Sore yang mendung itu, sepulang bekerja, ternyata ada kejutan kecil yang diam-diam merajut asa, menyalakan harapan, dan memupuk semangat. Ya, tidak seperti biasanya, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), tidak langsung meminta koran untuk membaca rubrik favoritnya, tunggu dulu dan gelora.
Ternyata dugaan itu meleset. Justru langsung menghampiri dengan wajah tersenyum malu-malu, bocah kelas lima SD itu menyodorkan buku berjudul Serunya Dunia Fabel, karya siswa Kelas V Al-Razi SD Islam Al-Amanah Bandung yang diterbitkan Dandelion Publisher pada Mei 2026 dengan editor Utrujah Alesha.
Tak banyak kata yang keluar dari mulutku. Hanya memeluknya erat sambil berbisik, “Nuhun, A.”
Di sela-sela kehangatan itu, adiknya, Kakang (4 tahun), anak ketiga ikut nimbrung. Jari kecilnya menunjuk sampul buku. "Ada foto Aa, Bah. Terus banyak binatang. Rusa, kelinci, panda, burung, kupu-kupu... panda,” ujarnya polos.
Sebelumnya, pernah bercerita soal dunia dan aktivitas literasi di sekolahnya yang akan dibukukan. Aa nulis “Persahabatan Kelinci dan Kura-Kura”
Melihat mahakarya itu kutersenyum. Bukan karena daftar binatang yang disebutnya, melainkan saat menyaksikan satu aktivitas yang sering luput dari perhatian orang dewasa. Benih-benih literasi ternyata tumbuh dengan cara yang sederhana. Terkadang bukan dari ruang kelas yang megah, bukan pula lewat kampanye besar-besaran, justru dari rasa ingin tahu seorang anak yang membuka halaman demi lembaran buku.
Di tengah-tengah berbagai keluhan tentang rendahnya minat baca generasi muda, senja itu justru menemukan cahaya harapan. Pancaran sinar yang terkadang dianggap kecil, tetapi terus tumbuh, berkembang saat dirawat, dipelihara dan dipupuk.
Sejatinya literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, memahami kalimat. Literasi itu jembatan yang menghubungkan seseorang dengan dunia yang lebih luas. Dengan terus membaca, seseorang belajar memahami kehidupan, menghargai perbedaan, membangun empati terhadap negara dan bangsa.

Darurat Literasi, Tantangan Masa Depan
Sayangnya, berbagai data menunjukkan pekerjaan rumah literasi di Indonesia masih panjang. Risalah Kebijakan Meningkatkan Literasi Indonesia Melalui Optimalisasi Peran Buku (Nomor 04, Mei 2024) menyebutkan kemampuan membaca masyarakat Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara.
Hasil Studi Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (The Organisation for Economic Co-operation and Development OECD), Indonesia berada pada peringkat keenam dalam urusan kemampuan membaca siswa usia 15 tahun.
Studi ini dilakukan secara acak di 81 negara di dunia dengan mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains pada murid berusia 15 tahun sebagai indikator kualitas sistem pendidikan suatu negara.
Betapa tidak, untuk di wilayah Asia Tenggara, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia pada studi PISA 2022 mencapai 359 poin, lebih rendah dibandingkan Singapura yang mencapai skor tertinggi di ASEAN dengan 543 poin, Vietnam (462 poin), Brunei Darussalam (379 poin), Malaysia (388 poin), Thailand (379 poin) yang sedikit mengungguli Indonesia dan masih berada di atas Filipina (347 poin) dan Kamboja (329 poin).
Aktivitas literasi membaca tingkat nasional masih berada pada kategori rendah dengan mengacu pada aspek Budaya Literasi pada Indeks Pembangunan Kebudayaan Nasional pada tahun 2022 sebesar 57,40 (Kemendikbudristek, 2022).
Semua ini makin dipertegas dengan capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dengan nilai 64,68 pada tahun 2023, capaian Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia dengan nilai 66,77 pada tahun 2023.
Data Indeks Alibaca, rata-rata angka indeks nasional termasuk dalam kategori aktivitas literasi rendah (37,32). Nilai itu terdiri atas empat dimensi: kecakapan sebesar 75,92; akses sebesar 23,09; alternatif sebesar 40,49; dan budaya sebesar 28,50. Semua ini sangat dipengaruhi oleh dimensi akses terhadap bacaan dan dimensi budaya (kebiasaan membaca) masih rendah.
