Sejarah Pertempuran Lengkong Besar, Pasukan Bambu Runcing Dibombardir Tank dan Panser

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tank pasukan Gurkha dalam sebuah pertempuran di Asia Tenggara tahun 1945. (Sumber: Imperial War Museums)
Tank pasukan Gurkha dalam sebuah pertempuran di Asia Tenggara tahun 1945. (Sumber: Imperial War Museums)

AYOBANDUNG.ID - Siapa sangka, di tengah jalan yang kini dipadati kendaraan kota Bandung, pernah ada adegan tragis yang tak kalah dramatis dari film perang Hollywood. Lengkong Besar, kawasan sekitar Hotel Preanger, pada 2 Desember 1945 menjadi ladang tempur besar. Di satu sisi ada pemuda Bandung dengan bambu runcing, golok, dan beberapa pucuk senjata peninggalan Jepang. Di sisi lain ada pasukan Gurkha, NICA, tank baja, panser, dan Mustang—lengkap dengan deru mesin serta bom dari udara.

Catatan buku Monumen Perjuangan di Jawa Barat (1987), sejak 29 November 1945 Bandung sudah terbagi dua oleh garis demarkasi rel kereta api. “Daerah Bandung utara dikuasai oleh pihak Sekutu, sedangkan Bandung selatan merupakan daerah RI.” Tetapi bukan berarti garis itu menenangkan keadaan. Justru sebaliknya, situasi semakin panas. Pertempuran kecil dan tembak-menembak sering terjadi di kedua sisi kota.

Yang membuat keadaan makin rumit adalah keberadaan interniran Belanda dan Indo-Belanda di wilayah Ciateul dan Lengkong Tengah. Mereka adalah tawanan Jepang yang belum bisa keluar dari selatan kota. Para pemuda Republik tentu tak membiarkan mereka bebas begitu saja. Jalan-jalan dijaga ketat, seolah membatasi langkah mereka. Dari sinilah muncul niat Sekutu untuk melancarkan operasi besar: membebaskan interniran sekaligus menunjukkan taring.

Catatan Peranan Desa dalam Perjuangan Kemerdekaan (1995) menuliskan secara gamblang: pada pukul 05.30 pagi, tentara Inggris—khususnya pasukan Gurkha—bergerak dari markasnya di Jalan Ganeca (kini ITB). Konvoi itu gagah: tiga buah tank, beberapa panser, ditambah perlindungan udara berupa dua pesawat B-25 dan tiga pesawat P-51 Mustang. Mereka melewati Jalan Dago (sekarang Ir. H. Juanda) dan Jalan Merdeka.

Baca Juga: Sejarah Kabar Proklamasi Kemerdekaan RI Sampai ke Bandung via Kantor Berita Domei

Dengan senjata berat, pasukan Sekutu menembus setiap rintangan dengan mudah. Hambatan di Jalan Lembong dan Tamblong dipatahkan cepat. Rintangan dari pasukan pemuda tak seberapa menghadang. Baru ketika mereka masuk ke Lengkong Besar, perlawanan terasa lebih keras.

Di jalan ini berdiri markas Angkatan Pemuda Indonesia (API). Walaupun hanya berjumlah segelintir orang, markas itu menjadi titik awal perlawanan. Bantuan datang cepat. Barisan Merah Putih (BMP), Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), dan pasukan Hizbullah ikut turun ke medan. Dari catatan Monumen Perjuangan (1987), sekitar seratus orang Hizbullah bergabung, sebagian besar hanya membawa golok dan bambu runcing.

Tidak banyak senjata api yang dimiliki para pejuang. Dalam catatan yang sama disebutkan hanya ada “sepucuk karaben Jepang dan mouser” yang dipakai pemuda di garis depan. Tetapi tekad melawan sudah bulat. Maka Lengkong Besar berubah jadi arena konfrontasi frontal.

