63 Tahun TVRI: Antara Nostalgia dan Tantangan Relevansi

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Televisi Republik Indonesia (TVRI). (Sumber: TVRI)
Televisi Republik Indonesia (TVRI). (Sumber: TVRI)

Enam puluh tiga tahun adalah usia yang tidak singkat bagi lembaga penyiaran publik. Televisi Republik Indonesia (TVRI), sejak mengudara pertama kali pada 24 Agustus 1962, sudah melalui begitu banyak fase politik, teknologi, dan sosial.

Ia pernah menjadi satu satunya jendela televisi bangsa, lalu menyaksikan hadirnya televisi swasta yang agresif, hingga kini berjuang keras di tengah derasnya arus digital. Namun pertanyaan besar selalu muncul setiap kali ulang tahun TVRI dirayakan: apakah televisi publik ini masih relevan, atau sekadar menjadi monumen sejarah yang menua bersama penontonnya.

Pada masa awal, TVRI tampil sebagai simbol kemajuan dan sekaligus instrumen kontrol negara. Siaran berita, program hiburan, sampai tayangan budaya diatur ketat untuk mendukung stabilitas politik dan pembangunan ala pemerintah pusat.

Tiga dekade lamanya masyarakat Indonesia hidup bersama layar tunggal, dengan sedikit ruang bagi perbedaan suara. TVRI bukan sekadar televisi, ia adalah representasi negara. Baru ketika televisi swasta muncul lewat RCTI pada 1989, dominasi itu sedikit tereduksi, meski kendali pemerintah terhadap isi siaran tetap kuat.

Runtuhnya Orde Baru pada 1998 menjadi titik balik dramatis. Euforia kebebasan pers menjelma ledakan jumlah media cetak, radio, televisi, hingga portal online. TVRI pun harus mencari bentuk baru, karena publik kini punya pilihan lain. Namun di sinilah tantangan bermula.

Sementara televisi swasta berlomba menghadirkan hiburan segar, TVRI sering tertinggal dengan pola lama. Alih alih menjadi kanal publik yang kritis, ia cenderung memilih aman. Padahal harapan publik cukup besar: TVRI semestinya tampil sebagai televisi independen yang netral, bukan sekadar bayangan birokrasi.

Memasuki era 2000-an, transformasi teknologi makin menekan posisi televisi publik. Media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, lalu Instagram dan TikTok mengubah pola konsumsi informasi masyarakat.

Riset Nielsen menunjukkan jumlah pemirsa televisi konvensional terus turun rata rata 5 persen setiap tahun, sementara laporan Asia Magnite 2024 menyebut 88 persen pengguna internet Indonesia atau sekitar 197 juta orang mengakses konten digital setidaknya dua kali seminggu.

Angka ini menjelaskan mengapa televisi tidak lagi menjadi panggung utama percakapan publik. Generasi muda memilih layar kecil di genggaman ketimbang layar besar di ruang keluarga.

TVRI sebenarnya tidak kehilangan modal. Jangkauan siarannya sangat luas, mencakup lebih dari 78 persen populasi Indonesia dan ditargetkan mencapai 95 persen lewat program Digital Broadcasting System.

Rencana besar untuk menjadi World Class Broadcaster pada 2031 pun sudah dicanangkan. Namun pertanyaan terpenting bukan pada infrastruktur, melainkan pada isi. Sehebat apa pun jangkauan sinyal, tanpa konten yang menggugah, publik akan tetap berpaling.

Kita bisa belajar dari momentum pandemi. Program “Belajar dari Rumah” yang disiarkan TVRI membuktikan bahwa televisi publik mampu mengambil peran signifikan sebagai kanal pendidikan nasional. Selama beberapa bulan, jutaan siswa dan orang tua bergantung pada TVRI.

Sayangnya, langkah ini berhenti sebagai program darurat, tidak dijadikan warisan permanen. Padahal di tengah ketimpangan akses internet, televisi pendidikan seperti itu bisa menjadi solusi jangka panjang.

Televisi Republik Indonesia (TVRI). (Sumber: Dok. TVRI)
Televisi Republik Indonesia (TVRI). (Sumber: Dok. TVRI)

Bandingkan dengan BBC di Inggris atau NHK di Jepang. Keduanya sama sama televisi publik, tetapi berhasil menjaga relevansi. BBC dikenal karena dokumenter investigatif dan liputan internasional yang kredibel, sementara NHK konsisten menghadirkan program pendidikan berkualitas dengan kanal digital khusus pelajar.

TVRI seharusnya bisa mengambil inspirasi, menyesuaikan dengan kebutuhan lokal Indonesia yang kaya budaya. Tayangan budaya dan lokalitas mestinya jadi kekuatan, bukan sekadar sisipan di jam non-prime.

Masalahnya, TVRI masih terjebak dalam pola aman. Program berita lebih mirip seremoni ketimbang ruang kritis, tayangan hiburan kurang memikat, dan program budaya jarang viral.

Padahal publik kini menilai relevansi dari seberapa besar sebuah konten menembus percakapan digital, bukan sekadar berapa lama mengudara. Generasi muda ingin melihat konten yang interaktif, segar, dan berhubungan dengan realitas mereka.

Kepercayaan terhadap TVRI memang masih ada, terutama dari generasi tua yang tumbuh bersamanya. Namun kepercayaan saja tidak cukup. Generasi baru akan menilai dari kualitas dan konsistensi. Jika TVRI terus mempertahankan pola lama, ia berisiko berubah menjadi museum televisi.

Tetapi jika mampu memanfaatkan momentum ulang tahun ke 63 ini sebagai titik awal reformasi, TVRI bisa kembali relevan sebagai rumah bersama.

Reformasi itu harus menyentuh tiga hal. Pertama, keberanian menghadirkan konten kritis yang independen, bukan hanya mengikuti agenda pemerintah. Kedua, kreativitas untuk menggarap program budaya dan pendidikan dengan kemasan yang dekat dengan anak muda.

Ketiga, strategi digital yang serius, bukan sekadar unggah ulang tayangan televisi ke YouTube, tetapi menciptakan format yang memang didesain untuk platform digital.

TVRI punya modal, punya sejarah, dan masih punya jangkauan. Yang dibutuhkan hanya satu hal: keberanian untuk bertransformasi. Publik tidak menuntut TVRI menjadi televisi sempurna.

Publik hanya ingin TVRI kembali menjadi televisi publik, yang netral, relevan, dan jujur menyuarakan kepentingan rakyat di tengah kebisingan dunia digital. Jika itu dilakukan, usia 63 bukan sekadar angka tua, tetapi awal dari kebangkitan baru. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)