Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 18:50 WIB
Ilustasi judi dadu zaman kolonial Belanda.

Ilustasi judi dadu zaman kolonial Belanda.

AYOBANDUNG.ID - Pada siang terik hari Minggu, 11 April 1937, antara pukul dua belas dan satu, tiga oplet melaju kencang dari arah Bandung menuju sebuah kampung bernama Tanggoelang di Rancaekek, wilayah timur Kabupaten Bandung. Di balik pagar bambu tinggi dan sawah yang mengelilinginya, suara ayam jantan beradu paruh dan sorak-sorai para penjudi menggelegar. Hari itu bukan hari biasa di sebuah kampung di Rancaekek—koran Belanda menyebutnya Tanggoelan—karena di tengah tanah lapang, sabung ayam dan permainan dadu sedang berlangsung meriah. Lengkap dengan teh, camilan, dan sandal-sandal berserakan di atas tikar.

Polisi lapangan Bandung sudah lama mengendus kegiatan itu. Menurut laporan yang dimuat De Locomotief edisi 14 April 1937, sumber pertama datang sepekan sebelumnya. Seorang mantan lurah, bernama Adipradja, dikabarkan memberikan tanah miliknya sebagai arena sabung ayam dan perjudian. Di antara para pemainnya, bukan hanya warga kampung, tapi juga orang-orang kaya pribumi dan beberapa orang Eropa yang “kebetulan” ikut menonton atau malah ikut bertaruh. Jumlah pemain diperkirakan mencapai seratus orang setiap kali acara berlangsung.

Persoalannya, lokasi kampung yang dimaksud bukan tempat yang mudah untuk digerebek. Jalan menuju ke sana becek, berlumpur, dan hanya bisa dilalui kendaraan kecil. Letaknya diapit sawah terbuka, dengan dua pintu masuk utama yang dijaga orang-orang kepercayaan Adipradja. Di bagian belakang, ada parit selebar tiga meter yang menjadi pelindung alami kampung. Singkatnya, kalau polisi ingin datang diam-diam, peluangnya nyaris nol.

Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

Karena itulah, strategi penyergapan dibuat dengan sederhana tapi nekat: menyerang cepat sebelum kabar bocor. Sebanyak dua belas polisi berpakaian sipil diberangkatkan dengan tiga oplet. Mereka membawa pentungan karet, pistol berpeluru hampa, dan hanya satu atau dua polisi Eropa yang membawa peluru tajam.

Begitu oplet memasuki jalan sempit di dekat rel Rancaekek–Bandung, laju kendaraan diperlambat sejenak sebelum menukik tajam ke arah kampung. Para penjaga di pintu masuk tak sempat bereaksi. Dua oplet berhenti di gerbang pertama, satu lagi di gerbang paling jauh. Dalam hitungan detik, polisi menyerbu.

Teriakan panik terdengar. “Polisi! Polisi datang!” Ayam-ayam berkokok, pagar bambu patah, suara tembakan peringatan meletus. Beberapa penjudi meloncat ke parit, sebagian nekat lari ke sawah berlumpur, sementara polisi mengejar mereka dengan sepatu basah. Ada yang terpeleset, ada yang ditangkap di tengah sawah, bahkan ada yang ditemukan bersembunyi di bawah rumah panggung. Lima belas menit kemudian, suasana kampung berubah total: dari riuh pesta judi menjadi medan kejar-kejaran yang konyol.

Seorang polisi menemukan lelaki tua menggali lubang di antara serabut kelapa untuk bersembunyi, seperti tikus tanah yang ketakutan. Di sisi lain, salah satu polisi muncul membawa beberapa orang Eropa yang tertangkap. Dengan wajah sok polos, mereka berkilah sedang “berjalan-jalan santai” dan “tersesat” di kampung itu. Sayangnya, polisi juga “kebetulan” datang ke tempat yang sama di hari itu.

Parade Penjudi dari Empat Kota

Lokasi judi dan sabung ayam yang ditinggalkan tampak seperti sisa pesta yang gagal. Alas permainan masih terhampar, teko teh masih hangat, cangkir setengah kosong, kue masih tergigit separuh. Seekor ayam jantan berdiri tegak di tengah lapangan, tampak kebingungan: mengapa semua orang tiba-tiba lari?

Polisi segera memulai pemeriksaan terhadap 36 orang yang tertangkap. Nama pertama yang dipanggil tentu saja Adipradja, sang mantan lurah. Dengan nada santai, ia mengaku hanya meminjamkan tanahnya untuk “acara kumpul warga.” Tapi begitu diperiksa lebih dalam, pengakuan mulai mengalir. Salah satu pemegang taruhan tertangkap masih membawa uang sebesar ƒ11,35 sebagai bukti sah bahwa siang itu bukan sekadar “acara kumpul-kumpul.”

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Dari catatan polisi, para pemain datang dari berbagai tempat: Garut, Cianjur, Bandung, hingga Cileunyi. Mereka datang naik bus, kereta, atau bahkan jalan kaki berjam-jam demi menonton ayam jago kesayangan bertarung. Sabung ayam memang sudah lama jadi hiburan rakyat. Dulu di Tatar Sunda, ayam jago bukan cuma peliharaan, tapi simbol kehormatan. Setiap aduan bukan hanya soal uang taruhan, tapi juga gengsi: ayam siapa yang paling tangguh, siapa yang paling jago merawat.

Yang membuat polisi semakin geli sekaligus heran adalah kehadiran orang-orang Eropa di tengah para penjudi. Bukan pejabat atau bangsawan, melainkan pegawai perkebunan dan tuan tanah kecil. Mungkin bosan dengan hidup teratur di rumah, mereka mencari hiburan yang “lebih merakyat.” Dan Tanggoelang jadi tempat pelarian sempurna: jauh dari kota, dekat dengan rel, dan cukup aman… sampai hari itu datang.

Begitu pemeriksaan selesai, sebagian besar peserta dilepas. Polisi membawa semua barang bukti: ayam, dadu, teko, cangkir, sandal, dan tikar. Kasus itu tak berlanjut panjang. Tak ada berita besar keesokan harinya, tak ada yang dibawa ke pengadilan. Tapi kabar tentang “penggerebekan besar di Rancaekek” cepat menyebar ke Bandung. Orang-orang di warung kopi membicarakannya dengan tawa. “Katanya orang Belanda juga ikut sabung ayam,” ujar seorang penumpang oplet di Stasiun Andir.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Hukum kolonial waktu itu memang punya wajah ganda. Di satu sisi, sabung ayam dan judi jelas dilarang. Tapi di sisi lain, praktik itu dibiarkan hidup selama tidak membuat gaduh atau menyinggung pejabat. Kadang, penggerebekan seperti ini lebih mirip pertunjukan ketimbang penegakan hukum: untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah masih “bekerja.” Setelah itu, semuanya kembali seperti biasa.

Ttak ada yang tahu lagi di mana tepatnya kampung Tanggoelan berdiri. Sawah-sawah Rancaekek sudah berubah jadi perumahan, pabrik, dan jalan raya. Tapi mungkin, di suatu sore berdebu, suara ayam jantan di kejauhan masih bisa membuat orang tua di sana tertawa pelan, mengingat kembali kisah lama: hari ketika polisi dan penjudi sama-sama berlari di sawah, berebut nasib di tengah lumpur.

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)