Kimung, Anak Ujungberung yang Tak Pernah Meninggalkan Musik

12 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - “Kimung itu awalnya panggilan lucu dari mamah. ‘Kimun, Kimun,’” kata Kimung menirukan panggilan gemas ibunya sambil tertawa.

“Terus karena dulu saya suka motong omongan guru sejarah waktu SMA. Guru saya jadi manggil saya Imong. Iman banyak ngomong,” katanya kembali terkekeh.

“Dari Kimun sama Imong, jadi Kimung,” lanjutnya menjelaskan asal-usul nama yang kini melekat padanya.

Kimung adalah seorang penulis, pemusik, dan budayawan. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri Burgerkill, band hardcore asal Ujungberung Bandung. Lahir di Lengkong, Bandung, dan sejak usia dua tahun menetap di Ujungberung. Nama aslinya adalah Iman Rahman Anggawiria Kusumah (48) yang tumbuh besar di tengah suara siaran radio dan tumpukan buku.

Ayahnya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kawedanan yang gemar mengarsipkan dokumen pekerjaan hingga membawanya pulang ke rumah. Kawedanan sendiri merupakan jabatan administratif pada masa Hindia Belanda, setingkat pembantu bupati yang membawahi beberapa kecamatan. Sementara itu, ibunya adalah ibu rumah tangga yang kerap membantu pekerjaan sang ayah di kantor.

Kedua orang tuanya sama-sama menyukai musik. Sepulang kerja, ayah Kimung sering memutar lagu Sunda, seperti kecapi suling, hingga musik rock dari Led Zeppelin dan Black Sabbath. Berbeda dengan sang ayah, ibunya lebih menyukai lagu-lagu pop. Dari kebiasaan itulah musik menjadi sesuatu yang akrab di telinga Kimung sejak kecil.

“Saya salah satu yang lebih banyak besar di lingkungan buku sama radio dibandingkan TV,” kata Kimung saat ditemui di kantor Atap Promotion.

Selain musik, buku juga menjadi bagian penting dalam masa kecilnya. Sang ayah kerap membawakan buku sebagai oleh-oleh setiap pulang kerja. Kebiasaan sederhana itu perlahan menumbuhkan kecintaannya pada dunia membaca dan membuatnya mengagumi banyak penulis.

“Kalau pulang kerja tuh Bapak suka bawa oleh-oleh buku,” ujarnya mengenang masa kecil.

Ketertarikan terhadap literasi tampaknya sudah tumbuh sejak usia dini. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Kimung gemar mencatat berbagai hal yang menarik perhatiannya. Ia masih mengingat ketika ayahnya mengajak berkunjung ke Museum Gedung Sate. Dari sana, rasa ingin tahunya terhadap berbagai pengetahuan semakin berkembang.

“Di kelas 5 SD, saya mencatat sekitar 5.000 nama penemu barang di dunia,” kata Kimung.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Kimung tumbuh dalam keluarga yang menanamkan disiplin beribadah. Anak laki-laki diwajibkan melaksanakan salat di masjid, sehingga sejak kecil ia terbiasa mengikuti ayahnya untuk salat berjemaah.

Meski demikian, salat subuh menjadi tantangan tersendiri baginya. Rasa kantuk dan jarak masjid yang cukup jauh membuat perjalanan menuju masjid terasa berat bagi seorang anak kecil.

Untuk mengatasinya, sang ayah punya cara tersendiri. Sepanjang perjalanan menuju masjid, ia akan bercerita tentang bintang-bintang di langit agar putranya tetap terjaga.

“Selama jalan kaki ke masjid, saya didongengin soal bintang sama Bapak,” tutur Kimung sambil menunjuk langit-langit ruangan dan menyebut beberapa nama dewa dalam mitologi, memperagakan bagaimana ayahnya bercerita pada masa itu.

“Kayaknya itu pengetahuan pertama saya tentang mitologi,” kenangnya.

