Jati Kasilih ku Junti: Nasib Kebudayaan Sunda dari Krisis Pangan

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)

Masyarakat paré (padi) adalah masyarakat agraris. Mereka yang hidupnya menapaki ladang dan sawah. Akrab dengan berbagai perkakas yang menunjang budaya tanam. Ketahanan pangannya bersifat komunal, ditopang oleh solidaritas warga. Leuit, sang lumbung menjadi simbol cadangan pangan kolektif. Pikiran mereka bukan hanya makan hari ini, tetapi cara menghasilkan padi.

Beranjak, muncul masyarakat béas (beras). Mereka yang tak lagi bersentuhan langsung dengan tanah, bergantung pada aktivitas membeli beras sebagai bahan pokok. Interaksi kebudayaannya menyempit pada peralatan menanak seperti sééng dan boboko. Ketahanan pangannya bergeser menjadi urusan rumah tangga, dengan goah (kamar menyimpan beras) sebagai penandanya. Fokus utamanya adalah cara mendapatkan beras, bukan menanam padi.

Adapun masyarakat kéjo (nasi), yakni mereka yang bahkan tak lagi menanak sendiri. Nasi hadir sebagai produk instans lewat rice cooker, warteg, restoran, atau gerobak fried chicken. Ketahanan pangan dalam masyarakat ini sangat bergantung pada daya beli individual. Indikatornya bukan lagi leuit atau goah, melainkan uang. Pikiran mereka adalah cara memperoleh nasi yang sudah siap makan.

Perubahan dari paré, béas, sampai kéjo menunjukkan hubungan manusia dengan pangan, dengan kebudayaan yang lebih luas. Dari masyarakat yang menanam, menjadi masyarakat yang membeli sampai sekadar mengonsumsi tanpa tahu asal mula makanan. Dari urusan komunal ke domestik, jadi masalah individu dan daya beli.

Meninggalkan Rahim Kebudayaan Sunda

Budaya Sunda lahir dari kebudayaan huma (ladang). Hasil perkawinan langit dan bumi, hujan dan tanah, yang melahirkan kesuburan. Sebagaimana terekam dalam carita pantun, Sunan Ambu mengajarkan Purbasari cara-cara berladang.

Meneratas hukum alam yang keras, orang Sunda mula-mula membuka lahan dengan menebang pohon dan membersihkan semak. Mereka membakar sisa-sisa tumbuhan untuk menyuburkan tanah. Kemudian bersama-sama menanam benih padi dengan cara melubangi tanah memakai kayu runcing. Tapi sekarang, semua perlahan sudah berlalu.

Jangankan berladang dan ngéjo, makannya pun sudah tak lagi nasi. Variasi baru, lahir masyarakat post-nasi. Mereka mulai meninggalkan nasi sebagai satu-satunya sumber pangan pokok. Bergeser ke pilihan global seperti roti, pasta, mi instan, burger, dan aneka makanan kekinian lainnya.

Di titik ini, wareg (kenyang) bukan lagi tujuan utama melainkan gaya hidup dan representasi sosial. Indikatornya bahkan bukan lagi punya uang, melainkan akses terhadap sistem digital (e-wallet, aplikasi delivery, bahkan pinjol). Termasuk jejaring sosial dan cultural capital. Pikiran mereka adalah cara mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera zaman, bukan hanya mengisi perut.

Di tengah perubahan-perubahan yang terus berjalan, coba bayangkan berapa banyak istilah dan pengetahuan lokal yang ikut hilang. Kata-kata seperti reuma (bekas ladang), lisung (lesung penumbuk), ngisikan (mencuci beras), hingga réméh (remah nasi) perlahan lenyap dari perbendaharaan sehari-hari. Kebudayaan telah menjadi dongeng.

Padahal di balik istilah-istilah itu tersimpan kekayaan tradisi, tata nilai, dan pengetahuan ekologis yang menopang cara hidup lestari. Kita sering mengira kebudayaan Sunda sedang berevolusi menuju kemajuan. Terbentang jalan menuju modernitas yang lebih canggih yang layak disongsong.

Pamali yang dulu kita takuti kini justru ditertawakan, dipandang sebagai warisan primitif. Kita tak lagi ragu membuang-buang nasi. Bahkan menutup mata air dan menjual tanah tempat padi dulu ditanam. Ruang hidup yang dulu dikelilingi sawah kini telah berubah menjadi deretan perumahan elit.

