Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)
Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)

AYOBANDUNG.ID - Bandung selalu punya cara unik memperlakukan makanan. Di kota ini, oleh-oleh bukan sekadar bekal pulang atau tanda bahwa seseorang sempat singgah. Oleh-oleh adalah pernyataan selera, status sosial kecil-kecilan, sekaligus bukti sah bahwa perjalanan benar-benar terjadi. Dari kantong plastik berisi peuyeum hingga box dessert berlapis krim yang harus dipeluk sepanjang perjalanan, sejarah oleh-oleh Bandung merekam perubahan zaman dengan cukup jujur—kadang berisik, kadang senyap, tapi nyaris selalu ramai.

Sebelum istilah viral menjadi mantra, Bandung sudah lama dikenal sebagai kota buah tangan. Peuyeum, kue balok, dan pisang bolen adalah generasi awal yang tumbuh dari kebutuhan sederhana. Peuyeum mewakili dapur rumah dan logika agraris, kue balok membawa aroma nostalgia kolonial, sementara pisang bolen mengajarkan bahwa makanan rumahan bisa tampil rapi dan pantas masuk kotak eksklusif. Ketika Kartika Sari mempopulerkan brownies kukus dan bolen sebagai oleh-oleh modern, Bandung sebenarnya sedang membangun fondasi: oleh-oleh boleh naik kelas, asal tetap ramah lidah.

Fondasi inilah yang kelak menjadi landasan kuat ketika gelombang baru datang. Gelombang itu bernama celebrity cake.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Fenomena kue artis tidak lahir di Bandung, tetapi Bandung yang membuatnya terdengar seperti konser stadion. Kehadiran celebrity cake di Indonesia bermula dari langkah Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar yang membuka Malang Strudel pada akhir 2014. Berangkat dari pengalaman berwisata di Eropa dan ketertarikan pada strudel khas Austria, keduanya melihat potensi Malang sebagai daerah penghasil apel. Resep Eropa itu kemudian diadaptasi dengan cita rasa lokal, lahirlah produk yang terasa asing sekaligus akrab. Malang Strudel bukan sekadar toko kue, melainkan cetak biru bisnis baru: selebriti sebagai wajah utama merek, nama kota sebagai identitas, promosi masif lewat media hiburan, serta penjualan eksklusif di satu daerah.

Kemunculan model ini segera menarik perhatian. Kesuksesan Malang Strudel mengubah cara pandang publik terhadap oleh-oleh. Membeli kue tidak lagi semata membawa buah tangan, tetapi juga membawa pulang sepotong cerita tentang gaya hidup, popularitas, dan dunia hiburan. Setahun kemudian, pola serupa diterapkan lewat Jogja Scrummy yang menawarkan brownies kukus berlapis pastry. Produk ini menambahkan dimensi sosial dengan melibatkan bahan lokal, menunjukkan bahwa kue artis juga bisa bersentuhan dengan isu ekonomi daerah.

Tapi, titik balik sebenarnya terjadi pada 2017 ketika Bandung menjadi episentrum celebrity cake nasional. Kehadiran Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membawa pendekatan branding yang lebih matang dan agresif. Produk dirancang ramah kamera, slogan lokal dipoles menjadi identitas emosional, dan distribusi dibuat strategis agar mudah dijangkau wisatawan. Bandung tidak hanya menjual kue, tetapi pengalaman: antre, memotret, lalu membawa pulang simbol tren terkini.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Ledakan pun tak terhindarkan. Dalam waktu singkat, puluhan merek kue artis bermunculan di berbagai kota. Setelah Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membuka jalan pada 2017, gelombang berikutnya datang hampir tanpa jeda. Prilly Latuconsina meluncurkan Really Cake, Nagita Slavina bersama Raffi Ahmad menghadirkan Gigieat Cake di Jakarta, Zaskia Sungkar membuka Surabaya Snow Cake, Irwansyah memperkenalkan Napoleon Medan, Syahrini merilis Princess Cake, sementara Ayu Ting Ting ikut meramaikan pasar dengan Kuenya Ayu.

Di kota-kota lain, Ruben Onsu dan Sarwendah mencoba peruntungan lewat Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe, Ricky Harun membuka Bosang Makassar, Vino G Bastian dan Marsha Timothy menghadirkan Vin Cake di Bandung, hingga Amy Qanita dengan Bandung Kanaya.

Dalam waktu singkat, peta oleh-oleh Indonesia dipenuhi kue artis. Polanya nyaris seragam. Nama selebriti menjadi magnet utama, kota dijadikan identitas rasa, dan peluncuran selalu dibarengi liputan media hiburan. Instagram dipenuhi foto box kue, antrean dijelaskan sebagai bukti sukses, dan konsumen berlomba membawa pulang produk yang sedang naik daun. Pada fase ini, celebrity cake tidak hanya menjual rasa, tetapi juga ilusi kedekatan dengan idola.

