Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustasi judi dadu zaman kolonial Belanda.
Ilustasi judi dadu zaman kolonial Belanda.

AYOBANDUNG.ID - Pada siang terik hari Minggu, 11 April 1937, antara pukul dua belas dan satu, tiga oplet melaju kencang dari arah Bandung menuju sebuah kampung bernama Tanggoelang di Rancaekek, wilayah timur Kabupaten Bandung. Di balik pagar bambu tinggi dan sawah yang mengelilinginya, suara ayam jantan beradu paruh dan sorak-sorai para penjudi menggelegar. Hari itu bukan hari biasa di sebuah kampung di Rancaekek—koran Belanda menyebutnya Tanggoelan—karena di tengah tanah lapang, sabung ayam dan permainan dadu sedang berlangsung meriah. Lengkap dengan teh, camilan, dan sandal-sandal berserakan di atas tikar.

Polisi lapangan Bandung sudah lama mengendus kegiatan itu. Menurut laporan yang dimuat De Locomotief edisi 14 April 1937, sumber pertama datang sepekan sebelumnya. Seorang mantan lurah, bernama Adipradja, dikabarkan memberikan tanah miliknya sebagai arena sabung ayam dan perjudian. Di antara para pemainnya, bukan hanya warga kampung, tapi juga orang-orang kaya pribumi dan beberapa orang Eropa yang “kebetulan” ikut menonton atau malah ikut bertaruh. Jumlah pemain diperkirakan mencapai seratus orang setiap kali acara berlangsung.

Persoalannya, lokasi kampung yang dimaksud bukan tempat yang mudah untuk digerebek. Jalan menuju ke sana becek, berlumpur, dan hanya bisa dilalui kendaraan kecil. Letaknya diapit sawah terbuka, dengan dua pintu masuk utama yang dijaga orang-orang kepercayaan Adipradja. Di bagian belakang, ada parit selebar tiga meter yang menjadi pelindung alami kampung. Singkatnya, kalau polisi ingin datang diam-diam, peluangnya nyaris nol.

Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

Karena itulah, strategi penyergapan dibuat dengan sederhana tapi nekat: menyerang cepat sebelum kabar bocor. Sebanyak dua belas polisi berpakaian sipil diberangkatkan dengan tiga oplet. Mereka membawa pentungan karet, pistol berpeluru hampa, dan hanya satu atau dua polisi Eropa yang membawa peluru tajam.

Begitu oplet memasuki jalan sempit di dekat rel Rancaekek–Bandung, laju kendaraan diperlambat sejenak sebelum menukik tajam ke arah kampung. Para penjaga di pintu masuk tak sempat bereaksi. Dua oplet berhenti di gerbang pertama, satu lagi di gerbang paling jauh. Dalam hitungan detik, polisi menyerbu.

Teriakan panik terdengar. “Polisi! Polisi datang!” Ayam-ayam berkokok, pagar bambu patah, suara tembakan peringatan meletus. Beberapa penjudi meloncat ke parit, sebagian nekat lari ke sawah berlumpur, sementara polisi mengejar mereka dengan sepatu basah. Ada yang terpeleset, ada yang ditangkap di tengah sawah, bahkan ada yang ditemukan bersembunyi di bawah rumah panggung. Lima belas menit kemudian, suasana kampung berubah total: dari riuh pesta judi menjadi medan kejar-kejaran yang konyol.

Seorang polisi menemukan lelaki tua menggali lubang di antara serabut kelapa untuk bersembunyi, seperti tikus tanah yang ketakutan. Di sisi lain, salah satu polisi muncul membawa beberapa orang Eropa yang tertangkap. Dengan wajah sok polos, mereka berkilah sedang “berjalan-jalan santai” dan “tersesat” di kampung itu. Sayangnya, polisi juga “kebetulan” datang ke tempat yang sama di hari itu.

Parade Penjudi dari Empat Kota

Lokasi judi dan sabung ayam yang ditinggalkan tampak seperti sisa pesta yang gagal. Alas permainan masih terhampar, teko teh masih hangat, cangkir setengah kosong, kue masih tergigit separuh. Seekor ayam jantan berdiri tegak di tengah lapangan, tampak kebingungan: mengapa semua orang tiba-tiba lari?

Polisi segera memulai pemeriksaan terhadap 36 orang yang tertangkap. Nama pertama yang dipanggil tentu saja Adipradja, sang mantan lurah. Dengan nada santai, ia mengaku hanya meminjamkan tanahnya untuk “acara kumpul warga.” Tapi begitu diperiksa lebih dalam, pengakuan mulai mengalir. Salah satu pemegang taruhan tertangkap masih membawa uang sebesar ƒ11,35 sebagai bukti sah bahwa siang itu bukan sekadar “acara kumpul-kumpul.”

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Dari catatan polisi, para pemain datang dari berbagai tempat: Garut, Cianjur, Bandung, hingga Cileunyi. Mereka datang naik bus, kereta, atau bahkan jalan kaki berjam-jam demi menonton ayam jago kesayangan bertarung. Sabung ayam memang sudah lama jadi hiburan rakyat. Dulu di Tatar Sunda, ayam jago bukan cuma peliharaan, tapi simbol kehormatan. Setiap aduan bukan hanya soal uang taruhan, tapi juga gengsi: ayam siapa yang paling tangguh, siapa yang paling jago merawat.

Yang membuat polisi semakin geli sekaligus heran adalah kehadiran orang-orang Eropa di tengah para penjudi. Bukan pejabat atau bangsawan, melainkan pegawai perkebunan dan tuan tanah kecil. Mungkin bosan dengan hidup teratur di rumah, mereka mencari hiburan yang “lebih merakyat.” Dan Tanggoelang jadi tempat pelarian sempurna: jauh dari kota, dekat dengan rel, dan cukup aman… sampai hari itu datang.

Begitu pemeriksaan selesai, sebagian besar peserta dilepas. Polisi membawa semua barang bukti: ayam, dadu, teko, cangkir, sandal, dan tikar. Kasus itu tak berlanjut panjang. Tak ada berita besar keesokan harinya, tak ada yang dibawa ke pengadilan. Tapi kabar tentang “penggerebekan besar di Rancaekek” cepat menyebar ke Bandung. Orang-orang di warung kopi membicarakannya dengan tawa. “Katanya orang Belanda juga ikut sabung ayam,” ujar seorang penumpang oplet di Stasiun Andir.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Hukum kolonial waktu itu memang punya wajah ganda. Di satu sisi, sabung ayam dan judi jelas dilarang. Tapi di sisi lain, praktik itu dibiarkan hidup selama tidak membuat gaduh atau menyinggung pejabat. Kadang, penggerebekan seperti ini lebih mirip pertunjukan ketimbang penegakan hukum: untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah masih “bekerja.” Setelah itu, semuanya kembali seperti biasa.

Ttak ada yang tahu lagi di mana tepatnya kampung Tanggoelan berdiri. Sawah-sawah Rancaekek sudah berubah jadi perumahan, pabrik, dan jalan raya. Tapi mungkin, di suatu sore berdebu, suara ayam jantan di kejauhan masih bisa membuat orang tua di sana tertawa pelan, mengingat kembali kisah lama: hari ketika polisi dan penjudi sama-sama berlari di sawah, berebut nasib di tengah lumpur.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)