Sinyal Bahaya dari Sesar Lembang, Minimnya Early Warning System Jadi PR Mendesak

3 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Aktivitas seismik di wilayah Cekungan Bandung kembali menjadi sorotan setelah dalam sepekan lalu tercatat tiga kali gempa bumi yang bersumber dari jalur Sesar Lembang, khususnya di segmen Cimeta, Kabupaten Bandung Barat. Meski kekuatannya tergolong kecil, frekuensi gempa yang kian sering mengguncang menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.

Catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa pertama berkekuatan Magnitudo 1,8 terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada 14 Agustus 2025. Beberapa hari kemudian, tepatnya 19 Agustus, gempa Magnitudo 2,3 mengguncang Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah. Rangkaian ini dilanjutkan oleh gempa berkekuatan Magnitudo 1,7 di area perkebunan Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, pada 23 Agustus. Tidak ada laporan kerusakan, namun guncangan sempat dirasakan warga di sekitar pusat gempa.

Peningkatan aktivitas ini langsung menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Para peneliti menilai bahwa perulangan gempa kecil kemungkinan besar terkait dengan pergerakan Sesar Lembang. Jalur sesar ini memiliki panjang sekitar 29 kilometer, membentang dari Padalarang hingga Jatinangor, dan secara geologi menyimpan potensi menghasilkan gempa besar berkekuatan Magnitudo 6,5 hingga 7.

Sejarah mencatat, gempa besar terakhir yang bersumber dari Sesar Lembang terjadi sekitar abad ke-15, atau hampir 500 tahun lalu. Kajian BRIN memperkirakan siklus gempa di jalur ini berkisar antara 170 hingga 670 tahun. Artinya, meskipun waktunya tidak bisa diprediksi, kemungkinan terjadinya gempa besar semakin dekat.

Para ahli menekankan bahwa rangkaian gempa kecil yang terjadi belakangan bisa dianggap sebagai pelepasan energi bertahap yang justru lebih baik dibandingkan akumulasi yang berujung pada gempa besar mendadak, seperti yang pernah terjadi di Cianjur. Namun, tetap saja kewaspadaan menjadi kunci, mengingat ketidakpastian adalah sifat dasar gempa bumi.

Di sisi lain, kondisi Bandung Barat menunjukkan masih banyak keterbatasan dalam mitigasi bencana. Hingga saat ini, pemerintah daerah belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) yang bisa mendeteksi getaran secara mandiri. Seluruh pemantauan masih bergantung pada peralatan milik BMKG dan BRIN.

Padahal, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan sedikitnya ada 20 desa di empat kecamatan—Lembang, Ngamprah, Cisarua, dan Parongpong—yang masuk zona merah rawan gempa akibat aktivitas Sesar Lembang. Jumlah itu mewakili ribuan warga yang tinggal tepat di jalur rawan bencana.

BPBD Bandung Barat memang sudah memiliki rencana kontinjensi, termasuk jalur evakuasi dan skenario penanganan darurat. Namun, tanpa didukung teknologi deteksi dini, langkah mitigasi masih belum maksimal. Kepala BPBD Bandung Barat bahkan menyebut kebutuhan anggaran pengadaan EWS di seluruh kecamatan mencapai Rp4,5 hingga Rp5 miliar, jumlah yang hingga kini belum tersedia di APBD.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat tengah mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membiayai pengadaan sistem ini. Meski begitu, prosesnya masih berjalan dan belum bisa dipastikan kapan terealisasi. Sementara itu, sosialisasi mitigasi tetap digencarkan, terutama di sekolah-sekolah dan desa-desa rawan, agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Selain sistem peringatan dini, Pemkab juga melakukan pendataan rumah-rumah yang berdiri tepat di atas jalur sesar. Hasil pendataan akan menjadi dasar mitigasi, termasuk kemungkinan relokasi jika diperlukan. Meski langkah ini tidak mudah, pemerintah menilai penting untuk mengurangi risiko kerugian besar apabila gempa kuat benar-benar terjadi.

Para ahli dari BRIN dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga menekankan pentingnya pengetahuan praktis di tingkat masyarakat. Kebiasaan sederhana seperti mengenali titik evakuasi, membiasakan latihan penyelamatan diri, hingga tidak terpancing isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dinilai bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Koordinasi lintas wilayah pun mulai diperkuat. Pemerintah Bandung Barat, Kota Bandung, Cimahi, hingga Kabupaten Bandung intens melakukan komunikasi setiap hari untuk memantau perkembangan aktivitas Sesar Lembang. Hal ini dianggap penting, karena potensi dampak gempa besar tidak hanya terbatas di satu wilayah, melainkan seluruh kawasan Cekungan Bandung.

Di tengah keterbatasan anggaran dan teknologi, tantangan terbesar tetap pada membangun kesadaran kolektif masyarakat. Gempa bumi adalah fenomena alam global yang tidak bisa dihindari. Maka, kesiapan mental, kedisiplinan terhadap jalur evakuasi, serta kebiasaan tanggap darurat sejak dini menjadi fondasi utama mitigasi bencana.

Sepekan aktivitas Sesar Lembang ini seolah kembali menjadi pengingat keras bahwa Bandung Raya hidup di atas ancaman nyata. Tanpa langkah mitigasi yang matang, potensi bencana bisa berubah menjadi kerugian besar. Namun, dengan kesiapsiagaan bersama, dampak terburuk masih bisa ditekan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)