Pembantaian di Pertigaan Cikawao

Pusat pertempuran pecah di simpang tiga Lengkong Besar–Cikawao. Pasukan Sekutu maju dengan tank dan panser, diiringi deru Mustang dan bomber B-25 dari atas langit. Menurut Peranan Desa (1995), serangan udara berlangsung membabi buta selama enam jam, menurunkan bom dan rentetan mitraliur tanpa pandang bulu. Dari Hotel Preanger dan Homan, mortir juga ditembakkan ke arah pemuda Republik.

Monumen Pertempuran Lengkong Besar Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Monumen Pertempuran Lengkong Besar Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Tapi pemuda Bandung tidak mundur. “Pekik Allahu Akbar berkumandang dalam gemuruh desingan peluru,” tulis Monumen Perjuangan (1987). Beberapa pejuang bahkan nekat menaiki tank musuh untuk mencoba melumpuhkan pengendara di dalamnya. Tapi keberanian itu kerap berakhir tragis: banyak yang tertembak sebelum sempat mencapai sasaran.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Bojongkokosan, 4 Hari Kacaukan Konvoi Sekutu ke Bandung

Kesenjangan persenjataan amat terasa. Tank dan pesawat versus bambu runcing jelas bukan pertandingan seimbang. Tetapi semangat jihad fi sabilillah membuat pemuda Bandung bertahan. Bahkan ketika korban mulai berjatuhan, barisan perlawanan terus berdiri.

Dalam catatan Monumen Perjuangan, 84 orang anggota Hizbullah disebut tewas dalam keadaan tiarap berderet-deret sambil memegang bambu runcing. Gambaran itu menegaskan betapa perlawanan dilakukan hingga titik darah terakhir.

Tujuan operasi Sekutu akhirnya tercapai. Interniran Belanda berhasil dibebaskan dan dibawa ke wilayah utara. Setelah itu, pasukan Gurkha mundur ke markas, meninggalkan puing-puing kehancuran.

Kerugian di pihak pemuda amat besar. Menurut Monumen Perjuangan, korban mencapai 119 orang meninggal, 141 luka-luka, 162 rumah hancur, dan 325 rumah rusak. Jenazah mula-mula dikumpulkan di gudang kayu milik H. Anda di Jalan Lengkong Besar, lalu sebagian dimakamkan di Karapitan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Sementara itu, Peranan Desa mencatat bahwa pasukan Palang Merah, LASWI, dan warga sekitar segera turun setelah pertempuran usai. Mereka mencari korban di reruntuhan, mengangkut yang luka ke Rumah Sakit Ciparay, dan mengurus jenazah yang gugur. Bagi rakyat Bandung, pertempuran itu meninggalkan trauma sekaligus kebanggaan.

Bagian Sejarah Palagan Bandung

Pertempuran Lengkong Besar tidak setenar Bandung Lautan Api, tetapi perannya tak bisa diabaikan. Pertempuran ini memperlihatkan keberanian pemuda melawan kekuatan jauh lebih modern. Di tengah keterbatasan senjata, mereka tetap memilih bertempur.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Seturut catatan Monumen Perjuangan, pertempuran itu adalah salah satu episode penting yang menunjukkan bahwa perjuangan rakyat Bandung bukan sekadar bertahan, tapi juga ofensif melawan dominasi Sekutu. “Walaupun persenjataan musuh jauh lebih kuat, apalagi mereka dibantu oleh serangan udara, akhirnya pasukan Sekutu berhasil memasuki Lengkong Tengah dan Ciateul,” tulis buku itu.

Kekalahan di Lengkong Besar bukan akhir. Justru semangatnya ikut menyulut perlawanan Bandung yang makin keras hingga puncaknya di Maret 1946, ketika kota Bandung dibakar dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Kini, Lengkong Besar hanyalah jalan kota biasa. Tak ada lagi tank Gurkha yang meraung atau Mustang yang menukik. Gedung-gedung hotel megah dan lalu lintas padat menutupi jejak sejarahnya.

Tetapi di balik deru kendaraan, ada ingatan yang seharusnya tidak pudar. Ingatan tentang pemuda yang memilih mati dengan bambu runcing di tangan ketimbang hidup tunduk pada kolonialisme.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)