AYOBANDUNG.ID - “Kimung itu awalnya panggilan lucu dari mamah. ‘Kimun, Kimun,’” kata Kimung menirukan panggilan gemas ibunya sambil tertawa.
“Terus karena dulu saya suka motong omongan guru sejarah waktu SMA. Guru saya jadi manggil saya Imong. Iman banyak ngomong,” katanya kembali terkekeh.
“Dari Kimun sama Imong, jadi Kimung,” lanjutnya menjelaskan asal-usul nama yang kini melekat padanya.
Kimung adalah seorang penulis, pemusik, dan budayawan. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri Burgerkill, band hardcore asal Ujungberung Bandung. Lahir di Lengkong, Bandung, dan sejak usia dua tahun menetap di Ujungberung. Nama aslinya adalah Iman Rahman Anggawiria Kusumah (48) yang tumbuh besar di tengah suara siaran radio dan tumpukan buku.
Ayahnya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kawedanan yang gemar mengarsipkan dokumen pekerjaan hingga membawanya pulang ke rumah. Kawedanan sendiri merupakan jabatan administratif pada masa Hindia Belanda, setingkat pembantu bupati yang membawahi beberapa kecamatan. Sementara itu, ibunya adalah ibu rumah tangga yang kerap membantu pekerjaan sang ayah di kantor.
Kedua orang tuanya sama-sama menyukai musik. Sepulang kerja, ayah Kimung sering memutar lagu Sunda, seperti kecapi suling, hingga musik rock dari Led Zeppelin dan Black Sabbath. Berbeda dengan sang ayah, ibunya lebih menyukai lagu-lagu pop. Dari kebiasaan itulah musik menjadi sesuatu yang akrab di telinga Kimung sejak kecil.
“Saya salah satu yang lebih banyak besar di lingkungan buku sama radio dibandingkan TV,” kata Kimung saat ditemui di kantor Atap Promotion.
Selain musik, buku juga menjadi bagian penting dalam masa kecilnya. Sang ayah kerap membawakan buku sebagai oleh-oleh setiap pulang kerja. Kebiasaan sederhana itu perlahan menumbuhkan kecintaannya pada dunia membaca dan membuatnya mengagumi banyak penulis.
“Kalau pulang kerja tuh Bapak suka bawa oleh-oleh buku,” ujarnya mengenang masa kecil.
Ketertarikan terhadap literasi tampaknya sudah tumbuh sejak usia dini. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Kimung gemar mencatat berbagai hal yang menarik perhatiannya. Ia masih mengingat ketika ayahnya mengajak berkunjung ke Museum Gedung Sate. Dari sana, rasa ingin tahunya terhadap berbagai pengetahuan semakin berkembang.
“Di kelas 5 SD, saya mencatat sekitar 5.000 nama penemu barang di dunia,” kata Kimung.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Kimung tumbuh dalam keluarga yang menanamkan disiplin beribadah. Anak laki-laki diwajibkan melaksanakan salat di masjid, sehingga sejak kecil ia terbiasa mengikuti ayahnya untuk salat berjemaah.
Meski demikian, salat subuh menjadi tantangan tersendiri baginya. Rasa kantuk dan jarak masjid yang cukup jauh membuat perjalanan menuju masjid terasa berat bagi seorang anak kecil.
Untuk mengatasinya, sang ayah punya cara tersendiri. Sepanjang perjalanan menuju masjid, ia akan bercerita tentang bintang-bintang di langit agar putranya tetap terjaga.
“Selama jalan kaki ke masjid, saya didongengin soal bintang sama Bapak,” tutur Kimung sambil menunjuk langit-langit ruangan dan menyebut beberapa nama dewa dalam mitologi, memperagakan bagaimana ayahnya bercerita pada masa itu.
“Kayaknya itu pengetahuan pertama saya tentang mitologi,” kenangnya.

