Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 12:59 WIB
Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)

Kue Seleb Bandung Kunafe yang jadi salah satu oleh-oleh kekinian. (Sumber: bandungkunafe.com)

AYOBANDUNG.ID - Bandung selalu punya cara unik memperlakukan makanan. Di kota ini, oleh-oleh bukan sekadar bekal pulang atau tanda bahwa seseorang sempat singgah. Oleh-oleh adalah pernyataan selera, status sosial kecil-kecilan, sekaligus bukti sah bahwa perjalanan benar-benar terjadi. Dari kantong plastik berisi peuyeum hingga box dessert berlapis krim yang harus dipeluk sepanjang perjalanan, sejarah oleh-oleh Bandung merekam perubahan zaman dengan cukup jujur—kadang berisik, kadang senyap, tapi nyaris selalu ramai.

Sebelum istilah viral menjadi mantra, Bandung sudah lama dikenal sebagai kota buah tangan. Peuyeum, kue balok, dan pisang bolen adalah generasi awal yang tumbuh dari kebutuhan sederhana. Peuyeum mewakili dapur rumah dan logika agraris, kue balok membawa aroma nostalgia kolonial, sementara pisang bolen mengajarkan bahwa makanan rumahan bisa tampil rapi dan pantas masuk kotak eksklusif. Ketika Kartika Sari mempopulerkan brownies kukus dan bolen sebagai oleh-oleh modern, Bandung sebenarnya sedang membangun fondasi: oleh-oleh boleh naik kelas, asal tetap ramah lidah.

Fondasi inilah yang kelak menjadi landasan kuat ketika gelombang baru datang. Gelombang itu bernama celebrity cake.

Baca Juga: Sejarah Masjid Mungsolkanas, Tertua di Kota Bandung Sejak 1869

Fenomena kue artis tidak lahir di Bandung, tetapi Bandung yang membuatnya terdengar seperti konser stadion. Kehadiran celebrity cake di Indonesia bermula dari langkah Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar yang membuka Malang Strudel pada akhir 2014. Berangkat dari pengalaman berwisata di Eropa dan ketertarikan pada strudel khas Austria, keduanya melihat potensi Malang sebagai daerah penghasil apel. Resep Eropa itu kemudian diadaptasi dengan cita rasa lokal, lahirlah produk yang terasa asing sekaligus akrab. Malang Strudel bukan sekadar toko kue, melainkan cetak biru bisnis baru: selebriti sebagai wajah utama merek, nama kota sebagai identitas, promosi masif lewat media hiburan, serta penjualan eksklusif di satu daerah.

Kemunculan model ini segera menarik perhatian. Kesuksesan Malang Strudel mengubah cara pandang publik terhadap oleh-oleh. Membeli kue tidak lagi semata membawa buah tangan, tetapi juga membawa pulang sepotong cerita tentang gaya hidup, popularitas, dan dunia hiburan. Setahun kemudian, pola serupa diterapkan lewat Jogja Scrummy yang menawarkan brownies kukus berlapis pastry. Produk ini menambahkan dimensi sosial dengan melibatkan bahan lokal, menunjukkan bahwa kue artis juga bisa bersentuhan dengan isu ekonomi daerah.

Tapi, titik balik sebenarnya terjadi pada 2017 ketika Bandung menjadi episentrum celebrity cake nasional. Kehadiran Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membawa pendekatan branding yang lebih matang dan agresif. Produk dirancang ramah kamera, slogan lokal dipoles menjadi identitas emosional, dan distribusi dibuat strategis agar mudah dijangkau wisatawan. Bandung tidak hanya menjual kue, tetapi pengalaman: antre, memotret, lalu membawa pulang simbol tren terkini.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Ledakan pun tak terhindarkan. Dalam waktu singkat, puluhan merek kue artis bermunculan di berbagai kota. Setelah Bandung Makuta dan Bandung Kunafe membuka jalan pada 2017, gelombang berikutnya datang hampir tanpa jeda. Prilly Latuconsina meluncurkan Really Cake, Nagita Slavina bersama Raffi Ahmad menghadirkan Gigieat Cake di Jakarta, Zaskia Sungkar membuka Surabaya Snow Cake, Irwansyah memperkenalkan Napoleon Medan, Syahrini merilis Princess Cake, sementara Ayu Ting Ting ikut meramaikan pasar dengan Kuenya Ayu.

Di kota-kota lain, Ruben Onsu dan Sarwendah mencoba peruntungan lewat Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe, Ricky Harun membuka Bosang Makassar, Vino G Bastian dan Marsha Timothy menghadirkan Vin Cake di Bandung, hingga Amy Qanita dengan Bandung Kanaya.

Dalam waktu singkat, peta oleh-oleh Indonesia dipenuhi kue artis. Polanya nyaris seragam. Nama selebriti menjadi magnet utama, kota dijadikan identitas rasa, dan peluncuran selalu dibarengi liputan media hiburan. Instagram dipenuhi foto box kue, antrean dijelaskan sebagai bukti sukses, dan konsumen berlomba membawa pulang produk yang sedang naik daun. Pada fase ini, celebrity cake tidak hanya menjual rasa, tetapi juga ilusi kedekatan dengan idola.