Jika berkaca pada hasil Asesmen Nasional tahun 2022, kemampuan literasi peserta didik di Indonesia berada di bawah kompetensi minimum. Kurang dari 50% siswa telah mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca (Kemendikbud, 2019).
Hasil ini mengindikasikan Indonesia masih perlu meningkatkan upaya dalam memperbaiki tingkat literasi masyarakat, terutama di kalangan pelajar, agar dapat sejajar, (melampaui) capaian negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Tentunya menjadi tantangan besar yang perlu disikapi dengan strategi dan kebijakan yang tepat sasaran.

Padahal, minat baca anak merupakan aspek penting dalam perkembangan intelektual mereka. Sayangnya, di beberapa kasus, minat baca anak sering kali tinggi, tetapi buku bacaan yang tersedia belum sepenuhnya sesuai dengan minat dan kemampuan baca mereka.
Tentunya, kondisi ini menjadi sangat penting bagi para orang tua, pendidik, dan perpustakaan sekolah untuk lebih memahami minat baca individu setiap anak. Sangat membantu dalam menentukan jenis buku yang cocok untuk mereka.
Dengan memahami minat baca anak, kita dapat mengarahkan mereka kepada buku-buku yang sesuai dengan minatnya, sehingga mereka akan lebih cenderung untuk membaca dengan antusias dan merasa terlibat dalam proses membaca.
Aksesibilitas terhadap buku-buku berkualitas masih menjadi tantangan besar dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Ketersediaan buku yang terbatas, distribusi yang tidak merata, serta minimnya sarana dan prasarana pendukung menjadi faktor penghambat utama dalam memperluas akses terhadap bahan bacaan.
Peningkatan literasi anak Indonesia tidak dapat dilepaskan dari upaya memenuhi minat baca anak dan penyediaan koleksi buku yang sesuai. Saat ini, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam konteks ini.
Ketersediaan buku di Indonesia belum sepenuhnya memenuhi standar UNESCO yang merekomendasikan minimal tiga buku per anak per tahun (UNESCO, 2016). Standar ini bukan hanya mengukur kuantitas, melainkan kualitas yang mencakup relevansi dengan minat dan kemampuan baca anak. Mengingat sangat penting mengembangkan koleksi buku yang dapat menunjang kebutuhan baca anak-anak sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan mereka.
Disparitas akses terhadap buku terlihat jelas antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di kota-kota besar, keberadaan toko buku, penerbit, dan perpustakaan yang lengkap memudahkan masyarakat untuk mendapatkan buku-buku dari berbagai genre dan tingkat pendidikan. Berbeda dengan di daerah pedesaan, ketersediaan buku seringkali sangat terbatas, bahkan perpustakaan desa belum sepenuhnya tersedia.
Keragaman konten buku yang tersedia masih menjadi permasalahan. Buku-buku dalam bahasa daerah dan buku-buku yang mengangkat kearifan lokal masih sulit ditemukan, padahal keberadaannya sangat penting untuk menjaga kelestarian budaya dan identitas masyarakat setempat.
Ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia terlihat jelas dari persebaran skor Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) tahun 2019. Di wilayah Jawa, skor AKSI rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Ini menjadi tanda kualitas pendidikan di Jawa masih lebih baik dibandingkan dengan wilayah lain.
Ketimpangan kualitas pendidikan ini sangat berdampak pada literasi anak. Anak-anak di Jawa memiliki akses yang lebih mudah terhadap buku-buku berkualitas, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Di wilayah perkotaan di Jawa, terdapat banyak toko buku, penerbit, dan perpustakaan yang menyediakan buku-buku dari berbagai genre dan tingkat pendidikan.
