Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pupujian terdengar sebelum dan sesudah salat lima waktu, menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid, kenangan masa kanak-kanak yang hingga kini masih terasa hangat.

  • Di dalam teks suci Islam dan sebuah hadis Nabi, para penghunisurga diceritakan selalu mengucapkan salam pada penduduk di akhirat.

  • Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, upaya menghadirkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dikuatkan melalui Gerakan Nasional Gema Shalawat Bangsa yang diluncurkan Kementerian Agama.

Malam itu terasa dingin untuk wilayah Babakan Dangdeur, Cibiru, dan sekitarnya. Angin malam berhembus menyusup pelan-pelan, yang ditemani secangkir air hangat, saat asyik membaca koran kebanggaan urang Jabar. Di tengah-tengah suasana yang tenang itu, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyela.

“Bah, emang ada gitu selawatan perdamaian?”

Dengan memperlihatkan satu buku berjudul Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan karya Sukron Abdilah. Maha karya itu ditemukan begitu saja, tegeletak di rak buku sederhana yang alakadarnya.

Rasa ingin tahunya muncul. Bagi anak kelas VI SD itu, selawat selama ini punya ruang yang cukup jelas dalam ingatannya. “Biasanya kan Sholawat Maulid Nabi, nazoman di masjid, solawatan di pengajian,” jelasnya.

Sambil tersenyum. Pertanyaan sederhana itu justru membawa ingatan pada bagaimana anak-anak mengenal agama dari segala aktivitas yang dekat dengan keseharian, mulai dari suara selawat dari masjid, lantunan nazoman di pengajian, majelis yang riuh oleh pupujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

“Muhun, eta mah buku Mang Ukon,” jawabku singkat. Mang Ukon itu sapaan akrab untuk Sukron Abdilah, penulis buku dan kawan sejak kuliah dulu di IAIN Bandung (tahun 2002), sampai sekarang masih sering berkomunikasi, bertegur sapa baik lewat WhatsApp maupun telponan.

Cover kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj (Sumber: www.nu.or.id)
Cover kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj (Sumber: www.nu.or.id)

Merawat Ingatan Nadzoman Sunda

Ya, sebelum dimulai pengajian majelis talim ibu-ibu, pengajian mingguan di Masjid Al-Hidayah, Ar Rahman, Al Amanah, Nurul Iman, selalu terdengar pupujian, nadoman "Nabi urang sarerea" sebagai ungkapan rasa syukur dan kerinduan (kecintaan) umatnya terhadap Rasulullah Saw.

Dalam tulisan Maulid dan Isra Mi`raj dalam Nadzoman Sunda dijelaskan dari sekian banyak kitab nadzoman berbahasa Sunda yang tersebar di Jawa Barat, terdapat kitab berjudul Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj. Unikannya, meski tidak dicantumkannya nama ulama yang menulis kitab ini, tapi terdapat dugaan penulisnya ulama dari wilayah Priangan Timur. Pasalnya, didasarkan pada nama penerbit kitab, Toko Kairo Tasikmalaya.

Kitab ini terdiri atas dua bab: bab pertama membahas Maulid Nabi Muhammad saw. sebanyak 12 halaman, sedangkan bab kedua mengisahkan perjalanan Isra dan Mi'raj Rasulullah saw. sebanyak 9 halaman. Pada bagian akhir terdapat satu lembar berisi Shalawat Badriyah dalam bahasa Arab dan Sunda, sehingga keseluruhan kitab berjumlah 32 halaman.

Isi kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj ini banyak dilantunkan dalam bentuk pupujian, terutama setelah azan dikumandangkan dan sebelum salat berjamaah dimulai. Tradisi ini dikenal di kalangan masyarakat Nahdliyin di tatar Sunda.