Selain bermusik, Kimung aktif menulis dan mengarsipkan berbagai cerita dari perkembangan kultur musik bawah tanah di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Selain bermusik, Kimung aktif menulis dan mengarsipkan berbagai cerita dari perkembangan kultur musik bawah tanah di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Metallica dan Ujungberung

Setelah enam tahun bersekolah di SDN 1 Sukapura, Kimung melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Ujungberung, yang kini bernama SMPN 8 Bandung. Memasuki masa remaja, pandangannya terhadap dunia mulai berubah. Kehangatan yang ia rasakan di rumah ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang ia jumpai di lingkungan urban Ujungberung pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Di rumah, ia tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Namun di luar rumah, ia menyaksikan perkelahian, kekerasan jalanan, dan berbagai persoalan sosial yang sebelumnya asing baginya. Kontras itulah yang mulai memunculkan banyak pertanyaan dalam benaknya.

“Saya mulai mempertanyakan banyak hal,” kata Kimung, mengenang masa-masa awal SMP ketika mulai berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Ujungberung.

“Dunia teh henteu baik-baik saja,” ucapnya pelan.

Pada masa itu, akses menuju pusat Kota Bandung tidak semudah sekarang. Dari Ujungberung, Kimung harus berganti tiga kali angkutan kota untuk mencapai pusat kota. Perjalanan ke Bandung Indah Plaza (BIP) atau Alun-alun Bandung terasa seperti bepergian ke tempat yang sangat jauh.

“Transportasi teh hese pisan. Saya kalau mau ke BIP atau ke alun-alun teh nyebutnya 'ka kota',” ujar Kimung.

Keterbatasan ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk sekadar berjalan-jalan atau membeli kaset musik di pusat kota, ia harus menabung selama beberapa hari.

“Tidak selalu punya uang. Jadi harus nabung. Misalnya malam Minggu pengen ke BIP, ngumpulin dulu uangnya dari Senin,” kenangnya.

Kondisi tersebut justru melahirkan solidaritas yang kuat di kalangan anak muda Ujungberung. Sulitnya bertemu komunitas dari wilayah lain membuat mereka membangun kelompok-kelompok pergaulan berdasarkan daerah tempat tinggal masing-masing.

“Karena agak susah buat bertemu kawan-kawan baru. Akhirnya yang satu daerah membentuk kolektif-kolektif berdasarkan nama wilayah,” ujarnya.

Kimung kemudian menyebut beberapa kelompok yang populer saat itu, seperti Barudak Ujungberung, Barudak Setiabudi, dan Barudak Hasanudin.

Di tengah lingkungan pergaulan tersebut, Kimung menemukan ketertarikannya pada musik metal. Ia merasa lirik-lirik Metallica, Sepultura, dan musik underground lainnya menggambarkan realitas yang sama dengan kehidupan yang ia saksikan setiap hari di Ujungberung.

“Apa yang diceritakan Metallica sama dengan apa yang saya lihat di jalanan Ujungberung waktu itu,” kata Kimung.

“Saya nemuin koneksi antara apa yang saya lihat sama musik yang saya dengar.”

Musik kemudian menjadi lebih dari sekadar hiburan. Bagi Kimung, musik menawarkan ruang untuk memahami kenyataan sekaligus mencari jalan keluar dari lingkungan yang keras. Ketika banyak teman seusianya terseret ke dalam lingkaran kekerasan jalanan, ia memilih menenggelamkan diri dalam musik dan sastra.

Pilihan itulah yang kelak mengubah arah hidupnya.

Ujungberung Rebels dan Burgerkill

Keterbatasan akses informasi justru mendorong anak-anak muda Ujungberung untuk mandiri. Mereka tidak memiliki media yang secara khusus membahas musik yang mereka dengarkan. Internet belum hadir, sementara informasi hanya diperoleh dari radio, kaset bajakan, atau percakapan antarteman.

“Informasi teh susah. Satu-satunya informasi harus dari teman, kalau nggak dari radio GMR,” kata Kimung.