Tapi, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Satu per satu merek mulai menghilang. Bandung Kanaya tutup pada 2018 dan tidak pernah kembali meski sempat menjanjikan kejutan. Pisjo Cake berhenti beroperasi pada tahun yang sama, disusul Bosang Makassar yang hanya bertahan singkat setelah dibuka. Ruben Onsu dan Sarwendah mundur dari manajemen Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe hanya beberapa bulan setelah euforia awal. Princess Cake milik Syahrini perlahan menghilang dari radar, begitu pula beberapa merek lain yang sebelumnya ramai diberitakan.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Kejatuhan massal ini menunjukkan sisi rapuh bisnis yang terlalu bertumpu pada popularitas. Pasar yang cepat jenuh menjadi faktor utama. Terlalu banyak produk serupa muncul dalam waktu singkat, membuat konsumen kehilangan rasa penasaran. Di saat yang sama, kualitas produk tidak selalu konsisten. Ekspektasi tinggi yang dibangun oleh promosi sering kali tidak sebanding dengan pengalaman nyata, memicu kekecewaan yang menyebar cepat di media sosial.

Celebrity cake akhirnya tercatat sebagai fase penting dalam sejarah oleh-oleh Indonesia: sebuah periode ketika popularitas bisa dipanggang bersama adonan, tetapi tidak selalu cukup kuat untuk bertahan lama.

Bandung tidak runtuh bersama surutnya hype. Pebisnis di kota ini berbelok, kembali menguatkan satu hal yang sejak awal dimilikinya: keberanian bereksperimen dengan rasa.

Baca Juga: Bandung Kota Oleh-oleh yang Menjanjikan Potensi Bisnis dan Cerita Budaya

Tiramisusu dan Dessert Generasi Baru

Setelah euforia kue artis mereda, oleh-oleh Bandung memasuki fase yang lebih dinamis. Produk-produk baru muncul tanpa membawa nama besar, tetapi hadir dengan keyakinan penuh pada kualitas. Bolu susu yang juga mencuat di periode 2017-an, atau bolu bakar dan panganan yang lebih dulu sohor sebelumnya seperti ubi Cilembu perlahan kembali ke pusat perhatian. Mereka tidak berteriak, tetapi konsisten. Di antara mereka, pernah ada juga keripik pedas yang sempat menjadi ikon primadona namun berumur tak terlalu panjang masa jayanya.

Belakangan, muncul Tiramisusu yang mencuri perhatian sebagai oleh-oleh Bandung kekinian. Dessert ini tidak menjual figur di baliknya, melainkan pengalaman makan itu sendiri. Lapisan-lapisannya disusun rapi, teksturnya lembut, dan rasanya kompleks tanpa berisik. Daya tahannya yang singkat justru menjadi keunikan. Membeli Tiramisusu terasa seperti membawa benda rapuh yang harus dijaga, bukan oleh-oleh yang bisa dilempar ke bagasi.

Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)
Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)

Platform media sosial kembali berperan, tetapi dengan logika berbeda. Jika sebelumnya wajah artis menjadi magnet, kini video sendok menembus lapisan krim menjadi daya pikat utama. Bandung sekali lagi memimpin tren, kali ini dengan pendekatan yang lebih tenang. Produk ini mengajarkan bahwa viral tidak harus gaduh.

Tidak lama berselang, Cheesecuit ikut mengisi lanskap oleh-oleh modern. Sederhana, terjangkau, dan mudah dikembangkan, dessert ini menunjukkan sisi lain Bandung sebagai inkubator ide UMKM. Tanpa oven canggih dan tanpa narasi megah, cheesecuit membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kesederhanaan. Harga yang ramah membuatnya cepat menyebar, sekaligus memperluas definisi oleh-oleh kekinian.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Di saat yang sama, produk lama tidak benar-benar tersingkir. Pisang bolen tetap dicari, brownies kukus masih diburu, dan ubi Cilembu menemukan kehidupan baru lewat media sosial. Yang berubah bukan produknya, melainkan cara orang memandangnya. Tradisi dan tren tidak lagi saling menyingkirkan, tetapi hidup berdampingan di rak yang sama.

Perjalanan oleh-oleh Bandung dari celebrity cake hingga tiramisusu menunjukkan pola yang berulang. Setiap fase dimulai dengan kejutan, mencapai puncak euforia, lalu menyisakan pelajaran. Celebrity cake mengajarkan kekuatan branding dan cerita. Dessert generasi baru menegaskan pentingnya kualitas dan konsistensi. Di tengah keduanya, Bandung tetap menjadi laboratorium terbuka bagi selera publik Indonesia.

Semuanya seolah berjalan dengan satu prinsip sederhana: oleh-oleh yang bertahan bukan yang paling keras dipromosikan, melainkan yang paling jujur pada rasanya. Tren boleh berganti, nama besar boleh datang dan pergi, tetapi kota ini selalu menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Selama Bandung terus bermain dengan rasa, kemasan, dan sedikit humor, sejarah oleh-olehnya akan terus bertambah panjang—dan koper wisatawan akan selalu pulang dengan cerita baru.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)