Merawat Tradisi, Memuliakan Manusia Saat Idul Adha

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Warga saat akan memotong hewan kurban jenis sapi dan domba di Halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung, Senin 17 Juni 2024. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi) | Foto: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi))
Warga saat akan memotong hewan kurban jenis sapi dan domba di Halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung, Senin 17 Juni 2024. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi) | Foto: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi))

Setiap tradisi, kepercayaan, dan agama mengajarkan pentingnya pengorbanan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diterima. Ikhtiar ini diyakini sebagai upaya untuk menolak bala, menghindari bahaya, dan menjauhkan diri dari angkara murka.

Sejatinya, peringatan Idul Adha (Rayagung) yang jatuh pada 10 Zulhijjah dan tahun ini bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2025, tidak semata-mata dimaknai sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT untuk menyembelih hewan kurban (sapi, unta, kambing, kerbau, domba). Lebih dari itu, hari raya kurban adalah momentum yang tepat untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri, seperti kerakusan, egoisme, ketamakan, dan hawa nafsu.

Tentunya pengorbanan ini harus didasari oleh keimanan yang kokoh, keikhlasan, semangat berbagi yang menumbuhkan solidaritas sosial dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Pasalnya melalui ibadah kurban ini, manusia diingatkan tentang jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan, yang bukan dengan mengorbankan sesama manusia, melainkan dengan menaklukkan ego diri, memperkuat kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Hidup dalam Gelembung Digital

Jejak Rayagung

Untuk wilayah Priangan, biasanya pada tanggal sembilan Rayagung, baik di lingkungan mesjid maupun di kampung-kampung, banyak yang sudah menyediakan domba kurban yang sengaja untuk disembelih pada waktu sehabis khutbah lebaran Rayagung yang sering disebut kurban. 

Dalam bahasa Arab Lebaran Idul Kurban ini sering dinamakan Lebaran Idul Adha (hari raya kurban), merupakan hari yang paling baik untuk beramal. Pada zaman dulu, harga hewan kurban masih murah dan orang-orang mempunyai keyakinan agama bahwa siapa yang mengadakan kurban, hewan yang dikurbankannya itu bakal dinaiki kelak di akhirat. Banyak yang memberi kurban untuk dirinya sendiri, untuk ayah dan ibunya. 

Seekor domba untuk satu orang, seekor kerbau (sapi) untuk tujuh orang. Pada waktu itu, setiap mesjid, mendapat kiriman dari orang-orang mampu di Priangan lewat Kecamatan. Daging kurban dibagikan kepada ahli mesjid, orang kampung, dan tempat-tempat lainnya. Bagian untuk satu orang biasanya disebut gaganting, demikian pula di Kecamatan.

Pada zaman sekarang, karena mahalnya hewan kurban, hanya sedikit orang yang mampu berkurban. Akan tetapi, hal ini tidak membuat hari-hari kurban itu sepi. Setiap tahun pasti ada orang yang berkurban.

Pada tanggal sembilan Rayagung, dibunyikan lagi tabuh untuk memberitahukan bahwa nanti malam tanggal sepuluh Rayagung ada takbir bersama-sama di mesjid. Kemudian, keesokan harinya, pagi-pagi, diadakan salat sunat Lebaran Idul Adha. Setelah sampai pada waktunya, kira-kira pukul 6.30, semua orang yang datang terus salat sunat, berjamaah, kemudian khotib membacakan khutbahnya di mimbar. Setelah selesai khutbah, semua berdiri lalu bersalaman, bersamaan dengan bunyi tabuh penutup.

Saat Idul Adha itu tidak ada keramaian apa-apa, apalagi kalau tidak ada penyembelihan kurban. Akan tetapi semuanya itu tidak mungkin karena penyembelihan kurban merupakan salah satu syariat dari agama Islam. Apabila semuanya itu tidak dilaksanakan, itu berarti kita dikatakan tidak menghargai agama.

Golongan menak di kota Bandung pun mengetahui bahwa pada hari itu ada Lebaran, ada Kurban. Menurut cerita, kelak kerbau itu akan menjadi tunggangan di akhirat. Cerita ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat.

Bagi orang yang percaya dan senang bersedekah, karena tidak mampu berkurban, pada hari itu ia sering mengadakan selamatan. Begitu juga karena nama walilat yang biasa diramaikan pada tanggal sembilan Rayagung, di pasar, ramai orang berbelanja untuk menyiapkan makanan besar maupun kecil. Makanan itu biasanya dikirimkan ke rumah lebai dan kepada orang tua walaupun sedikit.

Bulan Zulhijah ini merupakan bulan yang baik, lain dari bulan-bulan yang lain. Bulan-bulan ini biasa dipergunakan orang untuk merayakan hari pernikahan agar mendapat kesenangan dan kesejahteraan. Malah kata orang mesjid, lebaran ini lebih dari fitrah, banyak orang yang mendadak nikah karena sering bakal ada keridan. (Hasan Mustapa, 2022:201-202)

Hikayat Kurban

Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Berkurban sangat dianjurkan untuk dikerjakan, selain merupakan ibadah, juga penegasan untuk mengorbankan apa yang paling kita cintai dalam hidup dan memuliakan manusia. Kurban manusia diganti kurban hewan, yang dagingnya dibagikan kepada orang-orang.