GMR merupakan akronim dari Generasi Muda Radio, stasiun radio rock dan metal legendaris di Bandung pada era 1990-an.

Dari kondisi tersebut tumbuh semangat DIY (Do It Yourself) yang kemudian menjadi fondasi kultur underground di Bandung. Anak-anak muda Ujungberung membangun panggung mereka sendiri, menciptakan media sendiri, hingga menggandakan dan menyebarkan kaset maupun zine secara mandiri.

Dari lingkungan itulah Kimung mendirikan kolektif Extreme Noise Grinding (ENG), yang kemudian dikenal sebagai Ujungberung Rebels. Komunitas ini menjadi salah satu motor penggerak berkembangnya skena death metal di Bandung. Bagi mereka, komunitas bukan sekadar tempat berkumpul atau mendengarkan musik bersama, melainkan ruang untuk membangun ekosistem yang mandiri.

“Untuk membangun ekosistem itu harus ada produksi, distribusi, konsumsi, preservasi, dan konservasi,” jelas Kimung.

Di tongkrongan Ujungberung, setiap orang didorong untuk berkarya. Menjadi penonton saja tidak cukup. Semua orang ditantang memiliki band, menciptakan lagu sendiri, dan membangun identitasnya masing-masing.

“Tahun '94-'95 tuh ada sekitar 20 band di tongkrongan Ujungberung,” ujarnya.

Semangat kolektif itu terus terbawa hingga masa SMA. Kimung melanjutkan pendidikan di SMA 1 Ujungberung, yang kini bernama SMA 24 Bandung. Pada masa itu, ia mengaku cukup sering dipanggil ke Ruang BP, meski hingga kini tidak benar-benar memahami alasan di balik pemanggilan tersebut.

“Saya juga nggak tahu salahnya apa,” ujarnya sambil tertawa.

Setiap kali berada di Ruang BP, ada satu sosok yang hampir selalu ia temui: Ebenz. Kakak kelasnya itu merupakan siswa pindahan dari Jakarta yang kerap berurusan dengan guru karena penampilannya yang dianggap berantakan.

Kimung tak pernah menyangka pertemuan-pertemuan singkat di Ruang BP itulah yang kelak mengubah hidupnya.

“Suka Sepultura?” ucap Kimung menirukan pertanyaan pertama yang dilontarkan Ebenz kepadanya.

Saat itu, Ebenz melihat tulisan “Sepultura” pada kaus yang dikenakan Kimung. Sepultura sendiri merupakan band heavy metal asal Brasil yang sangat populer di kalangan penggemar musik keras pada era 1990-an.

“Itu obrolan pertama kita,” kenang Kimung.

Kesamaan selera musik membuat keduanya cepat akrab. Kimung kemudian sering berkunjung ke rumah Ebenz dan menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi tentang musik. Ia terkesan dengan koleksi kaset, wawasan, serta pengetahuan Ebenz mengenai kultur underground dunia.

Persahabatan itu akhirnya melahirkan sebuah band yang kemudian menjadi salah satu ikon musik metal Indonesia.

Pada 1995, Kimung dan Ebenz mendirikan Burgerkill. Nama tersebut lahir dari plesetan Burger King, yang saat itu dianggap Ebenz sebagai simbol kemapanan anak-anak muda kelas menengah Jakarta.

Kimung mengenang sebuah cerita yang kerap diulang Ebenz. Suatu hari, saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, Ebenz sedang tidak memiliki uang dan menahan lapar. Dalam kondisi itu, ia melihat sekelompok anak muda sedang menikmati makanan di Burger King.

“Kesel gitu lihat orang-orang itu. ‘Anjing! Ku aing Burgerkill itu!’” ujar Kimung menirukan ucapan Ebenz sambil tertawa.

“Burgerkill adalah antitesis dari kemapanan,” lanjutnya.

Namun perjalanan Burgerkill tidak selalu berjalan mulus. Dalam perjalanannya, Kimung akhirnya memutuskan keluar dari band yang turut ia dirikan. Meski demikian, hubungan pertemanan mereka tidak pernah benar-benar putus.

