5 PR Literasi Religi Kita

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Di sinilah letak masalah literasi religi, kita masih punya banyak PR yang belum selesai. (Sumber: Pexels/Janko Ferlic)
Di sinilah letak masalah literasi religi, kita masih punya banyak PR yang belum selesai. (Sumber: Pexels/Janko Ferlic)

Kita ini bangsa yang kelihatannya religius sekali. Rumah ibadah selalu ramai, perayaan keagamaan penuh sesak, dan media sosial tak pernah kehabisan konten ceramah. Bahkan kampanye politik, branding kurikulum sekolah, sampai paket wisata pun sering membawa gerbong agama.

Namun pertanyaannya, apakah literasi religi kita sudah benar-benar memadai? Atau justru sebaliknya, etos religius ini malah berpotensi menimbulkan petaka, apalagi di tengah masyarakat yang sering dibuat emosional dan mudah tersulut oleh isu yang dikemas dengan iming-iming agama?

Di titik ini, agama sering kali dimainkan bukan pada substansinya, tapi pada simbolnya. Jargon, merek, dan klaim kebenaran. Padahal literasi religi mestinya mencakup cara kita memahami, menghayati, dan menghubungkan nilai-nilai agama dengan kehidupan nyata. Dan di sinilah letak masalahnya, kita masih punya banyak PR yang belum selesai.

1. Hafal, Literal, dan Dangkal

Coba ingat pelajaran agama waktu sekolah. Apa yang kita kejar? Setoran hafalan, mantra, nama-nama tokoh? Semua penting, tentu saja. Tapi kalau berhenti di sana, hasilnya adalah orang yang seolah-olah tahu banyak khazanah agama, tanpa mengerti pada arahnya.

Pendekatannya pun cenderung literal. Teks agama dibaca hitam-putih tanpa ruang tafsir. Agama diperlakukan seperti tidak punya induk sejarah, tidak berinteraksi dengan ruang kehidupan yang lebih kompleks.

Yang lebih mengerikan, pemahaman agama sering disamakan secara esensial dengan pendapat tokoh, lembaga keagamaan, atau provokasi yang berseliweran hari ini. Padahal jelas ia punya konteks sosial, ideologi, bahkan kepentingan tertentu. Tapi hal-hal seperti ini tampaknya tidak pernah diajarkan secara terbuka.

Kita tidak pernah diajak bertanya, “kenapa pandangan ini muncul?” atau “apa yang berubah dari masa ke masa?”. Akibatnya, kita belajar agama tanpa tahu cara berpikir teologis. Hasilnya ialah iman yang kaku, mudah tersinggung, dan dangkal.

2. Menyembunyikan Keragaman

Masalah berikutnya, literasi religi kita sering menutupi keniscayaan aka keberagaman. Baik di dalam agama sendiri, maupun hubungannya dengan agama lain.

Padahal setiap agama punya kekayaan kosmik yang panjang dan berlapis. Ada aliran, mazhab, denominasi, interpretasi, dan tradisi yang semuanya tumbuh dari cara berpikir yang berbeda. Tapi di ruang-ruang kita mengenal agama, yang diajarkan hanya satu versi. Versi kita sendiri atau yang diklaim resmi.

Kita tidak diajak mengenal perbedaan pandangan sejak dalam agama sendiri. Akhirnya, kita kaget begitu tahu bahwa di luar sana ada cara berpikir lain yang juga sah. Sependek ada organisasi keagamaan dengan praktik yang berbeda.

Begitu juga soal agama lain. Sering kali kita hanya diajarkan nama dan jumlahnya, bukan soal dunianya. Itupun sebetulnya masih mending, ketimbang tidak sama sekali apalagi dipandang sebagai lawannya.

Mengenal perbedaan bukan berarti menumbuhkan kebingungan. Justru sebaliknya, ia menumbuhkan kedewasaan intelektual dan empati spiritual.

3. Minim Refleksi Moral dan Keteladanan

Lucu, literasi religi yang mestinya jadi tempat menanamkan akhlak, seringkali gagal menghadirkan refleksi etis.

Kita diajari “berbuat baik”, tapi tidak dijelaskan mengapa sesuatu dianggap baik. Kita tahu mana dosa dan mana karma, tapi tidak pernah diajak berpikir alasan sesuatu disebut cela, atau makna moral di baliknya.

Dalam keluwesan itu, agama menjadi ruang yang menentramkan, bukan menakutkan. (Sumber: Pexels/Pok Rie)
Dalam keluwesan itu, agama menjadi ruang yang menentramkan, bukan menakutkan. (Sumber: Pexels/Pok Rie)

Belajar agama akhirnya hanya berhenti di aturan, bukan kesadaran. Kita sibuk memastikan bentuk luar, tapi lupa menggali isinya. Lupa memetik buah-buahnya.

Karakter luput dari sesuatu yang kita sebut sebagai agama. Empati, kesederhanaan, dan tanggung jawab seolah-olah nihil. Pendidikan agama hanya jadi daftar larangan dan ancaman. Ia kehilangan daya ubahnya terhadap budi pekerti manusia. Dan kita sudah lama kehilangan keteladanan ini.

4. Tidak Kontekstual, dan (Jujur Saja) Membosankan

Belajar agama bisa, dan seharusnya, menyenangkan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kaku, bahasanya formal, kadang menghakimi, dan topiknya jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal nilai-nilai agama bisa dikaitkan dengan banyak hal, lingkungan, sains, kemanusiaan, gender, budaya pop, bahkan politik. Bayangkan kalau pelajaran agama membahas, misalnya, bagaimana nilai religius bisa memandu kita menghadapi budaya check-out dan bayar nanti, atau bagaimana ajaran etika agama bisa peduli pada masalah kesehatan mental.

Kita juga punya tradisi lokal yang kaya dengan nilai spiritual, tapi sayangnya sering diabaikan. Literasi religi seharusnya juga kreatif, mengembangkan strategi-strategi yang buat kita betah berlama-lama. 

Kalau saja pendekatannya dibuat seasyik ini, belajar agama tidak lagi jadi beban, tapi jadi ruang dialog yang berkesan.

5. Spiritualitas yang Kering

Masalah terakhir ini yang paling sulit dirasakan tapi paling penting. Ialah spiritualitas kita yang gersang.

Kita tahu banyak tentang agama, tapi jarang benar-benar mengalami kedalaman batinnya. Kita bersembahyang, tapi apakah kita larut dan terkoneksi di dalamnya?

Literasi religi kita terlalu fokus pada bentuk luaran. Ruang esoteris jarang dieksplorasi. Pengalaman, perasaan, sensasi, kesadaran, dan perjumpaan personal dengan nilai-nilai yang kita imani, hampir selalu dipinggirkan.

Andai saja belajar agama bisa membuka ruang seperti ini, mungkin orang tak akan sekadar tahu agama, tapi benar-benar meraga-sukma dalam hidupnya.

Masalah-masalah ini tentu tidak muncul begitu saja. Kita lama sekali memperlakukan agama seperti barang antik yang harus dijaga dari debu kritik. Meningkatkan literasi religi berarti berani meneratas jalan baru, melihat bahwa ajaran agama selalu berinteraksi dengan sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. Bahwa yang sakral bisa berjalan beriringan dengan zaman.

Kita butuh literasi religi yang reflektif, kontekstual, dan manusiawi. Yang tidak hanya mengajarkan hafalan, tapi mengajarkan cara berpikir. Tidak hanya dunia yang ada di sana, tapi juga kemanusiaan di sini.

Ayo beres-beres, kita mulai dari diri sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)