Bulan Zulhijah adalah bulan mulia. Selain karena ada ibadan haji yang merupakan rukun Islam kelima, juga ada ibadah kurban yang disebut Idul Adha (Idul Kurban) pada tanggal 10 yang merupakan hari raya selain Idul Fitri.

Bagi kita yang punya kelebihan harta sangat dianjurkan untuk berkurban, baik itu dengan kambing maupun sapi. Kurban pada hakikatnya adalah wujud pendekatan diri kepada Allah sekaligus mendorong orang untuk peduli dengan sesama.

Sesuai dengan namanya, “Adha” yang berarti menyembelih hewan, (kurban) yang berarti mendekatkan diri kepada Allah, ia sangat dianjurkan dalam Islam bagi yang mampu melakukannya. Nabi pernah mengatakan, siapa saja yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di lapangan kami (untuk ikut shalat Id).

Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu' Fatwa, menafsirkan dua ayat ini: Allah memerintahkan Nabi untuk mengumpulkan  dua ibadah yang agung, yaitu shalat dan menyembelih sikap taqarub (pendekatan diri kepada Allah), tawadhu, merasa butuh kepada Allah, husnuzan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah, janji, perintah, dan keutamaan-Nya.

Berkurban merupakan napaktilas dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Dengan kata lain, ibadah ini merupakan bentuk pelestarian dari tradisi (sunah) mulia dua sosok nabi dan rasul Allah. 

Zaid bin Arqam berkata, para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, hewan kurban apa ini?" 

Beliau menjawab, “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya lagi, “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa, wahai Rasulullah?” 

Beliau menjawab, "Pada setiap bulu ada satu kebaikan."

Mereka bertanya lagi, "Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?" 

Beliau menjawab, "Pada setiap bulunya ada satu kebaikan."

Al-Qur'an menceritakan bagaimana awal mula ibadah kurban ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Alkisah, pada suatu malam Ibrahim bermimpi disuruh Allah untuk menyembelih Ismail. Merasa itu adalah wahyu Allah, Ibrahim pun siap melaksanakannya. Namun, ia terlebih dulu menceritakan mimpinya kepada Ismail dan bermusyawarah dengannya. 

Dengan penuh ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran, Ismail pun siap disembelih jika itu memang perintah Allah. Ismail tidak membantah (memprotes) justru siap untuk melaksanakan perintah-Nya. Mereka pun pergi ke Mina, dan saat belati Ibrahim hendak menggores leher, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Al-Qur'an menuturkan, "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). 

Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat [37]: 102-107)

Lebih dari sekadar ibadah wujud pendekatan diri kepada Allah (dimensi ritual), berkurban mengandung semangat kepekaan dan kepedulian sosial (dimensi sosial), rasa kemanusiaan. 

Dengan berkurban, dagingnya bukan semata untuk diri orang yang berkurban, tetapi dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar, terutama orang-orang miskin. Hal ini seperti disebutkan dalam hadis, Ali bin Abi Thalib  menuturkan,

"Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya, kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apa pun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pesan penting berkurban dari sisi dimensi sosial adalah memberi. Memberi daging kurban yang berarti juga memberi kebahagiaan dan kegembiraan kepada orang lain. Stephen Post dan Jill Neimark dalam bukunya, Why Good Things Happen to Good People (2011), mengatakan bahwa memberi bisa melahirkan dampak positif secara psikis dan fisik bagi si pemberi. Dengan memberi, katanya, kita menyingkirkan emosi-emosi negatif yang bergejolak, seperti rasa marah, dengki dan iri hati, yang tentunya turut menjadi penyebab penyakit-penyakit psikis maupun fisik yang ditimbulkan oleh stres.

Sambil mengutip penelitian Paul Wink, Post dan Neimark mengemukakan bahwa memberi dibangun oleh tiga sifat penting: kecenderungan untuk memberi, empati, dan kompetensi, terutama kompetensi sosial. Ketiga sifat ini bergema ke dalam berbagai bidang kehidupan, membawa kesuksesan dalam pekerjaan, persahabatan, dan cinta, yang diharapkan dapat menghasilkan kebahagiaan dan kesehatan. Dalam ungkapan Neal Krause, satu orang tidak dapat memberikan bantuan yang efektif bagi orang lain tanpa dengan perasaan simpati dan welas asih. 

Dengan berkurban dan memberikan dagingnya kepada orang lain, kita sesungguhnya tengah membangun kepribadian kita menjadi lebih berkualitas juga menciptakan kondisi dan relasi sosial yang penuh dengan rasa simpati dan welas asih. Melalui berkurban, kita membangun dan memperkuat kepekaan dan kepedulian sosial kita, terutama terhadap orang-orang yang tidak mampu (lemah, fakir, miskin) secara ekonomi. Kita memberi mereka tidak hanya daging kurban, tetapi juga kebahagiaan dan kegembiraan. Kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak hanya dirasakan saat Hari Raya Idul Adha (Kurban), tetapi berlanjut ke hari-hari berikutnya. (Ibnu Muhajir, 2020:301-305).

