Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Merawat Tradisi, Memuliakan Manusia Saat Idul Adha

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 06 Jun 2025, 18:44 WIB
Warga saat akan memotong hewan kurban jenis sapi dan domba di Halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung, Senin 17 Juni 2024. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi) | Foto: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi))

Warga saat akan memotong hewan kurban jenis sapi dan domba di Halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung, Senin 17 Juni 2024. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi) | Foto: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi))

Setiap tradisi, kepercayaan, dan agama mengajarkan pentingnya pengorbanan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diterima. Ikhtiar ini diyakini sebagai upaya untuk menolak bala, menghindari bahaya, dan menjauhkan diri dari angkara murka.

Sejatinya, peringatan Idul Adha (Rayagung) yang jatuh pada 10 Zulhijjah dan tahun ini bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2025, tidak semata-mata dimaknai sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT untuk menyembelih hewan kurban (sapi, unta, kambing, kerbau, domba). Lebih dari itu, hari raya kurban adalah momentum yang tepat untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri, seperti kerakusan, egoisme, ketamakan, dan hawa nafsu.

Tentunya pengorbanan ini harus didasari oleh keimanan yang kokoh, keikhlasan, semangat berbagi yang menumbuhkan solidaritas sosial dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Pasalnya melalui ibadah kurban ini, manusia diingatkan tentang jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan, yang bukan dengan mengorbankan sesama manusia, melainkan dengan menaklukkan ego diri, memperkuat kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Hidup dalam Gelembung Digital

Jejak Rayagung

Untuk wilayah Priangan, biasanya pada tanggal sembilan Rayagung, baik di lingkungan mesjid maupun di kampung-kampung, banyak yang sudah menyediakan domba kurban yang sengaja untuk disembelih pada waktu sehabis khutbah lebaran Rayagung yang sering disebut kurban. 

Dalam bahasa Arab Lebaran Idul Kurban ini sering dinamakan Lebaran Idul Adha (hari raya kurban), merupakan hari yang paling baik untuk beramal. Pada zaman dulu, harga hewan kurban masih murah dan orang-orang mempunyai keyakinan agama bahwa siapa yang mengadakan kurban, hewan yang dikurbankannya itu bakal dinaiki kelak di akhirat. Banyak yang memberi kurban untuk dirinya sendiri, untuk ayah dan ibunya. 

Seekor domba untuk satu orang, seekor kerbau (sapi) untuk tujuh orang. Pada waktu itu, setiap mesjid, mendapat kiriman dari orang-orang mampu di Priangan lewat Kecamatan. Daging kurban dibagikan kepada ahli mesjid, orang kampung, dan tempat-tempat lainnya. Bagian untuk satu orang biasanya disebut gaganting, demikian pula di Kecamatan.

Pada zaman sekarang, karena mahalnya hewan kurban, hanya sedikit orang yang mampu berkurban. Akan tetapi, hal ini tidak membuat hari-hari kurban itu sepi. Setiap tahun pasti ada orang yang berkurban.

Pada tanggal sembilan Rayagung, dibunyikan lagi tabuh untuk memberitahukan bahwa nanti malam tanggal sepuluh Rayagung ada takbir bersama-sama di mesjid. Kemudian, keesokan harinya, pagi-pagi, diadakan salat sunat Lebaran Idul Adha. Setelah sampai pada waktunya, kira-kira pukul 6.30, semua orang yang datang terus salat sunat, berjamaah, kemudian khotib membacakan khutbahnya di mimbar. Setelah selesai khutbah, semua berdiri lalu bersalaman, bersamaan dengan bunyi tabuh penutup.

Saat Idul Adha itu tidak ada keramaian apa-apa, apalagi kalau tidak ada penyembelihan kurban. Akan tetapi semuanya itu tidak mungkin karena penyembelihan kurban merupakan salah satu syariat dari agama Islam. Apabila semuanya itu tidak dilaksanakan, itu berarti kita dikatakan tidak menghargai agama.

Golongan menak di kota Bandung pun mengetahui bahwa pada hari itu ada Lebaran, ada Kurban. Menurut cerita, kelak kerbau itu akan menjadi tunggangan di akhirat. Cerita ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat.

Bagi orang yang percaya dan senang bersedekah, karena tidak mampu berkurban, pada hari itu ia sering mengadakan selamatan. Begitu juga karena nama walilat yang biasa diramaikan pada tanggal sembilan Rayagung, di pasar, ramai orang berbelanja untuk menyiapkan makanan besar maupun kecil. Makanan itu biasanya dikirimkan ke rumah lebai dan kepada orang tua walaupun sedikit.

Bulan Zulhijah ini merupakan bulan yang baik, lain dari bulan-bulan yang lain. Bulan-bulan ini biasa dipergunakan orang untuk merayakan hari pernikahan agar mendapat kesenangan dan kesejahteraan. Malah kata orang mesjid, lebaran ini lebih dari fitrah, banyak orang yang mendadak nikah karena sering bakal ada keridan. (Hasan Mustapa, 2022:201-202)

Hikayat Kurban

Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Berkurban sangat dianjurkan untuk dikerjakan, selain merupakan ibadah, juga penegasan untuk mengorbankan apa yang paling kita cintai dalam hidup dan memuliakan manusia. Kurban manusia diganti kurban hewan, yang dagingnya dibagikan kepada orang-orang.

