Dari Wali Kota Medsos ke Wapres Republik: Gibran dan Masa Depan Politik Personalistik

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Wapres RI Gibran Rakabuming (Sumber: Setneg | Foto: Website Setneg)
Wapres RI Gibran Rakabuming (Sumber: Setneg | Foto: Website Setneg)

Terpilihnya Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia membuka satu babak baru dalam sejarah politik kita. Ia menjadi Wapres termuda yang pernah menjabat, tetapi juga simbol kuat dari perubahan wajah demokrasi yang tengah bergerak ke arah semakin personal, visual, dan digital.

Dalam waktu yang terbilang singkat, Gibran melewati lompatan politik yang luar biasa: dari pengusaha katering, menjadi Walikota Solo, lalu kini menduduki kursi orang nomor dua di republik ini.

Namun yang menarik bukan hanya kecepatannya menanjak, yakni dari sisi digitak public relations, adalah bagaimana ia hadir ke publik lebih sebagai figur yang atraktif secara media, ketimbang sebagai pemimpin yang menyampaikan arah kebijakan negara.

Sebagai Walikota Solo, Gibran dikenal aktif di media sosial, sering melempar komentar ringan, membalas keluhan warga dengan gaya santai, dan sesekali menggunakan meme sebagai medium komunikasi. Ia hadir seperti warganet senior yang kebetulan menjabat kepala daerah. Publik menyambut hangat, terutama generasi muda yang merasa terhubung dengan gaya informalnya.

Kini saat ia menjabat Wakil Presiden, gaya itu tetap dipertahankan. Gibran masih menjadi tokoh yang dekat secara digital, tetapi publik belum melihat peran yang jelas dalam urusan-urusan strategis kenegaraan.

Ia jarang tampil sebagai pengusung gagasan dalam isu sistemik seperti reformasi pendidikan, transformasi birokrasi, penguatan kelembagaan negara, atau kebijakan tata kelola digital. Padahal sebagai Wapres, posisinya tentu lebih dari sekadar pendamping simbolis. Ia seharusnya menjadi bagian dari arsitektur kebijakan negara, menjadi penghubung antara kebijakan makro dan suara akar rumput.

Fenomena ini mencerminkan apa yang oleh banyak pengamat ilmu sosial disebut sebagai demokrasi narsistik (Verhulst, 2020; de Marsilac, 2023), yaitu kecenderungan politik hanya sebagai panggung pencitraan, bukan arena kerja kebijakan. Keduanya menyimpulkan, efek algoritma dan digitalisasi terhadap demokrasi menciptakan budaya “like” dan konsumsi informasi massal yang membentuk subjek digital narsistik—lebih mementingkan citra personal dan interaksi dangkal ketimbang diskursus publik yang bermakna.

Dalam model ini, pemimpin hadir bukan untuk memperkuat sistem, tetapi cukup tampil di hadapan publik, memberi kesan dekat dan responsif. Sering kali, persepsi menggantikan prestasi, dan gaya bicara lebih menentukan citra ketimbang rekam jejak kerja.

Dalam sistem seperti ini, eksistensi digital lebih penting daripada posisi institusional. Seorang pejabat tidak perlu menjelaskan kebijakan yang rumit, cukup hadir dengan senyum, balasan komentar, atau video yang relatable. Padahal, efektivitas pemerintahan sangat bergantung pada kerja kolektif, desain sistem, serta kapasitas membangun institusi yang tahan terhadap perubahan figur.

Gibran memang bukan satu-satunya contoh, tetapi ia adalah figur paling terang-benderang dari era politik yang lebih mengutamakan impresi ketimbang intensi. Ia berada di persimpangan penting, antara melanjutkan karier sebagai bintang media sosial atau membuktikan diri sebagai negarawan.

Posisi Wapres seharusnya bukan ruang sunyi yang hanya diisi rutinitas protokoler, tetapi ruang pengaruh yang bisa digunakan untuk menggerakkan reformasi dan inisiatif kebijakan baru.

Evaluasi Kinerja

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Sebagai figur publik, tentu wajar jika Gibran tetap memelihara kedekatan dengan masyarakat melalui kanal-kanal digital. Namun di saat yang sama, publik juga berhak menagih keberpihakan kebijakan. Komunikasi digital memang penting, tetapi akan kehilangan makna jika tidak dibarengi keberanian menyuarakan posisi terhadap isu-isu strategis.

Saat ini publik belum melihat arah itu. Wacana-wacana besar tentang kualitas pendidikan nasional, daya saing teknologi, ketimpangan sosial, atau janji 19 juta lapangan kerja, justru sepi dari suaranya.

Itulah sebabnya publik perlu mulai mengevaluasi kehadiran pemimpin bukan hanya dari cara mereka tampil, tetapi dari gagasan apa yang mereka tawarkan. Apakah Gibran punya visi kebijakan? Apakah ia sedang membangun sistem atau hanya mengisi panggung? Apakah publik cukup puas dengan wakil presiden yang akrab di layar gawai, tetapi tak terdengar dalam perdebatan kebijakan publik?

Demokrasi bukan reality show. Ia membutuhkan pemimpin yang tak sekadar hadir di hadapan kamera, tetapi mampu menyusun arah perubahan. Kita butuh lebih dari sekadar sosok yang akrab, tetapi yang juga punya keberanian mengambil posisi dalam isu penting negara. Popularitas memang memberi jalan, tetapi yang menentukan kualitas demokrasi tetaplah kapasitas kepemimpinan.

Jika Gibran ingin menulis sejarahnya sebagai pemimpin nasional, ia perlu mulai bicara kebijakan. Ia harus mampu mengambil peran substantif secara proporsional dalam pemerintahan, bukan hanya mengelola impresi publik.

Kesempatan itu terbuka, dan masyarakat sebaiknya tak ragu menagihnya. Ia punya modal politik dan popularitas yang tak dimiliki oleh semua pejabat. Tapi modal itu hanya akan menjadi kekuatan transformasi jika dipakai untuk memperbaiki struktur, bukan sekadar memperindah permukaan.

Dan pada titik itu, publik pun perlu berubah. Tak cukup menjadi penonton yang hanya menyukai gaya pemimpin, tetapi perlu berperan aktif menilai arah dan dampak dari setiap kebijakan. Demokrasi yang sehat bukan hanya soal siapa yang tampil paling sering, tetapi siapa yang bekerja paling nyata untuk rakyat.

Sudah cukup kita memilih pemimpin berdasarkan citra digital. Sudah saatnya kita kembali pada pertanyaan dasar demokrasi: siapa yang bisa memimpin dengan gagasan, membangun sistem, dan berani berpihak pada kepentingan rakyat secara nyata. (*)

Jangan Lewatkan Podcast Terbaru AyoTalk:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)