Baca Juga: Geger Bandung 1934, Pembunuhan Berdarah di Rumah Asep Berlian

Teladan yang Menginspirasi 

Ingat dari keteguhan iman dan loyalitas Ibrahim terhadap perintah Allah merupakan teladan yang perlu kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Jika pada masa dulu Ismail menjadi simbol kurban untuk menguji keimanan Ibrahim. Kini yang menjadi “Ismail-Ismail” tidak hanya dalam wujud hewan kurban, tetapi bisa segenap milik kita, bahkan diri kita bisa menjadi simbol kurban untuk menunjukkan keteguhan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Semangat kurban inilah yang barangkali mutlak sekaligus relevan dikedepankan dalam konteks kehidupan kebangsaan kita dewasa ini, saat bangsa mengalami krisis multidimensi yang tak kunjung reda.

Selain itu sebagian saudara-saudara kita ada yang sedang menghadapi musibah banjir, tanah longsor dan wabah penyakit yang diakibatkan oleh bencana alam yang melanda mereka. Relevansi dan signifikansi lain dari Idul Kurban berkait erat pesan moral kemanusiaan dan solidaritas sosial. 

Digantinya Ismail yang sedianya akan dikurbankan oleh Ibrahim dengan seekor hewan sembelihan yang besar, sesungguhnya mengindikasikan betapa Allah menghormati manusia dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu Allah tidak memperkenankan dan sangat melarang manusia mengorbankan manusia yang lain. Allah tidak haus darah dan tak butuh keratan daging dari jasad yang dikurbankan. Pada prinsipnya, syariat berkurban dengan menyembelih hewan yang telah memenuhi kualifikasi dan kriteria tertentu, bukan diperuntukkan Tuhan, yang akan sampai dan diterima Allah hanyalah niat ikhlas dan ketakwaan kita. Sebagaimana firman Allah: Bahwa bukan daging-daging dan darah hewan qurban itu yang diterima Allah, tetapi yang diterima Allah itu ialah takwa yang ada dalam ibadah kurban (al Hajj: 37).

Sedangkan daging kurban diberikan dan bagikan pada manusia, terutama fakir miskin, kaum tertindas, teraniaya, sebagai simbol kepedulian social yang berdimensi sangat luas itu tergantung kepada tingkat ketakwaan dan keberagamaan kita.

Manifestasi iman dan takwa tidak hanya dalam keyakinan dan meningkatnya penghayatan tetapi yang penting adalah wujud amaliah yang nyata dalam kehidupan bersama. Kepedulian terhadap sesama adalah agenda yang selalu harus dipupuk oleh umat Islam dalam rangka menjalankan dan mempererat tali ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniah dan ukhuwah insaniah. 

Sebagaimana kita sadari bahwa Islam hadir kedunia ini sebagai ajaran yang rahmatan lil'alamiin, sebagai penebar dan pembawa kesejahteraan dunia dan akherat. Oleh kerena itu marilah keagungan dan keunggulan ajaran Islam kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari hingga merasakan ketenteraman dan kedamaian terwujud di tengah kehidupan ini. 

Kurban menurut istilah suatu tindak perbuatan menghampirkan diri (taqarabu) kepada Allah Swt dengan jalan menyembelih hewan. Menyembelih kurban adalah ibadah yang akan dipetik keuntungannya dalam dimensi kehidupan di akherat kelak. Laksana satu ladang yang digarap dan ditanami dengan pohon yang berbuah, seperti padi, jeruk, rambutan dll, dimana akan berlaku hukum alami: siapa menanam, dia akan mengetam (memetik). 

Dalam istilah kita sekarang, berkurban adalah satu investasi (simpanan), deposito, hanya bedanya uang deposito dapat dimanfaatkan pada hari tua, sedangkan jasa ibadah kurban akan dihayati dalam dimensi kehidupan di akherat kelak.

Marilah kita memohon kepada Allah Swt semoga para jamaah haji yang sedang menunaikan ibadah di tanah suci dapat kembali dengan haji mabrur diterima amal ibadahnya, semakin bermanfaat bagi masyarakat dan kepada kita sekalian yang belum mempunyai kesempatan menunaikan rukun Islam kelima agar dilapangkan jalan menuju panggilan-Nya, dibukakan pintu rezeki yang seluas-luasnya, sehingga pembangunan bangsa ini berjalan lancar kemakmuran ekonomi terwujud, kesemarakan pengamalan ajaran Islam berjalan secara merata di kalangan kaum muslimin, amin. (Muhammad Julijanto, 2015:293-295).

Dengan demikian, Iduladha (Rayagung) bukan sekadar melaksanakan perintah menyembelih hewan kurban (sapi, kambing, domba, kerbau, unta) tetapi harus menjadi momentum yang tepat untuk meneladani keluarga Nabi Ibrahim dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Inilah saat yang tepat (agung) untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan (kerakusan, egoisme, ketamakan, hawa nafsu) yang ada dalam diri kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)