Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 12:59 WIB
Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)

Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)

AYOBANDUNG.ID - Bandung selalu punya cara unik memperlakukan makanan. Di kota ini, oleh-oleh bukan sekadar bekal pulang atau tanda bahwa seseorang sempat singgah. Oleh-oleh adalah pernyataan selera, status sosial kecil-kecilan, sekaligus bukti sah bahwa perjalanan benar-benar terjadi. Dari kantong plastik berisi peuyeum hingga box dessert berlapis krim yang harus dipeluk sepanjang perjalanan, sejarah oleh-oleh Bandung merekam perubahan zaman dengan cukup jujur—kadang berisik, kadang senyap, tapi nyaris selalu ramai.

Sebelum istilah viral menjadi mantra, Bandung sudah lama dikenal sebagai kota buah tangan. Peuyeum, kue balok, dan pisang bolen adalah generasi awal yang tumbuh dari kebutuhan sederhana. Peuyeum mewakili dapur rumah dan logika agraris, kue balok membawa aroma nostalgia kolonial, sementara pisang bolen mengajarkan bahwa makanan rumahan bisa tampil rapi dan pantas masuk kotak eksklusif. Ketika Kartika Sari mempopulerkan brownies kukus dan bolen sebagai oleh-oleh modern, Bandung sebenarnya sedang membangun fondasi: oleh-oleh boleh naik kelas, asal tetap ramah lidah.

Fondasi inilah yang kelak menjadi landasan kuat ketika gelombang baru datang. Gelombang itu bernama celebrity cake.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Fenomena kue artis tidak lahir di Bandung, tetapi Bandung yang membuatnya terdengar seperti konser stadion. Kehadiran celebrity cake di Indonesia bermula dari langkah Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar yang membuka Malang Strudel pada akhir 2014. Berangkat dari pengalaman berwisata di Eropa dan ketertarikan pada strudel khas Austria, keduanya melihat potensi Malang sebagai daerah penghasil apel. Resep Eropa itu kemudian diadaptasi dengan cita rasa lokal, lahirlah produk yang terasa asing sekaligus akrab. Malang Strudel bukan sekadar toko kue, melainkan cetak biru bisnis baru: selebriti sebagai wajah utama merek, nama kota sebagai identitas, promosi masif lewat media hiburan, serta penjualan eksklusif di satu daerah.

Kemunculan model ini segera menarik perhatian. Kesuksesan Malang Strudel mengubah cara pandang publik terhadap oleh-oleh. Membeli kue tidak lagi semata membawa buah tangan, tetapi juga membawa pulang sepotong cerita tentang gaya hidup, popularitas, dan dunia hiburan. Setahun kemudian, pola serupa diterapkan lewat Jogja Scrummy yang menawarkan brownies kukus berlapis pastry. Produk ini menambahkan dimensi sosial dengan melibatkan bahan lokal, menunjukkan bahwa kue artis juga bisa bersentuhan dengan isu ekonomi daerah.

Tapi, titik balik sebenarnya terjadi pada 2017 ketika Bandung menjadi episentrum celebrity cake nasional. Kehadiran Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membawa pendekatan branding yang lebih matang dan agresif. Produk dirancang ramah kamera, slogan lokal dipoles menjadi identitas emosional, dan distribusi dibuat strategis agar mudah dijangkau wisatawan. Bandung tidak hanya menjual kue, tetapi pengalaman: antre, memotret, lalu membawa pulang simbol tren terkini.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Ledakan pun tak terhindarkan. Dalam waktu singkat, puluhan merek kue artis bermunculan di berbagai kota. Setelah Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membuka jalan pada 2017, gelombang berikutnya datang hampir tanpa jeda. Prilly Latuconsina meluncurkan Really Cake, Nagita Slavina bersama Raffi Ahmad menghadirkan Gigieat Cake di Jakarta, Zaskia Sungkar membuka Surabaya Snow Cake, Irwansyah memperkenalkan Napoleon Medan, Syahrini merilis Princess Cake, sementara Ayu Ting Ting ikut meramaikan pasar dengan Kuenya Ayu.

Di kota-kota lain, Ruben Onsu dan Sarwendah mencoba peruntungan lewat Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe, Ricky Harun membuka Bosang Makassar, Vino G Bastian dan Marsha Timothy menghadirkan Vin Cake di Bandung, hingga Amy Qanita dengan Bandung Kanaya.

Dalam waktu singkat, peta oleh-oleh Indonesia dipenuhi kue artis. Polanya nyaris seragam. Nama selebriti menjadi magnet utama, kota dijadikan identitas rasa, dan peluncuran selalu dibarengi liputan media hiburan. Instagram dipenuhi foto box kue, antrean dijelaskan sebagai bukti sukses, dan konsumen berlomba membawa pulang produk yang sedang naik daun. Pada fase ini, celebrity cake tidak hanya menjual rasa, tetapi juga ilusi kedekatan dengan idola.