Bagi Kimung, Burgerkill mungkin bukan lagi tempatnya berkarya. Namun ikatan yang terbangun bersama teman-temannya di Ujungberung tetap bertahan, bahkan hingga hari ini, layaknya sebuah keluarga.

Dari Drugs hingga Menjadi Guru

Di tengah pesatnya perkembangan musik underground, Kimung juga melewati fase kehidupan yang tidak selalu mudah. Seperti banyak anak muda pada masanya, ia pernah bersentuhan dengan narkoba. Namun hingga kini, ia tidak pernah menyalahkan lingkungan ataupun orang lain atas pilihan yang pernah diambilnya.

“Saya nggak pernah menyalahkan orang-orang yang ngasih saya drugs dulu. Itu mah tanggung jawab saya semuanya,” kata Kimung.

Meski dikenal sebagai kawasan dengan kultur musik keras yang kuat, komunitas Ujungberung memiliki sikap tegas terhadap narkoba. Mabuk dan penggunaan obat-obatan dianggap dapat merusak kultur kolektif yang selama ini mereka bangun bersama.

Seiring waktu, Kimung mulai menjauh dari kehidupan tersebut. Ia kembali menaruh fokus pada pendidikan dan menyelesaikan studi sejarah di Universitas Padjadjaran.

Pengalaman di kampus mempertemukannya dengan dunia sosial yang lebih luas. Saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia turut membantu mendirikan SMP Terbuka di Padaasih bagi anak-anak desa yang harus bekerja sambil tetap bersekolah.

Pengalaman itu membuatnya sempat membayangkan masa depan yang jauh dari dunia musik.

Ia ingin menjadi guru.

“Awalnya saya ingin benar-benar meninggalkan musik. Tapi itu tidak mungkin,” katanya sambil tersenyum.

Setelah menyelesaikan kuliah pada 2002, Kimung mulai mengajar di Sekolah Mutiara Bunda pada 2003. Selama lima tahun, hingga 2008, ia mengajar di jenjang SD, SMP, dan SMA sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya sejarah dan geografi.

Kariernya sebagai pendidik berlanjut di SMK Cendekia Muda pada 2008 hingga 2015. Di ruang kelas, ia menjalani peran sebagai guru. Namun di luar sekolah, hidupnya tetap dipenuhi buku, zine, komunitas, dan berbagai tongkrongan kreatif.

Pada periode itulah Kimung mulai terlibat dengan Common Room, ruang kolektif lintas disiplin yang mempertemukan seniman, pemikir, arsitek, musisi, hingga praktisi teknologi di Bandung.

Di tempat tersebut, ia berkenalan dengan karinding, alat musik tradisional Sunda yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir lalu disentil pada bagian ujungnya.

Pertemuan itu membuka kemungkinan baru.

Bersama sejumlah teman, Kimung mulai bereksperimen mengawinkan bunyi karinding dengan energi musik keras yang selama ini akrab dengannya.

“Kita bikin musik punk, metal, hardcore yang dimainkan oleh karinding,” ujarnya.

Eksperimen tersebut kemudian melahirkan Karinding Attacks, grup musik yang memadukan alat musik tradisional Sunda dengan pendekatan musik heavy metal dan berbagai genre musik alternatif lainnya.

Dari sebuah ruang kecil di Bandung, bunyi karinding perlahan menjangkau generasi muda. Alat musik yang sebelumnya identik dengan tradisi mulai hadir dalam panggung-panggung yang selama ini didominasi gitar distorsi, drum, dan teriakan vokal musik keras.

Bagi Kimung, karinding bukan sekadar alat musik tradisional. Ia adalah jembatan yang mempertemukan akar budaya lokal dengan semangat kreatif generasi baru.

Arsip, Bandung Bawah Tanah, dan Atap Class

Seiring waktu, perhatian Kimung tidak lagi hanya tertuju pada panggung musik. Ia mulai menekuni dunia dokumentasi dan penulisan, merekam sejarah komunitas underground Bandung melalui buku, zine, dan media yang ia bangun, Bandung Bawah Tanah.