Pemerintah baru menyediakan program-program literasi yang dapat diakses oleh anak-anak di Jawa. Sebaliknya, anak-anak di luar Jawa, terutama di daerah pedesaan, memiliki akses yang lebih terbatas terhadap buku. Ketersediaan buku di daerah pedesaan masih sangat terbatas, bahkan perpustakaan desa pun belum sepenuhnya tersedia. Parahnya, buku-buku yang tersedia di daerah pedesaan umumnya memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan buku-buku di Jawa. (Wawan Prihartono [Penyunting], 2024:1-14)
Risalah Kebijakan Nomor 07 Juli Tahun 2024 menegaskan satu dari dua peserta didik dari jenjang SD hingga SMA belum mencapai kompetensi minimum literasi. Pada Asesmen Nasional 2022, sebanyak 36,63 persen SD, 47,96 persen SMP, dan 69,85 persen SMA berada pada kategori merah dalam capaian literasi. Gambaran ini menunjukkan persoalan literasi bukan hanya masalah individu, melainkan tantangan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Banyak sekolah belum memiliki perpustakaan yang memadai, program literasi belum berjalan optimal, kepemimpinan sekolah belum sepenuhnya berorientasi pada penguatan budaya baca, dan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran literasi masih terbatas. Aktivitas membaca yang dilakukan siswa sering kali hanya berupa rutinitas tanpa pendampingan dan tanpa dihubungkan dengan proses pembelajaran yang bermakna.
Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan rendahnya minat baca, tetapi krisis ekosistem literasi. Dengan demikian, diperlukan upaya yang lebih komprehensif melalui peningkatan akses buku berkualitas, penguatan perpustakaan sekolah, peningkatan kompetensi guru, penguatan peran kepala sekolah, kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat untuk membangun budaya literasi yang kuat.
Literasi yang baik menjadi fondasi penting bagi lahirnya sumber daya manusia yang kritis, kreatif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Merawat Imajinasi, Serunya Dunia Binatang
Buku, sebagai media pengetahuan dan informasi, memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam mengatasi permasalahan tersebut. Dengan adanya buku, masyarakat akan dapat mengakses berbagai wawasan dan khazanah pengetahuan, yang pada gilirannya akan meningkatkan literasi dan kapasitas intelektual mereka (Anwas et al., 2022; Bingham, 2007; Korat & Falk, 2019).
Kendati, akses terhadap buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau masih menjadi tantangan yang cukup serius di Indonesia. Distribusi buku yang tidak merata, minimnya perpustakaan modern, rendahnya minat baca masyarakat turut memperburuk kondisi ini. Mari kita renungkan secara bersama, pertanyaan ini sudahkah kita menghadirkan cukup banyak buku yang mampu menjangkau dan menyentuh anak-anak Indonesia?
Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan literasi dengan hadirnya buku, Serunya Dunia Fabel. Dalam kata pengantarnya ditegaskan dunia anak-anak sangat sebentar, sedangkan imajinasi mereka sangatlah luas di luar batas pemikiran. Hal itu perlu diwadahi agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat.
Dengan niat belajar dan mempraktikkan hasil belajar Bahasa Indonesia, maka diwadahilah imajinasi anak-anak dalam bentuk tulisan, selain untuk menambah bacaan bagi anak-anak usia sekolah dasar, terbentuklah buku ini.
Terima kasih pada para penulis cilik, Ayah dan Bunda yang telah memfasilitasi dan memberi dukungan, demikian pula pada Ibu Kepala Sekolah SD Islam Al-Amanah Nunung Kurniasih, dan Yayasan Al-Amanah yang telah memotivasi serta Dandelion Publisher yang menjembatani, sehingga terbitlah buku fabel ini.
Tiada gading yang tak retak, begitu pepatah mengatakan, demikian pula karya para penulis cilik ini masih perlu masukan, kritik, dan saran yang membangun, baik dalam teknik penulisan maupun tata bahasa agar makin bagus dalam berkarya.
"Setiap kata adalah doa", maka kami berharap semoga tulisan dalam buku ini membawa manfaat yang besar bagi para penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Selamat membumikan literasi. (h. v-vi)
Kepala Sekolah SD Islam Al-Amanah, Nunung Kurniasih, mengapresiasi atas terbitnya buku ini, Alhamdulillah terucap atas nikmat Allah Swt. yang telah memberi waktu, kesempatan, dan kesanggupan para murid SD Islam Al-Amanah dalam berkarya meramaikan dunia literasi.

Proses Kreatif dari Mata Pelajaran Menjadi Karya
Saya sebagai kepala sekolah selalu memberi dukungan pada para guru sebagai pembimbing dan para murid sebagai peserta berkarya dalam bentuk cerpen fabel pada buku bertajuk Serunya Dunia Fabel dalam rangka melaksanakan program kelas V tahun 2025-2026 untuk merealisasikan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dalam pembuatan cerpen ini ide para murid diperoleh melalui membaca buku atau mengalir dari imajinasi, kemudian mengembangkan sendiri menjadi cerita fabel. Ini merupakan salah satu kreativitas yang patut diapresiasi.
