Sarkanjut, Cekungan Berair yang Tersebar Luas

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Citra satelit Situ Sarkanjut, di Tambaksari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Citra satelit Situ Sarkanjut, di Tambaksari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. (Sumber: Citra satelit: Google maps)

Ketika membahas tentang toponimi, ada saja yang menanyakan secara langsung, atau berkomentar dalam media sosial, walau topik yang dibahas berjauhan dengan yang ditanyakan tersebut. Pertanyaannya itu kalau disingkat begini. Mengapa ada nama tempat yang vulgar, tidak senonoh, bahkan terasa cabul. Penanya mencontohkan toponim Sarkanjut di Kabupaten Garut, yang menurut pandangannya toponim itu tidak sopan, karena berhubungan dengan kelamin pria.

Sebetulnya, kalau pertanyaannya di balik, siapa sesungguhnya yang mempunyai pikiran tidak senonoh, yang mempunyai pikiran cabul, apakah para karuhun orang Leles, Garut, yang memberi nama Sarkanjut, ataukah yang banyak mempertanyakan bahwa toponim itu jorang, cabul, tidak senonoh?

Dalam Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata (2005), lema kanjut berarti sarupa kantong leutik (wadah duit jst), sejenis kantong kecil untuk mewadahi uang, dan lain sebagainya. Ada juga lema kanjut kundang, kanjut paranti neundeun panglay, jaringao, jst, di nu keur orokan. Kanjut Kundang, kantong tempat menyimpan panglay, jaringao, dan lain sebagainya, pada ibu yang baru melahirkan.

Sedangkan kata sar yang berada di depaan kata kanjut, itu diserap dari bahasa Kawi. Menurut S Wojowasito (1977) dalam Kamus Kawi – Indonesia, sâr, bermakna sebar, sérak. Sumâr, tersiar, tersebar, tersérak. Sedangkan menurut PJ Zoetmulder (2011) dalam Kamus Jawa Kuna – Indonesia, sar, sumâr bermakna tersebar.

Toponim Sarkanjut, gabungan dari kata sar dan kanjut, secara arti kata, sarkanjut adalah kantong yang banyak tersebar di kawasan itu. Kantongnya lebih dari satu. Para karuhun orang Garut menganalogikan daerah yang berupa cekung sebagai kantong. Banyak daerah yang cekung di Jawa Barat, yang dianalogikan sebagai kantong, karung, atau goni, seperti: Cikampék (kampék), Salopa (salopa), Cikandé (kandé), Cikadut (kadut), dan lain-lain.

Dari toponimi Sarkanjut ini menyiratkan, bahwa pada mulanya, toponim itu bukan untuk menamai satu cekungan berair seperti saat ini, yaitu Situ Sarkanjut, tapi, toponim ini diberikan pada suatu kawasan yang terdapat banyak cekungan berair.

Dalam tulisan yang berjudul Situ Cangkuang Proses Runtuhnya Puncak Antiklin dan Letusan Gunung Gandapura (T Bachtiar, AyoBandung, 8/2/2024), bahwa di kawasan itu terdapat 13 situ dan ranca (rawa). Keadaan lingkungan bumi itu digambarkan dalam empat lembar peta topografi, seperti yang terdapat dalam Peta Topografi Lembar Leles (terbit 1886), Lembar Leles (terbit 1908), Lembar Cibatu (terbit 1908), dan Lembar Cikawao (terbit 1908). 

Dari keempat lembar peta topografi itu ada Situ Cangkuang, Situ Sarkanjut, Situ Sarjambe, Situ Bagendit, Situ Cikandé, Situ Bojong, Situ Lamping, Situ Cibuyutan, Situ Cibudug, Situ Ciparahu, Ranca Kukuk, Ranca Hayam, dan Ranca Gabus. Kemungkinan lebih dari jumlah itu, namun tidak dimasukan ke dalam perta itu karena dengan skala peta yang dipakai, terlalu kecil untuk digambarkan.

Situ Sarkanjut, di Tambaksari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. (Sumber: sda.pu.go.id)
Situ Sarkanjut, di Tambaksari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. (Sumber: sda.pu.go.id)

Kawasan dataran di antara gunung-gunung api tua yang menjadi situ dan ranca ini, oleh para ilmuwan kebumian dinamai Cekungan Leles, yang luasnya sekitar 22 km2. Cekungan ini dikelilingi gunung-gunungapi tua, seperti: Gunung Mandalawangi, Gunung Kaledong, dan Gunung Haruman. Air yang tercurah di kawasan ini akan tergenang di cekungan-cekungan terendah. Mata Air yang melimpah, keluar dari kaki gunung di sekeliling cekungan. Itulah yang menyebabkan di dasar Cekungan Leles menjadi situ dan ranca, yang menjadi ciri utama atau karakter bumi di kawasan tersebut pada masa lalunya. 

Yang semula berupa situ dan ranca yang luas di Cekungan Leles, kemudian tertimbun longsoran gunungapi (debris avalanche) dari letusan maha dahsyat Gunung Gandapura yang terjadi 330.000 tahun sampai 220.000 tahun yang lalu. Endapan material letusan itu dipengaruhi oleh cuaca, seperti angin, panas-dingin, curah hujan, dan tumbuhan yang menutupinya. Bagian yang halus, yang terlemah dari endapat itu, akan tertiup angin dan terkikis hanyut air hujan. Yang kuat akan mengendap, membentuk perbukitan kecil, seperti yang menjadi pulau di tengah Situ Cangkuang. Pulau itu merupakan satu dari sekian banyak bukit kecil hasil endapan longsoran Gunung Gandapura, yang tersebar di kawasan seluas 77 km2. Longsoran gunungapi itu diendapkan di sebelah timur gunung sampai 35 km - 50 km dari pusat letusan.

Bila keadaan antara tahun 1886 sampai dengan tahun 1908 seperti yang ada dalam peta topografi, dibandingkan dengan keadaan tahun 2025, tentu akan sangat berbeda. Kini, lahan basah yang berupa situ dan ranca itu banyak yang mendangkal, kemudian diolah menjadi persawahan. Ada juga yang masih berfungsi sebagai situ atau ranca, namun luasannya semakin menyempit. Dan, tentu, sudah banyak situ, ranca, dan persawahan yang sudah diurug, ditimbun menjadi lahan darat, kemudian di atasnya didirikan bangunan dan dan perumahan. 

Karakter bumi yang berupa cekungan berair, kemudian tertimbun material letusan gunungapi, membentuk situ-situ kecil yang tersebar di kawasan yang luas. Situ-situ kecil yang tersebar itulah yang menginspirasi para karuhun orang Leles untuk menamai kawasan itu Sarkanjut. Cekungan-cekungan kecil itu dianalogikan dengan kantong-kantong kecil yang dipenuhi air. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)