Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

9 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

  • Keberadaan FFB menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi apresiasi terhadap karya-karya film Indonesia, sekaligus mencatat perjalanan dan dinamika dunia sinema dari perspektif Bandung.

Sabtu, 22 Agustus 2026, menjadi salah satu catatan tersendiri bagi penulis ketika mendapat undangan untuk menghadiri perhelatan akbar Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang diselenggarakan di Hotel Horison Ultima, Kota Bandung. Di tengah gemerlap panggung penghargaan dan hadirnya para insan perfilman, malam itu bukan sekadar menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para sineas, tetapi juga menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan panjang sebuah tradisi yang telah tumbuh dan bertahan selama 39 tahun.

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia, menjadi ruang apresiasi bagi para sineas, sekaligus saksi atas perubahan karya, teknologi, industri, serta selera penonton dari masa ke masa.

Dari Bandung, tradisi apresiasi itu terus dirawat.

Dari Pengamatan Film hingga Tradisi Penghargaan

FFB lahir dari kepedulian sejumlah seniman, budayawan, pengamat, dan pencinta film di Bandung. Pada awal kehadirannya, para penggagas FFB tidak sekadar berbicara tentang film, tetapi terjun langsung mengamati dan menonton film-film yang diputar di berbagai bioskop di Bandung.

Dari pengamatan tersebut kemudian lahir gagasan untuk memberikan penghargaan kepada film dan insan perfilman yang dinilai memiliki kualitas, pencapaian artistik, maupun keistimewaan tertentu.

Tradisi penghargaan itu pada mulanya berlangsung sederhana. Pengumuman penerima penghargaan pernah dilaksanakan di berbagai tempat, mulai dari rumah makan, bioskop, hingga hotel. Dalam perjalanan berikutnya, ajang penghargaan FFB bahkan pernah disiarkan secara langsung melalui stasiun televisi.

Dari tradisi yang sederhana tersebut, FFB perlahan tumbuh menjadi salah satu forum apresiasi film yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan perfilman nasional.

Memasuki 2004, FFB kembali menyelenggarakan kegiatan festival dengan format yang semakin berkembang. Kegiatan festival bahkan sempat dibawa ke sejumlah daerah di luar Bandung. Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan kebangkitan kembali perfilman Indonesia setelah melewati masa yang penuh tantangan.

Menyaksikan Perubahan Dunia Sinema

Perfilman Indonesia terus bergerak dan mengalami perubahan. Produksi film nasional semakin meningkat, jumlah penonton tumbuh, sementara karya-karya sineas Indonesia semakin berani menghadirkan cerita, gagasan, dan pendekatan artistik yang beragam.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital ikut mengubah wajah industri film. Cara masyarakat memproduksi, mendistribusikan, menonton, hingga membicarakan film tidak lagi sama seperti beberapa dekade sebelumnya.

Kemunculan berbagai platform digital dan media sosial juga membuat apresiasi terhadap film menjadi semakin terbuka. Sebuah karya tidak hanya diperbincangkan di ruang bioskop atau media massa, tetapi juga dapat menjadi percakapan luas di ruang digital.

Di tengah perubahan tersebut, FFB terus berupaya melakukan regenerasi.

Forum Film Bandung tidak hanya menjadi ruang pemberian penghargaan bagi para sineas, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai unsur perfilman dan kebudayaan. Di sanalah pengalaman generasi terdahulu bertemu dengan energi generasi baru.

Keberadaan FFB menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi apresiasi terhadap karya-karya film Indonesia, sekaligus mencatat perjalanan dan dinamika dunia sinema dari perspektif Bandung.

39 Tahun Merawat Apresiasi

Kini, setelah 39 tahun perjalanan, FFB menunjukkan konsistensi sebuah forum yang tumbuh dari Bandung dan turut memberikan warna bagi perkembangan perfilman Indonesia.

FFB ke depan diharapkan tetap menjadi rumah bagi para insan film, seniman, budayawan, pengamat, maupun masyarakat pencinta film. Keberagaman tema, kekayaan cerita, serta unsur budaya Nusantara diharapkan terus mendapatkan ruang dalam karya-karya perfilman Indonesia.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan media yang begitu cepat, keberadaan FFB tetap memiliki arti penting.

FFB bukan semata-mata tentang siapa yang menerima penghargaan. Lebih dari itu, FFB berbicara tentang bagaimana sebuah karya dihargai, bagaimana perjalanan perfilman dicatat, dan bagaimana kecintaan terhadap film Indonesia terus dirawat dari generasi ke generasi.

39 tahun FFB bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan panjang dalam merawat kecintaan, apresiasi, dan ingatan terhadap film Indonesia.

