Jejak Kota Dolar, Sejarah Sentra Rajut Bandung yang Terlilit Benang dan Waktu

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) milik salah satu pengusaha di Majalaya. (Sumber: Wikimedia)
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) milik salah satu pengusaha di Majalaya. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Di balik lalu-lalang kendaraan dan riuhnya pasar tradisional Majalaya, ada jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Kampung kecil di Kabupaten Bandung ini pernah menjelma menjadi poros penting industri tekstil Indonesia. Saking besarnya kontribusi ekonomi yang dihasilkan dari ekspor kain dan sarung tenun, Majalaya dijuluki “kota dolar” sejak dekade 1970-an hingga 1990-an. Namun seperti banyak kejayaan lain, masa emas itu kini tinggal kenangan yang perlahan memudar bersama bunyi mesin tenun yang tak lagi nyaring terdengar.

Dalam Menelusuri Jejak Sarung Tenun di Kota Dolar, Peneliti Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Risa Nopianti menyebut industri tekstil Majalaya bermula dari aktivitas rumahan. Sejak sebelum abad ke-20, masyarakat sudah mengenal alat tenun bukan mesin (ATBM) seperti gedogan atau kentreung, yang digunakan dalam posisi duduk bersila. Lebarnya sempit, sekitar 60 cm, cukup untuk menghasilkan kain sarung berukuran kecil. Pada masa itu, alat ini banyak digunakan oleh ibu rumah tangga yang menenun di sela-sela kesibukan domestik mereka.

Perubahan besar terjadi ketika mesin tenun tustel masuk ke Desa Namicalung pada 1940-an. Alat ini memungkinkan pembuatan kain dengan lebar dua kali lebih besar dan waktu produksi yang jauh lebih singkat. Jika sebelumnya satu lembar kain tenun memerlukan waktu satu hingga dua minggu untuk diselesaikan, maka dengan tustel, produksi bisa rampung dalam dua hingga empat hari. Kemajuan ini memicu pertumbuhan industri skala rumahan yang masif.

Desa Namicalung kemudian dikenal sebagai pusat kelahiran sarung tenun khas Majalaya. Sejak 1960-an, hampir setiap rumah di desa ini memiliki mesin tustel. Sebagian besar rumah tangga memproduksi sarung secara mandiri dan menjualnya melalui pengepul yang tersebar di Bandung dan sekitarnya. Produksi meningkat tajam, dan permintaan pasar tak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri, terutama kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Tenun Majalaya punya motif sangat khas, dengan corak kotak-kotak yang dalam istilah lokal disebut poleng. Terdapat setidaknya 12 motif utama yang berkembang, di antaranya poleng camat, poleng goyobod, poleng salur, gudang garaman, hingga samarindaan dan kapiyur. Setiap motif punya cerita dan fungsi sosialnya masing-masing, menjadikan sarung Majalaya lebih dari sekadar produk tekstil—ia adalah artefak budaya.

Kota Dolar yang Tergerus Waktu

Puncak kejayaan Majalaya sebagai kota dolar terjadi pada era 1980-an. Salah satu pabrik besar di daerah ini bahkan mampu memproduksi hingga 90.000 kodi sarung per bulan. Produk mereka laris manis di pasar ekspor, mencetak devisa negara dalam jumlah besar. Merek-merek seperti Dua Gajah, Al-Majali, dan Al-Jazuli menjadi simbol kejayaan tekstil lokal yang mendunia.

Tapi masa kejayaan itu mulai redup menjelang akhir dekade 1980-an. Pemerintah saat itu memberlakukan pembatasan impor benang katun dari Jepang dan Tiongkok sebagai bagian dari strategi ketahanan industri dalam negeri. Akibatnya, pengrajin tenun di Majalaya mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku utama. Produksi terganggu, dan rumah-rumah tenun perlahan mulai gulung tikar.

Salah satu produk kain tenun Majalaya. (Sumber: Kemenparekraf)
Salah satu produk kain tenun Majalaya. (Sumber: Kemenparekraf)

Di saat yang sama, para pemodal besar, terutama dari komunitas Tionghoa, mulai membangun pabrik-pabrik tekstil modern di Majalaya. Mereka menguasai sistem distribusi dan bahan baku, memperkuat dominasi mereka di sektor hulu dan hilir industri tekstil. Pada awal 1940-an saja, pemodal Tionghoa telah menguasai lebih dari sepertiga alat tenun tangan di wilayah Bandung. Pada 1942, dominasi mereka di Majalaya meningkat drastis, dengan kendali atas lebih dari 75 persen pabrik tekstil yang ada.

Baca Juga: Puting Beliung Rancaekek Sudah Terjadi Sejak Zaman Belanda

Industri rumahan pun tak kuasa bersaing. Mereka tidak punya cukup modal, kehilangan akses terhadap benang, dan tak mampu mengimbangi efisiensi produksi pabrik besar. Ketergantungan kepada sistem pengepul dan tengkulak membuat posisi mereka semakin rentan. Dalam waktu dua dekade, sebagian besar rumah tenun tradisional di Namicalung dan sekitarnya berhenti beroperasi.

Sejalan dengan kedaan, motif-motif khas Majalaya pun mulai hilang dari pasaran. Pasar lebih tertarik pada kain tenun dari daerah lain seperti songket, ulos, tapis, dan tenun ikat yang dianggap lebih eksotik dan komersial. Alih-alih memproduksi motif sendiri, banyak pabrik tekstil di Majalaya kini justru memproduksi ulang motif tradisional dari berbagai daerah Indonesia untuk dijual kembali ke daerah asalnya. Majalaya beralih peran: dari pusat inovasi menjadi pusat distribusi.

Upaya Lestarikan Warisan yang Kian Samar

Kehilangan motif khas dan mesin-mesin tenun tradisional menggugah kesadaran sebagian warga untuk mencoba membangkitkan kembali warisan yang nyaris punah ini. Di Desa Namicalung, masih ada beberapa artefak sarung tenun yang dibuat antara tahun 1930 hingga 1960-an. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Majalaya pernah punya identitas kuat sebagai penghasil sarung tenun terbaik di Jawa Barat, bahkan Indonesia.

Tapi upaya pelestarian ini tidak mudah. Keterampilan menenun hampir tidak diwariskan lagi ke generasi muda. Pengetahuan tentang konstruksi alat tenun, teknik pewarnaan, hingga penciptaan motif nyaris hilang. Mereka yang masih menguasainya kebanyakan sudah sepuh. Dibutuhkan pelatihan, dukungan pemerintah, serta komitmen kolektif dari berbagai pihak agar tradisi tenun Majalaya tidak benar-benar hilang dari peta budaya.

Baca Juga: Sejarah Gang Tamim, Pusat Permak Jins Sohor di Bandung

Kini, Majalaya masih menjadi salah satu sentra tekstil terbesar di Indonesia, tapi dengan wajah yang berbeda. Suara mesin-mesin besar telah menggantikan denting ritmis kentreung dan tustel. Dan meski julukan “kota dolar” masih dikenang, ia tak lagi menggambarkan realitas ekonomi warga di sana.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)