Melewatkan Siang antara Pasar Rakyat dan Istana Cipanas yang Penuh Kontras

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)
Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

Sabtu (26/4/2025) siang, saya tengah melaju dengan sepeda gunung dari arah Puncak Pas menuju Padalarang, Jawa Barat. Perjalanan saya sedikit tersendat saat memasuki Cipanas. Di depan Pasar Cipanas, di sisi utara, sebuah angkot kuning berhenti untuk menurunkan penumpang. 

Namun, usai penumpang turun, angkot itu memilih tetap berhenti. Sang supir tampaknya berharap ada penumpang yang bakal naik. Di belakang angkot, sebuah truk Fuso membunyikan klakson meminta jalan. Angkot kuning itu kemudian bergeser ke kiri sedikit untuk memberinya jalan.

Sementara itu, di sisi selatan, persis di depan Bangunan Pasar Cipanas, beberapa angkot kuning lainnya berjejer. Di masing-masing punggung angkot itu tertera rute dari masing-masing angkot, sehingga membantu calon penumpang memastikan dengan tepat rute yang harus diambil.

Di sisi selatan Pasar Cipanas, yang bertingkat itu, saya melihat tak ada trotoar. Warga terpaksa berjalan di bahu jalan, berebut dengan kendaraan yang hilir mudik.

Adapun di sisi utara terlihat ada trotoar. Namun, tidak benar-benar steril. Sebagian di antaranya diokupasi oleh para pedagang, membuat pejalan kaki kurang leluasa berjalan di atasnya.   

Di bagian atas bangunan Pasar Cipanas tampak membentang beberapa poster iklan dan spanduk. Salah satu tulisan yang tertera di salah satu spanduk berbunyi: "Pasar Rakyat Cipanas Ber-SNI 2020 Hadir di GrabMart".

Baca Juga: Nilai Penting Pembakuan Eksonim Negara

Istana Cipanas yang terawat

Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

Saya lajukan sepeda perlahan menuju ke arah timur. Lepas dari Pasar Cipanas, saya melihat sebuah plang. Tertulis di plang itu: “Istana Cipanas”. Saya berhenti beberapa meter sebelum plang tersebut. 

Dari atas trotoar yang mulus, pandangan saya arahkan ke arah istana. Berbeda dengan Pasar Cipanas, Istana Cipanas tampak kinclong, jauh lebih terawat, dan seolah menjadi penanda status sosial yang berbeda di antara keduanya. Tidak ada spanduk atau poster yang terbentang atau menempel di sekeliling istana.

Saya berdiri di atas trotoar, mengamati kompleks istana. Pagar besi berwarna hitam yang terlihat kokoh mengelilingi istana. Saya langsung teringat pada lagu The Beatles, A Day in the Life, yang mengajak kita untuk merefleksikan kehidupan sehari-hari dengan segala kontradiksi yang ada. 

Bait-bait lagu karya Lennon-MCCartney itu membuat saya sadar bahwa kehidupan kita sering kali terpisah oleh garis-garis status sosial yang tampak jelas. Istana dengan kebersihan dan ketertibannya dan pasar dengan keramaian dan keriuhannya.

Saya lantas menyeberangi jalan raya untuk melihat lebih dekat Istana Cipanas. Namun, tak mungkin masuk ke halaman istana karena untuk bisa melakukan hal tersebut, saya memerlukan izin khusus. Saya hanya bisa  berdiri dari balik pagar. 

Saya keluarkan ponsel. Saya julurkan tangan ke balik pagar untuk mengambil beberapa gambar Istana Cipanas – lengkap dengan air mancur yang sedang menyala di depannya.

Baca Juga: Bicara tentang Disrupsi AI, Ayobandung.id Rangkul Mahasiswa Unpad Menulis Otentik

Perut tiba-tiba menjerit

Pasar Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

Beres mengambil gambar, saya lanjutkan perjalanan. Sekitar beberapa ratus meter ke arah timur dari istana, saya melihat sejumlah kedai makan dan restoran mewah berjejer. Mobil-mobil mengkilap berplat luar kota parkir berderet-deret di salah satu restoran yang halamannya cukup luas. Dua petugas parkir berseragam terlihat sibuk mengatur kedatangan dan kepulangan tamu restoran. Cipanas memang menjadi tujuan wisata, terutama bagi mereka yang datang dari Jakarta, yang ingin menikmati suasana pegunungan dan udara segar sembari menikmati aneka suguhan kuliner.