Metallica dan Ujungberung
Setelah enam tahun bersekolah di SDN 1 Sukapura, Kimung melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Ujungberung, yang kini bernama SMPN 8 Bandung. Memasuki masa remaja, pandangannya terhadap dunia mulai berubah. Kehangatan yang ia rasakan di rumah ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang ia jumpai di lingkungan urban Ujungberung pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Di rumah, ia tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Namun di luar rumah, ia menyaksikan perkelahian, kekerasan jalanan, dan berbagai persoalan sosial yang sebelumnya asing baginya. Kontras itulah yang mulai memunculkan banyak pertanyaan dalam benaknya.
“Saya mulai mempertanyakan banyak hal,” kata Kimung, mengenang masa-masa awal SMP ketika mulai berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Ujungberung.
“Dunia teh henteu baik-baik saja,” ucapnya pelan.
Pada masa itu, akses menuju pusat Kota Bandung tidak semudah sekarang. Dari Ujungberung, Kimung harus berganti tiga kali angkutan kota untuk mencapai pusat kota. Perjalanan ke Bandung Indah Plaza (BIP) atau Alun-alun Bandung terasa seperti bepergian ke tempat yang sangat jauh.
“Transportasi teh hese pisan. Saya kalau mau ke BIP atau ke alun-alun teh nyebutnya 'ka kota',” ujar Kimung.
Keterbatasan ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk sekadar berjalan-jalan atau membeli kaset musik di pusat kota, ia harus menabung selama beberapa hari.
“Tidak selalu punya uang. Jadi harus nabung. Misalnya malam Minggu pengen ke BIP, ngumpulin dulu uangnya dari Senin,” kenangnya.
Kondisi tersebut justru melahirkan solidaritas yang kuat di kalangan anak muda Ujungberung. Sulitnya bertemu komunitas dari wilayah lain membuat mereka membangun kelompok-kelompok pergaulan berdasarkan daerah tempat tinggal masing-masing.
“Karena agak susah buat bertemu kawan-kawan baru. Akhirnya yang satu daerah membentuk kolektif-kolektif berdasarkan nama wilayah,” ujarnya.
Kimung kemudian menyebut beberapa kelompok yang populer saat itu, seperti Barudak Ujungberung, Barudak Setiabudi, dan Barudak Hasanudin.
Di tengah lingkungan pergaulan tersebut, Kimung menemukan ketertarikannya pada musik metal. Ia merasa lirik-lirik Metallica, Sepultura, dan musik underground lainnya menggambarkan realitas yang sama dengan kehidupan yang ia saksikan setiap hari di Ujungberung.
“Apa yang diceritakan Metallica sama dengan apa yang saya lihat di jalanan Ujungberung waktu itu,” kata Kimung.
“Saya nemuin koneksi antara apa yang saya lihat sama musik yang saya dengar.”
Musik kemudian menjadi lebih dari sekadar hiburan. Bagi Kimung, musik menawarkan ruang untuk memahami kenyataan sekaligus mencari jalan keluar dari lingkungan yang keras. Ketika banyak teman seusianya terseret ke dalam lingkaran kekerasan jalanan, ia memilih menenggelamkan diri dalam musik dan sastra.
Pilihan itulah yang kelak mengubah arah hidupnya.
Ujungberung Rebels dan Burgerkill
Keterbatasan akses informasi justru mendorong anak-anak muda Ujungberung untuk mandiri. Mereka tidak memiliki media yang secara khusus membahas musik yang mereka dengarkan. Internet belum hadir, sementara informasi hanya diperoleh dari radio, kaset bajakan, atau percakapan antarteman.
“Informasi teh susah. Satu-satunya informasi harus dari teman, kalau nggak dari radio GMR,” kata Kimung.
GMR merupakan akronim dari Generasi Muda Radio, stasiun radio rock dan metal legendaris di Bandung pada era 1990-an.