Daftar Peraih Penghargaan Festival Film Bandung 2026

Aming, peraih penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia melalui film Ghost in the Cell, berfoto bersama penulis dan Rosyid E. Abby, Panitia Pelaksana FFB 2026. (Foto: Agus Wahyudi)
Aming, peraih penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia melalui film Ghost in the Cell, berfoto bersama penulis dan Rosyid E. Abby, Panitia Pelaksana FFB 2026. (Foto: Agus Wahyudi)

Film Indonesia

1. Film Indonesia Terpuji

- Pangku

2. Sutradara Terpuji Film Indonesia

- Reza Rahadian — Pangku

3. Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia

- Claressa Taufan — Pangku

4. Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia

- Jared Ali — Children of Heaven

- Reza Rahadian — Semua Akan Baik-Baik Saja

5. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia

- Aming — Ghost in the Cell

6. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia

- Meriam Bellina — Senin Harga Naik

7. Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia

- Johanna Wattimena & Bernadus Raka — Nobody Loves Kay

8. Penata Artistik Terpuji Film Indonesia

- Rini Sri Handayani — Na Willa

9. Penata Kamera Terpuji Film Indonesia

- Vera Lestafa — Dopamin

10. Penata Editing Terpuji Film Indonesia

- Aline Jusria — Dopamin

11. Penata Musik Terpuji Film Indonesia

- Ofel Obaja Setiawan — Na Willa

Serial Televisi

1. Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi

- Fendy Chow — Terikat Janji

2. Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi

- Adhisty Zara — Beri Cinta Waktu

Serial Web

1. Serial Web Terpuji

- Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral

2. Sutradara Terpuji Serial Web

- Lucky Kuswandi — Ratu Ratu Queens: The Series

3. Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web

- Yesaya Abraham — Secret High School

4. Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web

- Wulan Guritno — Mama-Mama Pengejar Cinta

5. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web

- Randy Martin — Generasi D'Bijis

6. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web

- Alexandra Gottardo — Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Lifetime Achievent

- Christine Hakim

Film Impor Terpuji

1. Backrooms — Film Horor Psikologis Terpuji

2. Hamnet — Film Drama Sejarah Romansa Terpuji

3. Hukum — Film Horor Misteri Terpuji

4. Hoppers — Film Animasi Terpuji

5. It Was Just an Accident — Film Thriller Terpuji

6. Kokuho — Film Epik Budaya Terpuji

7. Marty Supreme — Film Drama Olahraga Terpuji

8. Obsession — Film Horor Romansa Terpuji

9. One Battle After Another — Film Aksi Thriller Terpuji

10. Project Hail Mary — Film Fiksi Ilmiah Terpuji

11. The Furious — Film Laga Terpuji

12. The Sheep Detectives — Film Komedi Detektif Terpuji

Lifetime  Achievement FFB 2026

Christine Hakim, Lima Dekade Mengabdikan Diri untuk Film Indonesia

Christine Hakim menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Bandung (FFB) 2026 atas dedikasi dan kiprahnya yang panjang dalam perfilman nasional. (Foto: Agus Wahyudi)
Christine Hakim menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Bandung (FFB) 2026 atas dedikasi dan kiprahnya yang panjang dalam perfilman nasional. (Foto: Agus Wahyudi)

Nama Christine Hakim sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang perfilman Indonesia. Lebih dari sekadar aktris, Christine Hakim merupakan salah satu figur penting yang ikut menjaga marwah dan keberlangsungan sinema Indonesia selama lebih dari lima dekade.

Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956, Herlina Natalia Christine Hakim mengawali perjalanan di dunia film pada 1973 melalui Cinta Pertama karya Teguh Karya. Debut tersebut langsung mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita dengan Pujian pada Festival Film Indonesia 1974.

Sejak saat itu, Christine terus menunjukkan konsistensinya melalui berbagai karakter dalam film-film penting Indonesia. Sejumlah karyanya antara lain Sesuatu yang Indah, Pengemis dan Tukang Becak, Di Balik Kelambu, Kerikil-Kerikil Tajam, hingga Tjoet Nja' Dhien yang kemudian semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu aktris penting dalam sejarah perfilman Indonesia.

Perannya sebagai Cut Nyak Dhien dalam Tjoet Nja' Dhien menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Film tersebut meraih Piala Citra Film Terbaik pada FFI 1988, sementara Christine Hakim memperoleh Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Namun, kiprah Christine tidak berhenti pada dunia seni peran. Ia juga terlibat sebagai produser dalam sejumlah film, termasuk Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, dan Serambi.

Daun di Atas Bantal kemudian tampil di Festival Film Cannes pada 1998, menjadi salah satu momen penting yang membawa karya sinema Indonesia ke panggung internasional.

Kiprahnya di dunia internasional semakin terlihat ketika Christine Hakim dipercaya menjadi anggota dewan juri Festival Film Cannes ke-55 pada 2002. Kehadirannya di salah satu festival film paling bergengsi di dunia tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam membawa nama perfilman Indonesia ke ruang internasional.

Pengabdian Christine Hakim terhadap perfilman Indonesia juga telah mendapatkan berbagai pengakuan. Selain sederet Piala Citra, ia menerima berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri, termasuk Satyalancana Wira Karya dan Bintang Budaya Parama Dharma, serta berbagai penghargaan di bidang kebudayaan dan perfilman.