Bulan Zulhijah adalah bulan mulia. Selain karena ada ibadan haji yang merupakan rukun Islam kelima, juga ada ibadah kurban yang disebut Idul Adha (Idul Kurban) pada tanggal 10 yang merupakan hari raya selain Idul Fitri.

Bagi kita yang punya kelebihan harta sangat dianjurkan untuk berkurban, baik itu dengan kambing maupun sapi. Kurban pada hakikatnya adalah wujud pendekatan diri kepada Allah sekaligus mendorong orang untuk peduli dengan sesama.

Sesuai dengan namanya, “Adha” yang berarti menyembelih hewan, (kurban) yang berarti mendekatkan diri kepada Allah, ia sangat dianjurkan dalam Islam bagi yang mampu melakukannya. Nabi pernah mengatakan, siapa saja yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di lapangan kami (untuk ikut shalat Id).

Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu' Fatwa, menafsirkan dua ayat ini: Allah memerintahkan Nabi untuk mengumpulkan  dua ibadah yang agung, yaitu shalat dan menyembelih sikap taqarub (pendekatan diri kepada Allah), tawadhu, merasa butuh kepada Allah, husnuzan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah, janji, perintah, dan keutamaan-Nya.

Berkurban merupakan napaktilas dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Dengan kata lain, ibadah ini merupakan bentuk pelestarian dari tradisi (sunah) mulia dua sosok nabi dan rasul Allah. 

Zaid bin Arqam berkata, para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, hewan kurban apa ini?" 

Beliau menjawab, “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya lagi, “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa, wahai Rasulullah?” 

Beliau menjawab, "Pada setiap bulu ada satu kebaikan."

Mereka bertanya lagi, "Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?" 

Beliau menjawab, "Pada setiap bulunya ada satu kebaikan."

Al-Qur'an menceritakan bagaimana awal mula ibadah kurban ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Alkisah, pada suatu malam Ibrahim bermimpi disuruh Allah untuk menyembelih Ismail. Merasa itu adalah wahyu Allah, Ibrahim pun siap melaksanakannya. Namun, ia terlebih dulu menceritakan mimpinya kepada Ismail dan bermusyawarah dengannya. 

Dengan penuh ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran, Ismail pun siap disembelih jika itu memang perintah Allah. Ismail tidak membantah (memprotes) justru siap untuk melaksanakan perintah-Nya. Mereka pun pergi ke Mina, dan saat belati Ibrahim hendak menggores leher, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Al-Qur'an menuturkan, "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). 

Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat [37]: 102-107)

Lebih dari sekadar ibadah wujud pendekatan diri kepada Allah (dimensi ritual), berkurban mengandung semangat kepekaan dan kepedulian sosial (dimensi sosial), rasa kemanusiaan. 

Dengan berkurban, dagingnya bukan semata untuk diri orang yang berkurban, tetapi dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar, terutama orang-orang miskin. Hal ini seperti disebutkan dalam hadis, Ali bin Abi Thalib  menuturkan,

"Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya, kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apa pun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pesan penting berkurban dari sisi dimensi sosial adalah memberi. Memberi daging kurban yang berarti juga memberi kebahagiaan dan kegembiraan kepada orang lain. Stephen Post dan Jill Neimark dalam bukunya, Why Good Things Happen to Good People (2011), mengatakan bahwa memberi bisa melahirkan dampak positif secara psikis dan fisik bagi si pemberi. Dengan memberi, katanya, kita menyingkirkan emosi-emosi negatif yang bergejolak, seperti rasa marah, dengki dan iri hati, yang tentunya turut menjadi penyebab penyakit-penyakit psikis maupun fisik yang ditimbulkan oleh stres.

Sambil mengutip penelitian Paul Wink, Post dan Neimark mengemukakan bahwa memberi dibangun oleh tiga sifat penting: kecenderungan untuk memberi, empati, dan kompetensi, terutama kompetensi sosial. Ketiga sifat ini bergema ke dalam berbagai bidang kehidupan, membawa kesuksesan dalam pekerjaan, persahabatan, dan cinta, yang diharapkan dapat menghasilkan kebahagiaan dan kesehatan. Dalam ungkapan Neal Krause, satu orang tidak dapat memberikan bantuan yang efektif bagi orang lain tanpa dengan perasaan simpati dan welas asih. 

Dengan berkurban dan memberikan dagingnya kepada orang lain, kita sesungguhnya tengah membangun kepribadian kita menjadi lebih berkualitas juga menciptakan kondisi dan relasi sosial yang penuh dengan rasa simpati dan welas asih. Melalui berkurban, kita membangun dan memperkuat kepekaan dan kepedulian sosial kita, terutama terhadap orang-orang yang tidak mampu (lemah, fakir, miskin) secara ekonomi. Kita memberi mereka tidak hanya daging kurban, tetapi juga kebahagiaan dan kegembiraan. Kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak hanya dirasakan saat Hari Raya Idul Adha (Kurban), tetapi berlanjut ke hari-hari berikutnya. (Ibnu Muhajir, 2020:301-305).

