Sejarah Kabar Proklamasi Kemerdekaan RI Sampai ke Bandung via Kantor Berita Domei

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kantor Domei cabang Jawa Barat di Bandung (sebelumya De Driekleur) yang jadi titik mulai sampainya kabar proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 (sebelumya De Driekleur). (Sumber: Ayobandung)
Kantor Domei cabang Jawa Barat di Bandung (sebelumya De Driekleur) yang jadi titik mulai sampainya kabar proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 (sebelumya De Driekleur). (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Jakarta pagi itu, 17 Agustus 1945, baru saja bergemuruh. Soekarno-Hatta membaca Proklamasi di Pegangsaan Timur 56. Tapi di Bandung, orang-orang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Belum ada yang tahu bahwa negeri ini sudah mengumumkan dirinya merdeka.

Kabar itu menempuh perjalanan bukan lewat merpati pos, tapi kabel-kabel telegraf. Kantor Berita Domei di Jakarta—yang nantinya dikenal sebagai Kantor Berita Antara—mengirim telegram berisi teks proklamasi. Tujuannya jelas: kantor Domei cabang Jawa Barat (sebelumya De Driekleur) di Jalan Dago, Bandung. Sekitar pukul 12 siang, kabel itu bergetar membawa kata-kata yang kelak dihafal anak sekolah dari Sabang sampai Merauke.

Seperti dikisahan dalam buku Atlas Sejarah Indonesia: Berita Proklamasi Kemerdekaan (2018), empat orang pertama yang menerima telegram itu: A.Z. Palindih, Muhamad Adam, Lalu Danila, dan Matullessy. Mereka bukan tipe yang suka menyimpannya rapat-rapat. Teks itu langsung ditulis ulang di papan tulis, huruf besar-besar, dipajang di depan kantor. Jalan Dago tiba-tiba ramai. Orang datang, membaca, berbisik, lalu kabar itu mulai mengalir ke sudut-sudut kota.

Baca Juga: Yang Dilakukan Soekarno Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

Bupati Bandung, Suriasaputra, ikut kebagian berita. Ia memerintahkan pegawainya menyebarkan kabar kemerdekaan. Tapi Jepang masih ada di mana-mana. Satu jam kemudian, seperti orang yang tak rela mantan pacarnya bahagia, Jepang mengumumkan bantahan.

Di meja redaksi Harian Tjahaja, wartawan mudanya gerah. Bari Lukman, tanpa menunggu komando, menulis teks proklamasi di papan tulis depan kantor. Orang berkerumun. Jepang datang. Coretan itu dihapus.

Bari tak menyerah. Ia mencetak teks proklamasi jadi pamflet. Jam satu siang, ia bahkan mencoba mengibarkan merah putih di atas Gedung Denis—bank simpanan Belanda—dengan bendera yang ia dapat dari Isa Ansyari. Semua itu di tengah situasi Bandung yang masih penuh tentara Dai Nippon.

Tapi pimpinan redaksinya belum seberani wartawannya. Edisi sore 17 Agustus hanya memuat tulisan yang muter-muter, menyebut kemerdekaan seolah hadiah dari Jepang. Tidak ada nama Soekarno, tidak ada kalimat pembacaan proklamasi. Barulah di edisi 18 Agustus muncul berita singkat dari Jakarta, lalu dua hari kemudian Tjahaja menurunkan konfirmasi lengkap dengan pembukaan UUD 1945. Hurufnya besar sekali—sebesar nyali yang baru tumbuh.

Percetakan Siliwangi, di bawah Ili Sasmita, bergerak lebih frontal. Mereka mencetak selebaran naskah proklamasi dengan tinta merah. Diselipkan, dibagikan, dilemparkan. Tinta merah itu lebih dari sekadar warna—ia jadi tanda bahwa kemerdekaan sudah resmi, tak peduli apa kata tentara Jepang.

Kantor Domei cabang Jawa Barat (sebelumya De Driekleur). (Sumber: Ayobandung)
Kantor Domei cabang Jawa Barat (sebelumya De Driekleur). (Sumber: Ayobandung)

Ketika Radio Jadi Senjata

Kalau telegram adalah peluru jarak dekat, radio adalah meriam yang bisa meledakkan kabar ke mana-mana. Bandung membuktikan, pemudanya lebih cekatan dari Jakarta soal ini.

Pagi 18 Agustus, tiga pemuda—Sakti Alamsyah, R.A. Darya, dan Sam Kawengke—masuk ke Radio Hosokyoku di Tegallega. Di dalam, ada pimpinan radio Jepang. Negosiasi dilakukan, tapi tentara Jepang yang mengawal mencoba menghalangi.

Tiba-tiba, dor! Letusan senjata. Pemuda radio menembak tentara Jepang. Jepang menyerah. Kunci dan peralatan siaran berpindah tangan.

Pukul 17.00, teks proklamasi sampai ke meja R.A. Darya, pimpinan siaran Radio Bandung. Malam itu, pemancar di Palsari yang punya daya 10–20 kilowatt mulai bekerja. Studio Hosokyoku dijaga ketat oleh nama-nama yang kelak jadi catatan sejarah: Sofyan Djunaid, Sakti Alamsyah, R.A. Darya, Sjam Amir, Odas Sumadilaga, Herman Gandasasmita, T.M. Moh. Saman, Aiyat, Memed Sudiono, Brotokusumo, Sukseksi, dan Abdul Razak Rasjid.

Pukul 19.00, udara Bandung mendengar Indonesia Raya. Satu jam kemudian, dari pukul 20.00 sampai 21.00, teks proklamasi dibacakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Orang-orang yang mendengarnya, entah di rumah atau warung kopi, tahu: negeri ini sudah berdiri sendiri.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Dua mobil pick-up berkeliling kota, menyiarkan berita lewat pengeras suara. Syafrudin Prawiranegara dan Hasbullah Siregar berangkat ke Jakarta untuk membawa kabar dan instruksi bagi A.H. Nasution, Wakil Komandan Barisan Pelopor.

Sejarawan John R.W. Smail mencatat: “Berita proklamasi sudah diketahui sebagian masyarakat Bandung pada sore hari 17 Agustus… dalam satu hingga dua hari, kabar itu telah menjangkau seluruh kawasan kecuali desa-desa paling terpencil.”

Dari Bandung, kabar ini merembes ke Bogor, Cirebon, Garut, dan Sukabumi. Di Bogor, radio yang biasa dipakai untuk senam taiso memutar kabar kemerdekaan. Di Garut, Ajengan Yusuf Tajiri sudah membisikkan rencana kemerdekaan sehari sebelumnya. Di Cirebon, pemuda Muklas mengumpulkan kawan-kawannya di alun-alun malam itu juga. Di Sukabumi, para tokoh langsung mengirim orang ke Jakarta untuk minta petunjuk.

Kemerdekaan itu ternyata bukan teriakan tunggal yang serempak di seluruh negeri. Ia adalah arus yang mengalir—melewati kabel telegram, papan tulis, pamflet tinta merah, hingga gelombang radio. Ia harus direbut dari tangan Jepang, dibawa keliling kota, lalu dimasukkan ke telinga rakyat. Dan begitu sampai, ia tak lagi bisa dibungkam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)