Dari kondisi tersebut tumbuh semangat DIY (Do It Yourself) yang kemudian menjadi fondasi kultur underground di Bandung. Anak-anak muda Ujungberung membangun panggung mereka sendiri, menciptakan media sendiri, hingga menggandakan dan menyebarkan kaset maupun zine secara mandiri.
Dari lingkungan itulah Kimung mendirikan kolektif Extreme Noise Grinding (ENG), yang kemudian dikenal sebagai Ujungberung Rebels. Komunitas ini menjadi salah satu motor penggerak berkembangnya skena death metal di Bandung. Bagi mereka, komunitas bukan sekadar tempat berkumpul atau mendengarkan musik bersama, melainkan ruang untuk membangun ekosistem yang mandiri.
“Untuk membangun ekosistem itu harus ada produksi, distribusi, konsumsi, preservasi, dan konservasi,” jelas Kimung.
Di tongkrongan Ujungberung, setiap orang didorong untuk berkarya. Menjadi penonton saja tidak cukup. Semua orang ditantang memiliki band, menciptakan lagu sendiri, dan membangun identitasnya masing-masing.
“Tahun '94-'95 tuh ada sekitar 20 band di tongkrongan Ujungberung,” ujarnya.
Semangat kolektif itu terus terbawa hingga masa SMA. Kimung melanjutkan pendidikan di SMA 1 Ujungberung, yang kini bernama SMA 24 Bandung. Pada masa itu, ia mengaku cukup sering dipanggil ke Ruang BP, meski hingga kini tidak benar-benar memahami alasan di balik pemanggilan tersebut.
“Saya juga nggak tahu salahnya apa,” ujarnya sambil tertawa.
Setiap kali berada di Ruang BP, ada satu sosok yang hampir selalu ia temui: Ebenz. Kakak kelasnya itu merupakan siswa pindahan dari Jakarta yang kerap berurusan dengan guru karena penampilannya yang dianggap berantakan.
Kimung tak pernah menyangka pertemuan-pertemuan singkat di Ruang BP itulah yang kelak mengubah hidupnya.
“Suka Sepultura?” ucap Kimung menirukan pertanyaan pertama yang dilontarkan Ebenz kepadanya.
Saat itu, Ebenz melihat tulisan “Sepultura” pada kaus yang dikenakan Kimung. Sepultura sendiri merupakan band heavy metal asal Brasil yang sangat populer di kalangan penggemar musik keras pada era 1990-an.
“Itu obrolan pertama kita,” kenang Kimung.
Kesamaan selera musik membuat keduanya cepat akrab. Kimung kemudian sering berkunjung ke rumah Ebenz dan menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi tentang musik. Ia terkesan dengan koleksi kaset, wawasan, serta pengetahuan Ebenz mengenai kultur underground dunia.
Persahabatan itu akhirnya melahirkan sebuah band yang kemudian menjadi salah satu ikon musik metal Indonesia.
Pada 1995, Kimung dan Ebenz mendirikan Burgerkill. Nama tersebut lahir dari plesetan Burger King, yang saat itu dianggap Ebenz sebagai simbol kemapanan anak-anak muda kelas menengah Jakarta.
Kimung mengenang sebuah cerita yang kerap diulang Ebenz. Suatu hari, saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, Ebenz sedang tidak memiliki uang dan menahan lapar. Dalam kondisi itu, ia melihat sekelompok anak muda sedang menikmati makanan di Burger King.
“Kesel gitu lihat orang-orang itu. ‘Anjing! Ku aing Burgerkill itu!’” ujar Kimung menirukan ucapan Ebenz sambil tertawa.
“Burgerkill adalah antitesis dari kemapanan,” lanjutnya.
Namun perjalanan Burgerkill tidak selalu berjalan mulus. Dalam perjalanannya, Kimung akhirnya memutuskan keluar dari band yang turut ia dirikan. Meski demikian, hubungan pertemanan mereka tidak pernah benar-benar putus.