Menariknya, perjalanan Christine Hakim hingga kini belum berhenti. Namanya masih hadir dalam film-film Indonesia generasi baru. Filmografinya mencatat keterlibatannya dalam sejumlah karya mutakhir, termasuk Bila Esok Ibu Tiada, Siksa Kubur, Pangku, Sukma, dan Semua Akan Baik-Baik Saja.

Bagi Festival Film Bandung 2026, penghargaan Lifetime Achievement kepada Christine Hakim menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan panjang seorang seniman yang tidak hanya membangun karier melalui seni peran, tetapi juga ikut merawat ekosistem, sejarah, dan martabat perfilman Indonesia.

Lima dekade berkarya menjadikan Christine Hakim bukan sekadar saksi perjalanan sinema Indonesia.

Ia adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.

Sebuah nama yang melewati berbagai zaman, perubahan industri, pergantian generasi, hingga memasuki era digital.

Christine Hakim dan perfilman Indonesia adalah dua perjalanan yang telah lama berjalan beriringan. Lifetime Achievement FFB 2026 menjadi penghormatan atas dedikasi panjang tersebut.

FFB Menggunakan  Istilah “Terpuji”, Bukan “Terbaik”

Ada satu hal menarik yang menjadi ciri khas Festival Film Bandung. Dalam setiap penghargaan, FFB menggunakan istilah “Terpuji”, bukan “Terbaik”.

Penggunaan istilah tersebut bukan sekadar upaya untuk tampil berbeda dari festival film lainnya. Di balik kata “terpuji” terdapat filosofi yang telah menjadi bagian dari tradisi penilaian FFB sejak awal.

Regu Pengamat FFB menyepakati penggunaan kata “terpuji”, yang bermakna mendapat pujian atau patut dipuji. Istilah tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang berada pada posisi “paling” atau “nomor satu”.

Ada sikap penting yang hendak ditegaskan melalui pilihan kata tersebut: FFB tidak ingin membuat klaim bahwa sebuah karya merupakan satu-satunya yang terbaik dibandingkan karya lainnya.

Sebaliknya, predikat “terpuji” menjadi ajakan kepada masyarakat untuk memberikan perhatian lebih terhadap karya-karya yang dinilai memiliki kualitas, gagasan, pencapaian artistik, maupun keistimewaan tertentu.

Penghargaan diharapkan dapat mendorong tumbuhnya apresiasi dan wawasan penonton terhadap film Indonesia, sekaligus membuka ruang untuk membandingkannya dengan karya lain, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Karena itu, penerima predikat terpuji dalam satu kategori dapat lebih dari satu. Yang dihargai bukan semata-mata posisi sebagai “yang pertama”, melainkan sesuatu yang membuat sebuah karya layak mendapatkan pujian, perhatian, dan diperbincangkan.

Pada akhirnya, filosofi “terpuji” memperlihatkan karakter FFB sebagai forum apresiasi.

Bukan sekadar mencari siapa yang paling unggul, tetapi memberi penghormatan kepada karya dan insan film yang layak diapresiasi.

Dan mungkin di situlah kekuatan Festival Film Bandung selama 39 tahun: bukan hanya membagikan penghargaan, tetapi ikut menjaga budaya menonton, mengapresiasi, mendiskusikan, dan mencintai film Indonesia.

Dari Bandung, apresiasi itu terus dirawat.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

39 tahun FFB adalah 39 tahun perjalanan merawat film, merawat apresiasi, dan merawat ingatan tentang sinema Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 19:10

Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 17:37

Selamat Tinggal Terminal Cicaheum, Selamat Tinggal ‘Warnas Bi Yayah’ dan ‘JPO Preman Pensiun’

Terminal ini dilekatkan dengan tokoh-tokoh preman jalanan, pencopet, hingga aktivitas terminal sehari-hari di Bandung.

Warung nasi Bi Yayah. Ya, yang kedua, warung nasi milik Yuli Yumiati atau yang memerankan tokoh Bi Yayah di sinetron “Preman Pensiun” ikut terkenal seiring popularitas sinetron ini. (Sumber: Facebook)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 15:18

Jejak 'Mak Nyus' Sunda di Ibu Kota: Telaah Historis dan Kurasi Kuliner Jawa Barat Pilihan Bondan Winarno

Masakan Sunda bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan bagian penting dari identitas rasa yang turut membentuk selera masyarakat metropolitan.

Hidangan dari Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No.13, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan. (Sumber: Google Review | Foto: merry silviani)
Sejarah 26 Agu 2026, 13:54

Sejarah Gedung Sate Bandung, Jejak Kolonial yang Bertahan Lebih dari Seabad

Gedung Sate dibangun pada 1920 sebagai pusat pemerintahan kolonial. Simak sejarahnya hingga menjadi ikon Jawa Barat.

Baris berbaris serdadu wanita KNIL di area Gedung Sate pada tahun 1949. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)