AYOBANDUNG.ID - Pemerintah kolonial sudah agak terbiasa mengurus jalan rusak, kerbau lepas, dan perkelahian kampung. Tetapi wahyu baru jelas bukan menu harian. Pada Juli 1934, Bandung diganggu kabar yang datang bukan dari ruang rapat, melainkan dari langit. Seorang petani di Ciparay disebut-sebut menerima ajaran baru. Kabar ini cukup untuk membuat alis para pejabat kolonial terangkat, dan halaman surat kabar terisi.
Cerita itu berpusat pada Noerhasi, petani dari wilayah pertanian di selatan Bandung. Ia bukan tokoh pergerakan, bukan pula guru agama ternama. Namun namanya masuk halaman koran kolonial, sejajar dengan laporan-laporan tentang keamanan dan ketertiban yang biasanya diisi oleh perkara jauh lebih membosankan.
Dalam laporan yang bersumber dari De Preanger-bode edisi pertengahan Juli 1934, Noerhasi digambarkan sebagai orang biasa yang mendadak tampil sebagai pemimpin spiritual. Dari Ciparay, daerah yang kala itu masih berada di pinggiran kota Bandung, ia mulai mengumpulkan pengikut dari desa-desa sekitar.
Perkaranya bukan sekadar soal keyakinan. Jumlah pengikut yang diklaim Noerhasi cukup untuk membuat catatan khusus di meja administrasi. Ia menyebut angka sekitar 300 orang. Bagi pemerintah kolonial, angka ini terlalu besar untuk diabaikan. Gerakan keagamaan dengan ratusan pengikut di pedesaan selalu punya potensi berkembang ke arah yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa
“Para pengikut ini, menurut pengakuan sang pemimpin berjumlah sekitar 300 orang,” demikian seperti dikutip oleh Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië.
Sejak titik itu, urusan spiritual berubah menjadi persoalan sosial. Kemunculan sosok yang dianggap semacam nabi palsu di masa modern ini segera memicu konflik terbuka. Menurut laporan, para pengikut Noerhasi mulai dibenci oleh penduduk setempat karena tindakan-tindakan yang dianggap melampaui batas.
Koran kolonial itu mencatat tuduhan yang beredar di tengah warga. Para pengikut dituding melakukan perbuatan yang menghina agama mayoritas. Tuduhan itu disebutkan secara eksplisit: mereka “dibenci oleh penduduk setempat karena antara lain mereka menginjak-injak Al-Qur’an dan perbuatan-perbuatan serupa lainnya.”
Benar atau tidak, tuduhan semacam ini jarang berakhir sebagai gosip belaka. Ketegangan dengan cepat berubah menjadi kekerasan. Pada suatu hari, rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya diserang. Batu dilemparkan, dinding bambu disobek dengan pisau.
“Karena perbuatan tersebut, pada suatu hari rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya dilempari batu, dan dinding bambu rumah itu disobek dengan pisau.”
Tak tinggal diam, aparat kolonial segera turun tangan. Para pelaku penyerangan disebut akan dihadapkan ke pengadilan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin kekacauan berkembang menjadi kebiasaan main hakim sendiri, sekaligus ingin menegaskan siapa yang masih memegang kendali.
Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Di tingkat lokal, Wedana Ciparay memilih langkah yang lebih sederhana. Ia menyarankan agar Noerhasi meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan dirinya sendiri. Saran ini dicatat sebagai upaya meredakan ketegangan, bukan sebagai pengakuan terhadap ajaran yang dibawa sang petani.
Tetapi cerita Noerhasi tidak berhenti di sana. Alih-alih meredup, aktivitas para pengikutnya justru bergerak ke arah yang lebih terbuka. Mereka berniat menyelenggarakan sebuah debat publik untuk membela ajaran mereka. Debat ini direncanakan dapat dihadiri siapa saja, tentu saja dengan membayar karcis masuk.
Rencana tersebut langsung ditolak oleh pihak kepolisian kolonial. De Preanger-bode menyebut bahwa polisi menilai perdebatan semacam itu berisiko berubah dari adu argumen menjadi adu pukulan.
Setelah pintu debat ditutup, para pengikut memilih jalur birokrasi. Sebanyak 20 orang berangkat ke Bandung untuk menghadap Bupati Bandung. Bahkan sebelum pertemuan itu berlangsung, Wedana Ciparay kembali mengingatkan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban.
Kedatangan rombongan ini sendiri sudah cukup menarik perhatian. Di alun-alun Bandung, sekelompok besar penduduk mengerumuni mereka. Rasa ingin tahu bercampur curiga. Polisi melakukan pengawasan ketat, sebab bagi aparat kolonial, kerumunan selalu berarti potensi masalah.
Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung
Dari 20 orang yang datang, hanya enam orang yang diizinkan menghadap bupati. Dalam pertemuan itu, sang bupati memberi nasihat agar mereka tetap tenang dan mematuhi perintah wedana. Ia juga menyatakan tidak melihat adanya manfaat dari penyelenggaraan debat terbuka dengan tiket masuk.
"Wedana Ciparay bahkan telah menyarankan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban dan keamanan."
Dalam laporan yang sama, surat kabar Belanda memberi perhatian khusus pada penampilan para pengikut Noerhasi. Mereka menyebut diri sebagai wali, atau orang suci. Penampilan mereka digambarkan menyerupai orang Badui, dan dari kejauhan tampak seperti jamaah haji yang baru kembali dari Mekah.
Persoalannya, koran itu menambahkan satu catatan kecil yang penting. Keadaan ini dianggap menyinggung perasaan penduduk, karena menurut mereka tak seorang pun di antara Noerhasi dan pengikutnya itu pernah menginjakkan kaki di tanha suci.
"Penampilan mereka kurang lebih menyerupai orang-orang Badui dan dari kejauhan tampak seperti para jamaah haji yang baru kembali dari Mekah, suatu keadaan yang tentu saja sangat menyinggung perasaan penduduk, karena tidak seorang pun dari mereka pernah mengunjungi kota suci tersebut."
Deskripsi tentang pakaian ini menunjukkan bagaimana simbol visual ikut menyulut ketegangan. Busana tidak lagi sekadar penutup tubuh, melainkan klaim kesucian yang dianggap tidak sah oleh lingkungan sekitar.
Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi
Walau bikin heboh, gerombolan Noerhasi ini disebut tidak bikin kehebohan lebih lanjut. Pasalnya aparat kolonial terus memelototi pergerakan dan gerak-gerik rombongan yang di zaman kiwari sangat boleh jadi berakhir di kurungan terali besi atas dakwaan penistaan.
