Di Balik Jepretan Kamera di Dago: Antara Faktor Ekonomi dan Privasi Pelari

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Udara pagi di Jalan Dago belum sepenuhnya hangat ketika derap sepatu mulai terdengar berulang-ulang di atas aspal. Matahari masih malu-malu muncul dari sela pepohonan besar yang berbaris di kiri dan kanan jalan. Di antara irama napas para pelari, ada bunyi lain yang tak kalah konsisten: klik kamera.

Di beberapa titik, fotografer berdiri dengan kamera profesional menggantung di leher. Mereka tak berlari, tetapi kesibukannya setara. Fokus mereka bukan jarak tempuh, melainkan momen—langkah yang mantap, keringat yang menetes, atau ekspresi terkejut saat sadar sedang dibidik.

Salah satunya Daus (24). Sejak 2022, ia rutin memotret pelari pagi di Dago. Awalnya sekadar hobi semasa kuliah, kini menjadi sumber penghasilan tambahan setiap akhir pekan. Ia datang ketika langit masih gelap kebiruan dan baru beranjak pulang saat arus pelari mulai mereda. Ia masih ingat betul bagaimana Dago akhirnya menjadi “kantor” terbukanya.

“Awalnya saya motret di KBP, tapi lama-lama bosan, cari rute baru. Akhirnya ke Dago. Anggap saja Dago itu ruang mencari uang,” ujarnya.

Bagi Daus, Dago bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang ekonomi. Sejak pukul lima hingga delapan pagi, ia memotret nyaris tanpa jeda. Momen yang ia tangkap kerap sederhana dan spontan.

“Biasanya natural aja, candid. Kalau ada yang minta direct, baru saya arahin gayanya,” katanya.

Daus rajin memotret pelari pagi di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari semula hobi kini jadi pekerjaan sampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana.)
Daus rajin memotret pelari pagi di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari semula hobi kini jadi pekerjaan sampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana.)

Perkembangan teknologi ikut mengubah cara kerjanya. Jika dulu ia harus membagikan tautan Google Drive dan membiarkan pelari mencari sendiri fotonya, kini aplikasi pemindai wajah mempermudah proses itu.

“Sekarang sudah ada aplikasi. Pelari tinggal daftar, nanti fotonya ke-scan otomatis. Lebih mudah,” jelasnya.

Mayoritas pembeli, menurutnya, menggunakan foto untuk kebutuhan media sosial. Ia menyebutnya sambil tersenyum ringan.

“Buat konten Instagram. Ngasih makan IG.”

Namun di balik kemudahan itu, ada sisi lain yang tak selalu terlihat. Daus mengaku tidak meminta izin sebelum memotret. Ia berpegang pada konteks ruang publik. Jika ada pelari yang keberatan, ia memilih langsung menghapus foto tersebut.

“Kalau ada yang enggak mau, biasanya langsung saya hapus. Batasannya paling di ruang publik aja, enggak ngerusak privasi orang,” katanya.

Fenomena ini, menurutnya, turut mengubah suasana Dago. Jalan yang dulu terasa lebih lengang kini hidup setiap akhir pekan. Fotografer, pelari, hingga penikmat pagi bercampur dalam satu ritme yang sama. Meski begitu, Daus tak yakin tren ini akan bertahan lama.

“Saya sih merasa mungkin empat tahun lagi hype-nya turun,” ujarnya memperkirakan.

Bagi Muhammad Raqin (22), kehadiran fotografer di Dago adalah sesuatu yang sulit dihindari. Ia menyadari dirinya kerap tertangkap kamera, meski tidak selalu siap. Setiap kali melihat lensa mengarah kepadanya, reaksinya spontan.

“Kadang kaget, kayak ada apa nih tiba-tiba difoto,” katanya.

Raqin pernah membeli fotonya sendiri. Namun ia juga merasakan sisi yang kurang nyaman, terutama ketika sedang tidak ingin menjadi sorotan.

“Terkadang lagi enggak mau difoto ya pasti risih. Menurut saya mending dibuat satu line jalan yang memang khusus untuk difoto. Jadi kalau enggak mau, bisa cari jalur lain,” ujarnya.

Baginya, ruang publik memang terbuka, tetapi tetap membutuhkan batas. Ia menilai aturan terkait privasi perlu dipertimbangkan agar pelari memiliki pilihan.

“Perlu sih ada aturan-aturan terkait privasi. Soalnya kan semua orang punya momen masing-masing,” tambahnya.

Pandangan berbeda datang dari Reyhan Sahla (26), yang sudah tiga tahun menekuni lari. Ia justru melihat fenomena ini sebagai bagian dari tren yang tak terpisahkan dari olahraga jalanan. Keberadaan fotografer di Dago sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Sejumlah pelari melintas di kawasan Dago, Kota Bandung. (Foto: Reyhan Syahla)
Sejumlah pelari melintas di kawasan Dago, Kota Bandung. (Foto: Reyhan Syahla)

“Kalau di Dago sih pasti sadar. Sepanjang jalan banyak fotografer. Kalau aku mah nyaman-nyaman aja, cuek aja, candid,” katanya.

Beberapa kali, ia membeli fotonya sendiri untuk membangun citra sebagai pelari di media sosial.

“Sekarang kan lagi tren. Saya juga lagi bangun personal branding sebagai pelari,” ujarnya.

Meski demikian, ia memberi batas yang jelas ketika persoalan menyangkut publikasi tanpa persetujuan.

“Kalau cuma konsumsi pribadi sih enggak masalah. Tapi kalau dipublish tanpa izin, itu bisa jadi pertimbangan,” katanya.

Menurut Raihan, setahunya para fotografer di Dago juga memiliki aturan komunitas tersendiri, meski tidak selalu tertulis secara resmi.

Pagi di Dago kini bukan hanya tentang berlari. Ia juga tentang dokumentasi, personal branding, dan peluang ekonomi. Di antara langkah kaki dan sorot lensa, ruang publik memuat lebih banyak kepentingan daripada sekadar olahraga. Setiap klik kamera menjadi penanda bahwa ada yang ingin diabadikan—dan ada pula yang mungkin ingin tetap berjalan tanpa direkam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)