Nama-nama seperti cluster, green, residence, dan hill menjajakan citra asri yang menghapus jejak ekologis kita. Hasil penjualan tanah yang konon disumpahi demi biaya sekolah, tak sebanding dengan kenyataan generasi berikutnya yang kini pusing mencari lowongan kerja. Berakhir sebagai buruh di atas tanah yang dahulu milik neneknya sendiri.

Di tengah ketahanan pangan yang rapuh dan kesenjangan sosial yang kian parah, orang tua kita harus berduyun-duyun menunggu bantuan beras sejahtera (rastra). Bahkan merasa khawatir soal beras plastik yang ramai diberitakan. Ironisnya kita justru sibuk membuat konten makanan kekinian, mengagumi plating dan tren diet, sambil lupa bahwa beras yang kita makan pun bukan lagi hasil dari ladang sendiri.

Bukan Kenangan yang Harus Diratapi

Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)
Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)

Lantas, apa artinya kebudayaan Sunda jika nasi sudah terlanjur menjadi bubur? Kita yang sudah kenyang makan gengsi, bermental pembeli, cukupkah dihibur dengan narasi kejayaan Sunda? Tentunya tidak.

Sebab mencintai Sunda bukan berarti tenggelam dalam lautan romantisme sejarah. Apalagi berusaha membangkitkan kembali aristokrasi masa lalu. Tentu pandangan naif ini malah menjauhkan kebudayaan dari realitas zaman. Sedangkan yang kita butuhkan kiwari adalah kesadaran yang berakar pada identitas sendiri, berpihak pada marginal, dan mampu membaca tantangan kontemporer.

Menjadi Sunda tidak boleh berhenti pada nostalgia. Ia harus hidup laksana tarikan nafas yang mau seirama dengan alam dan sesama. Kita menolak menjadikan iket dan sanggul sekadar aksesoris budaya. Sunda juga harus tumbuh sebagai cara berpikir yang bijaksana.

Kita menolak kabaya dan pangsi yang hanya dipakai tanpa nilai keugaharian yang menyertainya. Sunda bukan hanya soal marah saat simbol seperti maung diinjak atau sekadar bangga mengaku cucu Prabu Siliwangi. Tapi enggan berani membela orang yang tertindas, enggan silih wangian.

Kita perlu membaca ulang budaya ladang sebagai landasan perlawanan terhadap sistem yang mencabut akar eksistensial, tempat lahirnya kebudayaan kita. Maka menjadi Sunda hari ini berarti merawat nilai. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi untuk menumbuhkan masa depan yang menaruh hati pada kehidupan bersama.

Budaya Sunda hanya akan hidup jika mampu menjadi jalan bagi masyarakat untuk bertahan dan merdeka di tengah gempuran kolonialisme baru yang merusak.

Dari masalah pangan saja kita belajar banyak, bahwa bicara kebudayaan Sunda tidak sebatas pada respons regulasi kesenian daerah, cagar budaya, atau kurikulum muatan lokal. Kebudayaan adalah tentang hajat hidup orang banyak. Termasuk mengembalikan martabat rakyat yang hidup dekat tanah, yang kadung dicap dekil, kotor, berkuman, dan tertinggal. Padahal dari sanalah makanan kita berasal, rumah kita berdiri, dan identitas kita tumbuh.

Kalau kebudayaan adalah semua hal tentang cara menjadi manusia. Maka kebijakan yang pro rakyat menjadi bagian yang tak terpisahkan. Program kebudayaan seharusnya turut membendung laju kemiskinan struktural yang sangat masif, bukan terlena dengan ambigunya “pembangunan” yang merusak ruang hidup manusia Sunda.

Penggusuran lahan, tambang kapur dan pasir, proyek geotermal, dan penggundulan hutan adalah senarai bukti bahwa budaya ladang yang arif sedang digerus oleh sistem ekonomi yang eksploitatif. Orang sunda kehilangan tempat tinggal dan panggung untuk merayakan kebudayaannya.

Lantas, apa artinya mencintai Tatar Sunda jika nasi pun sudah kadung menjadi bubur? Kita sudah kenyang bukan lagi dengan nasi, tapi oleh gengsi dan paradoks kemiskinan. Mungkin inilah yang disebut jati kasilih ku junti.

Dapur-dapur tak lagi ngebul, syukur kalau masih bisa digantikan oleh aplikasi yang menyediakan layanan pesan-antar dan makanan instan. Tapi bagaimana kalau memang sudah tak ada lagi yang bisa dimakan? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)