Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)

Malam itu terasa dingin untuk wilayah Babakan Dangdeur, Cibiru, dan sekitarnya. Angin malam berhembus menyusup pelan-pelan, yang ditemani secangkir air hangat, saat asyik membaca koran kebanggaan urang Jabar. Di tengah-tengah suasana yang tenang itu, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyela.

“Bah, emang ada gitu selawatan perdamaian?”

Dengan memperlihatkan satu buku berjudul Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan karya Sukron Abdilah. Maha karya itu ditemukan begitu saja, tegeletak di rak buku sederhana yang alakadarnya.

Rasa ingin tahunya muncul. Bagi anak kelas VI SD itu, selawat selama ini punya ruang yang cukup jelas dalam ingatannya. “Biasanya kan Sholawat Maulid Nabi, nazoman di masjid, solawatan di pengajian,” jelasnya.

Sambil tersenyum. Pertanyaan sederhana itu justru membawa ingatan pada bagaimana anak-anak mengenal agama dari segala aktivitas yang dekat dengan keseharian, mulai dari suara selawat dari masjid, lantunan nazoman di pengajian, majelis yang riuh oleh pupujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

“Muhun, eta mah buku Mang Ukon,” jawabku singkat. Mang Ukon itu sapaan akrab untuk Sukron Abdilah, penulis buku dan kawan sejak kuliah dulu di IAIN Bandung (tahun 2002), sampai sekarang masih sering berkomunikasi, bertegur sapa baik lewat WhatsApp maupun telponan.

Cover kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj (Sumber: www.nu.or.id)
Cover kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj (Sumber: www.nu.or.id)

Merawat Ingatan Nadzoman Sunda

Ya, sebelum dimulai pengajian majelis talim ibu-ibu, pengajian mingguan di Masjid Al-Hidayah, Ar Rahman, Al Amanah, Nurul Iman, selalu terdengar pupujian, nadoman "Nabi urang sarerea" sebagai ungkapan rasa syukur dan kerinduan (kecintaan) umatnya terhadap Rasulullah Saw.

Dalam tulisan Maulid dan Isra Mi`raj dalam Nadzoman Sunda dijelaskan dari sekian banyak kitab nadzoman berbahasa Sunda yang tersebar di Jawa Barat, terdapat kitab berjudul Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj. Unikannya, meski tidak dicantumkannya nama ulama yang menulis kitab ini, tapi terdapat dugaan penulisnya ulama dari wilayah Priangan Timur. Pasalnya, didasarkan pada nama penerbit kitab, Toko Kairo Tasikmalaya.

Kitab ini terdiri atas dua bab: bab pertama membahas Maulid Nabi Muhammad saw. sebanyak 12 halaman, sedangkan bab kedua mengisahkan perjalanan Isra dan Mi'raj Rasulullah saw. sebanyak 9 halaman. Pada bagian akhir terdapat satu lembar berisi Shalawat Badriyah dalam bahasa Arab dan Sunda, sehingga keseluruhan kitab berjumlah 32 halaman.

Isi kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj ini banyak dilantunkan dalam bentuk pupujian, terutama setelah azan dikumandangkan dan sebelum salat berjamaah dimulai. Tradisi ini dikenal di kalangan masyarakat Nahdliyin di tatar Sunda.

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan dan sastra, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Sunda melalui praktik pupujian yang diwariskan dan dilantunkan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. (www.nu.or.id)

Gusti urang sarerea

Kangjeng Nabi anu mulya

Muhammad jenengana               

Arab Quraisy ngabangsana

Ramana gusti Abdullah

Ibuna siti Aminah

Dibabarkeuna di Mekkah

Wengi senen taun gajah

Robi'ul Awal bulanna

Tanggal ka dua belasna

April bulan Maséhina

Tanggal ka dua puluhna

Ari bilangan Taunna

Lima ratus cariosna

Tujuh puluh panambihna

Sareng sahiji punjulna

Siti Aminah misaur,

Waktos babarna kacatur,

Ningal cahaya mani ngempur

Di bumina hurung mancur

Setiap kali pupujian dilantunkan, pikiran seakan-akan melayang jauh ke kampung halaman, Bungbulang, Garut Pakidulan, pada era 1990-an. Ingatan itu menghadirkan kembali suasana nadoman di Masjid Darussalam yang begitu lekat dalam keseharian. Suara pupujian menggema, anak-anak berlarian di serambi masjid, dan riuh kecil mereka berebut mik (toa masjid) untuk mendapat giliran melantunkan nadoman.