Baginya, sebuah skena tidak cukup hanya hidup di panggung. Ia juga harus diarsipkan agar tidak hilang ditelan waktu.

Salah satu momen paling emosional dalam perjalanan hidupnya terjadi ketika ia dan Ivan Scumbag berencana menulis buku biografi Burgerkill. Ivan, vokalis Burgerkill, merupakan sosok yang mendorong banyak anak muda Ujungberung untuk membentuk band dan berkarya. Semangat yang ia tularkan membuat skena musik di kawasan tersebut tumbuh secara sporadis pada era 1990-an.

Namun rencana itu berubah ketika kondisi kesehatan Ivan memburuk.

Di tengah masa-masa kritis sang sahabat, Kimung memutuskan mengubah konsep buku yang semula akan menjadi biografi Burgerkill menjadi biografi tentang Ivan. Keputusan itu kemudian melahirkan buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (2007).

“Di sela-sela sakaratul maut tuh saya bilang ke Ivan, bukuna moal jadi biografi Burgerkill. Tapi bakal jadi buku biografi maneh di Burgerkill,” kenangnya.

Kimung lalu mengambil beberapa buku dari rak di samping meja kerjanya. Salah satunya adalah Ujungberung Rebels. Buku setebal hampir menyerupai kitab itu menjadi salah satu karya yang paling merepresentasikan obsesinya terhadap dokumentasi sejarah.

Tipografi yang digunakan sengaja dibuat menyerupai buku-buku lama. Kehadiran aksara Sunda pada beberapa subjudul semakin memperkuat nuansa historis yang ingin ditampilkan.

Sejauh ini, sejumlah karya penting yang telah ia hasilkan antara lain:

  • Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (2007), biografi mendiang Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill.
  • Memoar Melawan Lupa (2011), catatan mengenai tragedi “Sabtu Kelabu” yang menewaskan 11 penonton konser di Gedung AAC Bandung pada 2008.
  • Jurnal Karat: Karinding Attacks (2011), dokumentasi perjalanan Karinding Attacks dalam memperkenalkan karinding kepada generasi baru.
  • Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur (2013), catatan mengenai tumbuhnya skena musik metal di Ujungberung.

Saat ini, Kimung tengah mengerjakan seri literatur Bandung Bawah Tanah yang direncanakan terdiri atas 11 buku. Seri tersebut akan mendokumentasikan berbagai elemen subkultur musik Bandung, mulai dari metal, punk, hardcore, hip-hop, rock, pop, musik elektronik, zine, merchandising, gigs, hingga record label.

Di tengah kesibukannya sebagai penulis dan pengarsip, sebagian besar waktunya kini dihabiskan di Atap Class, ruang edukasi, arsip, dan kajian subkultur yang ia bangun di Bandung.

Di tempat itu, anak-anak muda belajar membuat film, fotografi, desain, musik, hingga membangun kolektif mereka sendiri. Tujuannya bukan sekadar mencetak tenaga kerja industri kreatif, melainkan melahirkan individu yang mampu menciptakan ruang hidup dan ekosistemnya sendiri.

“Hakikat ekonomi kreatif kan untuk create something. Menciptakan sesuatu, bukan mengerjakan apa yang sudah diciptakan orang lain,” kata Kimung.

Baginya, regenerasi jauh lebih penting daripada popularitas. Sebab budaya hanya bisa bertahan jika terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mungkin itulah benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan hidup Kimung.

Dari dongeng mitologi yang diceritakan ayahnya dalam perjalanan menuju salat subuh, kebiasaan mencatat ribuan nama penemu saat sekolah dasar, kiprahnya sebagai guru, hingga keterlibatannya membangun Ujungberung Rebels, Burgerkill, dan Pangauban Karinding, semuanya bermuara pada satu hal yaitu untuk merawat pengetahuan agar tidak hilang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)