Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Di Balik Jepretan Kamera di Dago: Antara Faktor Ekonomi dan Privasi Pelari

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 21 Feb 2026, 10:41 WIB
Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Udara pagi di Jalan Dago belum sepenuhnya hangat ketika derap sepatu mulai terdengar berulang-ulang di atas aspal. Matahari masih malu-malu muncul dari sela pepohonan besar yang berbaris di kiri dan kanan jalan. Di antara irama napas para pelari, ada bunyi lain yang tak kalah konsisten: klik kamera.

Di beberapa titik, fotografer berdiri dengan kamera profesional menggantung di leher. Mereka tak berlari, tetapi kesibukannya setara. Fokus mereka bukan jarak tempuh, melainkan momen—langkah yang mantap, keringat yang menetes, atau ekspresi terkejut saat sadar sedang dibidik.

Salah satunya Daus (24). Sejak 2022, ia rutin memotret pelari pagi di Dago. Awalnya sekadar hobi semasa kuliah, kini menjadi sumber penghasilan tambahan setiap akhir pekan. Ia datang ketika langit masih gelap kebiruan dan baru beranjak pulang saat arus pelari mulai mereda. Ia masih ingat betul bagaimana Dago akhirnya menjadi “kantor” terbukanya.

“Awalnya saya motret di KBP, tapi lama-lama bosan, cari rute baru. Akhirnya ke Dago. Anggap saja Dago itu ruang mencari uang,” ujarnya.

Bagi Daus, Dago bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang ekonomi. Sejak pukul lima hingga delapan pagi, ia memotret nyaris tanpa jeda. Momen yang ia tangkap kerap sederhana dan spontan.

“Biasanya natural aja, candid. Kalau ada yang minta direct, baru saya arahin gayanya,” katanya.

Daus rajin memotret pelari pagi di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari semula hobi kini jadi pekerjaan sampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana.)
Daus rajin memotret pelari pagi di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari semula hobi kini jadi pekerjaan sampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana.)

Perkembangan teknologi ikut mengubah cara kerjanya. Jika dulu ia harus membagikan tautan Google Drive dan membiarkan pelari mencari sendiri fotonya, kini aplikasi pemindai wajah mempermudah proses itu.

“Sekarang sudah ada aplikasi. Pelari tinggal daftar, nanti fotonya ke-scan otomatis. Lebih mudah,” jelasnya.

Mayoritas pembeli, menurutnya, menggunakan foto untuk kebutuhan media sosial. Ia menyebutnya sambil tersenyum ringan.

“Buat konten Instagram. Ngasih makan IG.”

Namun di balik kemudahan itu, ada sisi lain yang tak selalu terlihat. Daus mengaku tidak meminta izin sebelum memotret. Ia berpegang pada konteks ruang publik. Jika ada pelari yang keberatan, ia memilih langsung menghapus foto tersebut.

“Kalau ada yang enggak mau, biasanya langsung saya hapus. Batasannya paling di ruang publik aja, enggak ngerusak privasi orang,” katanya.

Fenomena ini, menurutnya, turut mengubah suasana Dago. Jalan yang dulu terasa lebih lengang kini hidup setiap akhir pekan. Fotografer, pelari, hingga penikmat pagi bercampur dalam satu ritme yang sama. Meski begitu, Daus tak yakin tren ini akan bertahan lama.

“Saya sih merasa mungkin empat tahun lagi hype-nya turun,” ujarnya memperkirakan.

Bagi Muhammad Raqin (22), kehadiran fotografer di Dago adalah sesuatu yang sulit dihindari. Ia menyadari dirinya kerap tertangkap kamera, meski tidak selalu siap. Setiap kali melihat lensa mengarah kepadanya, reaksinya spontan.

“Kadang kaget, kayak ada apa nih tiba-tiba difoto,” katanya.

Raqin pernah membeli fotonya sendiri. Namun ia juga merasakan sisi yang kurang nyaman, terutama ketika sedang tidak ingin menjadi sorotan.

“Terkadang lagi enggak mau difoto ya pasti risih. Menurut saya mending dibuat satu line jalan yang memang khusus untuk difoto. Jadi kalau enggak mau, bisa cari jalur lain,” ujarnya.

Baginya, ruang publik memang terbuka, tetapi tetap membutuhkan batas. Ia menilai aturan terkait privasi perlu dipertimbangkan agar pelari memiliki pilihan.

“Perlu sih ada aturan-aturan terkait privasi. Soalnya kan semua orang punya momen masing-masing,” tambahnya.

Pandangan berbeda datang dari Reyhan Sahla (26), yang sudah tiga tahun menekuni lari. Ia justru melihat fenomena ini sebagai bagian dari tren yang tak terpisahkan dari olahraga jalanan. Keberadaan fotografer di Dago sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Sejumlah pelari melintas di kawasan Dago, Kota Bandung. (Foto: Reyhan Syahla)
Sejumlah pelari melintas di kawasan Dago, Kota Bandung. (Foto: Reyhan Syahla)

“Kalau di Dago sih pasti sadar. Sepanjang jalan banyak fotografer. Kalau aku mah nyaman-nyaman aja, cuek aja, candid,” katanya.

Beberapa kali, ia membeli fotonya sendiri untuk membangun citra sebagai pelari di media sosial.

“Sekarang kan lagi tren. Saya juga lagi bangun personal branding sebagai pelari,” ujarnya.

Meski demikian, ia memberi batas yang jelas ketika persoalan menyangkut publikasi tanpa persetujuan.

“Kalau cuma konsumsi pribadi sih enggak masalah. Tapi kalau dipublish tanpa izin, itu bisa jadi pertimbangan,” katanya.

Menurut Raihan, setahunya para fotografer di Dago juga memiliki aturan komunitas tersendiri, meski tidak selalu tertulis secara resmi.

Pagi di Dago kini bukan hanya tentang berlari. Ia juga tentang dokumentasi, personal branding, dan peluang ekonomi. Di antara langkah kaki dan sorot lensa, ruang publik memuat lebih banyak kepentingan daripada sekadar olahraga. Setiap klik kamera menjadi penanda bahwa ada yang ingin diabadikan—dan ada pula yang mungkin ingin tetap berjalan tanpa direkam.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)