Kisah Kultus Petani di Ciparay, Bikin Heboh Bandung Era Kolonial

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi.
Ilustrasi.

AYOBANDUNG.ID - Pemerintah kolonial sudah agak terbiasa mengurus jalan rusak, kerbau lepas, dan perkelahian kampung. Tetapi wahyu baru jelas bukan menu harian. Pada Juli 1934, Bandung diganggu kabar yang datang bukan dari ruang rapat, melainkan dari langit. Seorang petani di Ciparay disebut-sebut menerima ajaran baru. Kabar ini cukup untuk membuat alis para pejabat kolonial terangkat, dan halaman surat kabar terisi.

Cerita itu berpusat pada Noerhasi, petani dari wilayah pertanian di selatan Bandung. Ia bukan tokoh pergerakan, bukan pula guru agama ternama. Namun namanya masuk halaman koran kolonial, sejajar dengan laporan-laporan tentang keamanan dan ketertiban yang biasanya diisi oleh perkara jauh lebih membosankan.

Dalam laporan yang bersumber dari De Preanger-bode edisi pertengahan Juli 1934, Noerhasi digambarkan sebagai orang biasa yang mendadak tampil sebagai pemimpin spiritual. Dari Ciparay, daerah yang kala itu masih berada di pinggiran kota Bandung, ia mulai mengumpulkan pengikut dari desa-desa sekitar.

Perkaranya bukan sekadar soal keyakinan. Jumlah pengikut yang diklaim Noerhasi cukup untuk membuat catatan khusus di meja administrasi. Ia menyebut angka sekitar 300 orang. Bagi pemerintah kolonial, angka ini terlalu besar untuk diabaikan. Gerakan keagamaan dengan ratusan pengikut di pedesaan selalu punya potensi berkembang ke arah yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

“Para pengikut ini, menurut pengakuan sang pemimpin berjumlah sekitar 300 orang,” demikian seperti dikutip oleh Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië.

Sejak titik itu, urusan spiritual berubah menjadi persoalan sosial. Kemunculan sosok yang dianggap semacam nabi palsu di masa modern ini segera memicu konflik terbuka. Menurut laporan, para pengikut Noerhasi mulai dibenci oleh penduduk setempat karena tindakan-tindakan yang dianggap melampaui batas.

Koran kolonial itu mencatat tuduhan yang beredar di tengah warga. Para pengikut dituding melakukan perbuatan yang menghina agama mayoritas. Tuduhan itu disebutkan secara eksplisit: mereka “dibenci oleh penduduk setempat karena antara lain mereka menginjak-injak Al-Qur’an dan perbuatan-perbuatan serupa lainnya.”

Benar atau tidak, tuduhan semacam ini jarang berakhir sebagai gosip belaka. Ketegangan dengan cepat berubah menjadi kekerasan. Pada suatu hari, rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya diserang. Batu dilemparkan, dinding bambu disobek dengan pisau.

“Karena perbuatan tersebut, pada suatu hari rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya dilempari batu, dan dinding bambu rumah itu disobek dengan pisau.”

Tak tinggal diam, aparat kolonial segera turun tangan. Para pelaku penyerangan disebut akan dihadapkan ke pengadilan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin kekacauan berkembang menjadi kebiasaan main hakim sendiri, sekaligus ingin menegaskan siapa yang masih memegang kendali.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Di tingkat lokal, Wedana Ciparay memilih langkah yang lebih sederhana. Ia menyarankan agar Noerhasi meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan dirinya sendiri. Saran ini dicatat sebagai upaya meredakan ketegangan, bukan sebagai pengakuan terhadap ajaran yang dibawa sang petani.

Tetapi cerita Noerhasi tidak berhenti di sana. Alih-alih meredup, aktivitas para pengikutnya justru bergerak ke arah yang lebih terbuka. Mereka berniat menyelenggarakan sebuah debat publik untuk membela ajaran mereka. Debat ini direncanakan dapat dihadiri siapa saja, tentu saja dengan membayar karcis masuk.

Rencana tersebut langsung ditolak oleh pihak kepolisian kolonial. De Preanger-bode menyebut bahwa polisi menilai perdebatan semacam itu berisiko berubah dari adu argumen menjadi adu pukulan.

Setelah pintu debat ditutup, para pengikut memilih jalur birokrasi. Sebanyak 20 orang berangkat ke Bandung untuk menghadap Bupati Bandung. Bahkan sebelum pertemuan itu berlangsung, Wedana Ciparay kembali mengingatkan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban.

Kedatangan rombongan ini sendiri sudah cukup menarik perhatian. Di alun-alun Bandung, sekelompok besar penduduk mengerumuni mereka. Rasa ingin tahu bercampur curiga. Polisi melakukan pengawasan ketat, sebab bagi aparat kolonial, kerumunan selalu berarti potensi masalah.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Dari 20 orang yang datang, hanya enam orang yang diizinkan menghadap bupati. Dalam pertemuan itu, sang bupati memberi nasihat agar mereka tetap tenang dan mematuhi perintah wedana. Ia juga menyatakan tidak melihat adanya manfaat dari penyelenggaraan debat terbuka dengan tiket masuk.

"Wedana Ciparay bahkan telah menyarankan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban dan keamanan."

Dalam laporan yang sama, surat kabar Belanda memberi perhatian khusus pada penampilan para pengikut Noerhasi. Mereka menyebut diri sebagai wali, atau orang suci. Penampilan mereka digambarkan menyerupai orang Badui, dan dari kejauhan tampak seperti jamaah haji yang baru kembali dari Mekah.

Persoalannya, koran itu menambahkan satu catatan kecil yang penting. Keadaan ini dianggap menyinggung perasaan penduduk, karena menurut mereka tak seorang pun di antara Noerhasi dan pengikutnya itu pernah menginjakkan kaki di tanha suci.

"Penampilan mereka kurang lebih menyerupai orang-orang Badui dan dari kejauhan tampak seperti para jamaah haji yang baru kembali dari Mekah, suatu keadaan yang tentu saja sangat menyinggung perasaan penduduk, karena tidak seorang pun dari mereka pernah mengunjungi kota suci tersebut."

Deskripsi tentang pakaian ini menunjukkan bagaimana simbol visual ikut menyulut ketegangan. Busana tidak lagi sekadar penutup tubuh, melainkan klaim kesucian yang dianggap tidak sah oleh lingkungan sekitar.

Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Walau bikin heboh, gerombolan Noerhasi ini disebut tidak bikin kehebohan lebih lanjut. Pasalnya aparat kolonial terus memelototi pergerakan dan gerak-gerik rombongan yang di zaman kiwari sangat boleh jadi berakhir di kurungan terali besi atas dakwaan penistaan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)