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Teladan yang Menginspirasi 

Ingat dari keteguhan iman dan loyalitas Ibrahim terhadap perintah Allah merupakan teladan yang perlu kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Jika pada masa dulu Ismail menjadi simbol kurban untuk menguji keimanan Ibrahim. Kini yang menjadi “Ismail-Ismail” tidak hanya dalam wujud hewan kurban, tetapi bisa segenap milik kita, bahkan diri kita bisa menjadi simbol kurban untuk menunjukkan keteguhan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Semangat kurban inilah yang barangkali mutlak sekaligus relevan dikedepankan dalam konteks kehidupan kebangsaan kita dewasa ini, saat bangsa mengalami krisis multidimensi yang tak kunjung reda.

Selain itu sebagian saudara-saudara kita ada yang sedang menghadapi musibah banjir, tanah longsor dan wabah penyakit yang diakibatkan oleh bencana alam yang melanda mereka. Relevansi dan signifikansi lain dari Idul Kurban berkait erat pesan moral kemanusiaan dan solidaritas sosial. 

Digantinya Ismail yang sedianya akan dikurbankan oleh Ibrahim dengan seekor hewan sembelihan yang besar, sesungguhnya mengindikasikan betapa Allah menghormati manusia dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu Allah tidak memperkenankan dan sangat melarang manusia mengorbankan manusia yang lain. Allah tidak haus darah dan tak butuh keratan daging dari jasad yang dikurbankan. Pada prinsipnya, syariat berkurban dengan menyembelih hewan yang telah memenuhi kualifikasi dan kriteria tertentu, bukan diperuntukkan Tuhan, yang akan sampai dan diterima Allah hanyalah niat ikhlas dan ketakwaan kita. Sebagaimana firman Allah: Bahwa bukan daging-daging dan darah hewan qurban itu yang diterima Allah, tetapi yang diterima Allah itu ialah takwa yang ada dalam ibadah kurban (al Hajj: 37).

Sedangkan daging kurban diberikan dan bagikan pada manusia, terutama fakir miskin, kaum tertindas, teraniaya, sebagai simbol kepedulian social yang berdimensi sangat luas itu tergantung kepada tingkat ketakwaan dan keberagamaan kita.

Manifestasi iman dan takwa tidak hanya dalam keyakinan dan meningkatnya penghayatan tetapi yang penting adalah wujud amaliah yang nyata dalam kehidupan bersama. Kepedulian terhadap sesama adalah agenda yang selalu harus dipupuk oleh umat Islam dalam rangka menjalankan dan mempererat tali ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniah dan ukhuwah insaniah. 

Sebagaimana kita sadari bahwa Islam hadir kedunia ini sebagai ajaran yang rahmatan lil'alamiin, sebagai penebar dan pembawa kesejahteraan dunia dan akherat. Oleh kerena itu marilah keagungan dan keunggulan ajaran Islam kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari hingga merasakan ketenteraman dan kedamaian terwujud di tengah kehidupan ini. 

Kurban menurut istilah suatu tindak perbuatan menghampirkan diri (taqarabu) kepada Allah Swt dengan jalan menyembelih hewan. Menyembelih kurban adalah ibadah yang akan dipetik keuntungannya dalam dimensi kehidupan di akherat kelak. Laksana satu ladang yang digarap dan ditanami dengan pohon yang berbuah, seperti padi, jeruk, rambutan dll, dimana akan berlaku hukum alami: siapa menanam, dia akan mengetam (memetik). 

Dalam istilah kita sekarang, berkurban adalah satu investasi (simpanan), deposito, hanya bedanya uang deposito dapat dimanfaatkan pada hari tua, sedangkan jasa ibadah kurban akan dihayati dalam dimensi kehidupan di akherat kelak.

Marilah kita memohon kepada Allah Swt semoga para jamaah haji yang sedang menunaikan ibadah di tanah suci dapat kembali dengan haji mabrur diterima amal ibadahnya, semakin bermanfaat bagi masyarakat dan kepada kita sekalian yang belum mempunyai kesempatan menunaikan rukun Islam kelima agar dilapangkan jalan menuju panggilan-Nya, dibukakan pintu rezeki yang seluas-luasnya, sehingga pembangunan bangsa ini berjalan lancar kemakmuran ekonomi terwujud, kesemarakan pengamalan ajaran Islam berjalan secara merata di kalangan kaum muslimin, amin. (Muhammad Julijanto, 2015:293-295).

Dengan demikian, Iduladha (Rayagung) bukan sekadar melaksanakan perintah menyembelih hewan kurban (sapi, kambing, domba, kerbau, unta) tetapi harus menjadi momentum yang tepat untuk meneladani keluarga Nabi Ibrahim dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Inilah saat yang tepat (agung) untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan (kerakusan, egoisme, ketamakan, hawa nafsu) yang ada dalam diri kita. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)