Tapi, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Satu per satu merek mulai menghilang. Bandung Kanaya tutup pada 2018 dan tidak pernah kembali meski sempat menjanjikan kejutan. Pisjo Cake berhenti beroperasi pada tahun yang sama, disusul Bosang Makassar yang hanya bertahan singkat setelah dibuka. Ruben Onsu dan Sarwendah mundur dari manajemen Semarang Thal Cake dan Jambi Jambe hanya beberapa bulan setelah euforia awal. Princess Cake milik Syahrini perlahan menghilang dari radar, begitu pula beberapa merek lain yang sebelumnya ramai diberitakan.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Kejatuhan massal ini menunjukkan sisi rapuh bisnis yang terlalu bertumpu pada popularitas. Pasar yang cepat jenuh menjadi faktor utama. Terlalu banyak produk serupa muncul dalam waktu singkat, membuat konsumen kehilangan rasa penasaran. Di saat yang sama, kualitas produk tidak selalu konsisten. Ekspektasi tinggi yang dibangun oleh promosi sering kali tidak sebanding dengan pengalaman nyata, memicu kekecewaan yang menyebar cepat di media sosial.

Celebrity cake akhirnya tercatat sebagai fase penting dalam sejarah oleh-oleh Indonesia: sebuah periode ketika popularitas bisa dipanggang bersama adonan, tetapi tidak selalu cukup kuat untuk bertahan lama.

Bandung tidak runtuh bersama surutnya hype. Pebisnis di kota ini berbelok, kembali menguatkan satu hal yang sejak awal dimilikinya: keberanian bereksperimen dengan rasa.

Baca Juga: Bandung Kota Oleh-oleh yang Menjanjikan Potensi Bisnis dan Cerita Budaya

Tiramisusu dan Dessert Generasi Baru

Setelah euforia kue artis mereda, oleh-oleh Bandung memasuki fase yang lebih dinamis. Produk-produk baru muncul tanpa membawa nama besar, tetapi hadir dengan keyakinan penuh pada kualitas. Bolu susu yang juga mencuat di periode 2017-an, atau bolu bakar dan panganan yang lebih dulu sohor sebelumnya seperti ubi Cilembu perlahan kembali ke pusat perhatian. Mereka tidak berteriak, tetapi konsisten. Di antara mereka, pernah ada juga keripik pedas yang sempat menjadi ikon primadona namun berumur tak terlalu panjang masa jayanya.

Belakangan, muncul Tiramisusu yang mencuri perhatian sebagai oleh-oleh Bandung kekinian. Dessert ini tidak menjual figur di baliknya, melainkan pengalaman makan itu sendiri. Lapisan-lapisannya disusun rapi, teksturnya lembut, dan rasanya kompleks tanpa berisik. Daya tahannya yang singkat justru menjadi keunikan. Membeli Tiramisusu terasa seperti membawa benda rapuh yang harus dijaga, bukan oleh-oleh yang bisa dilempar ke bagasi.

Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)
Tiramisusu by Chochomory, oleh-oleh Bandung kekinian. (Sumber: YouTube Sobat Kuliner)

Platform media sosial kembali berperan, tetapi dengan logika berbeda. Jika sebelumnya wajah artis menjadi magnet, kini video sendok menembus lapisan krim menjadi daya pikat utama. Bandung sekali lagi memimpin tren, kali ini dengan pendekatan yang lebih tenang. Produk ini mengajarkan bahwa viral tidak harus gaduh.

Tidak lama berselang, Cheesecuit ikut mengisi lanskap oleh-oleh modern. Sederhana, terjangkau, dan mudah dikembangkan, dessert ini menunjukkan sisi lain Bandung sebagai inkubator ide UMKM. Tanpa oven canggih dan tanpa narasi megah, cheesecuit membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kesederhanaan. Harga yang ramah membuatnya cepat menyebar, sekaligus memperluas definisi oleh-oleh kekinian.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Di saat yang sama, produk lama tidak benar-benar tersingkir. Pisang bolen tetap dicari, brownies kukus masih diburu, dan ubi Cilembu menemukan kehidupan baru lewat media sosial. Yang berubah bukan produknya, melainkan cara orang memandangnya. Tradisi dan tren tidak lagi saling menyingkirkan, tetapi hidup berdampingan di rak yang sama.

Perjalanan oleh-oleh Bandung dari celebrity cake hingga tiramisusu menunjukkan pola yang berulang. Setiap fase dimulai dengan kejutan, mencapai puncak euforia, lalu menyisakan pelajaran. Celebrity cake mengajarkan kekuatan branding dan cerita. Dessert generasi baru menegaskan pentingnya kualitas dan konsistensi. Di tengah keduanya, Bandung tetap menjadi laboratorium terbuka bagi selera publik Indonesia.

Semuanya seolah berjalan dengan satu prinsip sederhana: oleh-oleh yang bertahan bukan yang paling keras dipromosikan, melainkan yang paling jujur pada rasanya. Tren boleh berganti, nama besar boleh datang dan pergi, tetapi kota ini selalu menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Selama Bandung terus bermain dengan rasa, kemasan, dan sedikit humor, sejarah oleh-olehnya akan terus bertambah panjang—dan koper wisatawan akan selalu pulang dengan cerita baru.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)