh naik kelas, asal tetap ramah lidah.
Fondasi inilah yang kelak menjadi landasan kuat ketika gelombang baru datang. Gelombang itu bernama celebrity cake.
Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869
Fenomena kue artis tidak lahir di Bandung, tetapi Bandung yang membuatnya terdengar seperti konser stadion. Kehadiran celebrity cake di Indonesia bermula dari langkah Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar yang membuka Malang Strudel pada akhir 2014. Berangkat dari pengalaman berwisata di Eropa dan ketertarikan pada strudel khas Austria, keduanya melihat potensi Malang sebagai daerah penghasil apel. Resep Eropa itu kemudian diadaptasi dengan cita rasa lokal, lahirlah produk yang terasa asing sekaligus akrab. Malang Strudel bukan sekadar toko kue, melainkan cetak biru bisnis baru: selebriti sebagai wajah utama merek, nama kota sebagai identitas, promosi masif lewat media hiburan, serta penjualan eksklusif di satu daerah.
Kemunculan model ini segera menarik perhatian. Kesuksesan Malang Strudel mengubah cara pandang publik terhadap oleh-oleh. Membeli kue tidak lagi semata membawa buah tangan, tetapi juga membawa pulang sepotong cerita tentang gaya hidup, popularitas, dan dunia hiburan. Setahun kemudian, pola serupa diterapkan lewat Jogja Scrummy yang menawarkan brownies kukus berlapis pastry. Produk ini menambahkan dimensi sosial dengan melibatkan bahan lokal, menunjukkan bahwa kue artis juga bisa bersentuhan dengan isu ekonomi daerah.
Tapi, titik balik sebenarnya terjadi pada 2017 ketika Bandung menjadi episentrum celebrity cake nasional. Kehadiran Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membawa pendekatan branding yang lebih matang dan agresif. Produk dirancang ramah kamera, slogan lokal dipoles menjadi identitas emosional, dan distribusi dibuat strategis agar mudah dijangkau wisatawan. Bandung tidak hanya menjual kue, tetapi pengalaman: antre, memotret, lalu membawa pulang simbol tren terkini.
Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman
Ledakan pun tak terhindarkan. Dalam waktu singkat, puluhan merek kue artis bermunculan di berbagai kota. Setelah Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membuka jalan pada 2017, gelombang berikutnya datang hampir tanpa jeda. Prilly Latuconsina meluncurkan Really Cake, Nagita Slavina bersama Raffi Ahmad menghadirkan Gigieat Cake di Jakarta, Zaskia Sungkar membuka Surabaya Snow Cake, Irwansyah memperkenalkan Napoleon Medan, Syahrini merilis Princess Cake, sementara Ayu Ting Ting ikut meramaikan pasar dengan Kuenya Ayu.
Di kota-kota lain, Ruben Onsu dan Sarwendah mencoba peruntungan lewat Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe, Ricky Harun membuka Bosang Makassar, Vino G Bastian dan Marsha Timothy menghadirkan Vin Cake di Bandung, hingga Amy Qanita dengan Bandung Kanaya.
Dalam waktu singkat, peta oleh-oleh Indonesia dipenuhi kue artis. Polanya nyaris seragam. Nama selebriti menjadi magnet utama, kota dijadikan identitas rasa, dan peluncuran selalu dibarengi liputan media hiburan. Instagram dipenuhi foto box kue, antrean dijelaskan sebagai bukti sukses, dan konsumen berlomba membawa pulang produk yang sedang naik daun. Pada fase ini, celebrity cake tidak hanya menjual rasa, tetapi juga ilusi kedekatan dengan idola.
Tapi, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Satu per satu merek mulai menghilang. Bandung Kanaya tutup pada 2018 dan tidak pernah kembali meski sempat menjanjikan kejutan. Pisjo Cake berhenti beroperasi pada tahun yang sama, disusul Bosang Makassar yang hanya bertahan singkat setelah dibuka. Ruben Onsu dan Sarwendah mundur dari manajemen Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe hanya beberapa bulan setelah euforia awal. Princess Cake milik Syahrini perlahan menghilang dari radar, begitu pula beberapa merek lain yang sebelumnya ramai diberitakan.
Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu
Kejatuhan massal ini menunjukkan sisi rapuh bisnis yang terlalu bertumpu pada popularitas. Pasar yang cepat jenuh menjadi faktor utama. Terlalu banyak produk serupa muncul dalam waktu singkat, membuat konsumen kehilangan rasa penasaran. Di saat yang sama, kualitas produk tidak selalu konsisten. Ekspektasi tinggi yang dibangun oleh promosi sering kali tidak sebanding dengan pengalaman nyata, memicu kekecewaan yang menyebar cepat di media sosial.
Celebrity cake akhirnya tercatat sebagai fase penting dalam sejarah oleh-oleh Indonesia: sebuah periode ketika popularitas bisa dipanggang bersama adonan, tetapi tidak selalu cukup kuat untuk bertahan lama.
Bandung tidak runtuh bersama surutnya hype. Pebisnis di kota ini berbelok, kembali menguatkan satu hal yang sejak awal dimilikinya: keberanian bereksperimen dengan rasa.
Baca Juga: Bandung Kota Oleh-oleh yang Menjanjikan Potensi Bisnis dan Cerita Budaya
Tiramisusu dan Dessert Generasi Baru
Setelah euforia kue artis mereda, oleh-oleh Bandung memasuki fase yang lebih dinamis. Produk-produk baru muncul tanpa membawa nama besar, tetapi hadir dengan keyakinan penuh pada kualitas. Bolu susu yang juga mencuat di periode 2017-an, atau bolu bakar dan panganan yang lebih dulu sohor sebelumnya seperti ubi Cilembu perlahan kembali ke pusat perhatian. Mereka tidak berteriak, tetapi konsisten. Di antara mereka, pernah ada juga keripik pedas yang sempat menjadi ikon primadona namun berumur tak terlalu panjang masa jayanya.
Belakangan, muncul Tiramisusu yang mencuri perhatian sebagai oleh-oleh Bandung kekinian. Dessert ini tidak menjual figur di baliknya, melainkan pengalaman makan itu sendiri. Lapisan-lapisannya disusun rapi, teksturnya lembut, dan rasanya kompleks tanpa berisik. Daya tahannya yang singkat justru menjadi keunikan. Membeli Tiramisusu terasa seperti membawa benda rapuh yang harus dijaga, bukan oleh-oleh yang bisa dilempar ke bagasi.

Platform media sosial kembali berperan, tetapi dengan logika berbeda. Jika sebelumnya wajah artis menjadi magnet, kini video sendok menembus lapisan krim menjadi daya pikat utama. Bandung sekali lagi memimpin tren, kali ini dengan pendekatan yang lebih tenang. Produk ini mengajarkan bahwa viral tidak harus gaduh.
Tidak lama berselang, Cheesecuit ikut mengisi lanskap oleh-oleh modern. Sederhana, terjangkau, dan mudah dikembangkan, dessert ini menunjukkan sisi lain Bandung sebagai inkubator ide UMKM. Tanpa oven canggih dan tanpa narasi megah, cheesecuit membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kesederhanaan. Harga yang ramah membuatnya cepat menyebar, sekaligus memperluas definisi oleh-oleh kekinian.
Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi
Di saat yang sama, produk lama tidak benar-benar tersingkir. Pisang bolen tetap dicari, brownies kukus masih diburu, dan ubi Cilembu menemukan kehidupan baru lewat media sosial. Yang berubah bukan produknya, melainkan cara orang memandangnya. Tradisi dan tren tidak lagi saling menyingkirkan, tetapi hidup berdampingan di rak yang sama.
Perjalanan oleh-oleh Bandung dari celebrity cake hingga tiramisusu menunjukkan pola yang berulang. Setiap fase dimulai dengan kejutan, mencapai puncak euforia, lalu menyisakan pelajaran. Celebrity cake mengajarkan kekuatan branding dan cerita. Dessert generasi baru menegaskan pentingnya kualitas dan konsistensi. Di tengah keduanya, Bandung tetap menjadi laboratorium terbuka bagi selera publik Indonesia.
Semuanya seolah berjalan dengan satu prinsip sederhana: oleh-oleh yang bertahan bukan yang paling keras dipromosikan, melainkan yang paling jujur pada rasanya. Tren boleh berganti, nama besar boleh datang dan pergi, tetapi kota ini selalu menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Selama Bandung terus bermain dengan rasa, kemasan, dan sedikit humor, sejarah oleh-olehnya akan terus bertambah panjang—dan koper wisatawan akan selalu pulang dengan cerita baru.