Tapi, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Satu per satu merek mulai menghilang. Bandung Kanaya tutup pada 2018 dan tidak pernah kembali meski sempat menjanjikan kejutan. Pisjo Cake berhenti beroperasi pada tahun yang sama, disusul Bosang Makassar yang hanya bertahan singkat setelah dibuka. Ruben Onsu dan Sarwendah mundur dari manajemen Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe hanya beberapa bulan setelah euforia awal. Princess Cake milik Syahrini perlahan menghilang dari radar, begitu pula beberapa merek lain yang sebelumnya ramai diberitakan.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Kejatuhan massal ini menunjukkan sisi rapuh bisnis yang terlalu bertumpu pada popularitas. Pasar yang cepat jenuh menjadi faktor utama. Terlalu banyak produk serupa muncul dalam waktu singkat, membuat konsumen kehilangan rasa penasaran. Di saat yang sama, kualitas produk tidak selalu konsisten. Ekspektasi tinggi yang dibangun oleh promosi sering kali tidak sebanding dengan pengalaman nyata, memicu kekecewaan yang menyebar cepat di media sosial.

Celebrity cake akhirnya tercatat sebagai fase penting dalam sejarah oleh-oleh Indonesia: sebuah periode ketika popularitas bisa dipanggang bersama adonan, tetapi tidak selalu cukup kuat untuk bertahan lama.

Bandung tidak runtuh bersama surutnya hype. Pebisnis di kota ini berbelok, kembali menguatkan satu hal yang sejak awal dimilikinya: keberanian bereksperimen dengan rasa.

Baca Juga: Bandung Kota Oleh-oleh yang Menjanjikan Potensi Bisnis dan Cerita Budaya

Tiramisusu dan Dessert Generasi Baru

Setelah euforia kue artis mereda, oleh-oleh Bandung memasuki fase yang lebih dinamis. Produk-produk baru muncul tanpa membawa nama besar, tetapi hadir dengan keyakinan penuh pada kualitas. Bolu susu yang juga mencuat di periode 2017-an, atau bolu bakar dan panganan yang lebih dulu sohor sebelumnya seperti ubi Cilembu perlahan kembali ke pusat perhatian. Mereka tidak berteriak, tetapi konsisten. Di antara mereka, pernah ada juga keripik pedas yang sempat menjadi ikon primadona namun berumur tak terlalu panjang masa jayanya.

Belakangan, muncul Tiramisusu yang mencuri perhatian sebagai oleh-oleh Bandung kekinian. Dessert ini tidak menjual figur di baliknya, melainkan pengalaman makan itu sendiri. Lapisan-lapisannya disusun rapi, teksturnya lembut, dan rasanya kompleks tanpa berisik. Daya tahannya yang singkat justru menjadi keunikan. Membeli Tiramisusu terasa seperti membawa benda rapuh yang harus dijaga, bukan oleh-oleh yang bisa dilempar ke bagasi.

Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)
Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)

Platform media sosial kembali berperan, tetapi dengan logika berbeda. Jika sebelumnya wajah artis menjadi magnet, kini video sendok menembus lapisan krim menjadi daya pikat utama. Bandung sekali lagi memimpin tren, kali ini dengan pendekatan yang lebih tenang. Produk ini mengajarkan bahwa viral tidak harus gaduh.

Tidak lama berselang, Cheesecuit ikut mengisi lanskap oleh-oleh modern. Sederhana, terjangkau, dan mudah dikembangkan, dessert ini menunjukkan sisi lain Bandung sebagai inkubator ide UMKM. Tanpa oven canggih dan tanpa narasi megah, cheesecuit membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kesederhanaan. Harga yang ramah membuatnya cepat menyebar, sekaligus memperluas definisi oleh-oleh kekinian.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Di saat yang sama, produk lama tidak benar-benar tersingkir. Pisang bolen tetap dicari, brownies kukus masih diburu, dan ubi Cilembu menemukan kehidupan baru lewat media sosial. Yang berubah bukan produknya, melainkan cara orang memandangnya. Tradisi dan tren tidak lagi saling menyingkirkan, tetapi hidup berdampingan di rak yang sama.

Perjalanan oleh-oleh Bandung dari celebrity cake hingga tiramisusu menunjukkan pola yang berulang. Setiap fase dimulai dengan kejutan, mencapai puncak euforia, lalu menyisakan pelajaran. Celebrity cake mengajarkan kekuatan branding dan cerita. Dessert generasi baru menegaskan pentingnya kualitas dan konsistensi. Di tengah keduanya, Bandung tetap menjadi laboratorium terbuka bagi selera publik Indonesia.

Semuanya seolah berjalan dengan satu prinsip sederhana: oleh-oleh yang bertahan bukan yang paling keras dipromosikan, melainkan yang paling jujur pada rasanya. Tren boleh berganti, nama besar boleh datang dan pergi, tetapi kota ini selalu menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Selama Bandung terus bermain dengan rasa, kemasan, dan sedikit humor, sejarah oleh-olehnya akan terus bertambah panjang—dan koper wisatawan akan selalu pulang dengan cerita baru.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)