'Ngamumule' Seni Sunda untuk Hidup dengan Silat Gajah Putih

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Penampilan Pencak Silat Putra Layang Pusaka (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Jajang Nurdiansyah)
Penampilan Pencak Silat Putra Layang Pusaka (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Jajang Nurdiansyah)

Di tengah dunia yang semakin modern biasanya masyarakat cenderung untuk mengikuti tren yang ada. Terbukanya ruang informasi membuka peluang bertukarnya budaya antar negara. Beberapa budaya dalam seni bela diri seperti karate, judo, kung fu, muay thai dan tinju mulai digemari masyarakat Indonesia.

Silat sebagai ikonik seni bela diri di Jawa Barat memang patut untuk dilestarikan keberadaanya. Namun mencari seniman yang masih konsen dengan budaya Sunda tidaklah mudah karena minimnya regenerasi yang masih melestarikan budayanya.

Kali ini saya memiliki kesempatan untuk bertemu seniman Sunda yang sekaligus menjadi pelatih silat di paguron Gadjah Putih. Jajang Nurdiansyah, seniman kelahirkan Tasikmalaya tersebut mengaku sudah tertarik dengan dunia silat sejak berusia 15 tahun. Darah seni yang mengalir dalam dirinya dari kakek dan ayahnya yang juga turut melestarikan seni Sunda melalui silat.

Menurut penuturan Jajang, Gadjah Putih didirikan oleh K.H. Adji Djaenudin Bin H. Usman pada 20 Mei 1959 di Kp. Gegerpasang, Desa Sukarasa, Kec. Samarang, Kab. Garut. Sebelum mendirikan Gadjah Putih, K.H. Adji Djaenudin sudah terjun dalam dunia persilatan pada tahun 1927.

Dari K.H. Adji Djaenudin lahirlah paguron-paguron pelopor Gadjah Putih lainnya bernama Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka yang terdiri dari lima panel yaitu Gpmpp Layang Pusaka, Gpmpp Bintang Pusaka, Gpmpp Benteng Kutawaringin dan Gpmpp Cakra Buana yang tersebar Se-Bandung Raya.

Lahirnya sebuah organisasi tentu tidak lepas dari lambang yang menjadi identitas sebuah gerakan. Begitu juga dengan simbol Gadjah Putih yang diambil dari seekor satwa besar yang gagah berani berwarna putih yang melambangkan kesucian.

Gadjah Putih juga menjadi lambang spiritual yang diibaratkan sebagai sebuah kendaraan dan kebajikan hidup yang diridhoi oleh Allah SWT. Sementara belalai gajah menjadi lambang humanisme dengan harapan melalui kelincahannya bisa menjadi kuat dan bermanfaat demi kemaslahatan umat manusia.

Jajang Nurdiansyah, Pelatih Silat GPM Putra Layang Pusaka (Sumber: GPM Layang Pusaka)
Jajang Nurdiansyah, Pelatih Silat GPM Putra Layang Pusaka (Sumber: GPM Layang Pusaka)

Sejauh ini Jajang turut menjadi pelatih di GPMPP Putra Layang Pusaka yaitu satuan latihan yang menginduk kepada GPMPP Layang Pusaka. Putra Layang Pusaka sendiri di deklarasikan oleh ketua pusat pada 9 Februari 2008. Sementara Jajang mulai menekuni dan berkecimpung menjadi bagian Putra Layang Pusaka pada tahun 2012.

Sesi latihan silat dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat dari jam 20.00-21.00 untuk remaja kemudian dilanjutkan pada jam 21.00-22.00 untuk dewasa. Sementara pada hari Minggu sesi latihan diisi dengan evaluasi dan kegiatan sharing bersama sesepuh Putra Layang Pusaka.

Sejauh ini anggota yang tercatat dalam paguron Putra Layang Pusaka berjumlah 70 orang yang terdiri dari remaja sampai dewasa. Namun yang aktif berlatih hanya berjumlah 40-45 orang karena kesibukan masing-masing anggota.

