Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 08:49 WIB
Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga Bandung Timur, daerah Pasir Impun, Sukamiskin, Cikadut hingga Cicaheum adalah momok. Macet horor saat jam sibuk di pagi hari tak kalah seramnya dengan jam pulang kantor di sore menuju malam.

Di pagi hari sebelum jam 7-an, waktu tempuh Ujungberung ke Cicaheum yang normalnya maksimal 20 menit - saat macet - bisa menjadi 45 menit. Ini baru di kawasan Bandung Timur saja. Di titik-titik lainnya sama saja. Sebut saja kawasan Kopo, Jalan Gunung Batu, Jalan Soekarno Hatta, dan sejumlah titik perempatan di pusat kota.

Tak heran akibat kemacetan ini, tahun lalu, TomTom Traffic Index menobatkan Bandung sebagai kota termacet se-Indonesia, mengalahkan kota-kota besar lainnya. Waktu yang hilang di jalan bukan sekadar soal keterlambatan, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup yang kian menurun.

Di tengah situasi itu, sebuah forum bertajuk Bebenah Transportasi Umum digelar di sebuah ruang sederhana yang disulap menjadi ruang diskusi publik. Kursi-kursi dipenuhi warga, sementara di sudut ruangan terdapat angkot listrik bernama “Angklung” dan kendaraan feeder yang dipamerkan dalam kondisi bersih dan modern. Wajah yang sangat kontras dengan citra angkot yang selama ini melekat di benak banyak orang.

Indiana Sordan mewakili suara warga Kota Bandung yang setiap hari terjebak macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Indiana Sordan mewakili suara warga Kota Bandung yang setiap hari terjebak macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Warga yang Terjebak Setiap Hari

Di bagian lain ruangan, Indiana Sordan (28) mewakili realitas yang lebih dekat dan personal. Menurutnya, kemacetan bukan sekadar isu kebijakan, melainkan pengalaman sehari-hari yang melelahkan.

“Hampir setiap hari saya kena macet, baik weekday maupun weekend,” kata Indi sambil tersenyum tipis.

Ia menyebut beberapa wilayah di Bandung Timur seperti Cibiru, Cileunyi, dan Pasir Impun yang kerap dilanda kemacetan. Bahkan, untuk berangkat kerja, ia sering terpaksa mencari rute alternatif karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan.

“Paling parah itu di Bandung Timur, terutama ke arah Pasir Impun,” ujarnya.

Bagi Indi sebagai bagian dari masyarakat sipil, penyebab kemacetan tidak bisa semata-mata disandarkan pada jumlah kendaraan pribadi. Ada faktor lain yang kerap diabaikan.

“Angkot yang ngetem sembarangan, berhenti sembarangan itu juga memperparah,” ujarnya.

Ia mengakui pemerintah telah mencoba menghadirkan sejumlah solusi, seperti bus kota. Namun, dampaknya dirasa belum luas. Banyak warga masih ragu atau bahkan belum memahami cara mengakses layanan tersebut.

Ketika ditanya tentang harapannya, pernyataan Indi mencerminkan kejujuran sekaligus keraguan. Ia ingin percaya bahwa situasi bisa membaik, tetapi realitas membuatnya belum sepenuhnya yakin.

“Optimis ada, tapi untuk sekarang masih pesimis,” ucapnya.

Menurutnya, perubahan hanya bisa terjadi jika tidak berhenti pada wacana. Tindakan nyata sangat dibutuhkan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

“Ada solusi dari pemerintah, tapi belum terasa signifikan,” tambahnya.

Sena Luphdika menilai perubahan sistem menjadi kunci agar angkot dan layanan publik lainnya bisa lebih tertata dan efisien. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sena Luphdika menilai perubahan sistem menjadi kunci agar angkot dan layanan publik lainnya bisa lebih tertata dan efisien. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Keresahan ke Gerakan

M. Sena Luphdika (33) dari demokrasikita.id mengungkapkan bahwa forum ini lahir dari kekecewaan warga yang merasa isu kota—terutama kemacetan—tidak menunjukkan perkembangan berarti.

Bersama komunitas lain, mereka berupaya mendorong transportasi umum sebagai solusi nyata, bukan sekadar bahasan dalam acara seremonial.

“Transportasi umum itu harus berproses, berubah. Nggak bisa diam seperti 10 tahun ke belakang,” ujarnya.

Ia juga menilai saluran komunikasi antara warga dan DPRD sejauh ini belum benar-benar terbuka. Aspirasi masyarakat, menurutnya, seharusnya dapat masuk melalui legislatif untuk kemudian diterjemahkan menjadi kebijakan.

Di tengah berbagai rencana ambisius seperti BRT, Sena justru menyoroti sesuatu yang sudah lama ada: angkot.

Menurutnya, kendaraan ini bukanlah masalah, melainkan potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Angkot itu jumlahnya ribuan, tapi seperti tidak diapa-apakan,” ucapnya.

Ia mencontohkan beberapa program feeder yang telah berjalan dan menunjukkan peningkatan signifikan: tanpa menunggu lama, tanpa kebiasaan merokok, serta jadwal yang lebih teratur. Hal ini membuktikan bahwa sopir angkot bisa beradaptasi jika sistemnya mendukung.

“Kalau sistemnya diperbaiki, mereka bisa lebih rapi, teratur, bahkan lebih efisien,” ujar Sena.

DPRD: Janji Tindak Lanjut

Di sisi lain, anggota DPRD Kota Bandung Dapil I, Nina Fitriana (46), menilai forum ini sebagai langkah awal yang krusial.

Ia mengakui bahwa kemacetan merupakan isu utama yang disuarakan warga.

“Harus ada transformasi transportasi. Ini sudah bertahun-tahun, wajib dilakukan,” kata Nina.

Ia membandingkan dengan Jakarta yang membutuhkan waktu panjang untuk berbenah, namun kini mulai menunjukkan hasil. Menurutnya, Bandung juga harus berani memulai, meski dengan segala keterbatasan.

Nina menggambarkan kemacetan sebagai persoalan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda. Waktu yang terbuang di jalan menjadi indikator nyata bahwa masalah ini sudah berada pada titik genting.

Ia menegaskan bahwa solusi tidak bisa datang dari satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, DPRD, akademisi, dan masyarakat dalam arah yang sama.

“Kita butuh komitmen bersama: pemerintah, DPRD, masyarakat, dan akademisi,” ujarnya.

Terkait tindak lanjut, Nina memastikan aspirasi warga tidak akan berhenti di forum. Ia meminta semua masukan dicatat secara tertulis agar dapat dibawa ke pembahasan resmi di DPRD.

“Saya minta semua aspirasi ini dibuat tertulis supaya bisa langsung ditindaklanjuti,” tegasnya.

“Nanti akan kami bawa ke komisi untuk dibahas dan memanggil instansi terkait,” tambahnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.