Ketika Warisan Suci Dikoyak oleh Skandal dan Kekuasaan, Masihkah Ulama sebagai Pewaris Nabi?

3 menit baca
Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan
Nabi-nabi tidak mewariskan harta, tahta, atau kekuasaan. Mereka mewariskan ilmu yang membebaskan, akhlak yang mulia, dan keberanian melawan kezaliman (Sumber: Pexels/Ahmet Çığşar)
Nabi-nabi tidak mewariskan harta, tahta, atau kekuasaan. Mereka mewariskan ilmu yang membebaskan, akhlak yang mulia, dan keberanian melawan kezaliman (Sumber: Pexels/Ahmet Çığşar)

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin materialistis, hadis "Ulama adalah pewaris para nabi"sering diulang-ulang seperti mantra sakral. Ia dibacakan dalam pengajian, dikutip dalam khutbah, dan dijadikan pembenaran atas otoritas keagamaan yang seolah tak terbantahkan.

Tapi, benarkah para ulama hari ini masih mewarisi misi kenabian? Atau justru gelar itu telah berubah menjadi topeng yang menutupi wajah-wajah busuk di baliknya?

Realita yang kita saksikan sungguh memilukan. Beberapa tahun terakhir, media massa ramai memberitakan ulama dan kiai yang terlibat pencabulan terhadap santriwati, menguras dana umat untuk kepentingan pribadi, atau bermain politik kotor dengan dalih "jihad".

Yang lebih ironis, ketika kasus-kasus itu mencuat, banyak pengikutnya justru dengan arogan membela sang "ulama" daripada membela korban atau menuntut keadilan. Seolah-olah gelar keagamaan membuat seseorang kebal dari kritik, bahkan kebal dari hukum.

Dari beberapa kasus yang telah terjadi, perlu kita bertanya: sebenarnya ini warisan Nabi atau malah warisan Firaun?

Nabi-nabi tidak mewariskan harta, tahta, atau kekuasaan. Mereka mewariskan ilmu yang membebaskan, akhlak yang mulia, dan keberanian melawan kezaliman, meski harus berhadapan dengan penguasa sekalipun.

Lihatlah Nabi Musa yang menantang Firaun, Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala, atau Nabi Muhammad yang membela kaum mustadh'afin. Lalu, apa yang diwariskan sebagian "ulama" hari ini?

Ada yang mewariskan budaya taklid buta, di mana umat dilarang kritis dan harus patuh mutlak pada satu figur. Ada yang mewariskan mentalitas korup, menganggap dana umat sebagai hak pribadi.

Ada pula yang mewariskan politik pecah belah, memanfaatkan sentimen agama untuk menggalang kekuatan. Jika begini keadaannya, apakah mereka pewaris nabi, atau justru penerus tradisi Firaun yang menggunakan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan?

Yang lebih berbahaya adalah ketika gelar "ulama" dijadikan tameng untuk menghindari pertanggungjawaban. Begitu seseorang disebut "kiai" atau "ustadz", kesalahannya sering dimaklumi, bahkan dibela mati-matian oleh pengikutnya.

Kasus pencabulan? "Itu fitnah!" Korupsi dana masjid? "Dia kan sudah berjasa besar!" Kolaborasi dengan penguasa zalim? "Itu untuk kemaslahatan umat!"

Inilah penyakit kronis yang menggerogoti dunia keulamaan dan kultus individu. Seorang ulama tidak lagi dinilai dari integritas dan ketakwaannya, tapi dari seberapa besar pengaruhnya, seberapa banyak pengikutnya, atau seberapa dekat dia dengan kekuasaan.

Akibatnya, yang lahir bukanlah pemimpin umat yang rendah hati, melainkan "selebritas agama" yang haus pujian dan penghormatan.

Umat pun Turut Bersalah

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Kita tidak bisa hanya menyalahkan para ulama yang bobrok. Umat juga turut bersalah karena pada realitanya seringkali menciptakan pasar bagi ulama-ulama gadungan.

Ada permintaan akan figur yang "sakti", yang bisa memberikan jimat kesejahteraan, yang bisa mengabulkan segala hajat—maka munculah "ulama" yang menjual jimat, mengklaim diri sebagai wali, atau menawarkan fatwa instan tanpa dasar ilmu yang jelas.

Selain itu, umat sering terjebak dalam fanatisme buta. Ketika seorang ulama jelas-jelas melanggar hukum, banyak yang lebih memilih menyerang media atau pihak yang mengkritik daripada mengakui kesalahan sang figur.

Sikap seperti ini hanya memperpanjang budaya impunitas, di mana ulama korup atau predator bebas berkeliaran karena merasa dilindungi oleh massa.

Ulama sejati bukanlah mereka yang pandai beretorika di mimbar, tapi yang hidupnya sederhana, ilmunya mendalam, dan konsisten antara kata dan perbuatan.

Seperti Imam Syafi’i yang menolak hadiah penguasa karena tak ingin terikat, atau Imam Ahmad bin Hanbal yang dipenjara demi mempertahankan kebenaran. Mereka tidak mencari popularitas, apalagi kekayaan. Tugas mereka hanya menyampaikan ilmu dan menegakkan keadilan.

Masyarakat juga harus lebih kritis. Gelar "ulama" tidak boleh lagi dijadikan tameng kekebalan. Jika ada kiai yang mencabuli santri, dia harus dihukum setimpal. Jika ada ustadz yang korupsi, dia harus dituntut di pengadilan.

Agama terlalu suci untuk dibela mati-matian sementara nilai-nilainya diinjak-injak oleh oknum berjubah dan bersurban.

Oleh karena itu, kita membutuhkan gerakan reformasi dalam dunia keulamaan. Ulama harus kembali diuji bukan dari gelarnya, tapi dari integritas, keilmuan, dan ketakwaannya.

Pesantren dan lembaga keagamaan harus lebih ketat dalam mencetak kader, bukan hanya mengajarkan fiqih, tapi juga akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

Warisan nabi terlalu agung untuk dinodai oleh oknum-oknum serakah. Jika ulama hari ini ingin benar-benar disebut "pewaris nabi", maka mereka harus berani membersihkan diri dari segala penyakit hati, dengan kesombongan, ketamakan, dan haus kekuasaan.

Atau, sejarah akan mengenang mereka bukan sebagai penerus Nabi, tapi sebagai pengkhianat misi suci itu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)