Satu hal yang menjadi disiplin dalam setiap latihan adalah semua anggota beserta pelatih tidak boleh menggunakan ponsel saat latihan agar tetap fokus. Meski demikian kekurangannya adalah minimnya dokumentasi yang bisa menjadi arsip saat latihan berlangsung.

Di tengah kesibukannya sebagai karyawan sebuah instansi, Jajang masih menyempatkan untuk melatih silat karena kecintaannya terhadap seni dan budaya Sunda juga ingin berkontribusi dalam transformasi dunia silat yang lebih mengedepankan nilai sejarah dan sisi humanisme.

Awalnya sih miris karena dulu belajar silat itu identik dengan premanisme, kadugalangan atau ngajago. Nah dari paradigma tersebut saya ingin membuat silat bisa bertransformasi menjadi sebuah seni yang tidak hanya berfokus pada bela diri tapi juga ajang melestarikan budaya serta mencetak generasi yang prestatif di bidang silat.

Di era modern silat ternyata tidak hanya berfungsi sebagai seni dan ajang belajar bela diri tapi mampu membantu para anggota yang berusia remaja untuk menggunakan silat sebagai jalur prestasi yang bisa digunakan saat mendaftar sekolah.

Beberapa anggota silat Putra Layang Pusaka sudah merasakan manfaat tersebut dengan terbebasnya biaya pendidikan dari sertifikat yang pernah diraih saat ajang kejuaraan Pasanggiri. Adapun sekolah yang membebaskan biaya kepada anak dengan jalur prestasi seni adalah sekolah negeri. Sementara sekolah swasta memberikan pembebasan spp selama enam bulan.

Selama berkecimpung dalam paguron Gadjah Putih, Jajang sering menemui beberapa kendala diantaranya, pertama susunan pengurus paguron yang belum terstruktur dengan baik sehingga kurangnya komitmen waktu dari para pengurus dan kerja sama yang kolaboratif.

Kedua, kurangnya kemampuan regenerasi baru dari para anggota. Regenerasi dalam sebuah organisasi menjadi nafas yang penting agar pergerakan bisa terus hidup dan eksis. Namun lagi dan lagi kesibukan masing-masing dari pengurus dan anggota menjadi hambatan dalam komitmen kepengurusan.

Ketiga dari segi dana, sejauh ini keuangan Putra Layang Pusaka terhambat dari segi dana karena pelatih tidak mendapat gaji karena tidak ada pungutan biaya terkecuali ada orang tua dari anak yang berlatih yang memberi sedikit apreasiasi dengan sebutan infak.

Dalam beberapa penyelenggaran kegiatan biasanya Putra Layang Pusaka membuat proposal secara resmi ke instansi pemerintah melalui dpd dan dpc kabupaten Bandung.

Kendalanya memang belum adanya regenerasi yang baik dari struktur kepengurusan. Idealnya kan dari pelatih naik jadi ketua-- ketua menjadi pembina-- pembina jadi sesepuh. Tapi ya gitu karena belum ada komitmen dari segi waktu jadi regenerasinya ga maju-maju.

Jajang punya semangat yang tinggi dalam melestarikan budaya Sunda. Di era digital dirinya tidak membatasi generasi muda untuk terlibat dengan pembelajaran teknologi namun Jajang tetap berharap bahwa generasi muda tidak melupakan budayanya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan budaya. Nanti kalau udah di klaim Malaysia baru kerasa. Tidak ada masalah di era digital anak muda menguasai teknologi tapi tong poho kanu purwa daksi, tong poho balik ka imah. Rek di ajar nepi ka negeri cina ken bae, asal tong poho balik.

Menurut penatarannya budaya memang harus dikenalkan dan diajarkan sejak dini. Sehingga bukan menjadi sesuatu yang berat dan bisa menjadi kebiasaan yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Karena pembelajaran yang paling baik dan membekas adalah ketika mereka masih anak-anak.

Pikeun generasi Sunda geus kawajiban ngamumule seni Sunda salah sahijina liwat silat anu diayakeun di paguron Gadjah Putih.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)