Bagi Kimung, Burgerkill mungkin bukan lagi tempatnya berkarya. Namun ikatan yang terbangun bersama teman-temannya di Ujungberung tetap bertahan, bahkan hingga hari ini, layaknya sebuah keluarga.
Dari Drugs hingga Menjadi Guru
Di tengah pesatnya perkembangan musik underground, Kimung juga melewati fase kehidupan yang tidak selalu mudah. Seperti banyak anak muda pada masanya, ia pernah bersentuhan dengan narkoba. Namun hingga kini, ia tidak pernah menyalahkan lingkungan ataupun orang lain atas pilihan yang pernah diambilnya.
“Saya nggak pernah menyalahkan orang-orang yang ngasih saya drugs dulu. Itu mah tanggung jawab saya semuanya,” kata Kimung.
Meski dikenal sebagai kawasan dengan kultur musik keras yang kuat, komunitas Ujungberung memiliki sikap tegas terhadap narkoba. Mabuk dan penggunaan obat-obatan dianggap dapat merusak kultur kolektif yang selama ini mereka bangun bersama.
Seiring waktu, Kimung mulai menjauh dari kehidupan tersebut. Ia kembali menaruh fokus pada pendidikan dan menyelesaikan studi sejarah di Universitas Padjadjaran.
Pengalaman di kampus mempertemukannya dengan dunia sosial yang lebih luas. Saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia turut membantu mendirikan SMP Terbuka di Padaasih bagi anak-anak desa yang harus bekerja sambil tetap bersekolah.
Pengalaman itu membuatnya sempat membayangkan masa depan yang jauh dari dunia musik.
Ia ingin menjadi guru.
“Awalnya saya ingin benar-benar meninggalkan musik. Tapi itu tidak mungkin,” katanya sambil tersenyum.
Setelah menyelesaikan kuliah pada 2002, Kimung mulai mengajar di Sekolah Mutiara Bunda pada 2003. Selama lima tahun, hingga 2008, ia mengajar di jenjang SD, SMP, dan SMA sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya sejarah dan geografi.
Kariernya sebagai pendidik berlanjut di SMK Cendekia Muda pada 2008 hingga 2015. Di ruang kelas, ia menjalani peran sebagai guru. Namun di luar sekolah, hidupnya tetap dipenuhi buku, zine, komunitas, dan berbagai tongkrongan kreatif.
Pada periode itulah Kimung mulai terlibat dengan Common Room, ruang kolektif lintas disiplin yang mempertemukan seniman, pemikir, arsitek, musisi, hingga praktisi teknologi di Bandung.
Di tempat tersebut, ia berkenalan dengan karinding, alat musik tradisional Sunda yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir lalu disentil pada bagian ujungnya.
Pertemuan itu membuka kemungkinan baru.
Bersama sejumlah teman, Kimung mulai bereksperimen mengawinkan bunyi karinding dengan energi musik keras yang selama ini akrab dengannya.
“Kita bikin musik punk, metal, hardcore yang dimainkan oleh karinding,” ujarnya.
Eksperimen tersebut kemudian melahirkan Karinding Attacks, grup musik yang memadukan alat musik tradisional Sunda dengan pendekatan musik heavy metal dan berbagai genre musik alternatif lainnya.
Dari sebuah ruang kecil di Bandung, bunyi karinding perlahan menjangkau generasi muda. Alat musik yang sebelumnya identik dengan tradisi mulai hadir dalam panggung-panggung yang selama ini didominasi gitar distorsi, drum, dan teriakan vokal musik keras.
Bagi Kimung, karinding bukan sekadar alat musik tradisional. Ia adalah jembatan yang mempertemukan akar budaya lokal dengan semangat kreatif generasi baru.
Arsip, Bandung Bawah Tanah, dan Atap Class
Seiring waktu, perhatian Kimung tidak lagi hanya tertuju pada panggung musik. Ia mulai menekuni dunia dokumentasi dan penulisan, merekam sejarah komunitas underground Bandung melalui buku, zine, dan media yang ia bangun, Bandung Bawah Tanah.