Pupujian terdengar sebelum dan sesudah salat lima waktu, menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid, kenangan masa kanak-kanak yang hingga kini masih terasa hangat. Setiap lantunan seolah-olah membawa kembali suasana kampung yang sederhana, akrab, dan penuh kebersamaan.

Penulis buku Shalawat Perdamaian, Sukron Abdilah tengah asyik membaca sambil ditemani kopi hangat. (Sumber: Ilustrasi Gemini AI)
Penulis buku Shalawat Perdamaian, Sukron Abdilah tengah asyik membaca sambil ditemani kopi hangat. (Sumber: Ilustrasi Gemini AI)

Pegang Teguh Prinsip Selawatan

Bila kita menjalankan hidup dengan memegang teguh prinsip shalawat (menebar damai, cinta, kasih), maka niscaya tidak ada lagi usaha menertibkan keyakinan orang lain, upaya memberkan label sesat, kafir, hingga menghilangkan nyawa orang lain atas nama ajaran agama.

Dalam buku Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan (Cetakan : 1 Juni 2016, Halaman : 111+xi, Penerbit : MasterPeace Writing Labs, ISBN : 978-602-18343-2-1) diuraikan dalam menjalani kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, perlawanan, peperangan, dan kecamuk nafsu egois pembenaran keyakinan memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang-kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku.

Sejatinya manusia yang selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tidak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa. Betapa mudahnya kita melontarkan kata “sesat” pada setiap pemahaman dan keyakinan di negeri ini.

Parahnya, kita seakan-akan menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah dan indah di alam surgawi. Bahkan, posisi Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita.

Rupanya singgasana peradilan Tuhan direbut oleh manusia yang berteriak “Akulah yang Mahabenar” di medan kehidupan, hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam bagi para penganutnya.

Ingat, kedamaian yang dihasilkan dari aktivitas perdamaian umat manusia merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. (h.2).

Ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; maka mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi. Pasalnya, kedamaian dan perdamaian di negeri plural ini telah dicederai oleh sikap dan laku arogan segelintir kalangan, yang kembali mencuat seolah memperkeruh suasana damai dan tentram (al-sakinah) yang ditanamkan Tuhan pada jiwa-batiniah setiap umat manusia.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diusahakan umat manusia. Akan tetapi, karena manusia kerap mengklaimkebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian.

Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Tidak tunggal dan manunggaling kawula gusti. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan serba mendapatkan gangguan saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahanilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam teks suci Islam dan sebuah hadis Nabi, para penghunisurga diceritakan selalu mengucapkan salam pada penduduk di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketikadualisme, kondisi berlawanan (ketegangan) bertemu (coincidentia oppositorum). Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini bagaikan ejawantah dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. (h.3).

Memang jalan menuju kebenaran itu sangat beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan.

Salah satu caranya melalui selawat yang dilantunkan untuk memuji kanjeng Nabi Muhammad, bagi umat Islam dipercaya dapat memancarkan berkah, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan keamanan bagi seluruh umat manusia. Shallu dapat berarti doa, memberikan berkah, pujian, kesejahteraan, ketentraman, ketenangan, kemuliaan, dan ibadah.

Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dengan demikian, selawat nabi mestinya berfungsi memuliakan ajaran-ajaran toleransi yang digelorakan Nabi Muhammad Saw., selama beliau masih hidup. Namun, menyaksikan kekerasan berbungkus agama, akhir-akhir ini, kita patut bertanya betulkah kita telah memaknai selawat sebagai aktualisasi perdamaian dan kedamaian?

Islam ialah agama damai, karena itu sudahkah kita berselawat dengan benar, kalau masih menyisakan ruang bagi kekerasan ketika muncul perbedaan? Selawat kepada Nabi Muhammad selalu kita lantunkan sebanyak sembilan kali dalam salat lima waktu per hari. Bahkan, bagi orang yang sering menunaikan salat sunah bisa lebih banyak dari sembilan kali. Kalau dikalikan dalam tiga puluh hari, kita berselawat sebanyak duaratus tujuh puluh kali.

