Jejak Panjang Sejarah Cianjur, Kota Santri di Kaki Gunung Gede

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pemandangan Danau Sindanglaya Cianjur di kaki Gunung Gede tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)
Pemandangan Danau Sindanglaya Cianjur di kaki Gunung Gede tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Kebanyakan orang hanya tahu Cianjur dari bubur ayam, tauco, atau jalur Puncak yang bikin macet setiap akhir pekan. Tapi Cianjur jauh lebih tua daripada kemacetan itu. Kabupaten yang bertengger manis di kaki Gunung Gede ini punya sejarah panjang. Ia bukan sekadar tempat singgah para pelancong yang buru-buru hendak ke Bandung, melainkan sebuah wilayah yang sejak dulu menjadi rumah, ladang, bahkan panggung politik dan spiritual.

Di sinilah manusia prasejarah pernah mengatur batu-batu besar dengan tekun, seakan membuat tangga menuju langit. Di sini pula ulama-ulama karismatik tumbuh, membangun pesantren yang kelak memberi Cianjur label Kota Santri. Sejarah Cianjur bukan sekadar deretan tahun dan nama bupati. Ia seperti sebuah lakon wayang: kadang serius, kadang jenaka, kadang penuh tragedi, tapi selalu punya alur yang mengikat.

Gunung Padang jadi pintu masuk yang paling pas untuk bicara soal sejarah Cianjur. Situs megalitik di Desa Karyamukti itu bikin banyak orang ternganga. Ada yang menafsirkan sebagai piramid tua, ada pula yang tetap bersikukuh menyebutnya punden berundak. Apapun sebutannya, Gunung Padang adalah bukti bahwa manusia prasejarah sudah jatuh cinta pada lembah subur di kaki Gunung Gede sejak lebih dari dua ribu tahun lalu.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Bayangkan, jauh sebelum orang Sunda tahu apa itu liwet atau pepes ikan, leluhur mereka sudah bersusah payah menyusun batu andesit jadi teras bertingkat. Gunung Gede memberi mereka tanah subur, air melimpah, dan udara sejuk—semua bahan baku kehidupan. Tidak heran mereka betah.

Ketika Kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa, Cianjur hanyalah daerah pedesaan di bawah Pakuan (Bogor). Nama Cianjur dipercaya berasal dari “Ci” (air) dan “Anjur” (mengalir deras). Nama yang sederhana tapi pas: air di Cianjur memang deras, sama derasnya dengan kisah yang mengalir dari masa lalu.

Legenda lokal menyebut tokoh bernama Aki Panyumpit dari Kerajaan Kertarahayu sebagai orang yang membuka lahan di Cianjur. Tapi sebagaimana banyak legenda Sunda lainnya, kisah ini lebih sering hidup di mulut orang tua ketimbang di kitab sejarah. Para ahli agak sinis menyebutnya mitos. Tetapi toh mitos adalah bagian dari cara sebuah masyarakat mengingat masa lalu.

Pada abad ke-17, Cianjur bukan lagi sekadar pedalaman Pajajaran yang sudah runtuh. Dari Talaga, Majalengka, datang seorang bangsawan bernama Raden Aria Wiratanu I. Lelaki ini keturunan Sunan Talaga. Ia membuka tanah di Cikundul dan membangun padaleman, semacam kompleks bangsawan.

Seiring waktu, pemukiman itu berkembang. Pada 1677, Sultan Amangkurat II dari Mataram menunjuk Wiratanu sebagai bupati pertama Cianjur. Sejak itu, Cianjur resmi jadi kabupaten. Hubungan dengan Mataram tentu tak selalu hangat. Bukan rahasia kalau banyak daerah di Jawa Barat merasa hubungan dengan Mataram lebih banyak basa-basi politik. Tetapi faktanya, status kabupaten memberi Cianjur posisi penting.

Di bawah Wiratanu dan para penerusnya, Islam mulai lebih kental. Masjid dan pesantren tumbuh perlahan, menggantikan pengaruh lama Hindu-Buddha. Bayangan Pajajaran memudar, digantikan suara azan dan lantunan kitab. Dari sinilah jalannya terbuka untuk kelak Cianjur dikenal sebagai Kota Santri.

Pada abad ke-19, giliran Belanda yang membekas. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan. Jalan lurus itu membelah Cianjur, membawa serta serdadu, pedagang, dan tentu saja tenaga rodi rakyat lokal yang dipaksa kerja.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Sejak jalan jadi, Cianjur makin ramai. Kota ini tidak lagi hanya urusan sawah dan ladang, tapi juga jadi simpul perdagangan dan administrasi. Orang Belanda meraup untung, rakyat pribumi bekerja keras. Di alun-alun kota, pendopo kabupaten berdiri megah. Arsitektur kolonial dipadu dengan gaya lokal, seakan memberi pesan: kuasa asing boleh menguasai, tapi tanah Sunda tetap punya wajahnya.

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)

Identitas Cianjur Kota Santri

Tapi ada satu hal yang tak bisa dipatahkan kolonial: tradisi pesantren. Sejak abad ke-18, pesantren tumbuh di Cianjur. Pesantren Gelar di Ciranjang jadi salah satu pusat penyebaran Islam. Dari situlah Cianjur mulai dikenal sebagai Kota Santri.

Tokoh-tokoh ulama lahir dari sini. Raden Haji Muhammad Nuh, misalnya, mendirikan Perguruan Islam Al-Ianah pada 1912. Ia mencoba menjembatani tradisi pesantren dengan pendidikan modern. Ada pula R.A. Tjitjih Wiarsih, ulama perempuan yang jarang disorot tapi meninggalkan jejak kuat pada abad ke-20. Figur-figur inilah yang membuat Islam di Cianjur tidak sekadar ibadah, tapi juga budaya yang membentuk kehidupan sehari-hari.

Saat Indonesia merdeka pada 1945, Cianjur ikut jadi bagian perjuangan. Pendopo kabupaten sempat dipakai sebagai markas pejuang melawan Belanda yang ingin kembali. Tokoh-tokoh lokal menulis, berjuang, dan berpikir untuk republik yang masih muda.

Pada era Orde Baru, wajah Cianjur kembali berubah. Pertanian masih dominan, tapi perlahan kota ini ikut terseret arus urbanisasi. Jalan tol Cipularang membuat jarak ke Jakarta makin singkat. Sejak 1980-an, Cianjur kian terhimpit industri dan perumahan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Tapi modernisasi tidak membuat Cianjur kehilangan jati dirinya. Pesantren masih berdiri kokoh, seni Mamaos Tembang Cianjuran masih dilantunkan, dan tauco tetap jadi oleh-oleh wajib. Bahkan gempa besar 2022 yang mengguncang tidak menghapus identitas ini.

Bahkan gempa besar 2022 yang meruntuhkan banyak bangunan tidak bisa meruntuhkan identitas itu. Masyarakatnya kembali bangkit, membangun rumah, sekolah, dan tentu saja pesantren.

Cianjur tetap Cianjur, kota di kaki Gunung Gede yang pernah jadi tanah prasejarah. Wilayah Pajajaran, kabupaten Mataram, kota kolonial, lalu kota santri modern.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)