Baginya, sebuah skena tidak cukup hanya hidup di panggung. Ia juga harus diarsipkan agar tidak hilang ditelan waktu.
Salah satu momen paling emosional dalam perjalanan hidupnya terjadi ketika ia dan Ivan Scumbag berencana menulis buku biografi Burgerkill. Ivan, vokalis Burgerkill, merupakan sosok yang mendorong banyak anak muda Ujungberung untuk membentuk band dan berkarya. Semangat yang ia tularkan membuat skena musik di kawasan tersebut tumbuh secara sporadis pada era 1990-an.
Namun rencana itu berubah ketika kondisi kesehatan Ivan memburuk.
Di tengah masa-masa kritis sang sahabat, Kimung memutuskan mengubah konsep buku yang semula akan menjadi biografi Burgerkill menjadi biografi tentang Ivan. Keputusan itu kemudian melahirkan buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (2007).
“Di sela-sela sakaratul maut tuh saya bilang ke Ivan, bukuna moal jadi biografi Burgerkill. Tapi bakal jadi buku biografi maneh di Burgerkill,” kenangnya.
Kimung lalu mengambil beberapa buku dari rak di samping meja kerjanya. Salah satunya adalah Ujungberung Rebels. Buku setebal hampir menyerupai kitab itu menjadi salah satu karya yang paling merepresentasikan obsesinya terhadap dokumentasi sejarah.
Tipografi yang digunakan sengaja dibuat menyerupai buku-buku lama. Kehadiran aksara Sunda pada beberapa subjudul semakin memperkuat nuansa historis yang ingin ditampilkan.
Sejauh ini, sejumlah karya penting yang telah ia hasilkan antara lain:
- Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (2007), biografi mendiang Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill.
- Memoar Melawan Lupa (2011), catatan mengenai tragedi “Sabtu Kelabu” yang menewaskan 11 penonton konser di Gedung AAC Bandung pada 2008.
- Jurnal Karat: Karinding Attacks (2011), dokumentasi perjalanan Karinding Attacks dalam memperkenalkan karinding kepada generasi baru.
- Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur (2013), catatan mengenai tumbuhnya skena musik metal di Ujungberung.
Saat ini, Kimung tengah mengerjakan seri literatur Bandung Bawah Tanah yang direncanakan terdiri atas 11 buku. Seri tersebut akan mendokumentasikan berbagai elemen subkultur musik Bandung, mulai dari metal, punk, hardcore, hip-hop, rock, pop, musik elektronik, zine, merchandising, gigs, hingga record label.
Di tengah kesibukannya sebagai penulis dan pengarsip, sebagian besar waktunya kini dihabiskan di Atap Class, ruang edukasi, arsip, dan kajian subkultur yang ia bangun di Bandung.
Di tempat itu, anak-anak muda belajar membuat film, fotografi, desain, musik, hingga membangun kolektif mereka sendiri. Tujuannya bukan sekadar mencetak tenaga kerja industri kreatif, melainkan melahirkan individu yang mampu menciptakan ruang hidup dan ekosistemnya sendiri.
“Hakikat ekonomi kreatif kan untuk create something. Menciptakan sesuatu, bukan mengerjakan apa yang sudah diciptakan orang lain,” kata Kimung.
Baginya, regenerasi jauh lebih penting daripada popularitas. Sebab budaya hanya bisa bertahan jika terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mungkin itulah benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan hidup Kimung.
Dari dongeng mitologi yang diceritakan ayahnya dalam perjalanan menuju salat subuh, kebiasaan mencatat ribuan nama penemu saat sekolah dasar, kiprahnya sebagai guru, hingga keterlibatannya membangun Ujungberung Rebels, Burgerkill, dan Pangauban Karinding, semuanya bermuara pada satu hal yaitu untuk merawat pengetahuan agar tidak hilang.