Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga Bandung Timur, daerah Pasir Impun, Sukamiskin, Cikadut hingga Cicaheum adalah momok. Macet horor saat jam sibuk di pagi hari tak kalah seramnya dengan jam pulang kantor di sore menuju malam.

Di pagi hari sebelum jam 7-an, waktu tempuh Ujungberung ke Cicaheum yang normalnya maksimal 20 menit - saat macet - bisa menjadi 45 menit. Ini baru di kawasan Bandung Timur saja. Di titik-titik lainnya sama saja. Sebut saja kawasan Kopo, Jalan Gunung Batu, Jalan Soekarno Hatta, dan sejumlah titik perempatan di pusat kota.

Tak heran akibat kemacetan ini, tahun lalu, TomTom Traffic Index menobatkan Bandung sebagai kota termacet se-Indonesia, mengalahkan kota-kota besar lainnya. Waktu yang hilang di jalan bukan sekadar soal keterlambatan, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup yang kian menurun.

Di tengah situasi itu, sebuah forum bertajuk Bebenah Transportasi Umum digelar di sebuah ruang sederhana yang disulap menjadi ruang diskusi publik. Kursi-kursi dipenuhi warga, sementara di sudut ruangan terdapat angkot listrik bernama “Angklung” dan kendaraan feeder yang dipamerkan dalam kondisi bersih dan modern. Wajah yang sangat kontras dengan citra angkot yang selama ini melekat di benak banyak orang.

Indiana Sordan mewakili suara warga Kota Bandung yang setiap hari terjebak macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Indiana Sordan mewakili suara warga Kota Bandung yang setiap hari terjebak macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Warga yang Terjebak Setiap Hari

Di bagian lain ruangan, Indiana Sordan (28) mewakili realitas yang lebih dekat dan personal. Menurutnya, kemacetan bukan sekadar isu kebijakan, melainkan pengalaman sehari-hari yang melelahkan.

“Hampir setiap hari saya kena macet, baik weekday maupun weekend,” kata Indi sambil tersenyum tipis.

Ia menyebut beberapa wilayah di Bandung Timur seperti Cibiru, Cileunyi, dan Pasir Impun yang kerap dilanda kemacetan. Bahkan, untuk berangkat kerja, ia sering terpaksa mencari rute alternatif karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan.

“Paling parah itu di Bandung Timur, terutama ke arah Pasir Impun,” ujarnya.

Bagi Indi sebagai bagian dari masyarakat sipil, penyebab kemacetan tidak bisa semata-mata disandarkan pada jumlah kendaraan pribadi. Ada faktor lain yang kerap diabaikan.

“Angkot yang ngetem sembarangan, berhenti sembarangan itu juga memperparah,” ujarnya.

Ia mengakui pemerintah telah mencoba menghadirkan sejumlah solusi, seperti bus kota. Namun, dampaknya dirasa belum luas. Banyak warga masih ragu atau bahkan belum memahami cara mengakses layanan tersebut.

Ketika ditanya tentang harapannya, pernyataan Indi mencerminkan kejujuran sekaligus keraguan. Ia ingin percaya bahwa situasi bisa membaik, tetapi realitas membuatnya belum sepenuhnya yakin.

“Optimis ada, tapi untuk sekarang masih pesimis,” ucapnya.

Menurutnya, perubahan hanya bisa terjadi jika tidak berhenti pada wacana. Tindakan nyata sangat dibutuhkan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

“Ada solusi dari pemerintah, tapi belum terasa signifikan,” tambahnya.

Sena Luphdika menilai perubahan sistem menjadi kunci agar angkot dan layanan publik lainnya bisa lebih tertata dan efisien. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sena Luphdika menilai perubahan sistem menjadi kunci agar angkot dan layanan publik lainnya bisa lebih tertata dan efisien. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Keresahan ke Gerakan

M. Sena Luphdika (33) dari demokrasikita.id mengungkapkan bahwa forum ini lahir dari kekecewaan warga yang merasa isu kota—terutama kemacetan—tidak menunjukkan perkembangan berarti.

Bersama komunitas lain, mereka berupaya mendorong transportasi umum sebagai solusi nyata, bukan sekadar bahasan dalam acara seremonial.

“Transportasi umum itu harus berproses, berubah. Nggak bisa diam seperti 10 tahun ke belakang,” ujarnya.

Ia juga menilai saluran komunikasi antara warga dan DPRD sejauh ini belum benar-benar terbuka. Aspirasi masyarakat, menurutnya, seharusnya dapat masuk melalui legislatif untuk kemudian diterjemahkan menjadi kebijakan.

Di tengah berbagai rencana ambisius seperti BRT, Sena justru menyoroti sesuatu yang sudah lama ada: angkot.

Menurutnya, kendaraan ini bukanlah masalah, melainkan potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Angkot itu jumlahnya ribuan, tapi seperti tidak diapa-apakan,” ucapnya.

Ia mencontohkan beberapa program feeder yang telah berjalan dan menunjukkan peningkatan signifikan: tanpa menunggu lama, tanpa kebiasaan merokok, serta jadwal yang lebih teratur. Hal ini membuktikan bahwa sopir angkot bisa beradaptasi jika sistemnya mendukung.

“Kalau sistemnya diperbaiki, mereka bisa lebih rapi, teratur, bahkan lebih efisien,” ujar Sena.

DPRD: Janji Tindak Lanjut

Di sisi lain, anggota DPRD Kota Bandung Dapil I, Nina Fitriana (46), menilai forum ini sebagai langkah awal yang krusial.

Ia mengakui bahwa kemacetan merupakan isu utama yang disuarakan warga.

“Harus ada transformasi transportasi. Ini sudah bertahun-tahun, wajib dilakukan,” kata Nina.

Ia membandingkan dengan Jakarta yang membutuhkan waktu panjang untuk berbenah, namun kini mulai menunjukkan hasil. Menurutnya, Bandung juga harus berani memulai, meski dengan segala keterbatasan.

Nina menggambarkan kemacetan sebagai persoalan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda. Waktu yang terbuang di jalan menjadi indikator nyata bahwa masalah ini sudah berada pada titik genting.

Ia menegaskan bahwa solusi tidak bisa datang dari satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, DPRD, akademisi, dan masyarakat dalam arah yang sama.

“Kita butuh komitmen bersama: pemerintah, DPRD, masyarakat, dan akademisi,” ujarnya.

Terkait tindak lanjut, Nina memastikan aspirasi warga tidak akan berhenti di forum. Ia meminta semua masukan dicatat secara tertulis agar dapat dibawa ke pembahasan resmi di DPRD.

“Saya minta semua aspirasi ini dibuat tertulis supaya bisa langsung ditindaklanjuti,” tegasnya.

“Nanti akan kami bawa ke komisi untuk dibahas dan memanggil instansi terkait,” tambahnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)