Kisah Kultus Petani di Ciparay, Bikin Heboh Bandung Era Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 04 Jan 2026, 17:24 WIB
Ilustrasi.

Ilustrasi.

AYOBANDUNG.ID - Pemerintah kolonial sudah agak terbiasa mengurus jalan rusak, kerbau lepas, dan perkelahian kampung. Tetapi wahyu baru jelas bukan menu harian. Pada Juli 1934, Bandung diganggu kabar yang datang bukan dari ruang rapat, melainkan dari langit. Seorang petani di Ciparay disebut-sebut menerima ajaran baru. Kabar ini cukup untuk membuat alis para pejabat kolonial terangkat, dan halaman surat kabar terisi.

Cerita itu berpusat pada Noerhasi, petani dari wilayah pertanian di selatan Bandung. Ia bukan tokoh pergerakan, bukan pula guru agama ternama. Namun namanya masuk halaman koran kolonial, sejajar dengan laporan-laporan tentang keamanan dan ketertiban yang biasanya diisi oleh perkara jauh lebih membosankan.

Dalam laporan yang bersumber dari De Preanger-bode edisi pertengahan Juli 1934, Noerhasi digambarkan sebagai orang biasa yang mendadak tampil sebagai pemimpin spiritual. Dari Ciparay, daerah yang kala itu masih berada di pinggiran kota Bandung, ia mulai mengumpulkan pengikut dari desa-desa sekitar.

Perkaranya bukan sekadar soal keyakinan. Jumlah pengikut yang diklaim Noerhasi cukup untuk membuat catatan khusus di meja administrasi. Ia menyebut angka sekitar 300 orang. Bagi pemerintah kolonial, angka ini terlalu besar untuk diabaikan. Gerakan keagamaan dengan ratusan pengikut di pedesaan selalu punya potensi berkembang ke arah yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

“Para pengikut ini, menurut pengakuan sang pemimpin berjumlah sekitar 300 orang,” demikian seperti dikutip oleh Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië.

Sejak titik itu, urusan spiritual berubah menjadi persoalan sosial. Kemunculan sosok yang dianggap semacam nabi palsu di masa modern ini segera memicu konflik terbuka. Menurut laporan, para pengikut Noerhasi mulai dibenci oleh penduduk setempat karena tindakan-tindakan yang dianggap melampaui batas.

Koran kolonial itu mencatat tuduhan yang beredar di tengah warga. Para pengikut dituding melakukan perbuatan yang menghina agama mayoritas. Tuduhan itu disebutkan secara eksplisit: mereka “dibenci oleh penduduk setempat karena antara lain mereka menginjak-injak Al-Qur’an dan perbuatan-perbuatan serupa lainnya.”

Benar atau tidak, tuduhan semacam ini jarang berakhir sebagai gosip belaka. Ketegangan dengan cepat berubah menjadi kekerasan. Pada suatu hari, rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya diserang. Batu dilemparkan, dinding bambu disobek dengan pisau.

“Karena perbuatan tersebut, pada suatu hari rumah Noerhasi dan rumah salah seorang pengikutnya dilempari batu, dan dinding bambu rumah itu disobek dengan pisau.”

Tak tinggal diam, aparat kolonial segera turun tangan. Para pelaku penyerangan disebut akan dihadapkan ke pengadilan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin kekacauan berkembang menjadi kebiasaan main hakim sendiri, sekaligus ingin menegaskan siapa yang masih memegang kendali.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Di tingkat lokal, Wedana Ciparay memilih langkah yang lebih sederhana. Ia menyarankan agar Noerhasi meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan dirinya sendiri. Saran ini dicatat sebagai upaya meredakan ketegangan, bukan sebagai pengakuan terhadap ajaran yang dibawa sang petani.

Tetapi cerita Noerhasi tidak berhenti di sana. Alih-alih meredup, aktivitas para pengikutnya justru bergerak ke arah yang lebih terbuka. Mereka berniat menyelenggarakan sebuah debat publik untuk membela ajaran mereka. Debat ini direncanakan dapat dihadiri siapa saja, tentu saja dengan membayar karcis masuk.

Rencana tersebut langsung ditolak oleh pihak kepolisian kolonial. De Preanger-bode menyebut bahwa polisi menilai perdebatan semacam itu berisiko berubah dari adu argumen menjadi adu pukulan.

Setelah pintu debat ditutup, para pengikut memilih jalur birokrasi. Sebanyak 20 orang berangkat ke Bandung untuk menghadap Bupati Bandung. Bahkan sebelum pertemuan itu berlangsung, Wedana Ciparay kembali mengingatkan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban.

Kedatangan rombongan ini sendiri sudah cukup menarik perhatian. Di alun-alun Bandung, sekelompok besar penduduk mengerumuni mereka. Rasa ingin tahu bercampur curiga. Polisi melakukan pengawasan ketat, sebab bagi aparat kolonial, kerumunan selalu berarti potensi masalah.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Dari 20 orang yang datang, hanya enam orang yang diizinkan menghadap bupati. Dalam pertemuan itu, sang bupati memberi nasihat agar mereka tetap tenang dan mematuhi perintah wedana. Ia juga menyatakan tidak melihat adanya manfaat dari penyelenggaraan debat terbuka dengan tiket masuk.

"Wedana Ciparay bahkan telah menyarankan agar mereka tidak mengunjungi guru mereka di rumah, demi menjaga ketertiban dan keamanan."

Dalam laporan yang sama, surat kabar Belanda memberi perhatian khusus pada penampilan para pengikut Noerhasi. Mereka menyebut diri sebagai wali, atau orang suci. Penampilan mereka digambarkan menyerupai orang Badui, dan dari kejauhan tampak seperti jamaah haji yang baru kembali dari Mekah.

Persoalannya, koran itu menambahkan satu catatan kecil yang penting. Keadaan ini dianggap menyinggung perasaan penduduk, karena menurut mereka tak seorang pun di antara Noerhasi dan pengikutnya itu pernah menginjakkan kaki di tanha suci.

"Penampilan mereka kurang lebih menyerupai orang-orang Badui dan dari kejauhan tampak seperti para jamaah haji yang baru kembali dari Mekah, suatu keadaan yang tentu saja sangat menyinggung perasaan penduduk, karena tidak seorang pun dari mereka pernah mengunjungi kota suci tersebut."

Deskripsi tentang pakaian ini menunjukkan bagaimana simbol visual ikut menyulut ketegangan. Busana tidak lagi sekadar penutup tubuh, melainkan klaim kesucian yang dianggap tidak sah oleh lingkungan sekitar.

Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Walau bikin heboh, gerombolan Noerhasi ini disebut tidak bikin kehebohan lebih lanjut. Pasalnya aparat kolonial terus memelototi pergerakan dan gerak-gerik rombongan yang di zaman kiwari sangat boleh jadi berakhir di kurungan terali besi atas dakwaan penistaan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)