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan dan sastra, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Sunda melalui praktik pupujian yang diwariskan dan dilantunkan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. (www.nu.or.id)

Gusti urang sarerea

Kangjeng Nabi anu mulya

Muhammad jenengana               

Arab Quraisy ngabangsana

Ramana gusti Abdullah

Ibuna siti Aminah

Dibabarkeuna di Mekkah

Wengi senen taun gajah

Robi'ul Awal bulanna

Tanggal ka dua belasna

April bulan Maséhina

Tanggal ka dua puluhna

Ari bilangan Taunna

Lima ratus cariosna

Tujuh puluh panambihna

Sareng sahiji punjulna

Siti Aminah misaur,

Waktos babarna kacatur,

Ningal cahaya mani ngempur

Di bumina hurung mancur

Setiap kali pupujian dilantunkan, pikiran seakan-akan melayang jauh ke kampung halaman, Bungbulang, Garut Pakidulan, pada era 1990-an. Ingatan itu menghadirkan kembali suasana nadoman di Masjid Darussalam yang begitu lekat dalam keseharian. Suara pupujian menggema, anak-anak berlarian di serambi masjid, dan riuh kecil mereka berebut mik (toa masjid) untuk mendapat giliran melantunkan nadoman.

Pupujian terdengar sebelum dan sesudah salat lima waktu, menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid, kenangan masa kanak-kanak yang hingga kini masih terasa hangat. Setiap lantunan seolah-olah membawa kembali suasana kampung yang sederhana, akrab, dan penuh kebersamaan.

Penulis buku Shalawat Perdamaian, Sukron Abdilah tengah asyik membaca sambil ditemani kopi hangat. (Sumber: Ilustrasi Gemini AI)
Penulis buku Shalawat Perdamaian, Sukron Abdilah tengah asyik membaca sambil ditemani kopi hangat. (Sumber: Ilustrasi Gemini AI)

Pegang Teguh Prinsip Selawatan

Bila kita menjalankan hidup dengan memegang teguh prinsip shalawat (menebar damai, cinta, kasih), maka niscaya tidak ada lagi usaha menertibkan keyakinan orang lain, upaya memberkan label sesat, kafir, hingga menghilangkan nyawa orang lain atas nama ajaran agama.

Dalam buku Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan (Cetakan : 1 Juni 2016, Halaman : 111+xi, Penerbit : MasterPeace Writing Labs, ISBN : 978-602-18343-2-1) diuraikan dalam menjalani kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, perlawanan, peperangan, dan kecamuk nafsu egois pembenaran keyakinan memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang-kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku.

Sejatinya manusia yang selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tidak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa. Betapa mudahnya kita melontarkan kata “sesat” pada setiap pemahaman dan keyakinan di negeri ini.

Parahnya, kita seakan-akan menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah dan indah di alam surgawi. Bahkan, posisi Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita.

Rupanya singgasana peradilan Tuhan direbut oleh manusia yang berteriak “Akulah yang Mahabenar” di medan kehidupan, hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam bagi para penganutnya.

Ingat, kedamaian yang dihasilkan dari aktivitas perdamaian umat manusia merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. (h.2).

Ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; maka mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi. Pasalnya, kedamaian dan perdamaian di negeri plural ini telah dicederai oleh sikap dan laku arogan segelintir kalangan, yang kembali mencuat seolah memperkeruh suasana damai dan tentram (al-sakinah) yang ditanamkan Tuhan pada jiwa-batiniah setiap umat manusia.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diusahakan umat manusia. Akan tetapi, karena manusia kerap mengklaimkebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian.

Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Tidak tunggal dan manunggaling kawula gusti. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan serba mendapatkan gangguan saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahanilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam teks suci Islam dan sebuah hadis Nabi, para penghunisurga diceritakan selalu mengucapkan salam pada penduduk di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketikadualisme, kondisi berlawanan (ketegangan) bertemu (coincidentia oppositorum). Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini bagaikan ejawantah dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. (h.3).

Memang jalan menuju kebenaran itu sangat beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan.