Saya berharap dengan hadirnya buku ini menambah semangat para guru dan murid dalam berliterasi dan menambah manfaat serta khasanah bacaan bagi para pembaca.
Terima kasih kepada murid-murid kelas 5, Orang tua peserta didik, para guru, Yayasan Al-Amanah, dan Penerbit Dandelion Publisher yang telah membantu mencetak dan menerbitkan karya ini. Semoga karya ini dapat menjadi salah satu bukti upaya kami dalam berkarya membumikan literasi di Nusantara.
Saya menyadari masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Oleh karena itu, diterima dengan senang hati kritik dan saran yang membangun demi lebih baiknya karya ini. Salam Literasi. (h. vii).
Bagi Pembimbing, S. Trusniliyanti menjelaskan tersusunnya dengan baik buku ini merupakan hasil kreativitas dan kerja keras murid kelas V Al-Razi yang dituangkan dalam bentuk cerita bertema dunia binatang (fable) dengan pesan moral tersurat maupun tersirat di dalamnya.
Kesederhanaan dalam berkisah merupakan cerminan keunikan karakter, pemahaman, dan daya pikir masing-masing murid. Proses pembuatan buku yang membutuhkan waktu cukup lama ini diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga yang melibatkan kebersamaan, kerja sama, dan semangat belajar antara murid dan wali kelas V Al-Razi.
Buku ini diharapkan menjadi bacaan yang menghibur, menginspirasi pembaca sekaligus kenangan indah yang akan selalu diingat oleh seluruh murid kelas V Al-Razi dalam menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi. Selamat membaca menikmati setiap kisahnya. (h. viii).

Persahabatan Kelinci dan Kura-Kura
Di sebuah hutan yang hijau dan subur, hiduplah seekor kelinci yang sangat gesit. Ia senang melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain. Semua hewan di hutan tahu bahwa kelinci adalah hewan tercepat di sana. Karena itu, kelinci sering merasa dirinya paling hebat.
"Tidak ada yang bisa mengalahkanku dalam berlari," kata kelinci dengan bangga kepada teman-temannya.
Ia sering meremehkan hewan lain yang bergerak lambat, terutama kura-kura.
Kura-kura yang sabar hanya tersenyum mendengar kelinci. Ia tidak pernah marah meski sering diejek. Baginya, setiap hewan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Suatu hari, kelinci berjalan-jalan sendirian di padang rumput. Ia ingin mencari wortel segar untuk makan siang. Karena terlalu asyik berlari dan melompat, kelinci tidak sadar ada jebakan yang dipasang oleh rubah licik. Tiba-tiba, kakinya terjerat tali, dan tubuhnya terangkat ke atas.
"Aduh! Tolong! Lepaskan aku!" teriak kelinci panik. Ia berusaha melompat, tapi justru membuat ikatan tali semakin kencang.
Rubah yang licik muncul dari balik semak.
"Hahaha! Akhirnya aku berhasil menangkapmu, kelinci cepat. Hari ini kau akan menjadi makan malamku!"
Kelinci ketakutan. Ia menyesal karena selalu berjalan sendirian tanpa teman. Ia mencoba meminta ampun, tapi rubah tidak peduli. Saat itu, kura-kura datang. Meski langkahnya lambat, kura-kura selalu memperhatikan keadaan sekitar.
"Kura-kura, tolong aku!" teriak kelinci dengan suara putus asa.
Kura-kura tidak langsung panik. Ia melihat jebakan itu dengan cermat. Dengan giginya yang kuat, kura-kura mulai menggigit tali perlahan. Butuh waktu lama, tetapi akhirnya tali itu terputus, dan kelinci pun bebas.
Melihat kelinci lepas, rubah menjadi marah. Ia mencoba mengejar mereka, tetapi kelinci segera menggendong kura-kura dan berlari secepat mungkin. Rubah pun tertinggal jauh.
Setelah selamat, kelinci menundukkan kepala.
"Kura-kura, maafkan aku. Aku selalu sombong dan sering meremehkanmu. Padahal, tanpa bantuanmu aku pasti sudah dimakan rubah."
