Bandung Tak Pernah Mengeluh, justru Kita yang malah Sering Mengeluh

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Jembatan Pasupati jadi salah satu ikon Bandung. (Sumber: Djoko Subinarto | Foto: Djoko Subinarto)
Jembatan Pasupati jadi salah satu ikon Bandung. (Sumber: Djoko Subinarto | Foto: Djoko Subinarto)

BANDUNG -- yang katanya sekarang heurin ku tangtung -- bukan sekadar kota. Ia juga adalah rasa yang hadir dalam setiap sudut jalan dalam bentuk, misalnya, senyum ramah dari pedagang kaki lima atau rasa sejuk yang kita rasakan dari rindangnya pohon-pohon di sepanjang Jalan Cipaganti dan Tamansari. 

Dulu sekali, kota ini berjuluk Kota Kembang. Tapi, jauh sebelum itu, pemerintah kolonial Belanda sudah menenun mimpi dengan merancang Bandung sebagai sebuah kota taman yang anggun, tertib, dan pikabetaheun. Ia digadang-gadang menjadi sebuah kota yang menyatukan alam dan manusia dalam irama yang tenang.

Sejak awal abad ke-20, Bandung dirancang bukan hanya sebagai pusat administrasi, tetapi juga sebagai contoh kota ideal, sebuah kota yang mendekatkan manusia pada ruang hijau di tengah kepungan gunung-gunung nan anggun.

Herman Thomas Karsten, arsitek dan urban planner Belanda, memperkenalkan prinsip stadsvorming, yakni gagasan membangun kota yang selaras dengan lanskap lokal dan nilai budaya masyarakat. Dalam hal ini, kota bukan sekadar bangunan, tapi organisme hidup.

Maka, taman-taman dibuat dengan penuh perhitungan. Trotoar dibikin lebar untuk manusia. Jalur air diatur agar hujan tak menjelma jadi petaka. Dan Bandung pun dirancang menjadi sebuah paras kota tropis modern yang indah mempesona.

Namun, toh roda zaman bergulir. Bandung kian padat. Kota ini kian terasa heurin. Lapangan hijau berubah jadi ruko, sungai jadi got, dan langit biru menjadi kelabu karena lebih sering tertutup debu. Mimpi Bandung sebagai kota taman perlahan menjadi sekadar catatan kaki buku sejarah.

Lalu, bagaimana kita harus mencintai Bandung hari ini, yang telah banyak berubah? Apa yang bisa kita korbankan untuk ikut memulihkan keindahan Bandung yang hampir hilang?

Bukan perkara nostalgia

Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)
Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

Mencintai Bandung bukan perkara nostalgia. Tapi, tentang aksi nyata. Dan aksi kadang berarti melepaskan ego kita: rela berjalan kaki, naik angkot, naik sepeda, atau menanam pohon tanpa menunggu tepuk tangan.

Jan Gehl, urbanis asal Denmark, dalam karyanya bertajuk Cities for People (2010), menulis antara lain: "A good city is like a good party. You stay longer than you plan."  Akan tetapi, bagaimana mau bertahan lama, kalau setiap sudut kota kini dipenuhi bising knalpot yang beberetan menulikan telinga dan polusi yang bikin sesak dada?

Jujur saja, Bandung punya pekerjaan rumah besar berupa kualitas udara yang memburuk. Menurut IQAir, indeks kualitas udara Bandung kerap masuk kategori tidak sehat, terutama di musim kemarau.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Studi dan laporan berbagai pihak, termasuk kajian yang dilakukan ITB dan lembaga lingkungan seperti IESR, menunjukkan bahwa sektor transportasi adalah salah satu kontributor utama emisi karbon di perkotaan, termasuk di Bandung. Kendaraan pribadi -- mobil dan sepeda motor -- menjadi penyumbang terbesar dalam lanskap emisi harian yang menyelimuti kota ini.

Tren umum menunjukkan bahwa lebih dari separuh pencemaran udara kawasan urban, seperti Bandung, berasal dari aktivitas kendaraan bermotor. Setiap sepeda motor yang meraung dan setiap mobil yang melaju, membawa beban karbon yang perlahan menyusup ke napas kita dan napas kota.

Padahal, sepeda kayuh bisa menjadi salah satu solusi paling sederhana untuk mengurai kemacetan dan polusi kota. Namun, ironisnya, lajur sepeda di Bandung masih sering dibiarkan nganggur, tidak dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, di beberapa titik, lajur ini justru tergusur oleh parkir liar.