Melintas di depan restoran itu, perut saya langsung menjerit. Waktu makan siang memang sudah tiba. Saya memeriksa tas pinggang, hanya ada satu lembaran Rp 50.000. Di saku celana, saya menemukan Rp16.000. Cukup sih untuk makan siang, namun tentu tidak di restoran mewah dengan menu berlimpah, yang siap menggoyang lidah. 

Maka, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga menuju Kota Cianjur ketimbang berhenti makan siang di Cipanas. Sambil melaju melahap turunan, saya merenung ihwal nilai-nilai yang saya lihat sepanjang perjalanan siang itu. Pasar Cipanas dengan kehidupan yang sibuk dan dinamis, dan Istana Cipanas yang tenang dan terawat. Keduanya adalah gambaran nyata dari dualitas sosial yang berjauhan. 

Di lorong-lorong pasar, hidup adalah soal bertahan, sementara di lingkungan istana, hidup boleh jadi hanya soal memilih ihwal kenyamanan seperti apa yang hendak direngkuh. Saya menyadari bahwa gelinding roda kehidupan seringkali membawa kita ke tempat-tempat yang memperlihatkan betapa timpangnya nasib manusia, betapa tak adil peta rezeki digoreskan di atas tanah yang sama. Ada yang berjuang dengan segenap tenaga demi secuil harapan, ada pula yang mengarungi hari-hari dengan limpahan yang bahkan tak sempat mereka syukuri.

Namun, saya juga sadar bahwa setiap gelinding roda kehidupan bakal membawa kita pada pemahaman baru. Maka, saya pun teringat pada lirik lagu Imagine dari John Lennon, yang mengajak kita untuk senantiasa membayangkan dunia yang lebih damai dan lebih sederhana, di mana tidak ada batasan yang membedakan kita semua. 

Baca Juga: Ledakan Amunisi di Garut dan Sistem Logistik Militer

Dunia ini penuh kontras

Jalan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

Saya percaya bahwa kehidupan ini memiliki nilai yang sama bagi setiap orang. Baik mereka yang hidup di lingkungan pasar maupun di lingkungan istana, semua pada dasarnya berusaha mencari tempat yang nyaman dan aman untuk melakoni hidup.

Dan pemikiran itu kembali terlintas ketika saya akhirnya singgah di sebuah warung nasi sederhana di kawasan Rawabango, Cianjur – sebelum meneruskan perjalanan ke Padalarang. Di sana, saya menikmati makan siang yang sederhana namun sarat makna. Bagi saya, warung nasi di Rawabango itu bukan sekadar tempat makan, melainkan juga pengingat bahwa hidup kerap menawarkan pilihan-pilihan yang sederhana namun berarti. Sambil duduk menikmati nasi putih hangat, oseng kacang panjang, dan telur dadar, saya merasakan kehangatan lain yakni rasa syukur atas perjalanan hari itu.

Perjalanan bersepeda dari Puncak Pas menuju Padalarang siang itu agaknya bukan hanya menyangkut perjalanan fisik, tetapi juga menyangkut soal refleksi sosial dan ekonomi.

Dari momen melintas sekejap antara Pasar Cipanas yang sibuk hingga Istana Cipanas yang megah serta asri, saya melihat bahwa dunia ini selalu penuh kontras. Namun, seperti dalam bait-bait lagu Hey Jude dari The Beatles, toh kita harus senantiasa belajar untuk menghadapi dunia yang penuh kontras ini dengan hati yang selalu terbuka dan menerima kenyataan dengan penuh pengertian.

Setiap tempat, setiap orang, memiliki peran dan cerita mereka sendiri-sendiri. Dan kita hanya perlu menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari kehidupan yang terus berjalan, yang perlu dilakoni, dinikmati serta disyukuri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)