Kura-kura tersenyum bijak.
"Tidak apa-apa, kelinci. Ingatlah, setiap makhluk punya kelebihan masing-masing. Kau cepat, aku sabar. Jika kita bekerja sama, kita bisa saling menolong."
Sejak hari itu, kelinci berubah. Ia tidak lagi menyombongkan diri. Ia selalu mengajak kura-kura dan teman-teman lain bermain bersama. Persahabatan mereka menjadi contoh bagi semua hewan di hutan bahwa kerja sama dan saling menghargai jauh lebih berharga daripada kekuatan sendiri.
Amanat cerita: Pertama, Jangan sombong dengan kelebihan yang kita miliki. Kedua, Hargai setiap teman karena semua punya kemampuan yang berbeda. Ketiga, Persahabatan dan kerja sama akan membuat kita lebih kuat menghadapi. Bandung, 03 Oktober 2025. (h. 29-31)
Literasi merupakan kunci utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing global. Kemampuan membaca, memahami, dan mengaplikasikan informasi secara kritis dan analitis menjadi prasyarat bagi individu untuk dapat berpartisipasi secara optimal dalam masyarakat modern yang dinamis (Bibri, 2018).
Ironisnya, kondisi literasi di Indonesia masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah dan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Perayaan Hari Buku Nasional pada tanggal 17 Mei setiap tahunnya menjadi momentum yang tepat bagi segenap bangsa Indonesia untuk merefleksikan pentingnya buku sebagai sarana utama dalam meningkatkan literasi dan pengetahuan masyarakat.
Pasalnya, persoalan literasi tidak hanya terletak pada minat membaca. Banyak anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka ingin membaca, mengenal dunia, bertualang melalui cerita dan pengetahuan. Namun, akses terhadap buku yang berkualitas, menarik, dan sesuai dengan usia mereka masih belum merata.
Untuk di kota-kota besar, toko buku dan perpustakaan relatif mudah ditemukan. Sebaliknya, di banyak daerah, buku masih menjadi barang yang tidak selalu hadir dalam keseharian anak-anak. Ketika buku tersedia, belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuan baca mereka.
Ibarat benih memerlukan tanah yang subur untuk bertumbuh, minat baca membutuhkan ruang yang mendukung. Anak-anak memerlukan buku yang dekat dengan dunianya, bahasanya, imajinasinya, dan pengalaman hidupnya.
Ingat, membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan mengajak anak membaca. Kita harus menghadirkan buku-buku yang membuat mereka jatuh cinta pada aktivitas membaca. Buku yang mampu membuat mereka penasaran, tertawa, terharu, dan berpikir.
Sore yang mendung itu mengajarkan satu harapan sederhana. Di tengah berbagai statistik yang sering membuat pesimistis, selalu ada alasan untuk tetap optimistis. Ya, selama masih ada anak yang pulang ke rumah sambil membawa buku dan dengan bangga memperlihatkannya kepada orang tuanya, harapan itu masih menyala.
Walhasil, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit, program yang megah. Kadang bermula dari pelukan, ucapan terima kasih, dan buku yang dibaca dengan penuh kegembiraan.

Di tangan anak-anak, buku bukan sekadar kumpulan halaman. Melainkan jendela masa depan dan dari jendela kecil itulah cahaya peradaban perlahan tumbuh, berkembang dan menemukan jalannya.
Saat guru berkirim pesan kepada grup WhatsApp orang tua agar anak didiknya memberikan testimoni untuk buku Serunya Dunia Fabel, Aa Akil berkata "Perasaan saya mendapat buku ini, senang. Cerita yang saya tulis adalah persahabatan kelinci dan kura-kura. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih Ibu Guru"
Rasanya, asyik sekali ketika menemukan bacaan yang penuh dengan hikmah. Apalagi ketika penulisnya masih ranum-ranum, sungguh membanggakan. 30 penulis cilik yang masih duduk di bangku kelas V Al-Razi ini menuangkan ide-ide, gagasan dalam karya bertajuk Serunya Dunia Fabel. Mereka ingin berbagi kisah asyik (seru), untuk menambah bacaan bagi adik-adik kelasnya. Yuk segera miliki bukunya, baca dan ambil hikmahnya. (*)