Salah satu caranya melalui selawat yang dilantunkan untuk memuji kanjeng Nabi Muhammad, bagi umat Islam dipercaya dapat memancarkan berkah, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan keamanan bagi seluruh umat manusia. Shallu dapat berarti doa, memberikan berkah, pujian, kesejahteraan, ketentraman, ketenangan, kemuliaan, dan ibadah.

Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dengan demikian, selawat nabi mestinya berfungsi memuliakan ajaran-ajaran toleransi yang digelorakan Nabi Muhammad Saw., selama beliau masih hidup. Namun, menyaksikan kekerasan berbungkus agama, akhir-akhir ini, kita patut bertanya betulkah kita telah memaknai selawat sebagai aktualisasi perdamaian dan kedamaian?

Islam ialah agama damai, karena itu sudahkah kita berselawat dengan benar, kalau masih menyisakan ruang bagi kekerasan ketika muncul perbedaan? Selawat kepada Nabi Muhammad selalu kita lantunkan sebanyak sembilan kali dalam salat lima waktu per hari. Bahkan, bagi orang yang sering menunaikan salat sunah bisa lebih banyak dari sembilan kali. Kalau dikalikan dalam tiga puluh hari, kita berselawat sebanyak duaratus tujuh puluh kali.

Namun, sayangnya selawat tidak membekas di kedalaman jiwa umat Islam. Yang terjadi ialah, umat banyak mengkhianati keberkahan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat bagi semesta alam (al-islam rahmatan lil alamin).

Fundamentalisme Islam yang rigid dan kikuk dengan klaim kebenaran sepihak telah membuat suasana harmoni negara-bangsa ini berada pada ketidakstabilan sosial dengan mudah meruncingnya konflik-konflik yang bermotif agama. (h.5)

Bagi kita yang hidup di masa yang terbentang jauh dengan Nabi Muhammad Saw., menjadi keniscayaan kembali memaknai maulid Nabi dengan suasana yang kontekstual. Memaknai kelahiran Nabi yaitu berupaya secara teguh mengamalkan apa yang digariskan olehnya sebagai panduan etis dan moral bersosial. Selawat pun mesti memantik kesadarandiri, perbedaan ialah anugrah dari Tuhan yang patut dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri yang plural ini, Indonesia. (h.6).

Buku ini merupakan kumpulan (27) artikel yang pernah diterbitkan oleh beberapa koran ini disusun karena kita sebagai muslim telah kehilangan suri tauladan dalam hal perilaku damai, sehingga kita kerap mencaci dan memaki orang yang berbeda pemahaman dengan kita. Saya berharap dengan buku buku ini dapat tercipta ekosistem perdamaian di Indonesia, baik di raha sosial, politik, budaya dan khusunya di ranah keagamaan. (h.vi-vii)

Hadirnya buku ini yang berusaha membincang tentang pentingnya menciptakan kedamain sebagai aktualisasi dari asma Allah, As-salam. Karena tujuan hidup di muka bumi ini untuk mencapai sakinah. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin. (QS Al-Fath:4)."

Kick Off Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi, Rabu (26/8/2026) (Sumber: Humas Kemenag)
Kick Off Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi, Rabu (26/8/2026) (Sumber: Humas Kemenag)

Gema Selawat Bangsa, Teladani Sirah Nabi

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, upaya menghadirkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dikuatkan melalui Gerakan Nasional Gema Shalawat Bangsa yang diluncurkan Kementerian Agama. Gerakan ini berlangsung pada 31 Agustus hingga 7 September 2026 dan mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk berselawat secara serentak, baik secara perorangan maupun bersama-sama di masjid, musala, pesantren, kampus, hingga perkantoran.