Kesediaan untuk berubah

Lorong di Kosambi yang dipenuhi orang-orang, The Hallway Space. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Lorong di Kosambi yang dipenuhi orang-orang, The Hallway Space. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)

Berkorban untuk Bandung agar kota ini menjadi lebih baik bukan sekadar slogan, tapi bentuk nyata dari kesediaan kita untuk berubah. Rela berjalan kaki sedikit lebih jauh, menahan diri untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi setiap saat, atau memberi ruang bagi yang tak bersuara seperti pohon, udara, dan air adalah pengorbanan yang dibutuhkan kota ini. Kota yang sehat dan manusiawi lahir dari pilihan-pilihan kecil yang penuh kesadaran.

Sungai Cikapundung, yang membelah Kota Bandung, adalah salah satu cermin kita. Dulu ia jernih, tempat anak-anak bermain dan orang tua menimba air. Kini ia membawa aroma getir peradaban yang abai.

Bandung mungkin lelah menampung semua kelalaian kita. Tapi, ia sama sekali tak pernah mengeluh. Justru kita semua yang terus mengeluh, dan bahkan uring-uringan. Betapa tidak. Kita mengeluh soal macet, mengeluh soal banjir, mengeluh soal udara kotor, tanpa sadar, kitalah sebenarnya biang keroknya.

Seandainya Bandung bisa bernyanyi, mungkin ia akan memilih mendendangkan lirik lagu Coldplay yang berbunyi: "Lights will guide you home / And ignite your bones / And I will try to fix you."

Sayangnya, Bandung bukanlah Chris Martin. Bandung, jelas, tak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Ia butuh tangan-tangan manusia, tangan-tangan kita semua, yang rela memperbaiki, tanpa harus ada sorotan kamera.

Tak perlu menjadi pejabat atau pesohor beken untuk berkontribusi. Cukup mulai dari hal-hal kecil semisal memungut sampah yang berserakan, memberi ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda, atau sekadar tidak membuang limbah ke selokan. Kota ini akan pulih bukan karena satu aksi besar, tapi oleh ribuan aksi kecil yang dilakukan dengan konsisten dan penuh cinta.

Bandung bukan panggung bagi ego kita, melainkan rumah bagi kehidupan bersama. Ia tumbuh dari empati, bukan dari gengsi. Ketika warga Bandung saling menjaga dan saling mengingatkan, di situlah semangat kota ini hidup. Dan mungkin, di sanalah kita semua sedang menjadi bagian dari lagu indah yang belum selesai ditulis.

Dipenuhi warga yang mau berkorban

Para ahli urbanisme sepakat bahwa kota yang baik bukan yang penuh gedung tinggi, tapi yang dipenuhi warga yang mau berkorban untuk kenyamanan bersama. Konsep social capital dari Robert Putnam menunjukkan bahwa kota tumbuh sehat jika ada kepercayaan dan solidaritas di antara warganya. Kota tumbuh lewat kebersamaan.

Sedihnya, ruang publik di Bandung justru makin menyempit. Lahan hijau beralih fungsi, taman disulap jadi mal, trotoar digusur parkiran. Kota kehilangan ruang untuk bernapas.

Tapi, kita masih bisa memulai dari hal-hal sederhana, seperti yang telah disebutkan di muka. Kebiasaan-kebiasaan kecil bisa berdampak besar. Pasalnya, kota dibentuk dari jutaan kebiasaan kecil yang dikumpulkan setiap hari.

Pemerintah pun harus rela berkorban. Bukan sekadar membuat program populis, tapi menerima kritik dan berani belajar dari kesalahan. Kota bukan panggung politik semata. Bandung perlu pemimpin yang visioner, yang tak hanya memikirkan elektabilitas.

Kota ini tak butuh lebih banyak beton, tapi lebih banyak kasih. Dan kasih, seringkali lahir dari pengorbanan. Pengorbanan sendiri tak harus besar dan mewah. Jika kita mencintai Bandung, maka kita harus rela melepas sedikit kenyamanan pribadi, demi ruang yang lebih nyaman untuk semua. Karena pada akhirnya, kita semua hanyalah tamu di kota ini. Dan tamu yang baik, pasti tahu caranya menjaga rumah yang ia singgahi.

Bandung kiwari adalah rumah yang mulai rapuh namun masih menawan. Ia menanti tangan-tangan yang peduli, hati yang rela berkorban. Dan semuanya bisa dimulai hari ini, dari kita semua. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)