Tren 10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat, antara Kekerasan Finansial atau Realitas Sosial

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Polemik Tren 10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat (Sumber: Freepik)
Polemik Tren 10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat (Sumber: Freepik)

Beberapa waktu yang lalu "Tren Uang 10 Ribu di tangan Istri yang Tepat" kian menuai polemik bagi sejumlah warganet dan ibu-ibu di dunia nyata.

Beberapa konten kreator bahkan melakukan Stitch dan turut mengomentari pada akun tiktok bernama @merliana8.

Terlepas segala sesuatu yang viral di media sosial tidak selamanya bisa dianggap serius. Bisa saja konten yang bersangkutan hanya untuk mencari popularitas atau hanya sekedar ingin curhat dan berbagi pengalaman kepada orang lain atau justru "Just For Fun".

Terlepas dari niat yang ingin disampaikan, segala sesuatu yang di-posting melalui media sosial kerap harus berdasarkan pertimbangan. Segala hal yang terlanjur dibagikan ke dunia digital akan selalu memiliki rekam jejak meski selaku pemilik akun sudah menghapus postingan yang bersangkutan.

Begitu juga dengan akun @merliana8 yang sudah melakukan klarifikasi terkait postingannya yang sudah menyebabkan huru-hara di kalangan masyarakat dunia Maya. Namun tetap saja video yang bersangkutan sudah tersebar dan ter-download oleh orang lain.

Kekerasan Finansial dalam Keluarga

Narasi dalam video tersebut mengundang sejumlah kritik dari berbagai kalangan. Mulai dari menyayangkan masih bertahan dengan suami yang dianggap kurang bertanggung jawab. Suami yang egois, istri yang tidak beruntung hingga anjuran untuk berpisah.

Tren yang menuai kontra ini dianggap sudah menormalisasi keterbatasan ekonomi di tengah fakta "In this economy".

Dilansir dari kompas bisnis bahwa, menurut data yang sudah dihimpun dari BPS menyatakan garis kemiskinan pada Maret 2025 terdapat 609 ribu/ kapita atau per-kepala tiap bulan/20 ribu/hari.

Salah satu narasumber yang diwawancarai oleh Kompas TV bernama Mirza juga menganggap bahwa meminta istri untuk berhemat dengan uang ala kadarnya termasuk ke dalam kekerasan finansial.

Kalau istri dipaksa hemat itu salah satunya termasuk ke dalam kekerasan finansial sih. Karena sudah kewajiban suami untuk memenuhi semua kebutuhan dalam rumah tangga.

Menurut Prita Gozi selaku perencana keuangan sekaligus CEO PT. Zap Finance mengatakan secara definisi yang didapat dari WHO, bahwa kekerasan finansial adalah terjadinya pengendalian terhadap sumber daya ekonomi keluarga. Kondisi ini menyebabkan ada salah satu anggota atau korban yang kehilangan kemandirian finansial sehingga terpaksa bergantung kepada pelaku kekerasan finansial.

Masih menurut Prita , beberapa ciri-ciri financial abuse (kekerasan finansial) adalah ketika adanya salah satu pihak yang menguasai seluruh penghasilan pasangan dan tidak ada transparansi terhadap penggunaannya.

pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)
pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)

Selanjutnya melarang pasangan untuk mendapat penghasilan atau bekerja sehingga korban akan sangat bergantung finansialnya terhadap pelaku. Kemudian adanya pembatasan akses terhadap keuangan, misalnya pin kartu ATM yang tidak boleh diketahui pasangan dan dipegang hanya oleh satu orang.

Ciri-ciri lainnya adalah menyembunyikan informasi keuangan seperti tidak ada kejujuran terkait jumlah penghasilan, hutang atau adanya bantuan dari pihak luar. Kemudian membebani korban dengan tanggung jawab finansial yang tidak adil. Dan konteks tren 10 ribu/ hari termasuk ke dalam poin terakhir karena tidak ada kejelasan penggunaan keuangan. Apakah uang tersebut digunakan untuk makan 3 kali sehari, di kota mana yang terjadi demikian atau porsi makan itu untuk berapa kepala dalam keluarga.

Realitas Sosial yang Ada

Lewat tren ini membuat saya menerka-nerka, terlepas dari penggugah video yang menyatakan bahwa hal tersebut murni konten tapi apakah sebetulnya memang ada realitasnya yang terjadi di sebagian kalangan masyarakat.

Jika 10 ribu hanya digunakan untuk membeli kebutuhan pendamping nasi seperti tempe dan kangkung mungkin saja cukup. Sementara budgeting untuk membeli beras, minyak dan gas berbeda lagi. Kondisi seperti ini masih masuk akal.

Namun jika 10 Ribu hanya cukup untuk membeli pendamping makanan. Sementara kebutuhan lainnya seperti beras, minyak dan gas didapatkan dari pinjaman atau berhutang, kondisi ini masih terbilang masuk akal. Dan kasus ini yang sebetulnya menjadi realitas yang sudah ada sejak lama.

Bukan berarti menormalisasi berhutang tapi kenyataannya di lapangan seperti itu. Sudah berapa banyak warung-warung di sekitar masyarakat yang mengadakan kasbon untuk setiap pelanggannya. Hutang menandakan dua kondisi dalam keluarga, pertama bisa saja penghasilan yang didapat tidak seimbang dan tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari atau yang kedua adanya pengaturan keuangan yang kurang baik sehingga kebutuhan dasar menjadi tidak terpenuhi.

Tren yang dianggap awalnya sebagai hiburan ternyata bisa dinormalisasi oleh beberapa masyarakat. Setelah konten tersebut viral ada seorang dokter yang menceritakan pasiennya mengurungkan niat untuk berobat karena menunggu uang jatah dari suaminya.

Dr. Mariska Haris dalam video yang diunggahnya di tiktok menyebutkan bahwa tren ini mampu mempengaruhi sikap seorang suami terhadap istrinya.

Menurut penuturannya ada anak yang mengalami kondisi sesak nafas sejak pagi tapi tidak kunjung untuk segera dibawa ke klinik pengobatan terdekat hanya karena menunggu uang dari suaminya yang sedang memancing.

Saya sudah tinggalin uang buat istri saya dok 200 ribu masa gak cukup. Kemudian istrinya menimpali kalau uang yang diberikan itu seminggu yang lalu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah itu kemudian suaminya berbicara, kamu memang bukan istri yang tepat, soalnya itu yang di medsos, yang di tiktok 10 ribu cukup buat semuanya.

Bagi sebagian orang konten yang beredar di media sosial sering kali di telan mentah-mentah dan berujung pada sikap normalisasi di kehidupan nyata.

Banyak dari masyarakat yang akhirnya hidup berdasarkan standar medsos khususnya di tiktok. Padahal segala konten yang tersebar di dunia Maya tak selamanya adalah realita yang terjadi pada pemilik akun yang bersangkutan. Bijak dalam ber medsos memang penting untuk diterapkan setiap pengguna.

Kejadian ini juga menjadi pembelajaran bagi konten kreator untuk membuat konten yang wajar saja. Jangan sampai hanya karena ingin viral segala hal dilakukan termasuk membuat konten yang kontroversial dan berujung dijadikan suatu hal yang dinormalisasi oleh masyarakat di dunia nyata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)