Gerakan ini mendorong masyarakat Indonesia memperbanyak selawat melalui pembacaan Dalail Khairat, dengan semangat “berselawat untuk negeri” sambil berusaha meneladani sirah Nabi Muhammad SAW. Dengan menargetkan keterlibatan 1.781.945 peserta dari seluruh Indonesia. Angka yang dipilih secara historis sebagai simbol Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

Tak hanya gerakan selawat, Kementerian Agama menyelenggarakan Ngaji Sirah Nabawi, berupa estafet kajian perjalanan hidup Rasulullah SAW bersama para ulama selama tujuh hari. Semua ini menjadi ikhtiar bersama untuk menegaskan pentingnya memahami sejarah kehidupan Nabi sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan kepada Muhammad SAW.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW akan semakin kokoh apabila disertai pengenalan yang mendalam terhadap kehidupan, akhlak, keteladanan, dan perjuangannya. (www.kemenag.go.id).

Sungguh, pertanyaan Aa Akil tidak sesederhana kelihatannya. “Selawatan perdamaian” memang terdengar asing bagi telinga anak-anak. Selawat selama ini lebih sering dipahami sebagai lantunan pupujian, nazoman dan doa kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, saat selawat dipertemukan dengan kata “perdamaian”, maknanya seolah-olah diperluas, dari lisan menuju laku, dari lantunan menuju kehidupan nyata.

Walhasil, malam yang dingin di Babakan Dangdeur itu menyisakan percakapan kecil ihwal agama dan kemanusiaan. Ya, dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan (pondasi) bersama untuk membumikan nilai-nilai harmoni, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Agu 2026, 08:00

Proyek Strategis Nasional Bersama dengan Militer, Menuju Indonesia Emas 2045?

Peran militer dalam berjalannya Proyek Strategis Nasional patut diapresiasi atau diantisipasi?

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 10:01

Mata Ini Menjadi Berharga di Hadapan Kyai Umar

Cerpen berdasarkan kisah nyata kehidupan Kyai Ahmad Umar Abdul Manan, pendiri Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 08:34

Full Depth Reclamation (FDR) sebagai Solusi Infrastruktur Jalan Berkelanjutan

Full Depth Reclamation (FDR) adalah metode rehabilitasi jalan berkelanjutan yang memanfaatkan material lama untuk memperkuat jalan, mengurangi limbah, menekan biaya, dan memperpanjang umur layanan.

ilustrasi (Sumber: - | Foto: -)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 20:21

Pengalaman Berburu Kopi di Warung, Toko dan Pabrik Kopi Tua di Kota Bandung

Menjelajahi aroma kopi legendaris Bandung! Simak keseruan berburu racikan kopi terbaik mulai dari warung legendaris, toko bersejarah, hingga pabrik kopi tua yang masih kokoh berdiri di Paris van Java.

Warung Kopi Purnama di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 19:10

Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 17:37

Selamat Tinggal Terminal Cicaheum, Selamat Tinggal ‘Warnas Bi Yayah’ dan ‘JPO Preman Pensiun’

Terminal ini dilekatkan dengan tokoh-tokoh preman jalanan, pencopet, hingga aktivitas terminal sehari-hari di Bandung.

Warung nasi Bi Yayah. Ya, yang kedua, warung nasi milik Yuli Yumiati atau yang memerankan tokoh Bi Yayah di sinetron “Preman Pensiun” ikut terkenal seiring popularitas sinetron ini. (Sumber: Facebook)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 15:18

Jejak 'Mak Nyus' Sunda di Ibu Kota: Telaah Historis dan Kurasi Kuliner Jawa Barat Pilihan Bondan Winarno

Masakan Sunda bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan bagian penting dari identitas rasa yang turut membentuk selera masyarakat metropolitan.

Hidangan dari Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No.13, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan. (Sumber: Google Review | Foto: merry silviani)
Sejarah 26 Agu 2026, 13:54

Sejarah Gedung Sate Bandung, Jejak Kolonial yang Bertahan Lebih dari Seabad

Gedung Sate dibangun pada 1920 sebagai pusat pemerintahan kolonial. Simak sejarahnya hingga menjadi ikon Jawa Barat.

Baris berbaris serdadu wanita KNIL di area Gedung Sate pada tahun 1949. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)