Anak Kita Bukan Objek Disiplin, Akhiri Normalisasi Kekerasan

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
 (Sumber: Refika Aditama | Foto: Refika Aditama)
(Sumber: Refika Aditama | Foto: Refika Aditama)

Dalam suasana rumah yang terlihat tenang, tak jarang menyelinap luka yang tak tampak di permukaan.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan, bentakan, atau bahkan tamparan, kerap dipandang “bandel” alih-alih sebagai korban. Buku Parenting Education: Kekerasan pada Anak dan Dampaknya hadir sebagai refleksi tajam atas kondisi tersebut.

Ditulis oleh empat akademisi Universitas Pendidikan Indonesia, buku ini menjadi panduan menyeluruh untuk mengenali, memahami, dan mengakhiri berbagai bentuk kekerasan yang masih sering terjadi atas nama pengasuhan.

Kekerasan terhadap anak bukan hanya peristiwa ekstrem yang terpampang di berita kriminal. Ia bisa hadir dalam bentuk ucapan sinis, bentakan spontan, atau hukuman fisik yang kerap dilegitimasi sebagai metode mendidik.

Buku ini membuka dengan pengantar filosofis tentang pentingnya keluarga sebagai ruang aman dan anak sebagai subjek yang memiliki hak utuh, bukan sekadar objek dalam sistem nilai orang tua.

Dua jenis kekerasan yang paling banyak mendapat sorotan dalam buku ini adalah kekerasan fisik dan emosional.

Kekerasan fisik, misalnya, dipaparkan tidak hanya sebagai tindakan yang melukai tubuh, tetapi juga yang meninggalkan bekas ketakutan dan trauma jangka panjang.

Data yang dikutip cukup mengejutkan: jutaan anak mengalami kekerasan fisik setiap tahun di dunia, dan sebagian besar dari mereka bahkan belum menginjak usia sekolah. Yang menyedihkan, pelaku terbanyak justru adalah orang tua sendiri.

Bentuk kekerasan yang awalnya dimaksudkan sebagai ‘pelajaran’ justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh.

Sementara itu, kekerasan emosional menjadi bagian yang lebih sulit dikenali.

Buku ini menunjukkan bahwa ejekan, ancaman, pengabaian, dan komentar yang menjatuhkan bisa membentuk luka batin yang jauh lebih kompleks dibanding luka fisik.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)

Anak yang dibesarkan dalam suasana penuh intimidasi emosional cenderung tumbuh dengan harga diri rendah, sulit menjalin hubungan sehat, dan mengalami gangguan perilaku ketika dewasa.

Buku ini menegaskan bahwa kekerasan emosional seringkali terjadi dalam pola asuh yang dianggap “biasa” oleh masyarakat kita.

Yang membedakan buku ini dari publikasi lain di bidang serupa adalah tawarannya terhadap pendekatan pencegahan yang realistis dan menyeluruh.

Para penulis tidak sekadar mengkritik pola pengasuhan yang keliru, tetapi juga menawarkan cara membangun hubungan yang sehat dengan anak.

Misalnya, dengan mengedepankan komunikasi yang terbuka, peningkatan literasi emosi bagi orang tua, serta perlunya integrasi pendidikan pengasuhan dalam kurikulum pendidikan formal maupun pelatihan masyarakat.

Disusun secara sistematis dalam tujuh bab utama, buku ini mengajak pembaca memahami anatomi kekerasan dalam rumah tangga mulai dari akar budaya, struktur sosial, hingga kebijakan hukum yang belum maksimal melindungi anak.

Lima bab terakhir mengulas secara khusus bentuk kekerasan fisik, emosional, seksual, penelantaran, dan cara pencegahannya.

Setiap bab tidak hanya informatif tetapi juga menyentuh sisi personal, seolah penulis ingin berbicara langsung pada para pembaca sebagai orang tua, guru, atau siapa pun yang berinteraksi dengan anak.

Keunggulan utama buku ini adalah kemampuannya menyatukan data akademik dengan narasi empatik. Bahasa yang digunakan terasa dekat dan tidak menggurui.

Itulah sebabnya buku ini bisa dijadikan bahan bacaan tidak hanya oleh kalangan akademisi, tetapi juga oleh orang tua di rumah, guru di sekolah, serta pendamping sosial yang bekerja di lapangan.

Namun buku ini belum menyinggung secara mendalam aspek budaya lokal yang kerap melanggengkan kekerasan dalam pengasuhan, seperti pepatah “anak dipukul tanda sayang” atau “disiplin itu harus keras.”

Kritik terhadap konstruksi sosial yang melegalkan kekerasan perlu lebih diperluas agar pembaca mampu merespons isu ini dari akar nilai yang tertanam dalam masyarakat.

Pada akhirnya, buku ini adalah panggilan moral agar kita tidak lagi menormalisasi kekerasan sebagai bagian dari pendidikan anak.

Sebab anak bukan properti yang bisa dibentuk sesuka hati, melainkan manusia utuh yang butuh dihargai, dipahami, dan dicintai tanpa syarat.

Dari rumah yang aman, anak-anak akan belajar menjadi manusia yang sehat jiwa raganya. Dan dari pola asuh yang penuh empati, kita semua sedang merawat masa depan bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)