Namun, sayangnya selawat tidak membekas di kedalaman jiwa umat Islam. Yang terjadi ialah, umat banyak mengkhianati keberkahan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat bagi semesta alam (al-islam rahmatan lil alamin).

Fundamentalisme Islam yang rigid dan kikuk dengan klaim kebenaran sepihak telah membuat suasana harmoni negara-bangsa ini berada pada ketidakstabilan sosial dengan mudah meruncingnya konflik-konflik yang bermotif agama. (h.5)

Bagi kita yang hidup di masa yang terbentang jauh dengan Nabi Muhammad Saw., menjadi keniscayaan kembali memaknai maulid Nabi dengan suasana yang kontekstual. Memaknai kelahiran Nabi yaitu berupaya secara teguh mengamalkan apa yang digariskan olehnya sebagai panduan etis dan moral bersosial. Selawat pun mesti memantik kesadarandiri, perbedaan ialah anugrah dari Tuhan yang patut dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri yang plural ini, Indonesia. (h.6).

Buku ini merupakan kumpulan (27) artikel yang pernah diterbitkan oleh beberapa koran ini disusun karena kita sebagai muslim telah kehilangan suri tauladan dalam hal perilaku damai, sehingga kita kerap mencaci dan memaki orang yang berbeda pemahaman dengan kita. Saya berharap dengan buku buku ini dapat tercipta ekosistem perdamaian di Indonesia, baik di raha sosial, politik, budaya dan khusunya di ranah keagamaan. (h.vi-vii)

Hadirnya buku ini yang berusaha membincang tentang pentingnya menciptakan kedamain sebagai aktualisasi dari asma Allah, As-salam. Karena tujuan hidup di muka bumi ini untuk mencapai sakinah. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin. (QS Al-Fath:4)."

Kick Off Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi, Rabu (26/8/2026) (Sumber: Humas Kemenag)
Kick Off Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi, Rabu (26/8/2026) (Sumber: Humas Kemenag)

Gema Selawat Bangsa, Teladani Sirah Nabi

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, upaya menghadirkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dikuatkan melalui Gerakan Nasional Gema Shalawat Bangsa yang diluncurkan Kementerian Agama. Gerakan ini berlangsung pada 31 Agustus hingga 7 September 2026 dan mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk berselawat secara serentak, baik secara perorangan maupun bersama-sama di masjid, musala, pesantren, kampus, hingga perkantoran.

Gerakan ini mendorong masyarakat Indonesia memperbanyak selawat melalui pembacaan Dalail Khairat, dengan semangat “berselawat untuk negeri” sambil berusaha meneladani sirah Nabi Muhammad SAW. Dengan menargetkan keterlibatan 1.781.945 peserta dari seluruh Indonesia. Angka yang dipilih secara historis sebagai simbol Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

Tak hanya gerakan selawat, Kementerian Agama menyelenggarakan Ngaji Sirah Nabawi, berupa estafet kajian perjalanan hidup Rasulullah SAW bersama para ulama selama tujuh hari. Semua ini menjadi ikhtiar bersama untuk menegaskan pentingnya memahami sejarah kehidupan Nabi sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan kepada Muhammad SAW.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW akan semakin kokoh apabila disertai pengenalan yang mendalam terhadap kehidupan, akhlak, keteladanan, dan perjuangannya. (www.kemenag.go.id).

Sungguh, pertanyaan Aa Akil tidak sesederhana kelihatannya. “Selawatan perdamaian” memang terdengar asing bagi telinga anak-anak. Selawat selama ini lebih sering dipahami sebagai lantunan pupujian, nazoman dan doa kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, saat selawat dipertemukan dengan kata “perdamaian”, maknanya seolah-olah diperluas, dari lisan menuju laku, dari lantunan menuju kehidupan nyata.

Walhasil, malam yang dingin di Babakan Dangdeur itu menyisakan percakapan kecil ihwal agama dan kemanusiaan. Ya, dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan (pondasi) bersama untuk membumikan nilai-nilai harmoni, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)